SUNAN DRAJAT : Sejarah, Biografi, Nama Asli, Kisah, Letak Makam

Sunan Drajat – Perkembangan Islam di Indonesia memang pertama kali dibawa oleh para pedagang. Namun, perkembangan selanjutnya lebih disebabkan oleh peranan Walisongo, terutama di Pulau Jawa. Salah satu dari Walisongo yang turut berperan dalam menyebarkan Islam di Paciran adalah Sunan Drajat. Anda yang ingin tahu mengenai Sunan Drajat : Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak Makam bisa lihat berikut.

Biografi Sunan Drajat

Biografi Sunan Drajat

Setiap kali berbicara mengenai Sunan dari Walisongo, maka orang ingin mengetahui siapa sebenarnya nama asli dari sunan tersebut. Sunan Drajat memiliki nama asli Raden Qosim yang merupakan putra dari Sunan Ampel yang juga merupakan anggota Walisongo. Ibu dari Sunan Drajat adalah Nyai Ageng Manila atau biasa disebut dengan nama Dewi Condrowati.

1. Masa Kecil Sunan Drajat

Sunan Drajat ini memiliki lima bersaudara dan merupakan anak yang kedua. Saudara dari Sunan Drajat adalah Sunan Bonang, Siti Muntisiyah, Nyai Ageng Maloka, dan juga istri Sunan Kalijaga. Sejak kecil, Sunan Drajat dikenal sebagai anak dengan kecerdasan yang menakjubkan. Pada awalnya memang, Raden Qasim tidak terlalu tertarik dengan dunia dakwah.

Disinilah peran sang ayah dalam membujuk putranya itu untuk melakukan dakwah. Ayah Raden Qasim tersebut berusaha untuk memberikan perintah kepada putranya untuk bisa berdakwah selayaknya sang kakak. Perintah tersebut tidak serta merta langsung diterima oleh Raden Qasim. Kemudian Raden Qasim hanya membantu sang kakak saja tanp memiliki keinginan untuk bisa berdakwah sendiri.

Namun, sang ayah tidak putus asa untuk bisa membujuk anaknya menjadi seorang pendakwah. Ayahnya kemudian menyarankan Raden Qasim untuk pergi ke Jawa Timur dan berdakwah di sana. Hal ini juga masih ditolak oleh sang anak. Alasannya karena ajaran Hindu masih sangat kental di sana, sehingga saran tersebut dianggap berat oleh Raden Qasim.

Sang ayah masih tetap gigih dalam membimbing anaknya tersebut. Akhirnya, sang ayah memberikan kebebasan kepada Raden Qasim untuk bisa memilih tempat berdakwah sendiri. Raden Qasim tidak langsung setuju akan hal itu. Raden Qasim berpikir panjang dan secara matang mempertimbangkan banyak hal, termasuk persyaratan sang ayah.

2. Keinginan Sunan Drajat untuk Memulai Dakwah setelah Dewasa

Ayah Raden Qasim hanya berpesan anaknya boleh berdakwah dimana pun asalkan tidak jadi satu tempat dengan sang kakak. Akhirnya Raden Qasim sudah memiliki keputusannya sendiri. Ketika Sunan  Drajat menjadi semakin dewasa, beliau berkeinginan untuk menjadi seperti kakaknya yang merupakan Sunan Bonang.

Beliau juga ingin melakukan dakwah untuk bisa menyebarkan agama Islam saat mengetahui kakaknya juga menyebarkan Islam di kawasan Tuban. Untuk bisa mewujudkan cita-cita tersebut, beliau belajar mengenai ilmu ajaran Islam dengan sungguh-sungguh. Setelah menguasai ilmu ajaran Islam, Raden Qasim segera melakukan dakwah.

Tempat yang dipilih untuk menjadi pusat dakwahnya adalah tempat yang ramai masyarakat, seperti desa Drajat yang terletak di Kabupaten Lamongan. Berkat dakwah di desa Drajat tersebutlah, maka beliau mendapatkan julukan sebagai Sunan Drajat. Pada masa berdalwah, beliau berhasil berkuasa secara otonomi di Kerajaan Demak selama 36 tahun.

Beliau saat menyebarkan agama Islam memiliki cara tersendiri untuk bisa berbaur dengan masyarakat. Tidak mudah kala itu untuk bisa membuat masyarakat setuju dan mau masuk Islam. Cara yang paling mudah dilakukan untuk menyebarkan agama Islam adalah dengan mensejahterakan rakyat dan memberikan motivasi kepada masyarakat dengan ekonomi yang kurang.

Mulai dari situ, masyrakat mengenal Raden Qasim sebagai wali yang berjiwa sosial tinggi dan selalu memperhatikan kesejahteraan rakyat kecil. Raden Qasim melakukan dakwah bersama dengan para santri. Mendengar Raden Qasim berkeinginan untuk menyebarkan agama Islam di kawasan tersebut, Sunan Giri merasa bahagia.

Sunan Giri akhirnya memberikan banyak nasehat yang mampu membuat Raden Wasim dapat menyebarkan Islam di masyarakat kawasan tersebut dengan lebih mudah. Selain di desa Drajat, Raden Qasim juga menyebarkan Islam di kawasan pesisir utara. Pastinya Sunan Drajat memiliki strateginya sendiri dibandingkan dengan Sunan lainnya.

3. Kedatangan Sunan Drajat di Kawasan Pesisir Utara

Saat tiba di kawasan pesisir, Raden Qasim berusaha untuk berbaur dengan masyarakat daerah pesisir utara. Beliau banyak menjalin komunikasi dengan masyarakat dari golongan nelayan pada saat itu. Saat ada nelayan yang melaut, Raden Qasim berusaha untuk membuka percakapan dan menjelaskan bahwa ada ikan yang bisa dimakan dan yang tidak.

Beliau menjelaskan secara terperinci mengenai hal tersebut, sehingga nelayan mampu membedakan mana ikan yang baik untuk kesehatan dan yang tidak. Ternyata, para nelayan tersebut merasa senang dengan mendapatkan penjelasan dari beliau. Kepercayaan antara para nelayan dengan Sunan Drajat dimulai sejak saat itu. Dakwah pun dimulai saat kepercayaan tersebut sudah mulai terjalin.

Setelah berkomunikasi dengan banyak masyarakat dan mulai dikenal, beliau memutuskan untuk melanjutkan dakwah di desa Drajat. Ada banyak pertimbangan mengapa Sunan Drajat memilih kawasan tersebut untuk dijadikan tempat dakwah Islam. Pertimbangan yang pertama adalah adanya kegiatan Islami yang tidak secara langsung diajarkan kepada masyarakat Hindu.

Hal tersebut sangat membuat masyarakat Hindu di daerah tersebut menjadi penasaran mengenai kegiatan tersebut. Hal tersebut yang membuat masyrakat Hindu banyak yang berdatangan, karena ingin tahu mengenai apa itu Islam. Sunan Drajat mulai melancarkan dakwahnya bersama dengan para santri.

Metode Dakwah Sunan Drajat yang Terkenal

Metode Dakwah Sunan Drajat yang Terkenal

Memang sejak awal Sunan Drajat sudah dikenal sebagai pribadi yang cerdas, sehingga seperti ada daya tarik tersendiri yang membuat masyarakat Hindu di sana menjadi berdatangan karena penasaran. Bahkan, berkat kreativitas beliau, ada banyak metode dakwah yang dibuat untuk bisa menyampaikan dakwah secara menyenangkan.

Saat penyampaian dakwah dilakukan secara menyenangkan, tidak banyak orang Hindu yang merasa tersinggung. Mereka justru menganggap ini adalah hal yang sangat menghibur dan mereka merasa bahagia dengan mendengarkan salah satu metode dakwah Sunan Drajat yang berupa tembang Pangkur.

Pastinya Sunan Drajat juga menyadari bahwa dakwah tidak mungkin dilakukan secara frontal, karena memang sebagian besar masyarakat yang berada di daerah tersebut masih kental dengan Hindu. Beberapa strategi lainnya untuk berdakwah adalah dengan menggunakan pendekatan filosofi. Anda jangan bayangkan ilmu filsafat di tempat ini, karena itu akan terlalu abstrak untuk bisa dimengerti oleh orang awam.

Masyarakat di desa  Drajat sudah mengerti bahwa Sunan Drajat itu cerdas. Ada banyak filosofi buatan beliau yang mampu memiliki makna sendiri. Salah satu filosofi beliau yang terkenal adalah tujuh sap tangga. Filosofi tersebut berisikan banyak sekali pembelajaran untuk masyarakat.

Isi Filosofi Tujuh Sap Tangga

Isi Filosofi Tujuh Sap Tangga

“Memangun resep tyasing Sasoma” yang berartikan bahwa selalu membuat hati orang lain menjadi senang.

“Jroning suka kudu eling lan waspada” yang memiliki arti yang mendalam yaitu meskipun dalam suasana bahagia suka cita, Anda harus selalu tetap waspada dan ingat.

“Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabyaning lampah” memiliki makna setiap cita-cita yang luhur memiliki rintangan, setiap perjalanan dilakukan tanpa peduli terhadap segala rintangan tersebut.

“Meper Hardaning Pancadriya” berarti setiap manusia harus mampu menahan nafsu.

“Heneng, Hening, Henung” memiliki makna kita perlu berdiam diri untuk bisa mendapatkan keheningan dan dalam keadaan hening tersebut kita akan bisa mencapai cita-cita kita.

“Mulya guna Panca Waktu” yang dapat diartikan Kebahagiaan lahir batin yang bisa digapai apabila mngerjakan sholat lima waktu.

“Menehana teken marang wong kang wuta, Menehana mangan marang wong kang luwe, Menehanan busana marang wong kang wuda, Menehana ngiyup marang wong kang kodanan”.

Filosofi terakhir memiliki arti bahwa berikanlah ilmu kepada orang lain, agar ia pandai. Sejahterakanlah orang yang hidup miskin. Ajarkanlah kesusilaan kepada orang yang tak tahu malu. Berikanlah perlindungan kepada orang yang mengalami penderitaan.

Hidup memang selalu penuh dengan tantangan. Ada kalanya masalah datang pada saat Sunan Drajat sedang melaksanakan dakwahnya. Namun, Sunan Drajat yang dikenal cerdas dan gigih tetap bersemangat untuk berjuang di jalan Allah SWT. Adanya rintangan tersebut membuat dirinya menjadi semakin kuat dan terus berjuang.

Salah satu strategi yang digunakan untuk mempererat kepercayaan masyarakat kepada Sunan Drajat saat datang masalah adalah dengan terjun langsung mengatasi masalah tersebut. Metode ini membuat beliau lebih mudah dalam mengidentifikasi akar permasalahan tersebut dan memberikan solusi yang tepat.

Nama Asli Sunan Drajat

Nama Asli Sunan Drajat

Sunan Drajat lahir pada tahun 1470-an Masehi. Beliau adalah putra kedua dari Sunan Ampel dengan istri Nyai Ageng Manila. Nama asli dari Sunan Drajat adalah Raden Qosim. Beliau mendapatkan gelar Sunan Drajat berkat pusat dakwahnya yang berada di desa Drajat kabupaten Lamongan.

Kisah Sunan Drajat yang Ditolong Ikan Cucut dan Cakalang

Kisah Sunan Drajat yang Ditolong Ikan Cucut dan Cakalang

Kisah yang perlu untuk diketahui dari Sunan Drajat ini adalah mengenai perjalanan beliau saat menyebarkan ajaran agama Islam. Pada awalnya, Sunan Drajat masih berdakwah bersama dengan kakaknya yaitu Sunan Bonang. Namun, lama-kelamaan ayahnya memberikan nasehat, agar beliau menyebarkan ajaran Islam sendiri di daerah yang beliau pilih.

Sebelum berdakwah, Sunan Drajat mempelajari tentang ajaran Islam secara sungguh-sungguh. Sunan Drajat yang dikenal cerdas, memang akhirnya berhasil menguasai pelajaran agama Islam. Ia akhirnya memilih untuk pergi ke daerah pesisir Gresik.

Saat di tengah perjalanan, kapal yang ditumpangi beliau diterpa ombak besar dan akhirnya tenggelam. Beliau berusaha untuk bertahan hidup dengan memegangi dayung perahu. Akhirnya datang pertolongan dari Allah SWt yang mana membuat Sunan Drajat diselamatkan oleh ikan cucut dan juga ikan cakalang. Beliau selamat karena terdampar di daerah pesisir Lamongan.

Kisah tersebut memiliki hikmah di dalamnya. Apabila diamati, kisah yang terjadi pada Sunan Drajat ini mirip dengan kisah Nabi Yusuf yang dilempar di tengah laut dan diselamatkan oleh ikan paus yang sangat besar. Ikan saja bisa membantu manusia yang mana sedang kesusahan dan hampir tenggelam.

Apalagi seorang manusia juga harus selalu ingat akan tanggung jawabnya dalam kehidupan bermasyarakat. Seorang manusia harus berusaha untuk selalu menolong sesama yang juga ada di lingkungan. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan mengentaskan keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, dan berbagai perkara lainnya.

Sunan Drajat terus dihantarkan untuk bisa sampai ke pesisir dengan menaiki kedua ikan tersebut. Akhirnya Sunan Drajat berhasil mendarat di desa Jelak, Banjarwati pada tahun 1485-an Masehi. Beliau langsung mendapatkan sambutan yang hangat dari tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan juga Mbah Banjar. Kedua merupakan tetua yang sudah masuk Islam berkat pendakwah dari Surabaya.

Kisah Sunan Drajat dan Pemuda yang Berbohong

Kisah Sunan Drajat dan Pemuda yang Berbohong

Sunan Drajat dalam berdakwah selalu menekankan betapa pentingnya kejujuran dan sikap adil dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata seperti itu sudah diulang berkali-kali dalam dakwahnya melalui pengajian maupun setelah shalat. Suatu hari Sunan Drajat sempat menikmati waktu luang di bawah teduhnya pepohonan saat siang hari.

Angin berhembus dengan lembut dan beliau semakin menikmati suasana sekitar ditemani burung-burung yang terbang berkicauan. Sunan Drajat ini memiliki kebiasaan untuk berdoa kepada Allah SWT, agar burung-burung menghampirinya. Kemudian, ada beberapa burung yang hinggap di tangannya. Sunan Bonang lantas memberinya makan. Tak lama setelah makan, burung-burung tersebut terbang kembali.

Hal tersebut pernah dikatakan oleh juru kunci Makam Sunan Drajat. Suatu hari saat Sunan Drajat selesai melakukan kebiasaannya datang melintas seorang pemuda yang merupakan warga desa. Pemuda tersebut memikul sesuatu yang besar. Sunan Drajat sempat bertanya kepada pemuda tersebut tentang apa yang dibawanya.

Namun, pemuda tersebut menjawab bahwa yang dipikulnya adalah garam. Sunan Drajat mengulang pertanyaan yang sama kepada pemuda tersebut mengenai apa yang sedang ia bawa. Pemuda tersebut bersikeras menjawab pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama kembali. Pemuda tersebut menjawab dengan jelas,”Garam Kanjeng Sunan”.

Sunan Drajat mengulang pertanyaan yang sama ketiga kalinya. Pemuda tersebut kembali menjawab bahwa yang ia pikul adalah karung-karung yang berisikan garam. Akhirnya pemuda tadi merasa ada keanehan terhadap barang yang dibawanya. Berat dari karung-karung yang penuh terisi menjadi semakin berat. Akhirnya, ketahuan bahwa karung-karung yang ia bawa bukanlah berisikan garam.

Karung-karung tersebut berisi beras. Makin kelamaan pemuda tersebut sudah tidak sanggup untuk memikul karung-karung yang dibawanya lagi. Ia terjatuh dan justru tertimbun karung-karung yang dibawanya sendiri. Pemuda tersebut merasa ketakutan dan menyadari kesalahannya, karena sudah tidak jujur sebanyak tiga kali pertanyaan dari Sunan Drajat. Akhirnya pemuda tersebut meminta maaf.

Tempat dari pemuda tersebut jatuh tertimbun karung-karung garam saat ini dinamakan dengan Desa Ngasinan. Bekas dari pemuda tersebut jatuh masih bisa dirasakan sampai saat ini, karena sepetak tanah maupun air tempat pemuda tersebut jatuh tertimbun masih terasa sangat asin sampai dengan saat ini.

Kisah tersebut adalah kisah yang benar-benar terjadi atas seizing Allah SWT. Kisah tersebut mengajarkan kepada kita pentingnya untuk berkata jujur. Kejujuran itu sangat penting, agar tidak adanya musibah yang menimpa.

Kisah Sunan Drajat yang Terkenal Cerdas dan Sayang Binatang

Kisah Sunan Drajat yang Terkenal Cerdas dan Sayang Binatang

Sejak kecil, Sunan Drajat memang sudah dikenal sebagai sosok yang cerdas. Kemudian, sebelum berdakwah, beliau sempat belajar dengan sungguh-sungguh di pondok pesantren untuk memperdalam ilmu agama Islam. Sebetulnya Sunan Drajat tidak hanya belajar mengenai ilmu agama Islam saja. Ada banyak berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang juga dipelajari oleh beliau.

Itulah mengapa beliau bisa mendekati para nelayan dan juga memajukan desa yang jauh dari kata sejahtera. Untuk bisa mendekati para nelayan, Sunan Drajat mengajarkan tentang bermacam-macam jenis ikan yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan oleh manusia. Pastinya hal tersebut diketahui beliau juga lewat menuntut ilmu pengetahuan juga dan tidak hanya ilmu agama.

Berkat ilmu pengetahuan tersebut, Sunan Drajat berhasil mendekati dan berdakwah untuk para nelayan. Sedangkan saat berada di desa Jelak maupun desa Drajat, Sunan Drajat selalu berusaha untuk mengatasi bermacam-macam kendala yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Sunan Drajat terkenal dengan orang yang mampu mengelola ekonomi dengan baik.

Beliau juga belajar mengenai ilmu pertanian dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Berkat bekal ilmunya tersebut, maka beliau mampu mengatasi masalah tanah gersang di kawasan pesisir Lamongan. Pada awalnya masyarakat pesisir Lamongan hanya bisa mengandalkan perikanan saja, setelah ada Sunan Drajat, mereka dapat mengandalkan sektor pertanian juga.

Berdasarkan kisah tersebut, ada hal penting yang bisa diperoleh. Menuntut ilmu agama Islam itu penting dan juga harus diiringi dengan mempelajari ilmu pengetahuan yang ada juga, sehingga bisa lebih bermanfaat kepada sesama manusia dan juga lingkungan. Sunan Drajat menjadi lebih mudah untuk mendekati masyarakat berkat banyaknya bekal ilmu pengetahuan yang beliau miliki.

Semua itu bisa diperoleh dengan belajar yang sungguh-sungguh. Keutamaan menjadi hamba yang berilmu ini juga disebutkan dalam Al-Qur’an. Siapapun hamba Allah SWT yang menuntut ilmu, maka derajatnya akan ditinggikan. Hal ini juga yang terjadi pada Sunan Drajat.

Hal lain yang juga perlu ditiru dari Sunan Drajat adalah berkaitan dengan sayang binatang. Sunan Drajat juga dikenal sebagai orang yang sering memberi makan burung-burung yang kelaparan. Saat sedang bersantai di bawah pohon rindang, beliau sering berdoa kepada Allah SWT supaya ada burung yang mau hinggap di tangan beliau.

Burung-burung tersebut lalu hinggap di tangan beliau dan makan-makanan yang dibawa beliau. Setelah selesai makan, burung-burung tersebut akan terbang kembali. Hal ini sering dilakukan oleh Sunan Drajat. Kisah ini mengajarkan kepada manusia untuk empati kepada lingkungan juga, tidak hanya menjalin hubungan kepada Allah SWT dan sesama manusia.

Sunan Drajat Ahli Dalam Mengukir dan Memainkan Gamelan

Sunan Drajat Ahli Dalam Mengukir dan Memainkan Gamelan

Sunan Drajat harus mampu kreatif dalam menyebarkan agama Islam, karena sebagian besar masyarakat saat itu beragam Hindu dan kolot. Tidak mudah bila penyebaran ajaran Islam dilakukan secara frontal. Cara yang menghibur akan lebih mudah untuk membujuk para warga untuk mau mendengarkan siar agama Islam tersebut.

Untuk bisa melakukan hal itu, sudah pasti Sunan Drajat harus memiliki jiwa seni yang tinggi. Sunan Drajat dikenal sebagai sosok wali yang mahir dalam membuat ukiran dan juga memainkan musik gamelan. Salah satu karya musik yang paling digemari masyarakat Jawa pada masa itu adalah gending Pangkur. Anda akan bisa melihat sisa peninggalan tembang Pangkur beliau dan juga gamelan di Museum Sunan Drajat.

Sejarah Sunan Drajat

Sejarah Sunan Drajat

Saat sudah berada di desa Jelak, beliau akhirnya menikah dengan putri Mbah Mayang Madu yang bernama Nyai Kemuning. Di tempat tersebut, Sunan Drajat membangun sebuah surau yang dijadikan sebagai pusat dakwah dan pesantren. Penduduk setempat banyak yang datang ke surau tersebut untuk mengaji.

Tak hanya membangun surau, Sunan Drajat berhasil membuat desa tersebut yang awalnya sepi terpencil, menjadi kawasan desa yang ramai dikunjungi oleh banyak orang. Nama dari desa tersebut akhirnya berubah menjadi desa Banjaranyar.

Setelah setahun lebih di desa Jelak yang berganti nama menjadi desa Banjaranyar tersebut, Sunan Drajat memutuskan untuk pindah berdakwah ke tempat lain. Beliau berusaha mencari tempat yang lebih strategis untuk bisa berdakwah. Akhirnya beliau pergi kearah beberapa kilometer ke selatan dan memutuskan untuk babat alas.

Babat alas ini merupakan istilah untuk membuka lahan baru yang awalnya adalah hutan belantara. Akhirnya Sunan Drajat dan Sunan Bonang meminta izin untuk membuka lahan tersebut kepada Sultan Demak I. Akhirnya izin diberikan kepada kedua Sunan tersebut pada tahun 1486 Masehi.

Pembukaan hutan belantara pun dimulai dengan niat untuk mencari tempat berdakwah yang strategis dan juga terhindar dari banjir saat hujan turun. Sunan Drajat yang memilih tempat tersebut, karena gunung dipercaya dekat dengan Allah sebagaimana kisah Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW saat mendapatkan wahyu pertama kalinya.

Saat melakukan babat alas, sudah pasti Sunan Drajat mendapatkan banyak sekali masalah. Ada banyak makhluk halus yang tidak terima saat pembukaan lahan baru dilaksanakan. Ada banyak dari makhluk halus tersebut yang kemudian meneror warga. Namun, semua masalah akhirnya bisa diatasi oleh Sunan Drajat.

Pembukaan lahan akhirnya selesai, Sunan Drajat beserta dengan pengikutnya langsung berusaha mendirikan pemukiman di lahan seluas 9 hektar. Sunan Drajat mendapatkan pesan dari Sunan Giri melalui melalui mimpi untuk menempati daerah yang berada di sisi selatan perbukitan. Tempat tersebut akhirnya diberi nama Ndalem Duwur.

Sunan Drajat akhirnya mendirikan masjid yang lokasinya jauh dari tempat tinggalnya. Masjid tersebut juga digunakan untuk berdakwah. Beliau memutuskan untuk terus berdakwah di tempat tersebut sampai dengan akhir hayat di daerah tersebut. Berdasarkan sejarah, Beliau terbukti mampu memegang kendali di daerah tersebut selama 36 tahun. Tempat tersebut dinamakan dengan desa Drajat.

Akhirnya beliau dipanggil menjadi Sunan Drajat yang berasal dari kata Kadrajat yang berarti terangkat derajatnya. Selain dari gelar tersebut, Sunan Drajat juga mendapatkan gelar berupa Sunan Mayang Madu pada tahun 1520 Masehi yang diberikan oleh Sultan Demak I.

Letak Makam Sunan Drajat

Letak Makam Sunan Drajat

Sunan Drajat terus memajukan dan berdakwah di desa Drajat selama 36 tahun. Beliau akhirnya wafat pada tahun 1522 Masehi. Beliau dimakamkan di perbukitan Drajat, Paciran, Kabupaten Lamongan. Makam beliau terletak di bagian yang paling tinggi dan belakang.

Tepat di dekat makam tersebut terdapat berbagai peninggalan dari Sunan Drajat. Beberapa peninggalan tersebut adalah kumpulan tembang Pangkur ciptaan beliau, gamelan, dan juga dayung yang menyelamatkannya sampai ke desa Jelak.

Anda saat ini bisa datang ke kompleks pemakaman tersebut. Kompleks tersebut memiliki tujuh halaman yang semuanya berlokasi di perbukitan. Kompleks tersebut terus mendapatkan pemugaran dari pemerintah setempat guna pelestarian warisan sejarah dan kebudayaan.

Pada kompleks tersebut terdapat pintu Gapuran paduraksa berhiaskan cungkup dan juga pagar kayu. Anda akan bisa melihat adanya motif sulur dan juga teratai pada bagian pagar kayu tersebut yang melambangkan sebuah gunung. Di kawasan tersebut juga dibangun kembali Masjid Sunan Drajat.

Museum Sunan Drajat

Museum Sunan Drajat

Pemerintah setempat tidak hanya melakukan pemugaran terhadap komplek makam tersebut. pemerintah juga membangun Museum Sunan Drajat berkat jasa beliau dalam menyebarkan ajaran Islam di Lamongan. Museum tersebut diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur pada 1 Maret 1992. Museum tersebut berlokasi di sebelah timur dari makam Sunan Drajat.

Di Museum tersebut tersimpan berbagai benda peninggalan Sunan Drajat, seperti perunggu, keramik, kayu jati, terakota jaman Sunan Drajat, batu besi, dan lain sebagainya. Anda juga akan bisa melihat adanya benda-benda lain di Museum Sunan Drajat, seperti buku, kertas, kain, dan bedug peninggalan jaman Sunan Drajat.

Ada banyak kisah Sunan Drajat yang bisa dipelajari, mulai dari kegigihan dalam beribadah, menuntut ilmu pengetahuan dan agama, kesusilaan, kasih sayang kepada manusia, dan juga binatang. Anda juga bisa belajar bahwa kejujuran itu mahal harganya daripada terkena musibah akibat berkata tidak jujur.

SUNAN DRAJAT : Sejarah, Biografi, Nama Asli, Kisah, Letak Makam

Leave a Reply