SUNAN KALIJAGA : Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak

Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh Walisongo yang cukup berpengaruh dalam menyebarkan ajaran Agama Islam, terutama di Pulau Jawa. Ilmu keagamaan yang beliau miliki cukup tinggi, sehingga beliau mampu menyebar luaskan syariat Islam di tanah Jawa. Beliau merupakan seorang ulama besan yang menjadi panutan orang muslim di Indonesia.

Itu sebabnya, makam beliau yang letaknya di Demak tidak pernah sepi dari peziarah. Terdapat perbedaan yang cukup menonjol pada dirinya. Salah satunya yaitu perbedaan dalam berdakwah dan berpakaian. Beliau lebih banyak memakai pakaian dengan warna hitam lengkap dengan blangkon khas Jawa.

Biografi Sunan Kalijaga

Nama asli dari Sunan Kalijaga yaitu Raden Said. Beliau lahir pada tahun 1450, seorang putra Adipati Tuban yang merupakan Tumenggung Wilaktika atau lebih terkenalnya dengan sebutan Raden Sahur. Beliau memiliki beberapa nama lain, diantaranya yaitu Pangeran Tuban, Raden Abdurrahman, Lokajaya dan Syekh Malaya.

Terdapat asal usul mengenai nama Kalijaga, menurut masyarakat yang berada di Cirebon tepatnya Desa Kalijaga di kabupaten Cirebon. Ketika beliau tinggal di Cirebon, beliau sering melakukan kegiatan berdiam diri di sungai atau menurut bahasa Jawa yaitu jogo kali. Kegiatan berdiam diri tersebut karena atas perintah Sunan Bonang.

Kisah Sejarah Sunan Kalijaga Sebelum diangkat Menjadi Walisongo

Kisah Sejarah Sunan Kalijaga Sebelum diangkat Menjadi Walisongo

Sebelum beliau menjadi Walisongo, Raden Said merupakan seorang perampok hasil bumi. Beliau merampok hasil bumi dari orang-orang kaya, serta mencuri di tempat-tempat yang menyimpan hasil bumi. Hasil bumi dari rampokan dan curian tersebut dibagikan kepada kaum duafa dan fakir miskin sekitar. Hal tersebut berlanjut cukup lama.

Suatu hari, ketika Raden Said sedang berada di hutan maka beliau bertemu dengan seorang kakek tua yang berjalan dengan menggunakan tongkat. Kakek tua tersebut tidak lain yaitu Sunan Bonang. Karena tongkat yang dibawa Sunan Bonan tersebut terlihat menyerupai emas, maka Raden said pun mempunyai niat untuk merampok tongkat tersebut dan hasil rampokannya akan diberikan kepada orang miskin.

Namun Sunan Bonang tidak membenarkan hal tersebut, beliau berkata kepada Raden Said bahwa Allah tidak akan menerima amal apapun yang buruk. Disitulah Sunan Bonang menasehati Raden Said, agar tidak melanjutkan aksinya dalam mencuri dan merampok. Mulai saat itulah Raden Said menjadi murid yang baik dari Sunan Bonang.

Sunan bonang menyarankan Raden Said untuk melakukan semedi sembari dengan menjaga tongkat milik Sunan Bonang yang ditancapkan di dekat sungai. Raden Said pun tidak diizinkan pergi sebelum Sunan Bonang mendatanginya. Setelah tiga tahun berlalu, maka Sunan Bonang pun datang dan Raden Said masih berada di tepi sungai menjaga tongkat yang diamanatkan.

Nah, dari awal cerita tersebut maka Sunan Bonang memberikan namanya dengan nama Kalijaga. Kemudian Raden Said diberi pelajaranoleh Sunan Bonang mengenai agama Islam. Dari situlah beliau mulai melakukan dakwah dan menyebar luaskan ajaran agama Islam. Beliau lebih memilih kesenian dan kebudayaan seperti gamelan, wayang, seni ukir dan juga seni suara sebagai media dakwahnya.

Cara tersebut merupakan metode yang cukup efektif untuk menyebar luaskan agama Islam pada masa itu. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi mengenai agama Islam. Hal itu yang membuat sebagian besar dari Adipati di wilayah Jawa memeluk Agama Islam. Seperti halnya Adipati Kartasura, Adipati Pandanaran, Adipati Kebumen, Adipati pajang dan Adipati Banyumas.

Keturunan Sunan Kalijaga

Keturunan Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga menikahi seorang wanita yang bernama Dewi Saroh Binti Maulana Ishak. Dari pernikahannya, beliau dikaruniai 3 orang anak yaitu Raden Umar Said, Dewi Rakayuh dan yang terakhir Dewi Sofiah. Dari keturunan beliau, ada yang menjadi tokoh Walisongo yaitu Raden Umar Said atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Muria.

Maulana Ishak yang merupakan bapak dari Istri Raden Said tersebut memiliki putra yang juga menjadi tokoh Walisongo, beliau adalah Sunan Giri. Sunan gIri dan Dewi Saroh merupakan kakak beradik. Mereka merupakan keluarga yang cukup berpengaruh terhadap penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.

Hingga saat ini makam Sunan Kalijaga tidak pernah sepi dari para peziarah. Hal ini disebabkan karena beliau sangat berjasa dalam penyebaran Agama Islam di tanah Jawa. Para peziarah datang ke makam beliau karena untuk berziarah, namun ada juga yang ingin mendapatkan petunjuk ilmu yang tinggi seperti ilmu yang pernah dipelajari oleh belaiu.

Bagi mereka yang ingin memiliki ilmu yang tinggi dari beliau maka harus siap secara lahir dan batin. Selain itu, Anda juga harus memiliki tekad kuat, karena untuk memiliki ilmu yang tinggi maka dibutuhkan usaha dan kerja keras. Anda juga harus ingat, untuk menggunakan ilmu tersebut dalam hal positif dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

Ilmu yang Dimiliki oleh Sunan Kalijaga

Ilmu yang Dimiliki oleh Sunan Kalijaga

Beliau kaya akan ilmu yang diwariskan oleh Sunan Bonang. Ilmu tersebut sangat bermanfaat dan masih diterapkan oleh masyarakat hingga saat ini. Karena ilmu tersebut memiliki banyak manfaat, seperti melancarkan datangnya rezeki, minta perlindungan kepada Allah hingga untuk memperoleh kewibawaan.

Banyak orang yang belajar ilmu dari beliau dan ingin menguasainya. Berikut ini beberapa ilmu yang beliau kuasai dan sangat bermanfaat untuk alam kehidupan manusia:

1. Sapu Angin

Ilmu sapu angin merupakan salah satu ilmu yang berguna untuk mentransfer kekuatan dalam segala keperluan.  Ilmu ini sangat cocok diamalkan bagi mereka yang ingin terhindar dari mara bahaya. Seseorang yang mampu menguasai ilmu ini, maka ia dapat mempercepat dan memperlicah dengan gerakan tubuhnya ketika terjadi bahaya.

2. Asmak Kidung

Ilmu asmak kidung berguna untuk menangkal serangan ilmu gaib seperti guna-guna, santet, teluh dan pellet. Selain sebagai penangkal, ilmu ini juga berguna sebagai pagar untuk menghalangi dari serangan gaib.

Sunan Kalijaga menciptakan sebuah lagu berjudul Kidung Rumekso Ing Wengi. Kidung tersebut memiliki arti yang mengandung doa keselamatan dan mampu menolak kekuatan jahat dari setan.

3. Aji Tapa Pendem

Aji Tapa Pendem merupakan ilmu yang berguna untuk keselamatan dan memiliki kekuatan supranatural tinggi. Untuk memperoleh ilmu ini, maka dapat ditempuh dengan 2 cara yaitu mengubur badan di dalam tanah sebatas leher dalam waktu yang cukup lama. Sedangkan cara yang ke dua yaitu mengubur seluruh badan di dalam tanah.

4. Aji Kungkum

Aji Kungkum merupakan ilmu yang bermanfaat untuk ajian silat secara gaib untuk perlindungan dan menjaga keselamatan diri. Kata kungkum berasal dari Bahasa Jawa artinya berendam. Untuk memperoleh ilmu ini, maka seseorang harus berendam di dalam sungai dalam waktu yang lama.

Selain ilmu di atas, Sunan Kalijaga masih memiliki ilmu lain dan diterapkan oleh manusia diantaranya yaitu ilmu Sapu Jagad, ilmu Asmak Sunge Rejeh dan ilmu Singkir Sengkolo.

Kisah Perjalanan Sunan Kalijaga

Kisah Perjalanan Sunan Kalijaga

Ketika Raden Said merasa prihatin melihat kondisi masyarakat Tuban akibat terjadinya upeti dan mengalami musim kemarau panjang. Maka beliau berinisiatif membongkar gudang kadipaten dengan membagikan makanan kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun, kala itu beliau tertangkap basah dan ditangkap oleh penjaga gudang, kemudian dilaporkan kepada ayah Raden Said.

Dalam perjalanannya berdakwah, setiap wali sudah pasti memiliki metode atau cara yang unik dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Hal itu bertujuan untuk memikat hati masyarakat dan metodenya tersebut dapat di tangkap oleh masyarakat. Begitupun Raden Said, beliau memiliki metode tersendiri dalam menyiarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa.

 Masa Kecil Sunan Kalijaga Hingga Dewasa

 Masa Kecil Sunan Kalijaga Hingga Dewasa

Nama kecil beliau menurut sejarah yaitu Raden Said atau Raden Mas Syahid. Ketika beranjak dewasa, beliau mulai giat belajar dalam menuntut ilmu, khususnya ilmu mengenai agama Islam. Beliau berguru kepada Sunan Bonang, Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati. Menurut sejarah, beliau memiliki usia hingga 100 tahun, itu artinya beliau mengalami masa berakhirnya kekuasaan di Kerajaan Majapahit.

Raden Said mengalami masa kesultanan Demak, Banten dan Cirebon. Bahkan beliau juga pernah merasakan kerajaan Panjang yang dibangun pada tahun 1546 Masehi dan Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Senpati. Beliau juga berpartisipasi dalam merancang pembuatan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Demak.

Raden Said merupakan salah satu putra dari Adipati Tuban. Beliau ada sosok yang sangat dekat dengan rakyat miskin atau jelata. Ketika terjadi masa kemarau panjang dan membuat para petani gagal panen. Dengan waktu yang bersamaan, maka pemerintahan pusat juga membutuhkan dana yang besar untuk mengatasi masalah pembangunan.

Jadi rakyat miskin pada saat itu mau tidak mau harus mebayar pajak dalam jumlah yang tinggi. Dengan melihat kondisi yang kontradiksi antara pemerintahan dengan rakyat jelata, membuat Sunan Kalijaga ingin lebih dekat dengan rakyat jelata. Dengan begitu beliau langsung bergerak cepat tanpa harus berfikir panjang untuk segera membantu rakyat.

Raden Said mencuri hasil bumi di gudang penyimpanan milik ayahnya untuk dibagikan kepada  fakir miskin dan rakyat jelata. Sebenarnya hasil bumi tersebut merupakan upeti dari masyarakat untuk disetorkan ke pemerintah pusat. Biasanya Raden Said melakukan aksinya tersebut pada malam hari dan langsung membagikan hasilnya kepada rayat jelata dengan cara sembunyi-sembunyi.

Namun seiring berjalannya waktu, maka penjaga gudang akhirnya merasa curiga karena jumlah upeti yang terdapat di gudang semakin berkurang jumlahnya. Pada akhirnya aksi Raden Said tersebut diketahui dan kemudian dimarahi habis-habisan oleh ayahnya. Sehingga beliau mendapat hukuman untuk tidak boleh keluar dari rumah.

Saat Berguru Kepada Sunan Bonang

Saat Berguru Kepada Sunan Bonang

Setelah Raden Said diusir oleh ayahnya dari rumah, maka beliau tinggal di hutan Jatiwangi. Namun lagi-lagi, beliau tetap melakukan aksinya semi untuk bisa membantu fakir miskin dan rakyat jelata. Pada saat melakukan aksi tersebut maka dia tidak menggunakan nama aslinya, melainkan menggunakan nama Brandal Lokajaya.

Pertemuannya dengan seorang kakek tua yang mengenakan baju putih dan menggunakan tongkat emas berkilauan. Dengan seketika, Raden Said merebut tongkat milik kakek tersebut dan membuat kakek tersebut jatuh tersungkur. Kakek tersebut bangun sambil mengeluarkan air mata. Ketika kakek tersebut memegang tongkatnya, maka Raden Said mengamatinya.

Ternyata tongkat kakek tersebut tidak terbuat dari emas, karena beliau melihat kakek tua itu menangis maka lantas tongkat tersebut dikembalikan. Kakek menangis tersebut bukan karena beliau terjatuh atau karena tongkatnya diambil. Namun beliau menangis karena pada saat terjatuh tidak sengaja ada rumput yang tercabut.

Kemudian kakek tua tersebut menjelaskan kepada Sunan Kalijaga, bahwa tindakan yang beliau lakukan tersebut sudah sangat salah. Ibarat saja saja mencuci baju yang kotor menggunakan air kencing, maka akan hanya mengotori baju tersebut dan pakaian justru akan menjadi bau. Mendengar penjelasan kakek tersebut, maka Raden Said diam termenung.

Raden Said pun di buat takjub dengan keajaiban yang di tunjukkan mengubah pohon aren menjadi emas.

Karena penasaran beliau memanjatnya, namun ketika hendak mengambil buahnya, tiba-tiba pohon tersebut rontok dan mengenai kepalanya, akhirnya beliau terjatuh dan pingsan. Setelah Raden Said tersadar bahwa kakek tersebut bukanlah orang biasa. Sehingga timbul rasa ingin belajar kepadanya.

Akhirnya di kejarlah orang yang berbaju putih tersebut, setelah berhasil di kejarnya beliau menyampaikan keinginannya untuk berguru kepadanya. Kemudian Raden Said di beri sebuah syarat yaitu Raden Said di perintahkan untuk menjaga tongkat dan tidak boleh beranjak sebelum kakek tersebut kembali menemuinya. Kegiatan tersebut dilakukan oleh Raden Said hingga 3 tahun lamanya.

Saat Rindu Terhadap Ibunya

Saat Rindu Terhadap Ibunya

Ibu kandung Raden Said tidak pernah tahu jika putra kesayangannya telah kembali di tanah kelahirannya. Beliau kembali ke Tuban, hanya saja tidak secara langsung kembali ke Istana Kadipaten Tuban, melainkan singgah ke tempat Sunan Bonang terlebih dahulu dan berguru tentang ilmu agama dan mengamalkannya.

Untuk mengobati rasa kerinduannya terhadap ibu kandungnya, maka Raden Said selalu membacakan ayat suci al’qur’an dan ditujukan untuk ke keluarganya yang berada di Istaba Kadipaena Tuban. Selain itu, belaiu juga mengarahkanilmu agamanya yang selama ini berguru kepada Sunan Bonang.  Suara lantunan ayat suci al-qur’an tersebut mampu menggetarkan dinding Istana Kadipaten.

Sunan Kalijaga tidak bersedia untuk menggantikan kedudukan ayahnya, kemudian kedudukan adipati tersebut diwariskan oleh cucunyayang bernama Empu Supa dan Dewi Raswulan. Kemudia Raden Said melanjutkan perjalannya untuk menyiarkan agama Islam di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dalam memimpin umatnya, belaiu merupakan soso yang sangat arif dan bijaksana.

Karena kearifannya maka saat beliau berdakwah, maka ilmunya sangat mudah diterima oleh masyarakat secara luas. Pada saat beliau melakukan syiar islam di daerah pinggiran dan dekat dengan hutan lebat, beliau dicegat segerombolan perampok yang sudah terkenal kekejamannya. Raden Said tersebut berkata dengan polos pada perampok, jika beliau tidak memiliki harta apapun.

Segerombolan perampok tersebut tidak mempercayainya. Kemudian mereka memeriksa Sunan Kalijaga dan beliau hanya tersenyum saja. Namun tidak lama kemudian beliau memberikan pelajaran terhadap perampok tersebut, dengan harapan para perampok tersebut bisa kembali pada jalan yang benar. Ketika semua kawanan perampok tersebut mulai menyerang.

Maka kemudian Raden Said langsung mengibaskan kain panjang yang dikenakan pada perampok tersebut. Dengan begitu maka segerombolan perampok langsung terpental jauh.

Metode Dakwah yang Diterapkan oleh Sunan Kalijaga

Metode Dakwah yang Diterapkan oleh Sunan Kalijaga

Dalam kegiatan berdakwahnya, beliau memiliki metode yang hampir sama dengan Sunan Bonang, yang merupakan salah atu tempat bergurunya. Paham keagamaanya tersebut yaitu berbasis salafdan bukan sufistik panteistik (suatu pemujaan semata). Beliau juga menerapkan kesenian sebagai media dakwahnya.

Beliau sangat yakin bahwa agama Islam sangat mudah untuk dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan metodenya, maka kebiasaan-kebiasaan lama pada masyarakat hilang dengan sendirinya. Beliau menggunakan seni wayang, seni ukir, seni suara serta seni gamelan sebagai media dakwahnya.

Sedangkan seni suara suluk juga diterapkan dalam berdakwah. Beberapa lagu suluk diciptakan oleh beliau yang hingga kini masih populer antara lain lagu Lir-Ilir, dan gundul-gundul pacul. Metode yang  diterapkan beliau ini sangat efektif, karena adipati Jawa sebagian besar memeluk agama Islam melalui beliau.

Pusaka Peninggalan dari Sunan Kalijaga

Pusaka Peninggalan dari Sunan Kalijaga

Nama Sunan Kalijaga memang sangat melegenda di masyarakat hingga kini, khususnya di tanah Jawa. Dalam pendekatannya untuk lebih taat kepada Allah SWT yaitu dengan lebih banyak mendekatkan diri melalui berdzikir. Berbagai macam dzikir yang beliau ajarkan kepada murid-muridnya yang berguru kepada beliau. Seperti halnya berdzikir denga lisan, hati, ruh, napas dan lain-lain.

Ketika menjalankan dakwahnya di pulau Jawa, beliau memiliki sejumlah benda pusaka yang diketahui selalu menemaninya saat berdakwah. Konon katanya, Rade Said memiliki ilmu kesaktian dan kenaguran yang tidak lain yaitu suatu karomah beliau sebagai seorang wali. Ilmu yang beliau miliki tersebut dikenal sebagai ilmu Aji Jagat.

Meskipun beliau memiliki karomah yang sangat luar biasa, namun tidak membuat beliau menjadi lupa diri. Akan tetapi beliau menggunakan ilmu tersebut untuk berdakwah serta menyebarluaskan ajaran agama Islam di seluruh pelosok tanah Jawa. Menurut cerita yang telah beredar di kalangan masyarakat luas di Jawa, bahwa Sunan Kalijaga memiliki beberapa benda pusaka.

Benda pusaka yang beliau miliki diantaranya yaitu api alam, keris nyai cerubuk, batu bobot, sendang atau sumur, tongkat kalimasada dan rompi ontokusumo (benda pusaka yang terbuat dari kulit kambing). Oleh sebab itu, perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam harus selalu kita hormati dan dilanjutkan perjuangannya.

Ketika Beliau mengajak orang untuk masuk Islam yaitu menggunakan metode yang cukup santun, arif dan menarik hati masyarakat tersebut. Perjalanan dakwahnya dalam mengajak orang untuk masuk Islam yaitu menggunakan niat yang tulus tanpa menggunakan cara apapun.

Cerita di Balik Lukisan Sunan Kalijaga

Cerita di Balik Lukisan Sunan Kalijaga

Pernahkah Anda menggambar sembilan wali atau Walisongo penyebar ajaran agama Islam di Pulau Jawa? Gambar Walisongo tersebut sangat terkenal karena dibuat poster dan dijual di pasaran. Gambar Sunan Kalijaga berbeda dengan gambar delapan wali lainnya. Beliau digambarkan berkumis tanpa adanya jenggot.

Beliau mengenakan kostum surjan dan memakai blangkon di kepalanya. Sedangkan delapan wali lainnya yaitu mengenakan kostum jubah dan mengenakan surjan di kepalanya. Ternyata ada dua versi gambar beliau yang diketahui oleh masyarakat luas. Ada gambar beliau yang lebih awal sekitar tahun 1970 an.

Cerita lahirnya gambar beliau yaitu bermula pada saat Suhadi yang berusia 102 tahun yang tinggal kurang lebih 40 kilometer jika ditempuh dari pusat Kota Demak. Beliau bermimpi oleh seseorang yang diyakini bahwa beliau adalah Sunan Kalijaga. Berawal dari mimpi tersebut maka dituangkan menjadi sebuah lukisan.

Berdasarkan mimpi tersebut, maka dibuatlah lukisan beliau yang kemudian ditunjukkan kepada R. Akhmad Mulyadi yaitu seorang sesepuh (juru kunci) masjid dan makan Raden Said. Beliau sangat terperanjat karena lukisan yang diberikan itu sama persis dengan orang yang pernah hadir dalam mimpinya hampir 10 kali.

Maka dilakukanlah kompromi apa yang terlihat di dalam mimpinya tersebut yaitu Sunan Kalijaga, salah satu dari sembilan wali. Setelah itu, kemudian diminta dari seorang mahasiswa di Akademi Seni Yogyakarta untuk membuat lukisannya kembali yang berdasarkan dari mimpi tersebut. Tulisan dari Wasif Yafhisam di dalam majalah Selecta, No.780 pada tanggal 30 Agustus, tahun 1978.

5  Konsep Kehidupan yang Diajarkan Sunan Kalijaga

5  Konsep Kehidupan yang Diajarkan Sunan Kalijaga

1. Marsudi Ajing Saripa

Konsep pertama yang diajarkan beliau adalah marsudi ajining sarira. Dalam ajaran tersebut, maka kita diajak untuk menghargai pada diri sendiri. Setelah menghargai diri kita, maka baru kita menghargai orang lain.

2. Manembah

Manembah artinya yaitu menyembah. Dalala perintm konsep kehidupan ini, beliau mengajak kepada kita untuk menyembah Allah SWT yaitu sebagai Tuhan Pencipta Alam Semesta. Menyembah juga memiliki arti mematuhi atas segala perintah dan menjauhi larangan Allah. Hal tersebut sudah tercantum dalam hadis maupun kitab suci al-qur’an.

3. Mengabdi

Mengabdi atau bakti yaitu dimana beliaum mengajak para pengikutnya untuk berbakti kepada orang tua yang sudah melahirkan serta membesarkan kita. Dilansirkan di Islamicendekia.com, bahwa yang dimaksud dengan mengabdi yaitu berbakti kepada orang tuayang telah melahirkan kita, berbakti terhadap agama, bangsa dan negara.

4. Maguru

Maguru menurut literal-bahasa artinya yaitu berguru. Dengan ilmu yang diajarkan oleh beliau bermaksud mengajak umat islam untuk belajar mencari ilmu yang bermanfaat untuk di dunia dan akhirat.

5. Martapa

Konsep ajaran islam terakhir yang diajarkan oleh beliau yaitu mertapa. Menurut bahasa, bahwa kata mertapa memiliki arti bertapa. Beliau mengajarkan kepada kit untuk memiliki sikap prihatin, menjalani hidup yang sederhana dan tidak berlebihan. Sebagai orang jawa yang beragama Islam, maka kita harus berpegang teguh pada 5 konsep tersebut.

Kita semua diajarkan untuk banyak menyembah Allah, mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah wajib, wirid, dzikir dan ibadah sunahlainnya. Kita juga diajarkan untuk lebih banyak melakukan tirakat dalam menjalani kehidupan dengan lebih prihatin terhadap keadaan. Selain itu, kita juga dianjurkan untuk hidup tidak berlebihan, meskipun kita berkecukupan secara materi.

5 konsep di atas merupakan anjuran Sunan Kalijaga yang sangat berharga untuk kita semua. Ajaran tersebut harus kita contoh, diterapkan dan diteladani oleh semua generasi penerus bangsa Indonesia. Generasi bangsa yang bisa menghargai diri sendiri dan orang lain, taat beribadah kepada Allah, taat kepada orang tua, agama, bangsa dan juga negara.

Sebagai generasi bangsa yang bertanggung jawab, maka septutnya untuk menerapkan konsep ajaran di atas dan terus mencari ilmu yang bermanfaat.

Jasa-Jasa Sunan Kalijaga yang Cukup Terkenal

Jasa-Jasa Sunan Kalijaga yang Cukup Terkenal

Sebagai seorang Walisongo, beliau telah memberikan jasa-jasa yang sangat berharga dalam perkembangan agama Islam di Pulau Jawa. Jasa beliau dibagi menjadi dua, antara lain sebagai seorang da’I dan di bidang seni dan budaya.

Di dalam masyarakat, beliau terkenal sebagai seseorang yang mudah bergaul dengan semua lapisan masyarat. Jika wali yang lainnya hanya menjalankan dakwah di daerahnya saja atau dengan cara mendirikan sebuah pesantren atau padepokan, namun baliaterkenal sebagai mubaligh keliling yang cukup kondang.

Dengan beliau memanfaatkan kesenian yang ada, maka memudahkan beliau dalam bergaul dengan masyarakat untuk diajak mengenal ajaran agama Islam. Beliau juga ahli dalam menabuh gamelan, menciptakan tembang, pandai mendalang yang kesemuanya digunakan untuk kepentingan da’wah serta menyiarkan ajaran agama Islam.

Terhadap adat Istiadat yang ada di masyarakat, beliau tidak langsung menentang secara frontal dan tajam. Karena hal tersebut bisa menyebabkan mereka akan lari dan enggan untuk belajar serta mengenal agama Islam dengan baik. Dengan pendekatan yang bijak dan luwes, maka banyak orang jawa yang bersedia untuk memeluk agama Islam.

Dari beberapa penjelasan mengenai Biografi Sunan Kalijaga, sejarah, kisah beliau dari anak-anak hingga dewasa dan perjalanan da’wahnya dalam menyebarkan ajaran agama Islam di atas, semoga dapat menambah wawasan Anda.

SUNAN KALIJAGA : Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak

Leave a Reply