Sunan Muria: Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak Makam

Biografi Sunan Muria – Anda pasti sudah tidak asing mendengar nama Sunan Muria yang merupakan salah satu anggota sunan dari Walisongo. Anda perlu untuk mengetahui bagaimana biografi, nama asli, kisah, sejarah, dan juga letak makam beliau. Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan hidup Sunan Muria. Anda bisa lihat di artikel Sunan Muria: Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak Makam ini.

Biografi Sunan Muria

Biografi Sunan Muria

Penyebaran Islam yang ada di Indonesia, terutama Pulau Jawa bisa pesat juga berkat Sunan Muria. Beliau menyebarkan Islam dengan pusat dakwah di Gunung Muria yang berada di Jawa Tengah. Anda pasti sudah sangat penasaran mengenai biografi lengkap dari beliau. Ternyata, Sunan Muria ini merupakan putra dari Sunan Kalijaga.

Dalam menyebarkan agama Islam sudah pasti tidak bisa dilakukan secara frontal pada zaman itu. Proses penyebaran harus dapat mendekati hat masyarakat, sehingga mereka mau menerima ajaran agama Islam dengan baik. Salah satu metode menghibur dan menyenangkan yang dipakai untuk berdakwah oleh Sunan Muria adalah tembang Sinom dan Kinanthi.

1. Sosok yang Dekat dengan Nelayan, Petani, dan Pedagang

Sunan Muria dikenal sebagai sosok yang lebih mudah untuk mendekati kaum-kaum, seperti nelayan, pedagang, dan juga rakyat jelata. Apabila ditelusuri pada karakter masyarakat zaman dahulu, mendekati para petinggi selain agama Islam pada saat itu lebih susah dilakukan. Orang dengan kedudukan yang tinggi pada zaman itu merasa lebih berkuasa dan kolot.

Itulah mengapa sebagian besar pemuka agama Islam pada zaman dahulu, terutama Walisanga lebih cenderung menyebarkan agama Islam melalui kaum nelayan, pedagang, maupun rakyat biasa. Sunan Muria ini memiliki ibu yang bernama Dewi Saroh yang mana merupakan seorang puteri dari Syekh Maulana Ishak.

Syekh Maulana Ishak tersebut adalah seorang ulama terkenal pada zaman tersebut di Samudra Pasai yang ada di Aceh. Berdasarkan silsilah dapat digariskan bahwa Sunan Muria ini masih merupakan keponakan dari Sunan Giri. Nama asli dari Sunan Muria adalah Raden Prawoto. Namun, beliau juga sering dipanggil dengan ebberapa nama lainnya, seperti Raden Umar Said maupun Raden Umar Syahid.

2. Kisah Pernikahan Sunan Muria

Saat Raden Umar Said sudah menjadi dewasa, beliau dinikahkan dengan Dewi Sujinah yang mana adalah putri dari Sunan Ngudung. Ayah dari Dewi Sujinah tersebut merupakan salah satu dari putra Sultan Mesir yang melakukan hijrah ke Pulau Jawa. Sunan Ngudung ini memiliki putra yang juga menjadi anggota dari walisanga yaitu Sunan Kudus.

Pernikahan dari Sunan Muria dengan Dewi Sujinah memiliki putra yang diberi nama Pangen Santri atau sering dipanggil dengan Sunan Ngadilangu. Selain dari Dewi Sujinah, Sunan Muria juga menikah lagi dengan Dewi Roroyono Pada zaman itu, Dewi Roroyono dikenal sebagai seorang gadis yang sangat cantik, Namun, kecantikannya menyebabkan banyak pertumpahan darah.

Akhirnya, Sunan Muria berhasil mempersunting Dewi Roroyono setelah membuktikan kesaktiannya. Dewi Roroyono tersebut merupakan seorang putri dari Sunan Ngerang yang dikenal sebagai ulama Juwana yang sakti. Sunan Ngerang adalah guru dari Sunan Muria maupun Sunan Kudus.

Saat sudah dewasa, Sunan Muria memutuskan untuk berdakwah dan banyak menggunakan metode yang juga dipakai oleh ayahnya yaitu Sunan kalijaga dalam berdakwah. Untuk berdakwah, beliau memutuskan untuk pergi ke daerah yang pelosok dan jauh dari hiruk pikuk kota. Tempat tinggal beliau pada saat itu adalah di puncak Gunung Muria, tepatnya di desa Colo.

Berkat tempat berdakwahnya tersebut, akhirnya Raden Umar Said mendapatkan julukan Sunan Muria. Di Gunung Muria, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu agama Islam, melainkan juga keterampilan dalam bertani, melaut, dan juga berdagang. Itulah mengapa Sunan Muria sangat mudah dalam mendekati kaum nelayan, petani, dan juga pedagang.

Selain dari Gunung Muria, beliau juga memutuskan untuk berdakwah di beberapa tempat lainnya, seperti Tayu, Kudus, dan juga Juwana. Pada zaman itu belum terdapat alat transportasi mobil maupun motor seperti yang ada saat ini. Jadi, Sunan muria, keluarga beliau, dan juga muridnya harus menempuh jarak yang sangat tinggi dan juga jauh secara bolak-balik.

Itulah mengapa Sunan Muria, keluarga beliau, dan muridnya terkenal sebagai orang-orang yang memiliki fisik yang kuat. Hal yang perlu diketahui dan dipelajari oleh Sunan Muria adalah mengenai metode dakwahnya dalam menyebarkan agama Islam.

Beberapa Metode Dakwah Sunan Muria

Beberapa Metode Dakwah Sunan Muria

Ada banyak sekali metode dakwah yang dipakai oleh Sunan Muria dalam menyebarkan agama Islam. Beberapa metode tersebut adalah Topo Ngeli, Akulturasi Budaya, Gamelan dan Wayang, dan Tembang Jawa.

1. Metode Topo Ngeli

Hampir sebagian besar Sunan dari Walisanga lebih memilih untuk menyebarkan agama Islam kepada rakyat biasa dan bukannya para bangsawan. Begitu juga dengan Sunan Muria yang mengutamakan diri untuk menyebarkan agama Islam di tempat terpencil jauh dari perkotaan. Itulah mengapa Sunan Muria lebih memilih untuk tinggal jauh dari pusat Kerajaan Demak.

Salah satu metode dakwah yang pertama kali disampaikan saat di desa terpencil adalah Topo Ngeli. Topo ini adalah membaurkan diri dengan berbagai aktivitas yang ada di dalam masyarakat. Berkat metode ini, beliau menjadi lebih mudah dalam menyampaikan pesan penting ajaran agama Islam dan menghimbau masyarakat untuk selalu berperilaku baik.

Sunan Muria tidak hanya memberikan arahan mengenai keterampilan bertani, melainkan juga keterampilan untuk melaut, dan juga berdagang. Ada banyak sekali masyarakat yang tinggal di desa yang sama tertarik dengan ilmu tersebut.

Suatu ketika seluruh golongan dari kaum tersebut disatukan dalam suatu tempat dan diberikan petuah tentang agama sekaligus ilmu pengetahuan dan keterampilan pekerjaan mereka. Jika tidak dengan cara ini, bisa dipastikan bahwa mengumpulkan banyak masyarakat dengan berbagai mata pencaharian mereka akan sulit dilakukan dan berdampak pada sulitnya penyampaian dakwah dalam skala besar.

Berkat kemampuan beliau dalam bertani, melaut, dan juga berdagang, maka beliau dapat dengan mudah mengumpulkan mereka dan menyampaikan ajaran Islam. Cara yang sama ini juga diterapkan oleh Sunan Drajat dalam berdakwah.

2. Metode Akulturasi Budaya

Sunan Muria memang mampu berbaur dengan aktivitas masyarakat di Gunung Muria dengan baik. Hanya saja tidak berarti beliau tidak mendapatkan kesulitan saat akan berdakwah ke masyarakat tersebut. Sebagian besar masyarakat di sana sudah memiliki kepercayaan sendiri. Beliau tidak memungkin untuk memaksa warga untuk menerima ajaran agama Islam dengan segera.

Dakwah dilakukan secara dakwah bil hikmah alias mengajarkan kebijakan dan perilaku yang suka rela. Untuk membuat warga setempat mau mendengarkan Islam dan menerima agama Islam adalah dengan melakukan metode akulturasi budaya. Beliau tidak mengharamkan seluruh adat yang biasa dilakukan masyarakat tersebut.

Kebiasaan yang diperbolehkan untuk tetap dilakukan adalah peringatan kematian anggota keluarga setiap tiga hari atau hari-hari tertentu. Biasanya adalah hari peringatan kematian sampai dengan seribu hari. Apabila Anda ketahui, hampir sebagian besar adat ini juga masih dilakukan oleh umat Islam sampai dengan hari ini dan oleh masyarakat lainnya.

Namun, kebiasaan yang diganti adalah biasanya mereka akan membakar kemenyan pada saat prosesi adat 3 sampai dengan 1000 harian dan ini diganti dengan sholawat dan do’a ahli kubur. Metode akulturasi budaya ini lebih mudah diterima oleh masyarakat di sana saat pertama kali ajaran Islam disampaikan.

3. Metode Menjadi Contoh Teladan yang Baik bagi Masyarakat

3. Metode Menjadi Contoh Teladan yang Baik bagi Masyarakat

Sudah menjadi kebiasaan orang desa untuk saling peduli satu sama lain. Hal ini membuat Sunan Muria memiliki kepribadian yang juga lebih peka dan toleran terhadap berbagai macam masalah. Tidak jarang ada banyak masalah rumit yang muncul di tengah masyarakat. Hal tersebut, membuat Sunan Muria terketuk untuk turut menolong dan memberikan solusi dari permasalahan tersebut.

Selain konflik yang ada di desa tempat beliau mengasingkan diri, konflik yang pelik juga pernah muncul di Kesultanan Demak pada tahun 1518 – 1530 Masehi. Permasalahan tersebut harus ada yang mampu menengahi sebelum konflik berubah menjadi besar. Sunan muria berhasil menjadi penengah yang baik dalam permasalahan tersebut, sehingga semua pihak mau berdamai dan menerima hasil yang ada.

Setelah berhasil menengahi permasalahan tersebut, hal tersebut membuat SUnan Muria menjadi dihormati oleh kalangan kerajaan juga dan tidak hanya di tempat dakwah beliau. Berkat contoh perilaku yang baik, setidaknya ada banyak yang bisa dicontoh. Misalkan saja, pemerintah harus bisa menjamah segala elemen masyarakat dan tidak hanya terfokus pada suatu tempat atau golongan orang-orang tertentu saja.

4. Metode Gamelan dan Wayang

Metode dakwah berikutnya yang juga populer adalah menggunakan kesenian alat musik tradisional gamelan dan juga wayang. Kedua kesenian tersebut mampu membuat Sunan Muria menyampaikan dakwah secara menyenangkan dan menghibur banyak masyarakat. Penyampaian ini juga dirasa lebih efisien dalam mengajak warga untuk mendengarkan ceramah.

Beberapa lakon dalam wayang juga diubah karakternya, sehingga bisa membawa berbagai pesan-pesan Islami. Beberapa karakter yang mengalami perubahan dalam hal karakter adalah Dewa Ruci, Petruk, Jimat Kalimasada, Mustakaweni, Semar, dan masih banyak lagi.

5. Metode Menciptakan Beberapa Tembang Jawa

Sunan Muria mengamati bahwa dakwah dengan mempertahankan kebudayaan setempat akan mempermudah penyampaian dari dakwah itu sendiri. Akhirnya, Sunan Muria memutuskan untuk menciptakan beberapa tembang Jawa yang berisikan ajaran Islam. Tembangnya yang paling dikenal saat itu adalah Macapat.

Beberapa tembang lain dari Sunan Muria yang juga terkenal sampai dengan saat ini adalah Tembang Sinom dan juga Kinanthi. Lagu ini menggunakan kata-kata puitis berisikan ajaran Islam yang enak untuk dihafalkan dan didengarkan. Masyarakat sangat menyukai tembang-tembang ciptaan beliau pada saat itu.

Lagu tersebut membuat masyarakat mampu menghafalkan ajaran Islam, yang pada akhirnya diterapkan di kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa tembang ciptaan beliau juga masih diingat bahkan sampai dengan saat ini.

Nama Asli Sunan Muria

Nama Asli Sunan Muria

Sunan Kalijaga yang menikah dengan Dewi Saroh melahirkan putra yang bernama Raden Prawoto. Putranya tersebut nantinya yang akan dijuluki dengan Sunan Muria. Saat kecil, beliau sering dipanggil dengan nama Raden Umar Said maupun Raden Umar Syahid. Setidaknya ada tiga nama untuk nama saat beliau kecil.

Kisah Sunan Muria

Kisah Sunan Muria

Pada zaman dahulu, seluruh Sunan dalam Walisanga diberikan kelebihan oleh Allah SWT daripada orang-orang biasa. Begitu juga dengan Sunan Muria yang dikenal sebagai orang yang sakti atas izin Allah SWT. Terdapat kisah yang menggambarkan betapa saktinya beliau di masanya. Kisah tersebut akan dapat Anda ketahui berikut ini.

1. Kisah Permulaan Dewi Roroyono

Saat berulang tahun ke-20, Sunan Ngerang yang merupakan ayah dari Dewi Roroyono mengadakan syukuran yang dihadiri oleh para tetangga, saudara, Adipati Pathak Warak, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan juga murid-murid lainnya.

Anak-anak dari Sunan Ngerang ini sangat cantik, baik Dewi Roroyono maupun adkinya Dewi Roro Pujiwati. Namun, sebagian besar mata orang akan tertuju pada Dewi Roroyono, karena sudah berusia 20 tahun. Apabila tidak mampu menjaga pandangannya, bisa-bisa tergoda oleh bujukan setan untuk melakukan hal yang tidak baik.

2. Kisah Kecantikan Dewi Roroyono yang Mendatangkan Petaka

Salah satu tamu yang tidak bisa menjaga pandangannya adalah Adipati Warak. Godaan setan mulai berhasil membujuk ia untuk memiliki niat tidak baik. Ia tak mampu menjaga pandangannya, sehingga terus-menerus memandangi Dewi Roroyono hingga tidak berkedip.

Akhirnya Adipati Pathak Warak menggoda Dewi Roroyono dengan ucapan tidak senonoh dan kurang ajar. Itu membuat Dewi malu dan juga marah.

Dewi Roroyono pun dengan sengaja menumpahkan nampan yang terdapat minuman di atasnya tepat di Adipati. Perilaku tersebut memicu kemarahan Adipati Roroyono dan membuatnya menyumpahi dengan berbagai perkataan kotor. Bahkan, ia hampir saja menampar Dewi Roroyono. Tiba-tiba Dewi pun masuk ke dalam kamarnya dan menangis, karena telah dipermalukan oleh Adipati.

3. Kisah Penculikan Dewi Roroyono

Kekurang ajaran Adipati Pathak Warak tidak hanya selesai dengan berakhirnya acara syukuran. Saat sudah semakin malam, hampir sebagian besar tamu langsung pulang, kecuali yang berasal dari tempat yang jauh. Salah satu tamu yang tidak pulang saat itu adalah Adipati Pathak Warak.

Ia sampai tidak bisa tidur akibat terngiang oleh kecantikan dari Dewi Roroyono. Godaan setan pun menjadi, dan ia memutuskan untuk pergi mengendap-endap menuju ke kamar Dewi Roroyono. Ia membius Dewi Roroyono dengan menggunakan ilmu sirep dan membawa Dewi Roroyono keluar rumah dengan melalui genteng.

Ia pergi menuju ke Mandalika yang merupakan kawasan Kediri. Sunan Ngerang menyadari bahwa putrinya diculik. Beliau membuat sayembara untuk bisa menyelamatkan kembali anaknya tersebut. Isi dari sayembara tersebut adalah akan menjadi saudara dari Dewi Roroyono apabila perempuan dan apabil yang menyelamatkan adalah laki-laki, maka akan dinikahkan dengan Dewi Roroyono.

Meskipun sudah ada sayembara seperti itu, tidak ada orang yang berani melawan Adipati Pathak warak yang sudah merupakan kombinasi sifat jahat dan juga sakti. Satu-satunya yang berani adalah Sunan muria.

4. Kisah Usaha Penyelamatan Dewi Roroyono Saat Diculik

Sunan Muria dalam usaha untuk menyelamatkan Dewi Roroyono dan mengejar Adipati Pathak Warak bertemu dengan Kapa dan juga Gentiri. Keduanya adalah orang yang menghormati Sunan Muria, sehingga memutuskan untuk membantu beliau dalam menyelamatkan Dewi Roroyono dan juga meminta Sunan Muria untuk kembali ke padepokan.

Mereka mengatakan bahwa murid di padepokan lebih membutuhkan Sunan Muria dan bisa menyerahkan pengejaran kepada keduanya. Sunan Muria tidak mendebat akan hal itu. Baik Kapa dan Gentiri juga berjanji untuk mengantarkan Dewi Roroyono kepada Sunan Muria. Mendengar hal itu, Sunan muria tidak lagi ingin berdebat dengan keduanya dan pulang ke perguruan.

Kapa dan Gentiri berhasil merebut dan menyelamatkan Dewi Roroyono dengan bantuan Datuk Wiku Lodhang yang memang terkenal dengan kesaktiannya. Mereka berdua mengembalikan Dewi Roroyono kepada Sunan Ngerang.

Sunan Muria merasa perlu untuk memastikan bahwa keduanya sudah mengantar pulang Dewi Roroyono kepada ayahnya yaitu Sunan Ngerang. Namun di perjalanan, beliau justru bertemu dengan Adipati Pathak Warak yang sedang menunggangi kuda. Sunan Muria berusaha menghalangi Adipati Pathak Warak.

5. Kisah Dikalahkannya Pathak Warak

Sunan Muria sempat bertanya kepada Adipati Pathak Warak mengenai keberadaan Dewi Roroyono saat menghadang Adipati. Pathak Warak menjawab bahwa Dewi Roroyono sudah dibawa oleh Kapa dan Gentiri. Itulah mengapa Adipati Pathak Warak berusaha kembali untuk merebut Dewi Roroyono lagi.

Sunan Muria kemudian memasang kuda-kuda dan berkata kepada Adipati bahwa ia harus mengalahkannya terlebih dahulu jika ingin merebut Dewi Roroyono. Pathak Warak yang merasa dirinya sakti dan hebat segera turun dari kuda untuk meladeni Sunan Muria. Tak lama kemudian, Pathak Warak berusaha mengeluarkan jurus cakar harimau.

Sunan Muria hanya mengeluarkan beberapa serangan balik saja dan Pathak Warak sudah kalah. Pathak Warak yang dikenal sakti oleh masyarakat tiba-tiba menjadi tidak sakti lagi, tidak mampu berjalan, apalagi berdiri.

6. Kisah Hadiah Sayembara

Sunan Muria yang sudah berhasil mengalahkan Adipati Pathak Warak langsung bergegas menuju ke Juwana kediaman Sunan Ngerang. Saat sampai, beliau langsung disambut gembira oleh Sunan Ngerang, karena sudah diceritakan mengenai perjalanannya oleh kedua bersaudara Kapa dan Gentiri. Sunan Muria dijodohkan oleh Dewi Roroyono.

Sedangkan Kapa dan Gentiri diberi hadiah berupa tanah yang berlokasi di daerah Buntar. Hadiah dari Sunan Ngerang tersebut membuat Kapa dan Gentiri menjadi kaya dan bisa hidup secara berkecukupan.

7. Kapa dan Gentiri Tergoda Kecantikan Dewi Roroyono

7. Kapa dan Gentiri Tergoda Kecantikan Dewi Roroyono

Godaan setan kini justru datang menghampiri Kapa dan Gentiri saat sedang mengantarkan Dewi Roroyono pulang ke rumah Sunan Ngerang. Mereka berdua tampaknya juga sudah terpikat oleh kecantikan dari Dewi Roroyono. Setelah mengantarkan Dewi Roroyono menuju ke Sunan Ngerang, mereka menyesali tawaran terlalu baik yang mereka berikan kepada Sunan muria.

Mereka berpendapat bahwa Sunan Muria bisa mendapatkan Dewi Roroyono tanpa perjuangan. Hal tersebut menimbulkan niat buruk dan juga dendam kepada kedua kakak beradik tersebut. Mereka berniat untuk merebut Dewi Roroyono.

8. Gentiri Menemui Ajal

Gentiri nekat untuk datang merebut Dewi Roroyono yang jelas-jelas sudah menjadi istri Sunan Muria. Sebelum datang ke padepokan Sunan Muria, ia sudah bersepakat dengan Kapa bahwa mereka akan menjadikan Dewi Roroyono sebagai istri secara bergantian. Niat buruk mereka membuat Gentiri harus bertempur dengan para murid Sunan Muria.

Akhirnya, Sunan Muria datang dan menemui Gentiri. Seketika itu juga Gentiri yang berusaha mengeluarkan jurusnya meninggal menemui ajalnya. Dewi Roroyono berhasil diselamatkan dari usaha penculikan.

9. Kisah Penculikan Dewi Roroyono oleh Kapa

Kabar kematian dari Gentiri langsung tersebar luas dengan cepat. Sebetulnya Kapa juga sudah mendengarkan kabar tersebut. Hanya saja, hal tersebut tidak membuat dirinya gentar dan tetap melaksanakan niat buruknya terhadap Dewi Roroyono.

Ia tetap datang ke Gunung Muria pada saat malam hari, agar tidak ada seorang pun yang menyadari kedatangannya. Dewi Roroyono hanya dijaga oleh beberapa murid Sunan muria saja, karena sebagian besar murid dan Sunan sedang pergi ke Demak Bintoro. Alhasil, Kapa dapat dengan mudah mengalahkan seluruh murid yang menjaga Dewi Roroyono hanya dengan cara membius mereka.

Ia mengikat kaki dan tangan Dewi, agar ia tidak bisa melawan Kapa. Ia segera pergi dengan membawa Dewi menuju ke Pulau Prapat dengan mudah. Tidak banyak orang yang menghalangi saat malam hari. Pulau Prapat adalah tempat tinggal dari guru Kapa yang bernama Datuk Wiku Lodhang yang terkenal dengan kesaktiannya.

10. Perdebatan Datuk Wiku Lodhang dengan Kapa

Sunan Muria belum mendapatkan kabar akan penculikan istrinya. Namun, Sunan memang berniat untuk datang ke Pulau Prapat untuk menemui datuk Wiku Lodhang. Keduanya bersahabat dengan baik, meskipun berbeda agama.

Kapa berharap datuk Wiku Lodhang mau menolongnya, tetapi datuk justru sangat marah terhadap perilaku Kapa yang menurutnya sangat tidak terpuji. Menculik istri orang bukanlah hal yang baik menurut pendapat datuk. Keduanya akhirnya bertengkar dan berbantah-bantahan. Tak tahan dengan perilaku muridnya, datuk segera melepaskan ikatan di tangan dan kaki Dewi.

Sunan Muria sempat menyaksikan perseteruan Kapa dan Datuk Wiku Lodhang. Beliau juga melihat istrinya terikat pada bagian tangan dan kakinya. Akibat sedang beradu argumentasi hebat, keduanya tidak menyadari kedatangan Sunan Muria. Saat Datuk WIku Lodhang membebaskan Dewi, barulah Kapa menyadari kehadiran Sunan Muria dengan sangat terkejut.

Ia tak sengaja refleks mengeluarkan jurus mematikannya. Hal tersebut justru berbalik kepada Kapa sendiri dan membuatnya menemui ajal seketika. Hal itu bisa dilakukan Sunan Muria berkat perlindungan dari Allah SWT.

11. Pembebasan Dewi dan Permintaan Maaf Datuk Wiku Lodhang

Sunan Muria meminta maaf kepada Datuk Wiku Lodhang, karena tidak sengaja membunuh muridnya. Sunan Muria merasa sangat menyesal akan perbuatannya. Datuk Wiku Lodhang hanya menjawab bahwa hal yang sudah dilakukan Sunan Muria tidak salah. Datuk Wiku Lodhang justru menyalahkan perbuatan dari Kapa yang merupakan muridnya.

Datuk berpendapat bahwa orang yang memiliki ilmu tidak seharusnya melakukan perbuatan jahat seperti itu. Dengan langkah gontai, Datuk Wiku Lodhang berusaha untuk menguburkan jenazah Kapa dengan layak. Sunan Muria dan juga istrinya kembali lagi menuju ke Gunung Muria.

Sejarah Sunan Muria

Sejarah Sunan Muria

Berdasarkan beberapa kisah di atas sudah diketahui bahwa kesaktian Sunan Muria berasal dari perlindungan yang diberikan oleh Allah SWT. Keistimewaan maupun karomah yang dimiliki oleh Sunan Muria tidak hanya berupa jurus untuk membalikkan kesaktian orang yang tidak baik.

Keistimewaan lain yang bisa didapat oleh masyarakat Muria dan diajarkan beliau kepada masyarakat Muria untuk melakukan sholat meminta hujan, saat daerah tersebut dilanda kekeringan. Dalam Islam sendiri hal ini memang ada dan sholat tersebut disebut dengan istiqa’.

Sunan Muria juga meninggalkan air gentong yang dapat mengobati penyakit dan membuat cerdas siapa saja yang meminumnya. Sudah pasti hal itu dilakukan atas seizin Allah SWT dan orang yang meminumnya berharap kecerdasan dan kesembuhan hanya kepada Allah SWT bukan kepada gentong tersebut.

Tindakan percaya bahwa gentong tersebut bisa menyembuhkan dan mencerdaskan orang yang meminumnya bisa membuat terjerumus pada perbuatan syirik, terutama bila berharap kesembuhan pada gentong air. Ingat bahwa kesembuhan dan kecerdasan itu datangnya dari Allah SWT saja.

Letak Makam Sunan Muria

Letak Makam Sunan Muria

Makam dari Sunan muria berada di puncak Gunung Muria yang berada di sebelah utara dari Kudus. Apabila Anda ingin pergi ke makam tersebut, setidaknya Anda harus mendaki 700 tangga dari pintu utama gerbang. Letak dari makam beliau berada tepat di belakang Masjid Sunan Muria.

Anda akan mudah mengenali perbedaan makam beliau dibandingkan dengan makam wali lainnya, karena makam beliau terpisah dan jauh dari para wali lainnya. Hal ini sesuai dengan karakter beliau yang lebih suka menyendiri.

Ada beberapa benda bersejarah yang ditinggalkan oleh Sunan Muria yaitu pelana kuda dan air gentong. Pelana kuda tersebut selalu membuat masyarakat Muria teringat untuk pentingnya melaksanakan sholat istisqa’ saat daerah mereka kekeringan.

Sedangkan gentong air, membuat warga untuk selalu ingat pentingnya berdoa hanya kepada Allah SWT untuk meminta kesembuhan saat sedang terkena penyakit. Gentong air tersebut juga mengingatkan para warga untuk selalu berdoa hanya kepada Allah SWT untuk diberikan kecerdasan juga.

Ada banyak hal yang bisa Anda pelajari dari artikel Sunan Muria: Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak Makam ini bukan. Pastinya pelajaran yang paling penting adalah berdoa itu harus kepada Allah SWT dan sisanya adalah usaha. Ini juga sudah disampaikan dalam Al-Qur’an juga.

Sunan Muria: Biografi, Nama Asli, Kisah, Sejarah, Letak Makam

Leave a Reply