SUNAN GIRI : Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak Makam

Biografi Walisongo – Sunan Giri merupakan seseorang yang pernah berjasa di tanah Jawa dalam syar Islam. Beliau memiliki nama lain yaitu Sultan Abdul Faqih, Prabu Satmata, Raden Ainul Yaqin, Joko Samudra dan Raden Paku. Beliau adalah salah satu Wali Songo yang berpusat di desa Giri, kecamatan Kebomas, kabupaten Gresik, provinsi Jawa Timur.

Menurut asal usul keturunan, beliau merupakan salah satu keturunan dari Rasulullah SAW. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya jalur keturunan dari Husain Bin Ali, Ali Zainal, Maulana Ishaq Ainul Yaqin atau dikenal dengan sebutan Sunan Giri. Beliau sangat berjasa dalam kiprah menyebarkan ajaran agama di tanah jawa.

Biografi Sunan Giri

Biografi Sunan Giri

Sunan Giri lahir dari seorang ibu bernama Dewi Sekardadu dan nama ayahnya yaitu Maulana Ishaq. Maulana Ishaq merupakan salah satu mubaligh Islam yang berasal dari Asia Tengah. Beliau diceritakan menikah dengan Sekardadu, salah satu putri Prabu Menak Sembuyu dan termasuk seorang penguasa di wilayah Blambangan terutama pada masa puncak kekuasaan kerajaan Majapahit.

Menurut pendapat lain menyatakan bahwa beliau masih keturunan Rasulullah SAW. Pendapat tersebut berdasarkan riwayat dari pesantren-pesantren yang ada di wilayah Jawa Timur dengan catatan nasab Sa’adah Balawi Handramaut. Karena garis keturunannya tersebut, maka beliau cukup terkenal dalam berdakwah untuk menyebarkan syariat Islam.

Di dalam Hikayat Banjar, beliau merupakan salah satu cucu dari Putri Pasai dan Dipati Hangrok. Pernikahan antara Putri Pesai dan Dipati Hangrok yang kemudian melahirkan seorang putra namun tidak disebutkan namanya. Kemudian putranya tersebut menikah degan puteri Raja Bali yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Pangeran Giri.

Putri Pesai merupakan salah satu puteri dari Sultan Pesai yang dinikahi oleh Dipati Hangrok (Brawijaya VI) yaitu seorang Raja Majapahit. Mangkubumi Majapahit pada masa itu bernama Patih Maudura.

Nama Asli Sunan Giri

Nama Asli Sunan Giri

Nama asli dari Sunan Giri adalah Raden Paku. Selain Raden Paku, Beliau juga memiliki sederet nama lainnya yang melekat, salah satunya yaitu Joko Samudra. Alasannya diberikan nama Joko Samudra, yakni dulu beliau pernah di buang oleh kakeknya ke laut yang kemudian ditemukan seorang awak kapal dan diasuhnya oleh saudagar kaya pemilik kapal tersebut.

Setelah beliau tumbuh besar di Pesantren Sunan Ampel, kemudian Raden Paku diberikan nama Maulana Ainul Yaqin, nama tersebut diberikan karena kecerdasan yang dimilikinya. Disebutkan pada buku Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual yang diterbitkan oleh Kompas, bahwa Raden Paku memiliki kisah yang menarik ketika mencari daerah untuk tempat berdakwah.

Setelah beliau belajar bertahun-tahun dengan Sunan Ampel diceritakan, bahwa dirinya dan putra Sunan Ampel yang bernama Makhdum Ibrahim diutus untuk menuntut ilmu ke Mekkah. Namun sebelum mereka berangkat ke Mekkah harus singgah di Pesai terlebih dahulu untuk bertemu dengan Syekh Maulana Ishaq.

Itulah cara Sunan Ampel mempertemukan Sunan Giri dengan ayahnya. Namun pada akhirnya mereka berguru dan menimba ilmu di Pesai dengan Syekh Maulana Ishaq. Setelah 7 tahun menuntut ilmu di Pesai, kemudian mereka kembali ke Jawa. Namun sebelum mereka kembali ke Jawa, Syekh Maulana Islhaq membekali Raden Paku dengan memberikan segenggam tanah.

Maulana Ishaq memberikan amanat kepada Raden Paku untuk mendirikan sebuah pesantren di tempat yang bau dan warna tanahnya sama dengan tanah yang diberikannya. Setelah beliau bertafakur selama 40 hari untuk memohon petunjuk kepada Allah, namun pada akhirnya Raden Paku mendirikan sebuah pesantren di wilayah perbukitan Desa Sidomukti, daerah selatan Gresik.

Dalam perjalanan sejarahnyanya, pesantren tersebut selain berada di daerah pelosok Jawa, namun para santri yang menuntut ilmu dari daerah Madura, Kalimantan, Sulawesi, Lombok hingga Maluku. Bahkan menurut pernyataan Babad Tanah Jawa, bahwa santri Sunan Giri hingga ke negara Mesir, China dan Arab.

Karena beliau tinggal di daerah perbukitan, maka akhirnya nama Raden Paku disebut dengan panggilan Sunan Giri. Dalam bahasa Jawa giri artinya bukit. Itulah sejarah panjang kenapa nama Raden Paku diubah menjadi Sunan Giri.

Kisah Perjuangannya dalam Menyebarkan Agama Islam

Kisah Perjuangannya dalam Menyebarkan Agama Islam

Setelah Raden Paku kembali ke Pulau Jawa, beliau pun pulang ke Kota Gresik, dan di kota tersebut beliau membangun pesantren yang sesuai dengan yang di amanahkan oleh ayahnya. Beliau membangun pesantren setelah menemukan tanah yang sesuai dengan segenggam tanah yang telah diberikan oleh ayahnya.

Nama daerah untuk membangun pesantren tersebut di Desa Sidomukti yang barada di daerah perbukitan tinggi, itu sebabnya beliau diberi nama sebutan Sunan Giri. Dengan berjalannya waktu pesantren ini semakin terkenal di seluruh nusantara. Baru 3 bulan berjalan saja, pesantren ini sudah dibanjiri murid untuk belajar  dan murid- murid tersebut hadir dari berbagai wilayah di Indonesia.

Karena sangat banyak murid-murid yang menuntut ilmu agama Islam di pesantren ini, maka membuat pesantren ini semakin terkenal. Hal itu yang memudahkan beliau untuk melakukan dakwah di Pulau Jawa. Beliau merupakan salah satu orang yang cukup berpengaruh besar terhadap kerajaan-kerajaan Islam baik yang berada di pulau Jawa ataupun di luar pulau Jawa.

Beliau juga mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Giri Kedaton. Namun kerajaan itu hanya bertahan hingga 200 tahun saja. Setelah beliau meninggal, beliau digantikan oleh beberapa orang dari keturunannya, diantaranya adalah Sunan Dalem, Sunan Sedo Margi, Sunan Giri Prapen, Sunan Kawis Guwa, Panembahan Ageng Giri dan Panembahan Mas Witana Sideng Rana.

Kemudian dilanjutkan oleh Pangeran Sidonegoro, namun beliau ini bukan keturunan dari Sunan Giri dan dilanjutkan lagi oleh Pangeran Singasari. Pangeran Singosari berjuang keras demi memperjuangkan Sunan Giri Kedaton pada waktu menghadapi serangan dari Sunan Amangkurat II ketika ingin merebut kerajaan.

Pada saat berjuang, beliau dibantu Kapten Jonker dan VOC. Akhirnya, perjuangan tersebut ditindaklanjuti oleh beliau yang hasilnya lebih baik. Namun setelah Pangeran Singosari  wafat pada tahun 1679 Masehi, kemudian kerajaan Giri Kedaton ikut hancur. Meskpipun begitu, nama Raden Paku masih tetap dikenang hingga saat ini bahwa beliau adalah seorang sosok Ulama Besar Walisongo hingga saat ini.

Sejarah Sunan Giri

Sejarah Sunan Giri

Sunan Giri memiliki nama atau julukan yang cukup banyak sesuai dengan kejadian yang mengiringi dalam kehidupannya. Nama-nama beliau diantaranya adalah Jaka Samudra (Joko Samudra), Satmata (Prabu Satmoto), Raden Paku, Sultan Abdul faqih dan Muhammad Ainul Yaqin.

Dari jalur ayahnya tersebut, beliau masih merupakan keturunan Rasulullah Muhammad SAW ke-23. Beliau lahir pada tahunSaka Candra Sengkala (1365 Saka) “Jalmo Orek Werdaning Ratu” dan wafat pada tahun Saka Candra Sangkala (1428 Saka) :Sayu Sirno Sucining Sukmo”, di Desa Giri. Kecamatan Kebomas, Kecamatan Gresik, Jawa Timur.

Nama ayah kandungnya adalah Maulana Ishaq (Imam Ishaq Maqdum) bin Maulana Akbar atau sebagian kalangan menyebutnya yaitu Syeh Awalul Islam atau Syah Maulana Ishaq. Beliau merupakan seorang mubaligh ternama dari Samarkand, Asia Tengah.

Sedangkan nama ibunya yaitu Dewi Sekardadu yang merupakan salah satu putri dari Prabu menak Sembuyu yang merupakan adipati di Blambangan ketika menjelang runtuhnya Kerajaan Majapahit. Ketika usianya masih belasan tahun, beliau diasuh oleh seorang syah bandar kaya raya berasal dari gresik bernama Nyai Ageng Pinatih yang kemudian menjadi ibu angkatnya.

Dalam asuhannya, beliau di sekolahkan ke sebuah pesantren yang didirikan oleh Sunan Ampel (Raden Ahmad) di Ampel Denta Kota Surabaya. Selama beliau menuntut ilmu di pesantren Ampel, joko Samudra diberi nama julukan Raden Paku. Beliau memperdalam ilmu agama Islam di pesantren Ampel hingga 7 tahun lamanya yang kemudian lulus dan diwisuda dengan mendapatkan gelar Ainul Yaqin.

Karena kecerdasan yang beliau miliki sangat pesat, dan Sunan Ampel mengetahui bahwa beliau adalah putra kandung dari Maulana Ishaq, maka bersama Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) mereka berdua kemudian dikirim untuk mendalami ilmu ke Pesai. Mereka menuntut ilmu hingga benar-benar menguasai dan memiliki bekal untuk pulang.

Sepulang dari Pesai, Raden Paku atau Sunan Giri mendirikan sebuah pesantren di daerah perbukitan di kawasan Sidomukti, kota Gresik pada tahun 1481 Masehi (1403 Saka). Pesantren yang beliau dirikan berkembang sangat pesat hingga menjadi sebuah kerajaan, kemudian diberi nama Kerajaan Giri Kedaton.

Karena kewibawaan (kharisma) yang dimilikinya, kemudian beliau diangkat oleh seorang sultan Demak Bintaro sebagai Ahlul Halli Wal Aqdi yang merupakan seorang penentu untuk kebijakan pemerintah dalam menyebarkan Agama Islam yang berada di Pulau Jawa. Peristiwa penting tersebut terjadi pada tahun 1485 Masehi (1407 Saka).

Setelah peristiwa penting tersebut, maka Raden Paku diangkat oleh Raden Fatah yang merupakan Sultan Demak 1 yang bergelar sebagai Parbu Satmoto menjadi Raja Giri Kedaton padtanggal 9 Maret, tahun 1487. Tanggal tersebut yang kemudian dijadikan sebagai hari lahirnya (hari jadi) Kota Gresik.

Pada masa Kerajaan Majapahit Runtuh karena serangan oleh Girindrawardhana dari Kota Kediri tahun 1478, Beliau pernah diangkat menjadi seorang raja. Setelah itu, beliau menyerahkan kembali pada Raden Fatah yang merupakan seorang putra dari Bhre Kertabhumi atau Brawijaya V

Dalam ilmu keagamaan, Sunan Giri sangat terkenal dengan ilmu pengetahuannya yang cukup luas terutama dalam ilmu fiqih, sehingga beliau diberikan julukan Sultan Abdul Faqih. Selain itu, beliau juga sangat berjasa karena mampu menghasilkan sebuah karya seni yang cukup luar biasa, seperti tembang cublak-cublak suweng, ilir-ilir dan jelungan yang merupakan karya seni yang diciptakan beliau.

Demikian juga dengan gending Pucung dan Asmaradhana, meskipun bernuansa Jawa namun merupakan salah satu ajaran Islam yang memberikan pesan moral dan nasehat. Sebagai seorang waliyullah dan masuk ke dalam jajaran Wali Sembilan (Wali Songo). Beliau juga tidak hanya menyiarkan agama Islam di Pulau Jawa saja, namun juga ke daerah luar Jawa.

Ada sebuah riwayat yang pernah diksisahkan oleh beliau, pada saat berdakwah dan sekaligus berdagang di Kalimantan Barat, tepatnya di Kota Banjar Masin pada tahun 1462 Masehi (1384 Saka).Disampaikan bahwa beliau tidak hanya menjual barang dagangannya, namun justru membagikan dagangannya secara gratis pada kaum duafa, fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Ketika beliau menuju Kota Gresik dengan menggunakan kapal, agar kapal yang ditumpanginya tidak oleng saat berlayar maka diisilah dengan batu-batu dan kerikir. Namun karena kuasa Allah, maka bebatuan dan kerikil tersebut berubah menjadi barang-barang yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Gresik.

Dalam riwayat hidupnya, beliau pernah 2 kali melangsungkan pernikahan. Pada saat pagi hari beliau menikahi seorang wanita bernama Dewi Murthosiyah, seorang putri dari Sunan Ampel. Kemudian pada sore harinya, beliau menikah lagi dengan seorang wanita bernama Dewi Wardah, seorang putri dari Ki Ageng, Bung Bungkul (lebih terkenal dengan sebutan Sunan Bungkul).

Letak Makam Sunan Giri

Letak Makam Sunan Giri

Sunan Giri wafat pada usia 63 tahun, tepatnya malam Jum’at tanggal 24 Rabiul Awwal 913 Hijriyah (1506 Masehi/ 1428 Saka). Sehingga setiap tahunnya, pada hari Jum’at terakhir Rabiul Awwal selalu diperingati oleh sebagian umat muslim, terutama di daerah Kota Gresik dan sekitarnya untuk melakukan haul Sunan Giri.

Sunan Giri dimakamkan di Gresik, tepatnya di Desa Giri, kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Untuk menuju lokasi makam tidak sulit, karena letaknya berada di perbatasan antara Kota Gresik dan Surabaya.

Untuk menuju makam, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum dari kota Gresik menuju makam jarak tempuhnya kurang lebih 2 km menuju arah selatan. Komplek makam ini tepatnya berada di Puncak Bukit Giri.

Metode Dakwah yang di Terapkan Sunan Giri

Metode Dakwah yang di Terapkan Sunan Giri

Pusat Sunan Giri untuk menyebarkan ajaran agama Islam yaitu di Kerajaan Giri Keraton, sehingga di wilayah sekitar keraton mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Di Indonesia para penyebar agama Islam yaitu dengan cara mendirikan pondok pesantren, tidak terkecuali dengan Sunan Giri. Beliau mendirikan pondok pesantren untuk mendidik anak-anak dalam mempelajari agama Islam.

Dalam berdakwah, beliau menciptakan beberapa lagu untuk anak-anak. Lagu tersebut bertujuan agar anak-anak lebih mudah menyerap ilmu pelajaran agama Islam yang diajarkan. Selain itu, beliau juga menciptakan beberapa permainan yang memasukkan beberapa unsur agama islam.

Permainan yang beliau ciptakan yaitu Jitungan atau Jelungan yang sampai saat ini masih sangat dikenal oleh masyarakat di Jawa Timur. Karena terdapat symbol dalam permainan tersebut yaitu tonggak kayu  dan juga pohon yang cukup kuat. Selain itu, beliau juga menciptakan lagu dengan menyelipkan unsur-unsur Islam yang hingga kini masih sangat terkenal yaitu lagu Lir Ilir dan Dolanan Bocah.

 

Contoh Keteladanan yang Melekat pada Sunan Giri

Contoh Keteladanan yang Melekat pada Sunan Giri

Dari berbagai metode dakwah yang diterapkan, tentu saja terdapat banyak sekali contoh keteladan dari beliau yang dapat dipetik hikmahnya. Salah satu keteladanan yang dapat kita petik yaitu metode beliau dalam berdakwah untuk menyebarkan ajaran Islam di Indonesia.

Selain itu, beliau juga berdakwah dengan cara mendirikan sebuah pondok pesantren untuk mengajarkan murid-muridnya dalam mengembangkan pengetahuannya mengenai ajaran agama Islam. Beliau juga melakukan dakwah dengan cara menciptakan lagu dan permainan yang di dalamnya terkandung unsur-unsur Islam.

Melakukan dakwah di dalam dunia politik juga pernah beliau lakukan yaitu dengan cara Menjadi Sang Propoganda Ulung. Julukan dari Sang Propoganda ulung ini memberikan bukti nyata bahwa beliau bisa menaklukkan Kerajaan Pahit.

Menurut beliau, bahwa menjadi seorang ulama dengan pengetahuan agama Islam yang luas itu sangat penting, juga harus memiliki pengetahuan umum supaya mampu bersaing dengan kerajaan-kerajaan pada masa itu.

Diantara kecerdasan-kecerdasan dalam hal umum yaitu terbukti pada kemampuannya untuk bernegoisasi dan kemampuannya untuk memimpin. Karena di dalam berdakwah, hal utama yang dibutuhkan yaitu bagaimana cara memimipin pemerintahannya dengan tujuan agar keberadaannya dapat diakui oleh pemerintahan.

Keberadaan Sunan Giri untuk ikut berpatisipasi di dunia politik, maka beliau sangat diakui oleh orang-orang di pemerintahan. Dengan diakuinya di jajaran pemerintahan serta memiliki legalitas, maka dakwah yang beliau lakukan menjadi lebih mudah.

Sejarah Kelahiran Sunan Giri

Sejarah Kelahiran Sunan Giri

Banyak penduduk Blambangan menganggap kelahiran beliau merupakan pembawa kutukan. Kutukan yang dimaksudkan oleh penduduk tersebut yaitu berupa suatu wabah penyakit yang berada di Desa Blambangan.

Pada saat kelahirannya, beliau dibuatkan sambutan yaitu dengan membuatkan sebuah peti untuk bayi yang terbuat dari besi. Kemudian seluruh pengawal kerajaan sengaja membawanya untuk menghanyutkan beliau yang diletakkan pada peti tersebut ke laut. Prabu Menak Sembuyu yang melakukan hal itu.

Peran Sunan Giri di Dalam Menyebarkan Ajaran Agama Islam

Peran Sunan Giri di Dalam Menyebarkan Ajaran Agama Islam

Setelah mengetahui bagaimana metode yang digunakan dan juga keteladanan beliau, maka kita juga harus mengetahui beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia. Banyak sekali peran penting yang dilakukan oleh beliau dalam menyebarkan Agama Islam, diantaranya sebagai berikut:

– Bagaimana penyebaran ajaran agama Islam di Daerah Blambangan Jawa Timur

Setelah beliau dan putra dari Sunan Ampel selesai menuntut ilmu mengenai agama Islam di Pesai bersama Maulana Ishaq, yang tidak lain adalah ayah kandunya sendiri. Kemudian mereka melanjutkan perjalanannya menuju Mekkah untuk menjalankan ibadah haji. Setelah dari Mekkah mereka baru kembali ke Pulau Jawa untuk menyebarkan ajaran agam Islam.

Bahkan beliau ditugaskan oleh Sunan Ampel untuk menyiarkan agama Islam di daerah Blambangan, tepatnya yaitu tempat ibu kandung dan kakeknya.  Tidak disangka bahwa Prabu Minak Sembuyu beserta kakeknya sangat senang hati atas kedatangan cucunya tersebut yang dulu pernah dibuang ke samudera.

Meskipun Prabu Minak Sembuyu mengetahui kedatangannya yaitu untuk mengajarkan agama Islam, namun ia ibu dan kakeknya tidak pernah menghalangi niatnya. Karena pada saat itu agama Islam di Blambangan sudah berkembang pesat. Pada akhirnya agama Budha dan Hindu tersisih hingga ke Pulau Bali dan hingga saat ini masih berkembang.

– Perkembangan ajaran agama Islam di Kota Gresik

Sesuai dengan perintah Sunan Ampel, beliau kembali ke Kota Gresik untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Maksud lain dari Sunan Ampel memerintahkan beliau untuk menyebarkan ajaran Islam di Gresik yaitu agar mendatangi ibu angkatnya yang bernama Nyai Ageng Pinatih. Sesampainya di Kota Gresik, beliau membantu ibu angkatnya untuk berdagang sekaligus menjalankan tugasnya yaitu berdakwah.

Pada suatu hari ketika beliau membantu ibu angkatnya untuk berdagang, ada kejadian istimewa yaitu mengubah karung yang di dalamnya berisi batu dan pasir menjadi emas, rotan dan dammar. Yang sebelumnya Nyai Agen Pinatih tidak penah memberikan sedekah.

Setelah mengalami kejadian tersebut maka ibu angkatnya berubah menjadi seseorang yang dermawan dan rajin berzakat. Terutama memberikan zakat kepada fakir miskin atau orang-orang yang membutuhkan disekitar wilayah Kota Gresik.

– Peranan penting pada saat peresmian Masjid Demak

Beliau juga ikut berperan pada saat peresmian Masjid Demak yang didirikan oleh Sunan Kalijaga. Pada saat peresmian masjid Demak, Sunan Kalijaga menggelar pertunjukan wayang beber yang wajahnya menyerupai wajah manusia. Namun pertunjukan wayang tersebut ditentang oleh Sunan Giri. Dengan alasan dalam agama islam hukumnya haram menggunakan wayang yang gambarnya berwajah manusia.

Pada akhirnya, Sunan Kalijaga mempunyai jalan pintas untuk mengganti wajah wayang tersebut menjadi karikatur dan saat ini dikenal dengan sebutan wayang kulit. Setiap pengunjung yang ingin melihat pertunjukan wayang kulit tersebut tidak dikenakan karcis untuk masuk.

Namun, setiap pengunjung yang datang mengganti karcisnya dengan mengucapkan kalimat syahadat. Yang Setelah peresmian masjid Demak, maka semakin banyak orang yang menganut agama Islam.

Jasa-Jasa Sunan Giri yang  Sangat Berkesan

Jasa-Jasa Sunan Giri yang  Sangat Berkesan

Jasa terbesar yang sangat melekat pada beliau yaitu dalam menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa bahkan hingga ke pelosok nusantara. Beliau juga pernah menjadi seorang hakim di dalam perkara pengadilan Syekh Siti Jenar yaitu seorang wali yang dianggap sudah murtad karena telah meremehkan syariat Islam yang telah disebarkan oleh para wali dan juga menyebarkan  faham pahtheisme.

Dengan begitu, maka Sunan Giri mengambil tindakan untuk ikut menghambat tersebarnya suatu aliran yang bertentangan dengan faham Ahlulsunnal Wal Jama’ah. Keteguhan beliau dalam menyiarkan syariat Islam yang secara murni dan konsekuen telah membuat dampak positif bagi para generasi Islam selanjutnya.

Agama Islam yang disyarkan sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW dan tidak dicamupri oleh masalah adat istiadat lama. Beliau juga sangat berjasa dalam bidang kesenian, karena berhasil menciptakan lagu Pucung dan Asmaradana.

Tembang-tembang yang beliau ciptakan mengandung unsur-unsur Islam, sehingga anak-anak lebih mudah untuk mempelajarinya. Selain itu, beliau juga menciptakan tembang dolanan anak yang juga diselipkan unsur Islam, tembang-tembang tersebut diantaranya adalah Cublak-Cublak Suweng, Jithungan, Delikan dan Jamuran.

Peninggalan Sunan Giri

Peninggalan Sunan Giri

Sunan Giri merupakan salah satu nama dari Wali songo (Sembilan wali) yang sangat familiar, khususnya bagi mereka yang mengetahui mengenai sejarah penyebaran ajaran Islam di Indonesia.  Berikut ini beberapa peninggalan beliau yang wajib Anda tahu dan semuanya berada di Kota Gresik.

1. Giri Kedaton

Salah satu peninggalan yang cukup terkenal di masyarakat yaitu Giri Kedaton. Giri artinya bukit, sedangkan kedaton artinya keraton. Giri Kedaton dahulu digunakan sebagai pusat pemerintahan Giri yang di pimpin beliau dan juga merupakan pondok pesantren. Menurut sejarah, bahwa kerajaan Giri mampu bertahan hingga beberapa generasi.

Lokasinya beradai di daerah strategis dan di tempat yang paling tinggi di Kota Gresik, tepatnya yaitu di Desa Mukti.

2. Masjid

Peninggalan Sunan Giri yang satu ini sudah banyak yang mengetahui, karena lokasinya  bersebelahan dengan makamnya. Masjid yang murni peninggalan beliau yaitu berada di bagian tengah. Bangunan masjid tersebut memiliki arsitektur yang cukup unik karena menkombinasikan antara budaya Islam dan Hindu. Hal itu bisa dilihat dari bagian bentuk atapnya.

3. Museum

Dari semua peninggalan beliau, sebenarnya semua sudah tersimpan rapi di sebuah Museum Sunan Giri. Museum ini letaknya cukup strategis, di area terminal bus Maulana Malik Ibrahim dan tidak jauh dari alun-alun Kota Gresik. Namun sayangnya, museum ini kurang terawatt dengan baik, karena mungkin letaknya yang berada di pojokan.

4. Telogo Pegat

Peninggalan terakhir beliau yaitu Telogo Pegat, telaga ini sangat mirip dengan sebuah danau. Telogo dalam bahasa Indonesia artinya telaga, Telaga Pegat ini berlokasi di kawasan Giri, Kebomas. Menurut warga sekitar, bahwa telaga ini tidak pernah mengalami surut meskipun terjadi kemarau berkepanjangan.

Menurut warga sekitar, ada larangan untuk berenang di telaga tersebut dikarenakan telaga tersebut angker. Bahkan kejadian misterius seperti orang tenggelam di telaga, banyak orang bilang juga kalau telaga ini membuat hidup kalian lebih semangat.

Ulasan lengkap tentang Sunan Giri mulai dari biografi, nama asli, sejarah, kisah dalam perjuangan menyebarkan ajaran Islam, letak makam, metode dakwah yang digunakan, keteladanan, jasa-jasa dalam kiprah menyebarkan Islam dan peninggalannya semoga dapat menambah wawasan Anda.

SUNAN GIRI : Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak Makam

Leave a Reply