SUNAN GUNUNG JATI: Biografi, Nama Asli, Kisah, Letak Makam

SUNAN GUNUNG JATI – Tahukah Anda tentang kisah Wali Songo? Kisah tentang sembilan orang penyebar ajaran islam di Pulau Jawa ini memang terkenal dan kisahnya dipelajari saat kita sekolah dasar. Salah satu anggota dari Wali Songo adalah Sunan Gunung Jati. Tahukah Anda tentang kisahnya? Siapakah beliau? Anda akan mengetahui biografi, nama asli, kisah, serta letak makam pada artikel berikut ini!

Wali Songo sendiri merupakan orang pilihan Allah yang diberikan karomah untuk menyebarkan agama Islam, khususnya dalam hal ini mereka menyebarkan agama Islam di Jawa. Setidaknya ada sembilan Wali yang harus Anda ketahui antara lain Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kudus, Sunan Giri, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, dan Gunung Jati.

Biografi Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati merupakan salah satu anggota Wali Songo, yakni wali yang menyebarkan agama Islam di Indonesia khususnya pulau Jawa. Beliau memiliki nama asli Syarif Hidayatullah atau dalam bahasa Arab disebut dengan Sayyid Al-Kamil. Sedangkan sebutan Gunung Jati sendiri merupakan gelar yang diberikan umat muslim kepadanya untuk jasa yang dilakukannya.

Beliau dilahirkan pada Tahun 1448 Masehi dari orang tuanya yang bernama Syarif Abdullah Umadatuddin bin Ali Nurul Alam dan juga Nyai Rara Santang, yang merupakan Putri Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi yang mana berasal dari Kerajaan Padjajaran. Ibunya adalah seorang mualaf, dan berganti nama islam menjadi Syarifah Mudaim.

Syarif Hidayatullah ini awalnya tinggal dengan orang tuanya di Timur Tengah, kemudian beliau memutuskan untuk kembali ke Jawa dengan tujuan untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam. Pada usianya yang baru menginjak dua puluh lima tahun, Sunan Gunung Jati telah dikenal sebagai ulama penyebar dakwah yag sangat disegani.

Sunan yang Sangat Dihormati di Jawa

Sunan yang Sangat Dihormati di Jawa

Sunan Gunung Jati merupakan sunan yang amat dihormati dan juga disegani di Jawa. Hal ini dikarenakan sifat kepemimpinannya yang arif bijaksana serta adil. Beliau yang dikenal sebagai cucu Prabu Siliwangi ini juga dianggap sebagai ulama yang memiliki pengaruh besar di Cirebon. Hal ini dikarenakan beliau mampu menyebarkan agama Islam dengan mengajak seluruh prajurit dan masyarakatnya untuk memeluk agama Islam.

Kegigihannya dalam menyebarkan agama Islam tetapi tetap dengan jalan damai dan penuh pesona inilah juga menjadi alasan mengapa Syarif Hidayatullah ini sangat disegani oleh semua orang. Setiap tutur kata yang diucapkan sangat lembut dan perangainya yang baik menjadikan beliau sebagai suri tauladan untuk semua orang disekitarnya.

Kisah Pertemuan Orang Tua Sunan Gunung Jati

Kisah Pertemuan Orang Tua Sunan Gunung Jati

Mengutip dari apa yang tertulis di Kitab Purwaka Caruban Nagari yang mana dituliskan dengan aksara Jawa dan dicampur dengan bahasa Kawi Cirebon, Pangeran Cakrabuwana beserta adiknya yang beranama Ratu Mas Rarasantang telah masuk kedalam islam. Masuknya mereka ke dalam agama islam dikarenakan mimpi mereka yang serupa, yakni bertemunya mereka dengan Rasulullah SAW.

Karena mimpi yang dialaminya itulah, mereka akhirnya menunaikan ibadah haji ke tanah suci bersama. Setelah itu, mereka berdua menuntut ilmu kepada syekh terkenal di Makkah. Kemudian saat menuntut ilmu tersebut, sang Sultan melamar Ratu Mas Rarasantang untuk dipersunting.

Kemudian Rarasantang pun menerima ajakan Sultan Abdullah untuk menikah, disini Pangeran Cakrabuana menjadi wali untuk mereka berdua. Pernikahan antara keduanya berlangsung dengan cara Mahdzab Imam Syafi’i di Mesir. Pangeran Cakrabuana memang sempat tinggal di Mesir dengan Rarasantang selama enam bulan, kemudian ia kembali ke Jawa.

Rarasantang hidup dengan bahagia bersama Sultan Abdullah di Mesir, kemudian setelah itu ia berubah nama menjadi Syarifah Muda’im. Kemudian tidak lama kemudian ia mengandung bayi pertamanya, dan melahirkan anaknya di Mekkah saat sedang berziarah. Anak pertamanya adalah seorang putra bernama Syarif Hidayatullah.

Datangnya Sunan Gunung Jati ke Jawa

Datangnya Sunan Gunung Jati ke Jawa

Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati tumbuh menjadi anak laki-laki yang cerdas serta kritis. Ia di didik dengan baik oleh kedua orang tuanya di kota suci tersebut. Kemudian saat usia beliau masih belia, berita duka datang karena ayahandanya meninggal dunia. Meninggalnya Sultan Abdullah menyebabkan Sunan tersebut diasuh seorang diri oleh ibunya.

Meskipun diasuh seorang diri oleh ibunya, Nyai Rarasantang mendidiknya dengan baik. Beliau dibesarkan dengan cinta kasih seorang ibu dan juga berdasarkan ajaran agama Islam yang juga kental di daerah Timur Tengah.

Raden Syarif Hidayatullah tumbuh menjadi anak yang memiliki minat tinggi terhadap ilmu agama Islam. Beliau banyak berguru dengan beberapa syekh yang terdapat di Timur Tengah, kemudian akhirnya di tahun 1470 beliau akhirnya berangkat ke pulau asal ibunya untuk melakukan dakwah dan penyebaran agama Islam.

Kisah Sunan Gunung Jati dengan Gadis Cina Bernama Putri Ong Tien

Kisah Sunan Gunung Jati dengan Gadis Cina Bernama Putri Ong Tien

Tahukah Anda tentang kisah yang satu ini? Kisah tentang percintaan antara Sunan Gunung Jati dengan seorang putri yang sangat cantik dari negeri Cina ini sangat terkenal. Kisah cinta yang berujung pernikahan antara keduanya ini diawali ketika Raden Syarif Hidayatullah pergi ke daerah nan King, Cina.

Saat itu Sunan bergelar Maulana Insanul Kamil. Beliau pergi ke Cina sekaligus membuka pusat pengobatan dan juga melakukan penyebaran agama Islam. Beliau selalu menganjurkan kepada orang yang sakit dan juga beribat untuk melaksanakan sholat, dan ternyata ketika telah sholat para pasiennya kemudian sembuh. Karena hal itulah beliau dianggap sebagai tabib yang sakti.

Karena kemampuan Sunan Gunung Jati yang begitu hebatnya itulah kemudian ia dipanggil ke istana oleh Kaisar Cina yang bernama Kaisar Hong Gie. Uniknya, ternyata beliau disana disuruh menebak salah satu putri raja yang sedang hamil.

Tentu hal tersebut merupakan bentuk ujian yang diberikan oleh Kaisar Cina. Kemudian Raden Syarif Hidayatullab berdoa agar putri yang masih perawan tersebut benar-benar hamil. Ternyata doanya dikabulkan, dan kemudian Putri Ong Tien hamil dan kejadian tersebut tentu membuat gempar di seluruh istana.

Kaisar Cina tersebut sangat marah kepada Sunan Gunung Jati. Kemudian ia pun mengusir Sunan Gunung Jati dari Cina dan tidak diperkenankan untuk kembali. Tetapi sayangnya, putri tersebut telah jatuh hati kepadanya. Ia meminta untuk diantar ke Jawa untuk menyusul Sunan.

Putri Ong Tien dalam menjemput pujaan hatinya dibekali oleh sang kaisar dengan berbagai perbekalan dan juga tiga pejabat untuk melindunginya. Tiga pejabat itu antara lain Pai Li Bang dan seorang menteri negara yang nantinya menjadi Adipati Sriwijaya.

Bertemunya Putri Ong Tien dan Sunan di Tanah Jawa

Bertemunya Putri Ong Tien dan Sunan di Tanah Jawa

Kemudian Putri Ong Tien berangkat bersama tiga pejabat tersebut ke tanah Jawa. Tetapi kemudian seorang menteri bernama Pai Li Bang memilih berhenti dan menetap di Sriwijaya. Nama Pai Li Bang sendiri nantinya akan menjadi asal usul dari nama Palembang.

Dikarenakan Pai Li Bang yang menetap, akhirnya Putri melanjutkan perjalanan bersama dua orang pejabat yang lain, yakni Lie Guan Chang dan juga Lie Guan Hien. Pertemuan antara mereka berdua akhirnya berakhir mengharukan, akhirnya Sunan Gunung Jati menikahi Putri Ong Tien di tahun 1481.

Pernikahan antara Raden Syarif Hidayatullah dengan Putri Ong Tien berjalan dengan baik dan bahagia. Tetapi takdir berkata lain, karena Putri Ong Tien kemudian dipanggil Yang Maha Kuasa pada tahun 1845 yang mana artinya adalah tahun ke empat pernikahan mereka.

Ajaran yang Disampaikan oleh Sunan Gunung Jati

Ajaran yang Disampaikan oleh Sunan Gunung Jati

Sunan dalam menyebarkan agama Islam di Jawa, tentu ada metode atau ajaran khusus yang mana diamalkan kepada santri-santrinya yang menuntut ilmu kepadanya. Terdapat beberapa ajaran utama yang menjadi dasar ilmu baik ilmu agama maupun ilmu kehidupan. Ilmu tersebut misalnya nilai tentang ketakwaan serta keyakinan, kedisiplinan, arif dan kebijaksanaan, kesopanan dan tata krama, serta nilai sosial.

1. Nilai-nilai Tentang Ketaqwaan dan Juga Keyakinan

Ada banyak yang diajarkan oleh Sunan Gunung Jati utamanya tentang nilai ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai tersebut dipraktikan dengan antara lain:

  1. Memelihara kaum fakir dan juga miskin dengan cara menyantuni, bersedekah, dan lain sebagainya
  2. Sholat dengan khusu’ serta tawadhu seperti anak panah yang tepat ditembak pada sasaran
  3. Berpuasa dengan tekun
  4. Beribadah kepada Allah secara istiqomah dan terus menerus
  5. Pandai bersyukur terhadap segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT
  6. Banyak-banyak bertaubat dan meminta ampun atas dosa-dosa yang diperbuat baik sadar atau tidak
  7. Meyakini bahwa Allah Esa dan tanpa keraguan didalamnya
  8. Dan lain sebagainya

Dengan mengamalkan nilai ketaqwaan serta keyakinan terhadap Allah SWT maka agama yang dianut menjadi semakin sempurna dan sempurna pula ibadah yang kita lakukan. Wallahualam.

2. Nilai Disiplin

Selanjutnya, Sunan Gunung Jati juga mengajarkan tentang nilai kedisiplinan. Nilai kedisiplinan merupakan nilai dimana tidak diperkenankan untuk mengingkari janji yang telah dibuat. Selain itu, disiplin juga berarti tidak menolong orang yang tidak seharusnya ditolong, belajar dengan apa yang menghasilkan manfaat, tidak menyalahgunakan ilmu, dan lain sebagainya.

Disiplin erat kaitannya dengan kontrol diri. Disini Sunan mengajarkan bagaimana pentingnya untuk mengontrol diri supaya tidak hanyut dengan hawa nafsu sesaat.

3. Nilai Kearifan serta Kebijaksanaan

Telah disinggung diawal bahwa memang Raden Syarif Hidayatullah adalah orang yang arif dan bijaksana. Sifatnya yang mulia dan menjadi suri tauladan ini juga diajarkan kepada santri-santrinya. Sifat arif dan bijaksana dapat diimplementasikan dengan sikap sebagai berikut:

  1. Dilarang untuk bersikap serakah dan berlebih-lebihan
  2. Tidak suka pertikaian dan keributan
  3. Jangan suka berkata buruk dan mencela kepada sesama
  4. Jangan berbohong atau berkata dusta kepada seseorang
  5. Menyegerakan makan dan juga minum sebelum rasa lapar dan haus datang
  6. Rendah hati
  7. Suka berbagi atau dermawan
  8. Mampu melihat sesuatu dengan jernih dan mengambil keputusan dengan bijak
  9. Dan lain-lain.

4. Nilai Tata Krama dan Juga Kesopanan

Sunan juga mengajarkan santri-santrinya agar menjadi orang yang bertata krama dan juga menjunjung tinggi nilai kesopanan. Perilaku seperti menghormati orang tua serta leluhur, memuliakan tamu, menghargai pusaka, dan lain sebagainya.

5. Nilai Kehidupan Sosial

Nilai dalam kehidupan sosial juga ditanamkan dengan baik oleh Raden Syarif Hidayatullah kepada murid-muridnya. Nilai kehidupan sosial tersebut diimplementasikan Raden Syarif dengan cara mengajarkan bahwa:

  1. Tidak perlu memaksakan diri untuk menunaikan ibadah haji jika memang belum mampu
  2. Tidak memaksakan diri untuk mendaki gunung jikalau secara fisik belum siap dan mampu
  3. Jangan menjadi seorang imam jika ilmu agama yang dimiliki belum tinggi
  4. Tidak perlu berdagang jika hanya berkumpul dengan orang-orang saja

Dengan diterapkannya nilai kehidupan sosial maka semua masyarakat dapat hidup dengan selaras dan damai tanpa ada permasalah karena memaksakan diri.

Karomah yang Dimiliki Oleh Sunan Gunung Jati

Karomah yang Dimiliki Oleh Sunan Gunung Jati

Setiap wali memiliki karomahnya tersendiri, yang mana hal tersebut membantunya dalam menyebarkan agama Islam dan tentunya menunjukkan kekuasaan Allah. Sebagai contoh, Sunan Bonang yang mampu mengubah pohoh Aren menjadi Emas atas izin Allah misalnya. Bagaimana dengan karomah yang dimiliki oleh Raden Syarif Hidayatullah?

Karomah yang dimiliki oleh beliau diceritakan pada Babad Tanah Sunda atau Babad Cirebon. Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Sunan sedang melakukan rukun islam yang kelima, yakni pergi haji ke kota Mekkah. Ibu beliau memberikan bungkusan untuk bekal yang isinya adalah uang senilai 100 dirham.

Tetapi, ternyata Raden Syarif dihadang oleh sekelompok perampok yang ingin mengambil harta yang dimiliki beliau. Tetapi kemudian tanpa basa-basi beliau memberikan uang yang dimilikinya kepada perampok tersebut. Karena diberikan secara cuma-cuma, sang perampok merasa bahwa beliau tentu memiliki uang yang lebih dari itu.

Kemudian perampok tersebut memaksa untuk menyerahkan harta lainnya. Sang Sunan hanya tersenyum dan malah berkata seraya menunjuk sebuah pohon, “Ini untuk kalian jika kalian kurang” Kemudian pohon biasa tersebut berubah menjadi emas.

Sang perampok tentu merasa sangat kaget dengan apa yang dilihatnya didepan. Ketiga perampok tersebut akhirnya meminta kepada Sunan agar dibimbing untuk bertaubat dan mereka seraya mengucapkan dua kalimat syahadat dan kemudian resmi menjadi santri beliau.

1. Mampu Berjalan di Atas Air

Karomah lainnya yang dimiliki oleh Sunan Gunung Jati selain merubah pohon biasa menjadi emas adalah mampu berjalan diatas air. Jadi dikisahkan pada babad yang sama, ia berangkat dari Mesir ke pulau Jawa yang notabene nya adalah menyebrangi lautan. Bukannya menyebrangi lautan menggunakan perahu, ia malah menyebrangi lautan dengan berjalan diatas kaki kosongnya.

2. Sorban Sakti Milik Raden Syarif Hidayatullah

Karomah lain yang dimiliki oleh beliau untuk menunjukkan kekuasaan Allah dan bukti bahwa ajaran Islam memang agama yang rahmatan lil alamin juga ditunjukkan melalui sorban sakti milik beliau. Jadi dikisahkan ketika ada peperangan antara pasukan Demak dan tentara Majapahit ini, Raden Syarif menghadapi musuh yang cukup tangguh.

Untuk melawan musuhnya tersebut, Raden Syarif menjulurlam sorbannya dan yang terjadi adalah muncul bala tentara tikus yang jumlahnya tidak dapat dihitung saking banyaknya, yang mana kemudian menyerang bala tentara Majapahit yang menyebabkan mereka lari tunggang langgang dan kalah.

3. Mampu Menghilangkan Pasukan Tentara Pangeran Kuningan

Dikisahkan bahwa Sunan sedang bertanya kepada Pangeran Kuningan tentang cara untuk membuat para raja Pasundan untuk masuk kedalam agama Islam. Kemudian Pangeran Kuningan menjawab bahwa ia mampu mendatangkan bala tentara yang jumlahnya sangat banyak dengan jimat miliknya.

Cara mendatangkannya pun sangat mudah, yakni hanya mengumpulkan berbagai kerikil dan juga jamur merang dan kemudian diteteskannya dengan jimat cupu tirta bala. Kemudian tanpa diduga, muncullah banyak sekali bala tentara yang mana memenuhi seluruh alun-alun di Cirebon.

Tentu munculnya bala tentara yang jumlahnya luar biasa tersebut membuat rakyat Cirebon geger. Kemudian Raden Syarif Hidayatullah membacakan pasukan bala tersebut suatu doa. Atas izin Allah, seketika bala tentara yang jumlahnya ratusan tadi hilang sekejap mata dan kembali menjadi kerikil dan jamur merang lagi.

3. Mampu Memindahkan Istana Kerajaan Hindu Pakuan ke Alam Gaib

Karomah berikutnya yang juga membuat berdecak kagum dan heran adalah kemampuannya dalam memindahkan istana kerajaan Hindu Pakuan ke alam gaib. Hal ini awalnya dikarenakan kerasnya penolakan yang dilakukan oleh Pendeta Sunda Wiwitan yang menentang kehadiran Islam atau hanya sekedar untuk keluar dari wilayah istana Pakuan.

Jadi kisah ini diawali ketika jatuhnya Kerajaan Galuh Pakuan, yang mana merupakan ibu kota kerajaan Sunda pada tahun 1568. Jatuhnya kerajaan tersebut karena dikalahkan oleh pasukan Demak yang saat itu dipimpin oleh beliau.

Kemudian dilakukan perundingan terakhir yang dilakukan bersama para petinggi kerajaan Galuh Pakuan, yang mana jika bersedia untuk masuk Islam maka kedudukan istana akan dijaga dan juga martabatnya akan diberikan layaknya gelar pangeran, panglima, ataupun puteri dan tentu diperkenankan untuk tinggal di keratonnya.

Pilihan kedua diberikan yakni jika tidak bersedia untuk masuk ke agama Islam, maka mereka harus keluar dari keraton dan juga ibukota Pakuan. Nantinya orang-orang tersebut akan diberikan di pedalaman Banten khususnya yang sekarang menjadi wilayah Cibeo.

Tetapi dikisahkan bahwa ternyata tidak semua mau menerima tawaran pertama, ada beberapa pasukan dan panglima yang memilih opsi kedua sebanyak empat puluh orang yang mana merupakan cikal  bakal dari penduduk Baduy.

Sementara itu para Pendeta Sunda Wiwitan tidak menerima penawaran satu maupun dua. Maksutnya adalah mereka tetap ingin memeluk agama Sunda Wiwitan tetapi ingin tetap tinggal diwilayah istana Pakuan. Maka dari itu atas izin Allah SWT beliau mampu memindahkan Istana Gakuh Pakuan ke alam Gaib yang menyebabkan pendeta tersebut tidak lagi berada di lingkup istana. Wallahualam.

Perjuangan Sunan Gunung Jati dengan Islam

Perjuangan Sunan Gunung Jati dengan Islam

Sunan merupakan orang yang lahir di jazirah Arab, meskipun demikian, ia memiliki ibu yang merupakan orang asli pulau Jawa. Itulah latarbelakang mengapa ia merasa memiliki kewajiban pula untuk berdakwah di negara dan daerah asal ibunya.

Saat awal berdakwah, Raden Syarif harus menerima kenyataan bahwa kakeknya sendiri yang mana merupakan salah satu penguasa di Jawa juga belum memeluk agama Islam, serta ajaran Islam sendiri belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat sekitar.

Umumnya para masyarakat tidak dapat menerima ajaran tersebut dikarenakan mereka masih memegang teguh ajaran Budha dan Hindu. Mengerti fakta-fakta tersebut, beliau mengambil langkah cerdas dengan cara meminta izin terlebih dahulu kepada kakeknya, Sang Prabu Siliwangi, untuk mengizinkan serta membantunya dalam menyebarkan agama Islam.

Prabu Siliwangi mengizinkannya dengan senang hati, tetapi dengan persyaratan dan pesan bahwa Sunan tersebut harus menyebarkan agama Islam dengan cara yang halus dan tanpa kekerasan. Prabu Siliwangi tidak ingin ada darah yang tumpah hanya karena terdapat perbedaan dari bahasa, cara ibadah, dan juga beda dalam menyembah Rabb.

Sunan Gunung Jati memegang erat nasihat tersebut. Beliau benar-benar menyebarkan agama Islam dengan cara yang lemah lembut, ramah, dan juga bersifat kekeluargaan. Akibat metode dakhwah yang mencerminkan perilaku berbudi luhur tersebutlah akhirnya masyarakat tersebut mulai melihat ajaran yang dibawa oleh beliau sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

– Titik Perkembangan Pesat Penyiaran Agama Islam

Perjuangan beliau dalam menyebarkan agama Islam mencapai puncak kejayaannya ketika beliau diberi amanah untuk memimpin Pesantren Amparanjati untuk menggantikan Syekh Nurjati. Kemudian selanjutnya Sunan juga menjalin hubungan yang baik dengan Kesultanan Demak yang gunanya agar agama Islam semakin meluas dan menentang kolonialisme.

Kemudian seiring waktu berlalu, kemudian Raden Syarif Hidayatullah sadar sesuatu, bahwa menyebarkan agama Islam dengan lemah lembut saja tidak cukup. Hal ini diperkuat karena ada banyaknya tekanan yang berasal dari berbagai kerajaan bercorak Budha dan Hindu yang mana merasa bahwa kedudukannya terancam dengan adanya fakta bahwa Islam sangat berkembang pesat di Jawa.

Wafatnya Sunan Gunung Jati dan Letak Makam

Wafatnya Sunan Gunung Jati dan Letak Makam

Beliau adalah orang yang sangat disegani di Jawa, berkat kemuliaan sifatnya, jasanya, serta pengorbanannya ia mendapatkan gelar yang diberikan oleh umat muslim di Jawa Barat sebagai Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.

Meskipun Sunan merupakan orang pilihan Allah yang diberikan karomah, beliau tetaplah manusia biasa yang memiliki batasan umur untuk hidup didunia. Kemudian terdapat kabar duka dimana pada tanggal 26 Rayagung di tahun 891 Hijriah atau sama dengan 1568 Masehi di usianya yang sudah menginjak 120 tahun.

Jika tanggal meninggalnya dilihat dengan kalender Jawa, maka dapat dilihat bahwa Sunan meninggal pada sebelas Krisnapaksa bulan Badramasa di tahun 1491 Saka. Beliau meninggal di umur yang cukup tua, maka tidak mengherankan bahwa cucu cucu beliau meninggal terlebih dahulu.

Setelah wafatnya Raden Syarif Hidayatullah, posisinya digantikan oleh cicitnya. Kemudian Sunan dimakamkan pada bukit yang memiliki nama Bukit Gunung Jati. Makam tersebut saat ini telah dipugar dan menjadi tempat ziarah yang terkenal karena merupakan satu dari sembilan Wali Songo.

Sumur Kemuliaan di Makam Sunan Gunung Jati

Sumur Kemuliaan di Makam Sunan Gunung Jati

Tahukah Anda bahwa di makam Sunan tersebut ada tujuh sumur yang dipercaya juga merupakan karomah yang dimiliki oleh Sunan yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya? Sumur tersebut sudah ada sejak 500 tahun yang lalu, tetapi hingga kini sumur tersebut tidak kering sama sekali. Sebaliknya, air masih ada dan sangat jernih.

Para peziarah percaya bahwa air kemuliaan tersebut dapat memenuhi setiap hajat hidup orang tersebut seperti memudahkan jodoh, rezeki, memberi ketenangan hidup, dan lain sebagainya. Salim dan juga Mokhtar merupakan orang yang tiap harinya melayani penimbaan air sumur yang memiliki kedalaman 20 meter, Meskipun begitu, mereka tidak mematok biaya apapun dan dengan ikhlas melakukannya.

“Manfaatnya sangat banyak. Meskipun begitu bukan berarti tidak percaya Allah, ya. Tetap, bahwa penolongnya adalah Allah SWT. Air yang ada dalam sumur ini merupakan sarana dan juga syariatnya. Mereka yang datang ke tempat ini masih wajib untuk berdoa dan berusaha, tawadu, dan jangan mengharapkan akan berubah nasib hanya karena disiram air sumur tanpa melakukan ketiga hal diatas” ujarnya.

Sunan Gunung Jati memang telah wafat, tetapi setiap ajarannya dan semangat dakwahnya selalu hidup dan harusnya terus terusan kita tauladani. Memang dalam menyebarkan agama Islam diperlukan cara yang lemah lembut, tetapi disini kita belajar bahwa dalam melakukan sesuatu kita juga perlu mengambil tindakan sesuai dengan situasi dan kondisi.

Karomah beliau yang memang tidak dapat dinalar juga dapat diambil pelajaran bahwa memang kuasa Allah itu nyata dan apapun bisa terjadi atas izin Allah SWT. Wallahualam. Informasi mengenai Sunan Gunung Jati tersebut tentunya bisa Anda ambil pelajaran baiknya.

SUNAN GUNUNG JATI: Biografi, Nama Asli, Kisah, Letak Makam

Leave a Reply