2 Cara Membuat Deterjen Bubuk 1

2 Cara Membuat Deterjen Bubuk

Cara Membuat Deterjen Bubuk – Detergen Merupakan bahan untuk mencuci pakaian agar lebih bersih, dewasa ini detergen hampir menjadi bahan pokok untuk manusia ceruk pasarnya juga masih terbuka lebar. bahkan masyarakat indonesia kalau mencuci baju pasti menggunakan detergen. mari simak Cara Membuat Deterjen Bubuk.

Cara Membuat Deterjen Bubuk

BAB 1

DETERGEN BUBUK :

CERUK PASARNYA MASIH TERBUKA LEBAR

Dari tahun ke tahun, penggunaan detergent powder (detergen bubuk) di dunia semakin meningkat. Hal ini diindikasikan dengan banyaknya permintaan ekspor, khususnya ke negaranegara Afrika dan Asia. Demikian juga yang terjadi di Indonesia. Dari pengamatan kualitatif, kedudukan detergen bubuk sebagai pengganti sabun batangan dan sabun krim untuk mencuci pakaian di daerah pedesaan semakin meningkat.

Detergen bubuk masuk ke Indonesia pada awal tahun 60-an, yaitu dengan masuknya pabrik-pabrik internasional yang sampai sekarang masih memproduksi berbagai macam barang kebutuhan rumah tangga (home care). Dengan berjalannya waktu, semakin banyak industri yang memproduksi detergen bubuk. Sampai dengan awal milenium ketiga ini terdapat sekitar tujuh merek detergen bubuk ternama yang beredar di pasar nasional. Produkproduk tersebut merupakan hasil buatan pabrik-pabrik multinasional dan pabrik lokal yang besar.

Dengan kondisi pasar detergen bubuk nasional seperti di atas, timbul pertanyaan. Masih adakah peluang untuk berwiraswasta di bidang ini? Jawabnya: masih terbuka pasar yang cukup lebar. Pada kenyataannya masih terdapat subsegmen (niche, ceruk) yang cukup potensial,. terlebih bila mendapat kesempatan untuk ekspor. Dari data yang diperoleh, sampai saat ini terdapat perusahaan yang kemungkinan besar produknya tidak atau belum dikenal oleh masyarakat, tetapi produksinya sudah mencapai sekitar 12 ton per hari (bandingkan dengan salah satu produsen detergen bubuk ternama, produksi per harinya mencapai di atas 100 ton). Hebatnya lagi, perusahan-perusahaan tersebut berorientasi ke ekspor, sedangkan pasar dalam negeri digarap ”ala kadarnya”. Ini pun sudah memberikan pendapatan yang signifikan.

Bila ditinjau dari cara atau proses pencuciannya terdapat dua jenis detergen, yaitu detergen yang digunakan pada pencucian dengan mesin (washing machine) dan detergen untuk pencucian dengan tangan (hand wash). Dengan adanya kedua macam produk deterjen bubuk tersebut maka menjadikan pasar produk tersebut terbagi atas dua. Selain pasar umum detergen bubuk untuk mencuci dengan tangan, juga terdapat ceruk pasar detergen bubuk yang digunakan untuk mencuci dengan mesin cuci. Keterangan ini sekaligus sebagai penjelasan dengan kondisi yang terjadi pada konsumen detergen bubuk. Cukup banyak konsumen yang menggunakan detergen tidak sesuai dengan fungsinya. Detergen bubuk yang sebenarnya digunakan untuk mencuci dengan tangan, tetapi digunakan juga untuk mencuci dengan mesin cuci. Hal ini tentu saja tidak dapat memberikan hasil cucian yang optimal. Kedua jenis detergen tersebut biasanya dijelaskan dalam cara pemakaiannya. Untuk produk detergen untuk mesin cuci, pada kemasan depan biasanya terlihat adanya gambar mesin cuci dan keterangan khusus cara pemakaiannya. Sementara pada detergen bubuk untuk mencuci dengan tangan, pada kemasan tidak tertera keterangan.

Dengan mengamati perilaku konsumen yang semakin tergantung pada detergen bubuk untuk mencuci maka peluang untuk bemiraswasta detergen bubuk masih terbuka cukup lebar. Peluang untuk sukses dengan berwiraswasta bahan kebutuhan rumah tangga ini akan semakin tercapai jika dibarengi dengan strategi pemasaran yang tepat.

BAB 2

PENGENALAN PRODUK DETERGEN

Di khasanah dunia ilmiah dikenal adanya produk yang disebut dengan synthetic detergent yang disingkat dengan istilah syndet. Kata ”synthetic” (sintetik) sepertinya memberi konotasi ”tidak atau kurang alami”. Namun, sebenarnya kata sintetik tersebut’ untuk memberikan penjelasan bahwa terdapat sesuatu yang berbeda pada .syndet bila dibandingkan dengan sabun cuci (soap). Apabila sabun cuci dibuat dari bahan nabati (minyak kelapa) dan kaustik soda, hampir semua bahan baku syndet merupakan bahan kimia olahan. Dari segi fungsi, keduanya sama yaitu untuk membersihkan pakaian dari kotoran yang melekat. Namun demikian, nama syndet ini kurang populer di dunia perdagangan dan produk ini lebih dikenal dengan sebutan detergen saja. Secara umum, detergen dapat didefinisikan sebagai suatu produk kimia rumah tangga yang mempunyai fungsi untuk membersihkan pakaian. Dari bentuk fisiknya, ada beberapa jenis detergen, yaitu detergen cair, detergen krim, dan detergen bubuk.

A. Detergen Cair

Secara umum, detergen cair hampir sama dengan detergen bubuk. Hal yang membedakan hanyalah bentuknya: bubuk dan cair. Produk ini banyak digunakan di laundry modern yang menggunakan mesin cuci kapasitas besar dengan teknologi yang canggih.

B. Detergen Krim

Detergen krim bentuknya hampir sama dengan sabun colek, tetapi kandungan formula keduanya berbeda. Di luar negeri, produk ini dijual dalam partai besar (kemasan 25 kg).

C. Detergen Bubuk

Bila dicermati berbagai iklan detergen bubuk di televisi maka masing-masing produk detergen mencoba menjelaskan kepada konsumen tentang keunggulan produknya yang secara fisik berbeda dengan produk lainnya. Sebagai contoh ada sebuah iklan detergen tertentu yang menjelaskan tentang kelebihan produk detergen dengan kandungan butiran berbentuk padat (masif) bila dibandingkan dengan detergen dengan butiran yang berongga. Namun, diyakini bahwa hanya sedikit orang atau pemirsa yang dapat memahami esensi dari iklan tersebut.

Berdasarkan keadaan butirannya, detergen bubuk dapat dibedakan menjadi 2, yaitu detergen bubuk berongga dan detergen bubuk padat/masif. Perbedaan bentuk butiran kedua kelompok detergen tersebut disebabkan oleh perbedaan dalam proses pembuatannya. Ditinjau dari efektivitasnya untuk mencuci, kedua bentuk detergen tersebut dapat dikatakan sama.

  1. Detergen bubuk berongga

Detergen bubuk berongga mempunyai ciri butirannya mempunyai rongga. Butiran detergen yang berongga dapat dianalogikan dengan bentuk bola sepak yang di dalamnya rongga. Ini berarti butiran detergen jenis ini mempunyai volume per satuan berat yang besar karena adanya rongga tersebut.

Butiran detergen jenis berongga dihasilkan oleh proses spray drying. Agak sulit mendapatkan padan kata istilah tersebut dalam bahasa Indonesia, tetapi pengertiannya yaitu bahwa terbentuknya butiran berongga karena hasil dari proses pengabutan yang dilanjutkan proses pengeringan.

Kelebihan detergen bubuk berongga dibandingkan dengan detergen bubuk padat adalah volumenya lebih besar. Dengan berat yang sama, detergen bubuk dengan butiran berongga tampak lebih banyak dibandingkan dengan detergen padat. Selain kelebihan yang dipunyainya, detergen berongga mempunyai kelemahan. Untuk membuat detergen berongga diperlukan investasi yang besar karena harga mesin yang digunakan (spray driez) sangat mahal, yaitu mencapai nilai milyaran rupiah. Dengan kondisi ini, pembuatan detergen berongga tidak dapat diaplikasikan untuk skala dan home industry (industri rumah tangga), baik skala kecil maupun menengah.

Sebagian besar detergen bubuk yang dipasarkan ke konsumen termasuk dalam golongan detergen bubuk berongga.

  1. Detergen bubuk padat/masif

Bentuk butiran detergen bubuk padat/masif dapat dianalogikan dengan bola tolak peluru, yaitu semua bagian butirannya terisi oleh padatan sehingga tidak berongga. Butiran detergen yang padat merupakan hasil olahan proses pencampuran kering (dry mixing). Proses dry mixing dapat dibagi menjadi dua, yaitu dry mixing granulation (DMG procces) dan simple dry mixing (metode campur kering sederhana = CKS). Metode CKS termasuk cara pembuatan detergen bubuk yang mudah dipraktekkan. Untuk itu, dalam buku ini hanya akan dibahas cara pembuatan detergen bubuk padat dengan metode CKS ini. Cara pembuatan detergen dengan metode spray dzying dan dzy mixing granulation tidak dibahas dalam buku ini karena prosesnya termasuk kompleks dan dari segi bisnis tergolong proyek padat modal (memerlukan biaya investasi yang besar). Hal ini tentunya tidak sesuai dengan maksud dan tujuan penulisan buku ini.

Kelebihan detergen bubuk padat, yaitu untuk membuatnya tidak diperlukan modal besar karena alatnya termasuk sederhana dan berharga murah. Kekurangannya adalah karena bentuknya padat maka volumenya tidak besar sehingga jumlahnya terlihat sedikit.

BAB 3

BAHAN BAKU

Bahan baku untuk pembuatan detergen bubuk terdiri dari beberapa jenis, yaitu bahan aktif, bahan pengisi, bahan penunjang, bahan tambahan, bahan pewangi, dan antifoam. Pada pembuatan detergen skala kecil dan menengah digunakan ”bahan baku yang sama. Bahan baku ini dapat diperoleh di alamat seperti tercantum dalam Lampiran.

A. Bahan Aktif (Active Ingredient)

Bahan aktif merupakan bahan inti dari detergen sehingga bahan ini harus ada dalam proses pembuatan detergen. Secara kimia bahan ini dapat berupa sodium lauryl sulfonate (SLS). Beberapa nama dagang dari bahan aktif ini di antaranya Luthensol, Emal, dan Neopelex (NP). Di pasar beredar beberapa jenis Emal dan NP, yaitu Emal-lO, Emal-ZO, Emal-30, NP-lO, NP-ZO, dan NP-SO. Secara fungsional bahan aktif ini mempunyai andil dalam meningkatkan daya bersih. Ciri dari bahan aktif adalah busanya sangat banyak.

B. Bahan Pengisi (Filler)

Bahan ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh campuran bahan baku. Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume. Keberadaan bahan ini dalam campuran bahan baku detergen semata-mata ditinjau dari aspek ekonomis. Pada umumnya, sebagai bahan pengisi detergen digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophospate dan sodium sitrat. Bahan pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air.

C. Bahan Penunjang

Salah satu contoh bahan penunjang adalah soda ash atau sering disebut soda abu yang berbentuk bubuk putih. Bahan penunjang ini berfungsi meningkatkan daya bersih. Keberadaan bahan ini dalam campuran tidak boleh terlalu banyak karena menimbulkan efek samping, yaitu dapat mengakibatkan rasa panas di tangan pada saat mencuci pakaian. Bahan penunjang lain adalah STPP (sodium tripoly phosphate) yang mempunyai efek samping yang positif, yaitu dapat menyuburkan tanaman. Dalam kenyataanya, ada beberapa konsumen yang menyiramkan air bekas cucian produk detergen tertentu ke tanaman dan hasilnya lebih subur. Hal ini disebabkan oleh kandungan fosfat yang merupakan salah satu unsur dalam jenis pupuk tertentu.

D. Bahan Tambahan (Aditif)

Bahan aditif sebenarnya tidak harus ada dalam proses pembuatan detergen bubuk. Namun demikian, beberapa produsen justru selalu mencari hal-hal baru akan bahan ini karena justru bahan ini dapat memberi kekhususan dan nilai lebih pada produk detergen tersebut. Dengan demikian, keberadaan bahan aditif dapat mengangkat nilai jual produk detergen bubuk tersebut.

Salah satu contoh dari bahan aditif adalah carboxy methyl cellulose (CMC). Bahan ini berbentuk serbuk putih dan berfungsi untuk mencegah kembalinya kotoran ke pakaian sehingga disebut ”antiredeposisi”. Selain CMC, masih banyak macam dari bahan aditif ini, tetapi pada umumnya merupakan rahasia dari tiap-tiap perusahaan. lni sebenarnya merupakan tantangan bagi pelaku wirausaha untuk selalu mencari bahan aditif ini sehingga produk detergen bubuk mempunyai nilai lebih dan berdaya saing tinggi.

E. Bahan Pewangi (Parfum)

Parfum termasuk dalam bahan tambahan. Keberadaan parfum memegang peranan besar dalam hal keterkaitan konsumen akan produk detergen bubuk. Artinya, walaupun secara kualitas detergen bubuk yang ditawarkan bagus, tetapi bila salah memberi parfum akan berakibat fatal dalam penjualannya. Parfum untuk detergen berbentuk cairan berwarna kekuning-kuningan dengan berat jenis 0,9. Dalam perhitungan, berat parfum dalam gram (9) dapat dikonversikan ke mililiter (ml). Sebagai patokan 1 g parfum = 1,1 ml.

Pada dasarnya, jenis parfum untuk detergen dapat dibagi ke dalam dua jenis, yaitu parfum umum dam parfum eksklusif. Parfum umum mempunyai aroma yang sudah dikenal umum di masyarakat, seperti aroma mawar dan aroma kenanga. Pada umumnya, produsen detergen bubuk menggunakan jenis parfum yang eksklusif. Artinya, aroma dari parfum tersebut sangat khas dan tidak ada produsen lain yang menggunakannya. Kekhasan parfum eksklusif ini diimbangi dengan harganya yang lebih mahal dari jenis parfum umum.

Beberapa nama parfum yang digunakan dalam pembuatan detergen bubuk di antaranya bouquet, deep water, alpine, dan spring flower.

F. Antifoam

Cairan antifoam digunakan khusus untuk pembuatan detergen bubuk untuk mesin cuci. Bahan tersebut berfungsi untuk merendam timbulnya busa. Persentase keberadaan senyawa ini formula sangat sedikit, yaitu berkisar antara 0,04-0,06%.

BAB 4

MEMBUAT DETERGEN BUBUK SKALA KECIL

Pembuatan detergen bubuk dalam skala kecil dilakukan dengan metode sederhana, yaitu dengan metode CKS (campur kering sederhana). Output yang dihasilkan dari usaha skala kecil ini sekitar 25-30 kg detergen bubuk/hari. Untuk mencapai hasil tersebut hanya diperlukan alat-alat yang sangat sederhana dan mudah didapat, seperti timbangan, ember (besar dan kecil), pengaduk dari kayu, dan saringan/ayakan.

A. Formula

Untuk pembuatan detergen bubuk yang digunakan untuk mencuci dengan tangan dapat digunakan beberapa formula dengan perbandingan variasi persentase bahan baku.

Beberapa pedoman dalam penyusunan formula detergen cuci dengan tangan adalah nilai AM (kadar busa) yang terbentuk dari NP-30 dan Emal-10 sebaiknya minimal 10. Cara perhitungan AM dapat dilihat pada Bab 7. Kontrol Kualitas pada pengetesan kadar busa. Apabila AM-nya terlalu rendah, busa detergen juga rendah. Umumnya AM berkisar antara 10-25. Persentase soda abu jangan lebih dari 7% karena dapat menimbulkan panas di tangan. Sebaliknya, bila persentase soda abu terlalu sedikit maka menurunkan daya bersih produk. Kadar soda abu dalam detergen bubuk untuk mencuci dengan tangan umumnya berkisar antara 4-6%. Untuk STPP karena harganya cukup mahal maka pemakaiannya tidak lebih dari 8%. Persentase sodium sulfat mengikuti bahan lainnya sehingga mencapai 100%. Kadar parfum biasanya berkisar antara 2,5-3%.

Berikut ini beberapa jenis formula pembuatan detergen bubuk dengan dasar perhitungan untuk satu kali adonan (disebut batch) sebanyak 10 kg.

a. Formula 1

NP-30 = 15% x 10 kg = 1,5 kg

Emal-10 = 6,5% x 10 kg = 0,65 kg

Soda abu = 6% x 10 kg = 0,6 kg

STPP = 3% x 10kg = 0,3 kg

Sodium sulfat = 69,3% x 10 kg = 6,93 kg

Parfum = 0,2% x 10 kg = 0,02 kg = 20 9

b. Formula 2

NP-30 = 14% = 1,4 kg

Emal-10 = 7% _ = 0,7 kg

Soda abu = 5% = 0,5 kg

STPP = 3% = 0,3 kg

Sodium sulfat = 70,75% = 7,075 kg

Parfum = 0,25% = 0,025 kg = 25 g

c. Formula 3

NP-30 = 10% = 1 kg

Emal-10 = 10% = 1 kg

Soda abu = 5% = 0,5 kg

STPP = 3% = 0,3 kg

Sodium sulfat = 71,7% = 7,17 kg

Parfum = 0,3% = 0,03 kg = 30 g

d. Formula 4

NP-30 = 16% = 1,6 kg

Emal-10 = 5% = 0,5 kg

Soda abu = 5% = 0,5 kg

STpP = 3% = 0,3 kg

Sodium sulfat = 70,7% = 7,07 kg

Parfum  = 0,3% = 0,03 kg = 30 9

e. Formula 5

NP-30 = 14% = 1,4 kg

Emal-10 = 7% = 0,7 kg

Soda abu = 5% = 0,5 kg

STPP = 3% = 0,3 kg

Sodium sulfat = 70,75% = 7,075 kg

Parfum = 0,25% = 0,025 kg = 25 g

f. Formula 6

NP-30 = 20% = 2 kg

Emal-10 = 2% = 0,2 kg

Soda abu = 6% = 0,6 kg

STPP = 3% = 0,3 kg

Sodium sulfat = 68,8% = 6,88 k9

Parfum = 0,2% = 0,02 kg = 20 g

g. Formula 7

NP-30 = 12% = 1,2 kg

Emal-10= 8% = 0,8 kg

Soda abu = 5% = 0,5 kg

STPP = 5% = 0,5 kg

Sodium sulfat = 69,7% = 6,97 kg

Parfum = 0,3% = 0,03 kg = 30 g

B. Peralatan

1. Ember besar diameter 60 cm …….. 2 buah

2. Ember kecil diameter 25 cm…………. 3 buah

3. kayu …………………………. 3 buah

4. Timbangan besar s/d 200 kg …….. 1 buah

5. Timbangan kecil s/d 2 kg ……………. 1 buah

6. Saringan/ayakan …………………………. 1 buah

7. Hand sealer ukuran 30 cm …………… 1 buah

8. Kantong plastik berbagai ukuran

C. (Cara Membuat Deterjen Bubuk) Cara Pembuatan

(Cara Membuat Deterjen Bubuk) Cara Pembuatan

1. Timbang bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan formula A di atas. Tempatkan bahan-bahan tersebut ke dalam plastik sesuai ukuran.

2. campurkan Emal-10 dan STPP di dalam ember dan adllk dengan pengaduk kayu hingga rata.

3. Campurkan parfum dengan soda abu sedikit demi sedikit hingga merata. Hati-hati jangan sampai terbentuk gumpalan yang disebabkan campuran yang tidak merata.

4. Campurkan adonan no. 2 dan adonan no. 3 di dalam ember dan aduk hingga rata.

5. Campurkan bahan adonan no. 4 dengan separo sodium sulfat dalam ember besar dan aduk hingga rata.

6. Sisa sodium sulfat lainnya dicampur dengan NP-SO dalam ember besar dan aduk hingga rata.

7. Tuangkan adonan no. 6 ke dalam adonan no. 5. Aduk pelan-pelan kurang lebih 10 menit hingga rata.

8. Saring campuran di atas dengan menggunakan saringan/ ayakan. Caranya adalah dengan mengambil adonan sebagian demi sebagian dengan gayung dan diaduk-aduk menggunakan pengaduk kayu.

9. Aduk adonan yang telah disaring dalam ember ‘selama 10 menit.

10. Cek kerataan campuran dengan mengukur berat jenisnya.

Total waktu yang diperlukan untuk membuat 10 kg detergen bubuk skala rumah tangga adalah 1 jam.

BAB 5

MEMBUAT DETERGEN BUBUK SKALA MENENGAH

Pembuatan detergen skala menengah dilakukan dengan output sekitar 1 ton per hari. Target tersebut dapat dicapai dengan menggunakan alat yang disebut mixer dengan kapasitas 25 kg/ batch sebanyak 8 buah. Mesin mixer sebenarnya mirip dengan rotary drum mixer, tetapi dalam bentuk yang lebih sederhana. Untuk membuatnya perlu perkakas material lembaran alumunium tebal 2 mm ukuran 1 m x 2,5 m, rangka besi dengan total panjang 8 m, puley diameter 30 cm, tali kipas, motor 1/2 PK, dan baut 8 buah.

A. Formula

Pembuatan detergen bubukskala menengah untuk mencuci dengan mesin cuci dapat menggunakan berbagai variasi formula dengan persentase bahan baku yang berbeda. Pedoman dalam penyusunan formula detergen bubuk yang digunakan untuk mencuci dengan mesin dilakukan dengan memperhatikan persentase dari masing-masing bahan baku. AM (kadar busa) dari bahan aktif yaitu NP-3O dan Emal-10 dengan persentase masing-masing antara 17-25%. Untuk persentase soda abu cukup banyak yaitu antara 10-20%, STPP berkisar antara 3-8%, CMC 2-5%, antifoam antara 0,04-0,06%, dan kadar parfum antara 2-3%_ Sementara kadar sodium sulfat menyesuaikan dengan bahan lain hingga berjumlah 100%.

Jumlah bahan baku yang digunakan dalam semua formula didasarkan pada ketentuan satu kali adonan (satu batch) 25 kg. Cara pembuatan untuk semua formula adalah sama.

a. Formula 1

NP-30 = 20% x 25 kg = 5 kg

Emal-10 = 10% x 25 kg = 2,5 kg

Soda abu = 10% x 25 kg = 2,5 kg

STPP = 6% x 25 kg = 1,5 kg

CMC = 3% x 25 kg = 0,75 kg

Sodium sulfat = 50,65% x 25 kg = 12,66 kg

Antifoam = 0,05% x 25 kg = 0,0125 kg = 12,5 g

Parfum = 0,03% x 25 kg = 0,075 kg = 75 9

b. Formula 2

NP-30 = 15% = 3,75 kg

Emal = 15% = 3,75 kg

Soda abu = 10% = 2,5 kg

STPP = 6% = 1,5 kg

CMC = 3% = 0,75 kg

Sodium sulfat = 50,65% = 12,66 kg

Antifoam = 0,05% = 0,0125 kg : 12,5 g

c. Formula 3

NP-30 = 18% =4,5 kg

Emal =14% =3,5 kg

Soda abu =10% = 2,5 kg

STPP = 6% = 1,5 kg

CMC = 3% = 0,75 kg

Sodium sulfat = 48,65% = 12,16 kg

Antifoam Parfum  = 0,05% = 0,0125 = 12,5 g

Parfum =  0,3% = 0,075 kg = 75 g

Formula 4

NP-30 = 15% = 3,75 kg

Emal = 14% = 3,5 kg

Soda abu = 12% = 3 kg

STPP = 6% = 1,5 kg

CMC = 3% = 0,75 kg

Sodium sulfat = 49,65% = 12,413 kg

Antifoam = 0,05 = 0,0125 kg = 12,5 g

Parfum =  0,3% = 0,075 kg = 75 g

Formula 5

NP-30 = 14% = 3,5 kg

Emal = 16% = 4 kg

Soda abu = 10% = 2,5 kg

STPP = 5% = 1,25 kg

CMC= 4% = 1 kg

sodium sulfat = 50,65% = 12,66 kg

Antifoam = 0,05% = 0,0125 = 12,5 g

Parfum = 0,3% = 0,075 kg = 75 g

Formula 6

NP-30 = 15% = 3,75 kg

Emal = 15% = 3,75 kg

Soda abu = 15% = 3,75 kg

STPP =5% =1,25 kg

CMC = 3% = 0,75 kg

Sodium sulfat = 46,65% = 11,66 kg

Antifoam = 0,05% = 0,0125 kg= 12,5 kg

Parfum = 0,3% = 0,075 kg =75 g

Formula -7

NP-30 = 20% = 5 kg

Emal = 12% = 3 kg

Soda abu = 10% = 2,5 kg

STPP = 6% = 1,5 kg

CMC = 3% = 0,75 kg

Sodium sulfat = 48,65% = 12,16 kg

Antifoam = 0,05% = 0,0125 kg=12,5 g

Parfum = 0,3% 0,075 kg = 75 g

B. Peralatan

mixer kapasitas 25 kg ……………….. 8 buah

Ember besar diameter 60 cm ……… 16 buah

Ember kecil dlameter 25 cm ……….. 24 buah

Pengaduk kayu……………………………… 16 buah

Gayung plastik …………………………….. 21 buah

Timbangan besar s/d 200 kg ………… 4 buah

Timbangan kecil s/d 2 kg …………….. 8 buah

Saringan/ayakan ……………………………. 8 buah

Impuls sealer ………………………………….. 4 buah

Mesin sachet ……………….…………………. 1 buah

C. Cara Pembuatan

Cara Pembuatan detergen skaka menengah

1. Timbang bahan-bahan yang diperlukan dan tempatkan dalam ember yang tersedia sesuai dengan volume masing-masing.

2. Masukkan sodium sulfat kira-kira sebanyak 2/3 bagian (kirakira 8 kg) ke dalam mixer dengan memakai gayung.

3. Campurkan sisa sodium sulfat dengan NP-30 di ember besar dan aduk dengan pengaduk kayu hingga rata. Saring campuran bahan tersebut dengan saringan/ayakan.

4. Campurkan Emal-10, STPP, dan CMC dalam satu ember dan aduk hingga rata.

5. Campurkan parfum dengan separo bagian soda abu sedikit demi sedikit hingga rata.

6. Campurkan antifoam dengan separo soda abu lainnya sedikit demi sedikit hingga rata.

7. Campurkan adonan no. 5 dengan adonan no. 6 ke dalam adonan no. 4 dan no. 3.

8. Masukkan adonan no. 7 ke dalam mixer dengan menggunakan gayung dan hidupkan mixer selama 15 menit.

9. Matikan mixer dan ketok pelan-pelan permukaan mixer dengan tangan sehingga adonan yang menempel pada dinding bagian dalam mixer akan terlepas.

10. Hidupkan lagi mixer selama 5 menit dan matikan mixer. Cek berat jenis sebanyak 3 kali.

11. Apabila hasil pengecekan berat jenis sudah masuk standar, tuangkan material dari dalam mixer ke ember. Detergen siap untuk dikemas.

Waktu proses secara keseluruhan kurang lebih 1 jam 20 menit/ batch.

D. Beberapa Tips dalam Pembuatan Detergen Bubuk

Penentuan kapasitas produksi sangat fleksibel. Berikut ini beberapa faktor yang mempengaruhi kapasitas produksi detergen bubuk.

  1. Volume bahan olahan per batch sebaiknya setengah dari volume mixer. Ini dimaksudkan untuk memberi ruang gerak bahan-bahan yang dicampur agar terdapat ruang untuk perputaran/turbolisasi.
  2. Semakin besar volume bahan olahan per batch hasilnya semakin banyak. Namun, proses pembuatannya memakan waktu lebih lama karena waktu tuang bahan baku ke dalam mixer dan proses pencampuran bahan bertambah lama.
  3. Semakin besar volume per batch maka diperlukan mesin mixer yang lebih besar. Ini dapat mengakibatkan proses produksi berlangsung lebih rumit. Contohnya dengan kapasitas produksi 25 kg/batcb, secara operasional operator produksi akan mudah menjalankannya karena semua masih mudah dicapai dalam jangkauan tangan. Namun, bila kapasitas produksi dinaikkan menjadi 100 kg/batch diperlukan alat dengan kapasitas lebih besar sehingga pengoperasiannya menjadi lebih rumit. Lain halnya untuk industri yang sudah canggih hal tersebut bukan merupakan kendala karena sebagian sistem sudah otomatis. Untuk itu, bila ingin menambah output produksi disarankan tetap menggunakan mixer 25 kg/ batch, tetapi jumlahnya yang ditambah.
  4. Putaran dari mixer idealnya adalah 60-120 rpm. Apabila putaran terlalu cepat hasilnya malah tidak optimal, yaitu campuran sulit untuk rata. Akibat lainnya ialah terjadinya kondisi over mixing yang menyebabkan detergen bubuk menjadi basah.
  5. Pada proses pembuatan disebutkan bahwa NP-30 perlu dicampur dahulu (premixing) dengan sodium sulfat. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari menggumpalnya NP-30 yang mempunyai sifatfisik basah dan agak lengket.
  6. Total waktu mixing untuk 25 kg/batch adalah 20 menit (15 menit + 5 menit) dengan putaran mixer sekitar 100 rpm. Penambahan waktu untuk pencampuran adonan akan menyebabkan produk hasil detergen cenderung basah dan terjadi pemborosan listrik.
  7. Formula pembuatan detergen dapat dibuat dengan kreativitas sendiri. Namun, dalam penyusunan formula ini tetap harus memperhatikan batasan-batasan, yaitu batasan ekonomi dan batasan teknis. Pada batasan ekonomi, perubahan formula akan menyebabkan perubahan harga pokok produksi dan berakibat ke perubahan harga jual. Untuk batasan teknis, beberapa hal yang perlu diperhatikan misalnya persentase soda abu sebaiknya tidak lebih dari 6% untuk jenis detergen untuk mencuci dengan tangan dan pemberian STPP sebaiknya tidak lebih dari 8%.

BAB 6

JENIS-JENIS KEMASAN

JENIS-JENIS KEMASAN

karton, polibag, botol

etergen bubuk yang akan dijual harus dikemas dalam suatu wadah. Kemasan detergen bubuk cukup variatif. Ada kemasan yang berupa kotak karton, sejenis wadah (cepuk), dan kemasan plastik (biasa disebut stock keeping unit atau SKU) dengan ukuran yang bervariasi. Secara umum, terutama di Indonesia, penggunaan kemasan plastik untuk detergen bubuk sangat populer.

A. Kemasan Plastik

Jenis kemasan plastik untuk detergen bubuk dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu kemasan ukuran besar (polibag) dan ukuran kecil (sachet). Beberapa produk detergen bubuk yang menggunakan kemasan jenis polibag mempunyai takaran berat 500 g, 1 kg, dan 2 kg. Sementara produk detergen bubuk yang ‘ dikemas dengan sachet mempunyai berat 25 g, 30 g, 37 g, 45 g, atau ukuran lainnya.

Bahan kemasan plastik untuk produk yang dihasilkan dan industri berskala kecil berbeda dengan produk hasil industri skala menengah. Perbedaan ini sebenarnya berdasarkan pertimbangan ekonomi. Untuk detergen bubuk produksi usaha skala kecil dapat menggunakan plastik jenis PP dengan ketebalan tertentu dan dapat dibeli di sembarang toko plastik. Sementara untuk produksi yang berskala menengah disarankan untuk menggunakan jenis plastik khusus, yaitu multilayer plastic, yang dipesan dari perusahaan/pabrik plastik tertentu. Jenis plastik ini kualitasnya tinggi dan sistem printing-nya juga modern. Hanya saja untuk memesan plastik kemasan jenis ini diberlakukan jumlah minimum dan tidak bisa diecer. Sejumlaa modal cukup besar harus ditanam untuk keperluan ini. Untuk melakukan pengemasan detergen bubukedengan polibag dapat digambarkan dalam urutan sebagai berikut. 1. Tuangkan detergen bubuk ke dalam plastik polibag dan timbang berat netonya sesuai dengan yang dikehendaki. 2. Lakukan proses sealing, yaitu merekatkan ujung plastik agar menempel satu sama lain. Alat yang digunakan bisa berupahand sealer atau impuls sealer.

3. Cek kerekatan sealing dengan sedikit membetot polibag. Bila ternyata terdapat kebocoran, sisihkan produk tersebut dan lakukan pengemasan ulang.

4. Masukkan hasil pengemasan yang bagus ke dalam karton boks dengan jumlah yang telah ditetapkan.

Untuk pengemasan jenis sachet mempunyai ciri hasil pengemasan berupa rencengan. Dalam satu renceng umumnya terdiri dari 6, 8, atau 10 sachet atau tergantung keinginan pasar.

B. Kemasan Karton

Kemasan dari bahan karton berbentuk kotak seperti kemas’ an susu bubuk. Ada 2 cara untuk mengemas detergen dengan kemasan karton.

  1. Detergen bubuk dikemas dulu dalam plastik polos dan di-seal. Setelah itu, detergen bubuk dalam plastik baru dimasukkan ke dalam kemasan karton.
  2. Detergen bubuk langsung dimasukkan ke dalam kemasan karton.

Pada masa lalu, kemasan karton sempat populer di Indonesia. Namun, saat ini kepopuleran kemasan karton terkalahkan oleh kemasan plastik.

C. Kemasan Lain

Selain kemasan plastik dan karton, detergen bubuk dapat dikemas dalam wadah lain, misalnya kemasan dari bahan plastik berbentuk seperti botol. Kemasan semacam ini lazim digunakan oleh produsen detergen di luar negeri. Kemasan lainnya berupa botol plastik. Beberapa produsen detergen bubuk di Indonesia ada yang menggunakan jenis kemasan ini.

BAB 7

KONTROL KUALITAS

Kualitas merupakan salah satu pilar utama dalam bisnis. emikian juga untuk produk detergen bubuk, kontrol kualitas yang tepat diharapkan menghasilkan barang yang berkualitas prima pula. Dalam sistem manufaktur industri detergen bubuk, kontrol kualitas yang dipergunakan meliputi cek kedatangan bahan, kontrol kualitas dalam proses. pembuatan, dan kontrol produk jadi.

A. Cek Kedatangan Bahan (Incoming Quality Check)

Pada saat bahan baku datang perlu dilakukan cek kualitas di samping ketepatan jumlah kiriman. Pengecekan kualitas bukan. dimaksudkan untuk mencurigai suplier, tetapi sikap kehati-hatian terhadap kualitas adalah hal yang perlu dilakukan.

Cara pengontrolan kedatangan bahan cukup sederhana, yaitu dengan sistem sampling Sebagai contoh dipesan material NP-SO sejumlah 10 karung @ 10 kg dan barang dikirim sesuai pesanan. Sampling diambil dari 2 karung saja dan diamati kondisi bahan normal atau cenderung terlalu basah. Demikian juga warnanya putih atau sedikit kekuningan sebagai pertanda usia bahan“ terlalu lama. Sebagai contoh sodium sulfat yang berkualitas baik berwarna putih dengan kondisi fisik bubuknya yang halus. Sodium sulfat yang sudah menurun kualitasnya ditandai dengan penampakannya yang menggumpal keras. Secara fisik kualitas NP-SO yang baik berbentuk bubuk yang sedikit basah. NP-30 dengan kualitas yang tidak baik berbentuk gumpalan yang lengket. Untuk bahan baku lain yang berbentuk bubuk, secara umum berwama putih. Bahan baku yang kurang baik biasanya berwarna kekuningan. Untuk parfum yang sudah menurun kualitasnya akan berbau tengik.

Pengecekan saat bahan datang menjadi berarti manakala terdapat penyimpangan kualitas. Bila hal ini ditemukan maka segera dibuat surat protes dan barang segera dapat dikembalikan ke suplier untuk ditukar.

B. Kontrol Kualitas dalam Proses Pembuatan (Inprocess Qontrol)

Selama proses pembuatan detergen bubuk operator dapat melaksanakan cek visual terhadap bahan-bahan yang ditangani. Kontrol ini diperlukan sebagai filter kedua setelah incoming check. Pada saat dilakukan incoming check karena dilakukan dengan sistem sampling-dapat terjadi ada karung yang tidak di sampling dan kebetulan kualitasnya kurang baik. Dalam kasus ini maka operator dapat mengambil langkah yang diperlukan, yaitu dengan menyortiri dan mengganti bahan dengan kualitas yang baik.

C. Kontrol Produk Jadi

Kontrol selanjutnya dilakukan pada saat barang sudah jadi, tetapi sebelum dikemas. Kontrol yang dilakukan meliputi cek berat jenis, pengetesan kadar busa, pengecekan pengerasan, pengecekan kadar air, dan pengecekan stabilitas

1. Cek berat jenis

Cek berat jenis dilakukan dengan menimbang produk detergen yang diletakkan dalam wadah kecil yang sudah diukur volumenya. Cara mengukur volume Wadah ialah dengan menuang air ke dalam wadah hingga penuh. Setelah itu, tuangkan air dari wadah ke gelas ukur. Volume air dalam gelas ukur dicatat dan volume air tersebut merupakan volume wadah. Berat jenis dapat dihitung dengan rumus berikut.

Berat jenis = Berat bahan (neto) / Volume bahan

Dari satu batch produk diambil sampel untuk dicek berat jenisnya sebanyak tiga kali kemudian dibandingkan dengan standar. Contoh standar berat jenis detergen bubuk tertentu adalah 0,65 +- 0,05. Artinya, berat jenis produksi detergen yang bagus antara 0,6-0,7. Apabila berat jenis hasil sampling di luar kisaran di atas maka pencampuran bahan harus ditambah karena berat jenis berhubungan dengan kerataan. Hal ini dapat dipahami bahwa masingmasing bahan baku mempunyai berat jenis yang berlainan. Apabila bahan-bahan tersebut dicampur akan membentuk berat jenis keseluruhan (bulk densiaty). Semakin rata bahan campuran maka pengukuran berat jenis secara berulang akan diperoleh berat jenis yang sama atau hampir sama.

2. Pengetesan kadar busa

Pada skala industri, pengecekan kadar busa dapat dilakukan dengan alat active meter (AM). Metode pengecekan AM ini biasanya dilakukan oleh industri detergen bubuk yang berskala besar. Untuk industri kecil metode pengukuran AM ini terlalu mahal karena harus disediakan sejumlah alat laboratorium dan bahan kimia (reagen). Namun demikian, secara teoritis pengukuran AM dapat dilakukan dengan memakai rumus berikut.

AM = ef + gh

Ket :

e = kemurnian kadar aktif dalam bahan aktif 1 (NP-10)

f = kadar bahan aktif 1 dalam campuran

9 = kemurnian kadar aktif dalam bahan aktif 2 (Emal-10)

h = kadar bahan aktif 2 dalam campuran

Sebagai contoh dalam pembuatan detergen bubuk menggunakan bahan aktif NP-30 dan Emal-10 dengan kadar aktif masingmasing 0,15 dan 0,1. Kemurnian NP-30 adalah 30% dan Emai10 adalah 95%. Nilai AM dapat dicari dengan perhitungan berikut.

AM = ef + gh

= (30 x 0,15) + (95 x 0,1)

= 4,5 + 9,5

= 14

Angka AM 14 menunjukkan bahwa kadar busa detergen bubuk tersebut termasuk dalam golongan. sedang.

Secara sederhana pengecekan kadar busa dilakukan dengan pengadukan. Cara ini biasanya diterapkan pada industri skala kecil dan menengah. Proses pengecekan kadar busa dilakukan dengan mengambil detergen bubuk menggunakan sendok teh kemudian diratakan. Tuangkan detergen tersebut ke dalam gelas berisi air dengan volume tertentu. Aduk dengan pengaduk kecil selama dua menit. Ukur tinggi busa yang terbentuk. Bandingkan dengan ketinggian busa standar dari beberapa merek detergen yang beredar di pasar.

Cara sederhana lainnya ialah dengan aplikasi langsung untuk mencuci. Namun, cara ini memerlukan kepekaan pengukuran dan biasanya kepekaan tersebut dapat diperoleh dalam ”jam terbang” yang cukup banyak.

3. Pengecekan pengerasan

Pengecekan pengerasan diperlukan untuk menghindari pengerasan produk selama penyimpanan di tingkat konsumen. Perlu diketahui bahwa .dalam kondisi pencampuran yang tidak standar terkadang ditemukan kecenderungan produk detergen bubuk yang mengkristal. Kejadian tersebut sebaiknya dapat dihindari. Untuk itu, perlu dilakukan kontrol. Caranya dengan mengambil kurang lebih satu sendok teh detergen bubuk lalu memasukkannya ke dalam plastik kecil. Selanjutnya tuangkan air ke dalam detergen bubuk tersebut hingga cukup basah. Diamkan selama 2 jam dan amati apakah ada kecenderungan terjadi pengkristalan atau tidak.

4. Pengecekan kadar air

Pengecekan kadar air dilakukan dengan cara menimbang sejumlah detergen bubuk kemudian dipanaskan dengan oven sampai dengan 100° C selama 10 menit, didinginkan, lalu ditimbang. Selanjutnya detergen bubuk dipanaskan lagi dalam oven, didinginkan, dan ditimbang. Demikian seterusnya pekerjaan tersebut dilakukan sampai diperoleh berat yang konstan (artinya kandungan air dalam bubuk detergen sudah minimum). Kadar air dapat diperoleh dengan perhitungan berikut.

Kadar air = Berat awal – Berat akhir : beray awal × 100%

Sebenarnya masih ada metode lain pengecekan kadar air untuk detergen bubuk. Namun, metode pengecekan kadar air di atas cukup mewakili untuk kontrol kualitas detergen bubuk dengan aplikasi’ yang praktis, tetapi berhasil guna. Kadar air ideal detergen bubuk berkisar pada angka 5-6%.

5. Tes stabilitas (stability test)

Tes stabilitas dimaksudkan untuk mengetahui daya tahan detergen bubuk terhadap waktu. Caranya adalah dengan ”mendiamkan” detergen bubuk dalam kemasan tertutup. Selanjutnya detergen bubuk dicek kenampakan fisiknya secara berkala, misalnya setiap 1 bulan atau 2 bulan, sampai produk tersebut berubah secara fisik, seperti warna menjadi kekuningan dan menggumpal atau ada perubahan bau parfum..Dalam kemasan tertutup, detergen bubuk dapat tahan antara 2-3 tahun.

BAB 8

PERMASALAHAN PEMBUATAN DETERGEN BUBUK DAN PEMECAHANNYA

Dalam proses pembuatan detergen bubuk, berbagai masalah sering timbul. Dalam bab ini dipaparkan berbagai permasalahan yang timbul, penyebab, dan pemecahannya dalam proses pembuatan detergen bubuk.

MASALAH                                          PENYEBAB                                           PEMECAHAN

1. Berat jenis tidak sera-                 1. Terdapat penggumpalan                    1. Tumpukan material dikerok

gam (di luar standar),                        & atau penumpukan mate-                    dengan pengaduk kemu

meskipun waktu putar                        rial berlebihan di dinding                      dan waktu pencampuran

an cukup                                             bagian dalam mixer                               ditambah 5 menit

2. Detergen bubuk                         2.  Durasi pencampuran                          2. Diperlukan sistem kontrol

terlalu basah                                      terlalu lama                                              selama pemrosesan dan

–                                                           –                                                      hindari untuk memutar mixer

–                                                          –                                                     terlalu lama. Untuk  keperluan ini

–                                                           –                                                      dapat dipakai lembaran isian

–                                                          –                                                       produksi.

3. Detergen dalam                         3. Detergen bubuk dikemas                    3. Detergen yang terlalu lembap

kemasan cepat lembap                      dalam keadaan terlalu                           jangan langsung dikemas,

dan baunva tengik.                            basah atau lembap.                               tetapi detergen didiamkan

–                                                                     –                                                 dulu selama kurang lebih 8 jam

–                                                                     –                                                 hingga diperoleh kekeringan standar.

4. Aroma parfum tidak                   4.  Proses premixing antara                     4. Ambil gumpalan-gumpalan

rata                                                     Parfum dengan soda abu                        kecil kekuningan yang merupakan

tidak merata                                                          –                                             parfum dengan sedikit soda

–                                                                            –                                              abu. Pecahkan gumpalan

–                                                                             –                                            tersebut dengan menambahkan

–                                                                            –                                             sedikit soda abu lalu tuangkan

–                                                                              –                                           ke produk dan lakuI kan

–                                                                             –                                            pencampuran selama 5 menit.

5. Busa Kurang banyaK                    5. Formula yang di paKai                       5. Dilakukan percobaan skala

–                                                            kurang tepat, yaitu NP-30                     100 g untuk mendapatkan

–                                                            atau Emal-10  yang dipakai                   formula yang tepat. Namun,

–                                                            kurang banyak.                                      kendala cara ini dibatasi oleh

–                                                                         –                                                  harga pokok produksi. Untuk

–                                                                           –                                                 itu, perlu dicari suplier

–                                                                           –                                                 dengan harga yang paling

–                                                                           –                                                 murah tanpa mengorbankan kualitas.

6. Busa terlalu DanyaK                     6. Antifoam yang di paKai                      6. Tambahkan persentase antifoam

(untuk detergen bubuk                        kurang banyak                                        dalam formula secukupnya.

khusus mesin cuci

menghendaki busa sedikit)

7. Terjadi pengkristalan                   7. Pencampuran yang tidak                    7. – Lakukan standart

bubuk di konsumen                         merata, baik dengan tangan                   operating procedur (SOP)

–                                                           maupun dengan mixer.                           dengan sebenarnya.

–                                                                             –                                             –  Tarik barang yang

–                                                                             –                                                mengkristal di konsumen dan

–                                                                            –                                                  ganti dengan detergen yang

–                                                                             –                                                berkualitas bagus.

8. Kemasan detergen                     8. Saat sealing dengan sealer,                    8. Umumnya produk “disuntik”

terlalu menempel                              posisi kemasanx plastik kurang                   dengan jarum/peniti

ke produk (pipih,                              gembung                                                      sehingga kondisi vakum

seolaholah terbentuk                                –                                                            terpecahkan dan produk

kondisi vakum)                                          –                                                            “dapat “terurai”.

BAB 9

PENANGANAN LIMBAH INDUSTRI

Suatu industri manufaktur yang mempunyai komitmen bisnis tinggi tentu akan sangat menaruh perhatian terhadap persoalan limbah. Bahkan, dewasa ini terutama di luar negeri, produkproduk consumer good diwajibkan memasang tanda eco label. Label tersebut menunjukkan bahwa industri penghasil atau produsen barang tersebut dalam mengelola limbahnya telah memenuhi standar yang ditetapkan.

Pada industri detergen bubuk, terutama yang menggunakan metode campur kering sederhana akan menghasilkan limbah dalam jumlah minimal. Berikut ini jenis limbah yang dihasilkan dari industri detergen bubuk.

  1. Debu detergen yang berterbangan di udara.
  2. Material yang sedikit demi sedikit menempel di dinding ruang kerja dan lama kelamaan akan menebal. Limbah ini berasal dari debu material yang beterbangan.
  3. Material .yang menempel di lantai dan terinjak-injak sehingga mengeras.
  4. Limbah yang timbul karena hasil percobaan atau karena kesalahan proses.

Pengendalian terbentuknya debu material dapat dilakukan dengan melakukan pekerjaan secara hati-hati. Konsentrasi debu akan membesar bila selama pengadukan di luar (premixing) dilakukan terlalu keras. Juga disarankan untuk tidak menggunakan exhaust fan karena dapat memperbanyak terbentuknya debu. Lagi pula buangan exhaust fan ke luar dapat mencemari lingkungan.

Untuk material yang menempel di dinding dan di lantai penanganannya dilakukan dengan mengeroknya menggunakan kape (sejenis serok kecil). Kotoran material yang terkumpul kemudian dimasukkan ke dalam kantong plastik yang selanjutnya dapat dipergunakan untuk mencuci benda-benda khusus, seperti kain lap yang sangat kotor atau ban motor/mobil yang kotor. Jangan sekali-kali membuang kotoran material tersebut di tempat sampah. Pasalnya, bila limbah tersebut terkena air hujan maka kotoran material tersebut berubah menjadi busa yang banyak sehingga dapat mencemari tanah dan air tanah.

Untuk limbah yang dihasilkan dari percobaan atau karena kesalahahan proses maka material setengah jadi tersebut sebaiknya disimpan di drum. Limbah ini bersama dengan kotoran material hasil pengerokan dikumpulkan dan bila sudah semakin banyak maka dapat dibakar. Jalan keluar lain ialah dengan menjualnya ke industri pengolahan limbah yang mau menampungnya, meskipun untuk itu pengelola pabrik harus membayar biaya disposal (biaya untuk mengolah limbah) yang cukup tinggi.

BAB 10

ASPEK MANAJEMEN DAN PERIZINAN

Manajemen dan perizinan untuk. mendirikan perusahaan merupakan dua permasalahan yang harus diperhatikan. Baik pada usaha skala kecil maupun menengah, kedua aspek tersebut harus diperhatikan.

A. Aspek Manajemen

Tijauan aspek manajemen dititikberatkan pada sistem organisasi dan industri detergen bubuk. Pada skala usaha yang berbeda maka akan menyebabkan perbedaan pengelolaan manajemennya. Secara umum, sistem manajemen pada usaha skala kecil lebih sederhana dibandingkan pada usaha skala menengah.

  1. Manajemen pada usaha skala kecil

Untuk industri detergen bubuk skala kecil struktur organisasinya sangat sederhana, yaitu cukup 2 orang. Satu orang berfungsi mengurusi bidang produksi secara keseluruhan (pemesanan bahan baku sampai dengan produk akhir), sedangkan lainnya diserahi bidang penjualan (lebih luas marketing).

Dengan produksi sekitar 25 kg/hari, segala aktivitas manufaktur seperti mengurusi perizinan, penyusunan rencana produksi, pemesanan bahan baku dan kemasan, pelaksanaan .proses produksi, penguasaan administrasi produksi, dan sistem akuntansi dapat ditangani satu orang. Sementara bidang penjualan ditangani oleh tenaga kerja yang satunya; Bidang ini sepertinya sempit, tetapi kenyataannya inilah bagian yang sesungguhnya ”menggali” uang.

  1. Manajemen pada usaha skala menengah

Untuk skala menengah dengan output per harinya sekitar 1 ton akan berimplikasi kepada pemekaran struktur organisasi. Sebenarnya besar kecilnya organisasi manufaktur tergantung pada kebutuhan. Namun demikian, sebagai patokan dasar struktur organisasi industri manufaktur skala menengah adalah sebagai berikut

Manajemen pada usaha skala menengah

Pimpinan perusahaan dapat menyandang jabatan general manajer atau direktur. Apapun nama jabatannya, yang penting secara fungsional pimpinan perusahaan tersebut dapat menjalankan

peran dan tanggung jawabnya secara organisasional. Pemimpin harus dapat mengarahkan perusahaan agar mempunyai strategi perusahaan (corporate strategic) yang tepat sehingga perusahaan manufaktur akan menjadi the real service company.

Kepala marketing atau biasa disebut manajer marketing mempunyai kewajiban. dan tanggung jawab yang berat. Posisi departemen marketing sebagai ujung tombak perusahaan bertugas mencari pelanggan yang kemudian menghasilkan uang untuk menghidupi perusahaan. Seringkali bagian marketing besama-sama dengan bagian QC dan R & D berkunjung ke konsumen untuk menangani masalah kualitas. Di bawah kepala marketing terdapat salesman. Banyaknya salesman yang diperlukan osangat fleksibel, tergantung dari area/wilayah yang menjadi target penjualan, target selling out, dan seberapa jauh penerimaan konsumen terhadap produk.

Bagian akuntansi dapat saja merangkap dengan bagian personalia/umum. Untuk perusahaan skala menengah hal di atas jamak terjadi, tetapi bila perusahaan sudah jauh berkembang maka kedua bidang tersebut ditangani oleh masing-masing orang.

Dengan output produksi 1 ton/hari dan menggunakan mesin mixer kapasitas 25 kg/batch maka dapat dicari kebutuhan tenaga kerja agar proses produksi dapat berjalan secara efisien. Langkah pertama adalah menghitung jumlah mesin mixer yang diperlukan dengan didasarkan pada kapasitas 25 kg/batch dan kecepatan produksi mulai dari persiapan bahan baku sampai dengan siap sebagai barang jadi 25 kg/lini/l jam 10 menit. Lini yang dimaksudkan di sini adalah alur proses kerja mulai persiapan bahan baku sampai pengemasan dengan karton boks. ”

Selanjutnya disusun lay out unit produksi yang menggambarkan kebutuhan akan tenaga kerja dan durasi proses per unit dengan dasar produksi 25 kg/batch dan pengemasan dengan kemasan 1 kg.

aspek manajemen

Kecepatan output per lini 25 kg/70 menit. Satu shift terdiri atas 8 jam (1 jam istirahat, efisiensi 85%), berarti waktu kerja efektif = (8-1) x 0,85 = 5,95 jam.

5,95 / 1,16  x  25 kg = 125 kg/shiff

Dari perhitungan di atas dapat diartikan bahwa setiap lini (alur proses) akan menghasilkan produk sebanyak 125 kg/shift. Dengan demikian, untuk memproduksi 1.000 kg produk maka _ diperlukan

1.000 / 125 x 1 lini = 8 lini

Satu hal yang perlu diketahui bahwa 8 lini tidak berarti semua unit menyediakan mesin atau alat secara lengkap. Namun, ada beberapa mesin yang dapat dipakai bersama-sama karena dari segi output sangat mencukupi. Sebagai contoh kecepatan proses sealing (melekatkan plastik pembungkus satu sama lain dengan media pemanasan) 2 kali kecepatan mixing. Jadi, alat tersebut cukup disediakan sebanyak 4 buah saja.

Manajemen pekerja juga diatur secara efisien sehingga beban pekerjaan diusahakan seimbang antara pekerja satu dengan yang lainya. Walaupun kebutuhan pekerja ”setiap lini 4 orang dan jumlah lini ada 8, tidak berarti jumlah pekerja di unit produksi menjadi 32 orang. Namun, dengan diterapkannya jaringan kerja yang baik, kebutuhan tenaga kerja bagian produksi dengan kapasitas 1 ton/hari cukup 20 orang.

B. Perizinan

Pendirian perusahaan industri deterjen bubuk, baik berskala kecil maupun menengah, keduanya harus menempuh langkah-langkah perizinan yang sama. Berikut adalah prosedur yang perlu ditempuh.

  1. Ijin mendirikan bangun bangunan (IMBB). Bagi yang menyewa tempat harus menunjukkan lembaran perjanjian kontrak disertai dengan foto kopi IMBB pemilik bangunan yang dilegalisir.
  2. Akte pendirian perusahaan yang dikeluarkan oleh Direktorat Kehakiman Pusat Jakarta.
  3. Tanda ijin usaha perdagangan (HO perdagangan)
  4. Nomor pokok wajib pajak (NPWP) yang diteruskan dengan Nomor pokok pengusaha kena pajak (NPPKP).
  5. Tanda daftar perusahaan (TDP).
  6. Tanda daftar industri (HO produksi).
  7. Ijin merek. Untuk mendapatkan ijin merek persyaratan yang harus dipenuhi di antaranya harus diedarkan/dipublikasikan ke masyarakat selama 4 bulan. Ini untuk menjaga terdapatnya merek yang sama.
  8. Tanda barcode (bila produk dijual di supermarket).
  9. Ijin Depkes untuk mendapatkan nomor Depkes.Pada saat mengurus ijin Depkes keterangan persyaratan

yang disertakan adalah sebagai berikut.

Peta lokasi.

Daerah bangunan (diperiksa oleh Balai POM).

Daftar macam dan bentuk produk.

Daftar alat produksi dan perlengkapan produksi.

Daftar alat laboratorium.

Daftar buku kepustakaan.

Oleh karena sistem perijinan mengalami perubahan, diharapkan dengan adanya deregulasi maka sistem menjadi lebih sederhana.

BAB 11

PEMASARAN

Secara umum, pasar detergen bubuk meliputi pasar lokal dan pasar ekspor. Untuk dapat menembus pasar ekspor tentunya produk detergen bubuk yang dihasilkan harus sudah memenuhi kualitas yang baik dan produksinya sudah kontinu.

A. Pasar Lokal

Di Indonesia, pasar deterjen bubuk terdiri atas pasar umum (general) dan pasar khusus (eksklusif). Kedua pembedaan jenis pasar tersebut sebenarnya berasal dari sistem atau cara peneucian pakaian, yaitu pencucian dengan tangan (hand wash) dan pencucian dengan mesin cuci (washing machine). Kedua cara pencucian tersebut menjadikan kualifikasi produk detergen bubuk yang berbeda dengan bermuara kepada segmentasi pasar yang berbeda.

1 . Pasar umum

Dewasa ini, pasar detergen bubuk di Indonesia masih dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar, baik penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN). Namun demikian, tidak berarti pintu untuk pasar detergen bubuk

ini sudah tertutup sama sekali. Meskipun harus diakui untuk mengubah kebiasaan orang menggunakan produk lain bukan perkara gampang. Dari pengamatan, beberapa produsen baru yang mencoba meramaikan pasar detergen bubuk umumnya mempunyai ciri sistem pemasaran sebagai berikut.

  1. Produk dipasarkan secara ”gerilya” dan bukan secara head on atau perang terbuka. Caranya antara lain dengan memanfaatkan penawaran melalui tatap muka saat pertemuan ibu-ibu dan penawaran dari pintu ke pintu (door to door).
  2. Produk dijual dengan harga lebih murah, yaitu sampai di bawah 20% dari merek terkenal yang termurah.
  3. Kemasan produk dibuat semenarik mungkin.
  4. Jalur distribusi umumnya pendek seperti berikut. Produsen – agen perorangan – konsumen atau Produsen – konsumen

2. Pasar khusus

Tinjauan terhadap pasar khusus berarti berbicara tentang produk detergen bubuk untuk mesin cuci. Pasar khusus yang dimaksud terutama adalah usaha laundry (binatu). Pada usaha binatu umumnya menggunakan mesin cuci untuk melayani konsumen.

Saat ini, cukup banyak usaha binatu yang menjadi pelanggan tetap produsen detergen bubuk skala kecil dan menengah. Kerja Sama ini terjalin karena dari analisis menunjukkan bahwa harga iuai detergen bubuk mesin cuci buatan produsen kecil dan menengah jauh di bawah harga detergen mesin cuci merek terkenal. Pengusaha binatu pun tidak akan menggunakan detergen bubuk untuk mencuci dengan tangan dipakai untuk mencuci dengan mesin. Mereka tahu efek negatifnya, yaitu cucian yang dihasilkan kurang bersih. Selain itu, busanya terlalu banyak sehingga boros air pembilas.

B. Pasar Ekspor

Di salah satu kota besar di Indonesia terdapat sebuah produsen detergen bubuk berskala menengah. Pada awalnya, kapasitas produksinya masih rendah. Namun, hanya dalam beberapa tahun saja perusahaan tersebut berhasil meningkatkan output sampai 12 ton/hari. Kemana perusahaan tersebut melempar produknya?

Dari data kualitatif dapat disampaikan bahwa ceruk pasar international yang besar untuk produk detergen bubuk di antaranya negara-negara di Afrika, Amerika Latin, Filipina, Sri Lanka, dan Bangladesh. Beberapa produsen detergen bubuk mengekspor produknya ke negara-negara tersebut.

Untuk saat ini, ekspor detergen bubuk masih terus berkembang. Masing-masing negara importir memiliki kriteria khusus terhadap produk yang diminta. Namun, secara umum kriteria produk yang diekspor merupakan optimalisasi antara kualitas dan harga dalam arti kualitas memenuhi kriteria, tetapi harganya relatif rendah.

Dalam merintis pasar ekspor, kejelian melihat peluang pasar dan usaha untuk mendapatkan akses memasuki pasar global sangat diperlukan. Untuk itu, perekrutan tenaga marketing yang andal adalah mutlak. Sebagus apapun produk yang ditawarkan, tetapi jika tidak tahu pasar yang harus dituju dan cara menjualnya, maka akan menjadi persoalan yang sangat serius bagi produsen detergen bubuk yang bersangkutan.

BAB 12

ANALISIS USAHA

Perhitungan analisis usaha pembuatan detergen bubuk dibagi menjadi 2 skala, yaitu skala kecil dan skala menengah. Kedua skala usaha tersebut dibedakan berdasarkan volume produksi yang dihasilkan, kapasitas dan volume alat yang digunakan, serta besarnya investasi yang ditanamkan. Masing-masing skala usaha tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Pada usaha skala kecil mempunyai kelebihan hanya memerlukan modal kecil dan proses produksi berjalan sangat efisien. Namun, kelemahannya adalah diperlukan waktu lama untuk membesarkan bisnis. Pada usaha skala menengah akan didapatkan keuntungan lebih besar bila usaha tersebut berkembang. Namun, untuk mengembangkan usaha dengan skala ini diperlukan modal yang besar dan risiko yang harus dipikulnya pun besar pula.

A. Analisis Usaha Skala Kecil

Pada contoh perhitungan analisis usaha skala, diasumsikan bahwa besarnya kapasitas produksi 30 kg/hari dan dengan 25 hari produksi dalam satu bulan.

I. Modal (1 tahun)

1. Modal tetap

a. Sewa ruangan 1 tahun ……………………………………………………………………. Rp 1.000.000,00

b. Ember besar diameter 60 cm 2 buah @ Rp 20. 000,00 ………………… Rp 40.000,00

c. Ember kecil diameter 25 cm 3 buah @ Rp 8,000,00 …………………….. Rp 24.000,00

d. Pengaduk tangan 3 buah @ Rp 2000,00 ……………………………………….. Rp 6.000,00

e. Timbangan besar ukuran sampai dengan 500 kg ………………………… Rp 600.000,00

f. Tlmbangan kecil ukuran sampai dengan 2 kg ………………………………. Rp 100.000,00

g. Saringan pasir ……………………………………………………………………………………… Rp 20.000,00

h. Sealer plastik panjang 30 cm ……………………………………………………………. Rp 350.000,00

i. Pemadam kebakaran 2 kg ………………………………………………………………….. Rp 250.000,00

j. Alat-alat pelengkap ……………………………………………………………………………… Rp 50.000,00 +

Jumlah ………………………………………………………………………………………………………… Rp 2.440. 000,00

2. Modal kerja

a. Persediaan bahan baku dan bahan

kemasan ………………………………………………………… Rp 2.700.000,00

b. Persediaan barang jadi (finish good) …… Rp 500.000,00

c. Minimum kas ……………………………………………. Rp 500.000,00  +

Jumlah ……………………………………………………………. Rp. 3.700.000,00

3. Total modal

Total modal = Modal tetap + Modal kerja

Rp 2.440.000,00 + Rp 3.700.000,00 = Rp 6.140.000,00

ll. Biaya Operasional (1 bulan)

1. Biaya produksi langsung

a. Sewa tempat per bulan ……………………. Rp 83.300,00

b. Bahan baku dan kemasan ………………… Rp 2.700.000,00

c. Penyusutan alat

  • Ember kecil 24.000:1:12 …………………….. Rp 2.000,00
  • Pengaduk tangan 6.000:3:12 …………….. Rp 160,00
  • Tlmbangan besar 600.000:10:12 ……… Rp 5.000,00
  • Timbangan kecil 100.000:10:12 ……….. Rp 830,00
  • Saringan pasir 20.000:0,5:12 ……………. Rp 3.300,00
  • Sealer 350.000:5:12 ……………………………. Rp 5.800,00
  • Pemadam kebakaran 250.000:5:12 …. Rp 4.100,00
  • Ember besar 40.000:1:12 ………………….. Rp 3.300,00

d. Listrik …………………………………………………………. Rp 50.000,00

e. Operasional penjualan ………………………….. Rp 100.000,00  +

Jumlah ………………………………………………………… Rp 2.957.790,00

2. Biaya produksi tak langsung

Biaya overhead lain ……………………………… Rp 20.000,00

2. Total biaya operasional

Total biaya operasional = Biaya produksi langsung + Biaya produksi tak langsung

Rp 2.957.790,00 + Rp 20.000,00 = Rp 2.977.790,00

Keterangan

Untuk mengetahui biaya total bahan baku maka berikut ini contoh perhitungan bahan baku detergen bubuk untuk kemasan 1 kg.

  • Emal =6,5%, harga Rp 16.000,00/kg
  • NP-30  = 15%, harga Rp 8.000,00/kg
  • Soda abu = 6%, harga Rp 2.000,00/kg
  • STPP = 3%, harga Rp 6.000,00/kg
  • Sodium sulfat = 69,3%, harga Rp 1.100,00/k9
  • Parfum 0,2%, harga Rp 90.000,00/kg

Perhitungan harga pokok material untuk 1 kg detergen bubuk adalah sebagai berikut.

NP-30            = 0,15 x Rp 8.000,00 : Rp 1.200,00

Emal              = 0,065 x Rp 16.00000 = Rp 1040,00

Soda abu       = 0,06 x Rp 2000,00 Rp 120,00

STPP              = 0,03 x Rp 6.000,00 Rp 180,00

Sodium sulfat = 0,693 x Rp 1.100,00 Rp 762,00

Parfum           = 0,002 x Rp 90.000 = Rp 180,00  +

Rp 3482,00 (dibulatkan Rp 3500,00)

III. Penerimaan

Untuk menghitung penerimaan diasumsikan bahwa harga jual detergen bubuk adalah Rp 5.875,00/kg.

Penerimaan = Jumlah produksi x Harga produk/satuan

= 30 x Rp 5875,00

= Rp 176.250,00

Penerimaan dalam satu bulan (25 hari kerja) :

= Rp 176.250,00 x 25

= Rp 4.406.250,00

IV. Perhitungan Usaha

Perhitungan usaha dilakukan dengan menghitung keuntungan, break even point (BEP), dan pay back period (PBP).

1. Keuntungan

Keuntungan = Penerimaan – Total biaya operasional

= Rp 4.406.250,00 -Rp 2.977.790,00

= Rp 1.028.460,00

Jadi, keuntungan yang diterima dalam satu bulan Rp 1. 028 460, 00 atau keuntungan per kg detergen sebesar

Rp 1. 370, 00.

2. Perhitungan break even point (BEP)

BEP = Biaya Operasional / Harga Jual

= Rp 2.977.790,00 / 507

= Rp 5.875,00 kg/bulan

Bila BEP dihitung dalam hari, perhitungannya adalah sebagai berikut.

BEP = Rp 507 kg/bulan / 25 hari/bulan

BEP  = 20 kg/hari

Dengan nilai BEP 20 kg/hari, artinya agar tidak merugi, detergen bubuk harus laku paling tidak 20 kg/hari.

3. Waktu kembali modal (pay back period)

Pay back period (PBP) merupakan waktu yang diperlukan agar modal investasi dapat kembali. Untuk menghitung PBP diasumsikan target penjualan 30 kg/hari dan keuntungan rata-rata Rp 1.370,00/kg. PBP dihitung dengan rumus sebagai berikut.

PBP = Total modal /  (Target penjualan-BEP produksi) x Keuntungan rata-rata/kg x Jumlah hari penjualan/bulan)

PBP= Rp 6.140.000,00 / (30-20) kg/hari x Rp 1.370,00/kg x 25 hari

= 18 bulan

Dengan nilai PBP sebesar 18 maka modal investasi akan kembali setelah 18 bulan berjalan. Bila hasil penjualan lebih besar dari 30 kg per hari maka waktu kembali modal menjadi lebih pendek.

B. Analisis Usaha Skala Menengah

Perhitungan analisis usaha skala menengah didasarkan pada kapasitas produksi 1 ton/hari.

I. Modal (1 tahun)

1. Modal tetap

a. Sewa ruangan 1 tahun ……………………………………………………………………….. Rp 5.000.000,00

b. Mesin mixer kapasitas 25 kg 8 buah @ Rp 2,500,000,00 …………….. Rp 20.000.000,00

c. Ember besar 16 buah @ Rp 20.000,00………………………………………………..Rp 320.000,00

d. Ember kecil 24 buah @ Rp 8.000,00………………………………………………….. Rp 192.000,00

e. Timbangan besar 4 buah @ Rp 600.000,00 ……………………………………… Rp 2.400.000,00

f. Timbangan kecil 8 buah @ Rp 100.000,00 …………………………………………. Rp 800,000,00

g. Saringan pasir 8 buah @ Rp 20.000,00………………………………………………..Rp160.000,00

h. Impuls sealer 4 [email protected] Rp 1.100.000,00 ……………………………………………. Rp 4.400.000,00

i. Pemadam kebakaran 4 [email protected] Rp 250.000,00 ………………………………….. Rp 1.000.000,00

j. Mesin sachet …………………………………………………………………………………………….. Rp 44.000.000,00

k. Oven ………………………………………………………………………………………………………….. Rp 3.000.000,00

l. Perlengkapan lain ……………………………………………………………………………………. Rp 1.000.000 00  +

Jumlah …………………………………………………………………………………………………………… Rp 82.272.000,00

2. Modal kerja

Perhitungan modal kerja dilakukan dengan dasar waktu satu bulan.

a. Bahan baku ………………………………………………………………………………………………… Rp 90.000.000,00

b. Bahan kemasan (jumlah minimum order) …………………………………………….. Rp 50.000.000,00

c. Persediaan barang jadi ……………………………………………………………………………… Rp 10000000 00

d. Minimum kas ……………………………………………………………………………………………… Rp 10.000.000,00  +

Jumlah ……………………………………………………………………………………………………………… Rp160.000.000,00

3. Total modal

Total modal = Modal tetap + Modal kerja

= Rp 82.272.000 + Rp. 160.000.000

= Rp 242.272.000,00 ‘

II. Perhitungan Biaya Operasional

Perhitungan biaya operasional dilakukan dengan dasar Waktu satu bulan.

1. Biaya produksi langsung

a. Sewa tempat per bulan ………………………………………………………………………. Rp 420.000,00

b. Bahan baku …………………………………………………………………………………………… Rp. 90.000,000,00

c. Bahan kemasan …………………………………………………………………………………….. Rp 5.000.000,00 .

d. Upah langsung 20 orang @ Rp 400.000,00 …………………………………….. Rp 8.000.000,00

e. Penyusutan alat Mixer Rp 20.000.000,00:4:12 ………………………………… Rp 416.000,00

  • Timbangan kecil Rp 800.000,00:10:12…………………………………………. Rp 6.600,00
  • Mesin sachet Rp 44.000.000,00:10:12………………………………………….. Rp 366.700,00
  • Ember besar Rp 320.000,00:1:12…………………………………………………… Rp 26.000,00
  • Ember kecil Rp 192.000,00:1:12……………………………………………………. Rp 16.000,00
  • Timbangan besar Rp 2.400.000,00:10:12 ……………………………………. Rp 20.000,00
  • Sealer Rp 4.400.000,00:5:12 …………………………………………………………. Rp 73.300,00
  • Saringan pasir Rp 160.000,00:0,5:12…………………………………………… Rp 26.600,00

f. Listrik ……………………………………………………………………………………………………… Rp 200.000,00

g. Operasional sales/pemasaran ………………………………………………………….. Rp 3.000.000,00  +

Jumlah ………………………………………………………………………………………………………. Rp 117.571.200,00

2. Biaya produksi tak langsung

a. Gaji karyawan …………………………………. Rp 8.000.000,00

b. Biaya overhead lain ……………………….. Rp 1.000.000,00  +

Jumlah ………………………………………………… Rp 9.000.000,00

3. Total biaya operasional

Total biaya operasional = Biaya produksi langsung + Biaya produksi tak langsung

= Rp 107.571.200,00 + Rp 9.000.000,00

= Rp 116.571.200,00

III. Penerimaan

Seperti pada skala kecil, harga jual detergen bubuk pada skala menengah adalah Rp 5.875,00/kg. ‘

Penerimaan = Jumlah produksi x Harga produk/satuan

= 1.000 x Rp 5875,00

= Rp 5.875.000,00

Penerimaan dalam satu bulan (25 hari kerja)

= Rp 5.875.000,00 x 25

= Rp 146.875.000,00

IV. Perhitungan Usaha

Perhitungan usaha dilakukan dengan menghitung keuntungan, ‘ break even point (BEP), dan pay back period (PBP).

1. Keuntungan

Keuntungan = Penerimaan Total – biaya operasional

= Rp 146.875.000,00 – Rp 116.571.200,00

= Rp 30.303.800,00

Jadi, keuntungan yang diterima dalam satu bulan Rp 30.303.800,00 atau keuntungan per kg detergen sebesar Rp 1.220,00.

2. Break even point (BEP)

BEP = Biaya operasional / Harga jual

= Rp 116.571.200,00 / Rp 5875,00

= 19.842 kg/bulan

Bila BEP dihitung dalam hari, perhitungannya adalah sebagai berikut.

19.842 kg/bulan 25 hari/bulan

= 794 kg/hari

Dengan nilai BEP 794 kg/hari, artinya agar tidak merugi detergen bubuk harus laku paling tidak 794 kg/hari.

3. Waktu kembali modal (pay back period)

Untuk menghitung waktu kembali modal diasumsikan target penjualan 1 ton/hari dan keuntungan rata-rata Rp 1.220,00/kg.

PBP = Total modal / (Target penjualan-BEP produksi) x Keuntungan rata-rata/kg x Jumlah hari penjualan/bulan)

PBP = Rp 242.272.000,00 / (1.000-794) kg/hari x Rp 1.220,00/kg x 25 hari/bulan)

38,5 bulan atau 3,2 tahun.

Dengan nilai PBP sebesar 3,2 tahun maka modal investasi dapat kembali dalam waktu 3 tahun 2 bulan. Apabila dalam kenyataanya hasil penjualan detergen bubuk lebih dari 1 ton per hari maka waktu kembali modal menjadi lebih singkat.

#NB ket :

(/) = pembagian

(-) = pengurangan

(+) = penambahan

 

2 Cara Membuat Deterjen Bubuk

Leave a Reply