SUNAN BONANG : Sejarah, Biografi, Nama Asli, Kisah, Letak Makam

Sejarah Sunan Bonang – Tahukah anda tentang salah satu anggota Wali Songo yang satu ini? Sunan Bonang adalah salah satu dari Wali Songo yang banyak dibahas dan juga diteladani kisah-kisahnya. Beliau terkenal dengan kehebatan tongkatnya yang mampu mengubah pohon Aren menjadi pohon Emas. Sangat menakjubkan bukan?

Sunan yang memiliki nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim ini terkenal dengan penyampaian dakwahnya melalui seni Gamelan, yakni Bonang. Ada banyak sekali hal yang harus anda ketahui tentang wali yang satu ini. Apasajakah itu? Anda akan segera menemukan jawabannya pada artikel berikut ini!

Biografi Singkat Sunan Bonang

Biografi Singkat Sunan Bonang

 

Sebelum mengetahui kisah, sejarah, dan juga letak makam dari sunan ini, ada beberapa hal mendasar terkait informasi pribadi yang dimiliki oleh Sunan Bonang yang harus anda ketahui terlebih dahulu. Biografi singkatnya antara lain adalah:

  1. Nama Asli : Raden Maulana Makdum Ibrahim
  2. Nama Ayah : Sunan Ampel
  3. Nama Ibu : Nyai Ageng Manila
  4. Tahun Lahir : 1465 Masehi
  5. Tahun Wafat : 1525 Masehi

Raden Maulana Makdum Ibrahim ini konon masih memiliki hubuungan silsilah dengan Nabi Muhammad SAW yang mana jika dituliskan maka menjadi Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) bin Sunan Ampel (Raden Rahmat) Sayyid Ahmad Rahmatillah bin Maulana Malik Ibrahim bin Jamaluddin Akbar Khan bin Ahmad Jalaludin Khan bin Abdullah Khan bin Abdullah Khan bin Abdul Malik Al-Muhajir bin Alawi Ammil Faqih bin Muhammad Sohib Mirbath bin Ali Kholi Qosam—dst hingga diakhiri dengan Bin Ali bin Abi Thalib (Dari Fatimah az-Zahra binti Muhammad SAW

Raden Maulana Makdum Ibrahim adalah seorang penyebar dakwah agama Islam yang mana menyebarkan agama Islam dengan berbagai cara, utamanya dengan media sastra seni. Kepopulerannya memang tidak lagi diragukan di tanah Jawa, utamanya karena ia merupakan anak dari Sunan Ampel atau Raden Rahmat.

Biografi Singkat Sunan Bonang dalam Pendidikan dan Pengembangan Ilmu

Biografi Singkat Sunan Bonang dalam Pendidikan dan Pengembangan Ilmu

Raden Maulana Ibrahim ini dalam bidang pendidikan belajar dari ayahnya sendiri, yakni Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Disana ia belajar bersama denan santri ayahnya yang lain seperti Sunan Giri, Raden Kusen, Raden Patah, dan lain lainnya. Raden Maulana Ibrahim juga belajar bersama Syaikh Maulana Ishak.

Salah satu anggota dari Wali Songo yang satu ini terkenal dengan penyebar Islam yang menguasai berbagai ilmu yang antara lain adalah sebagai berikut:

  • Ilmu Tasawuf
  • Ilmu Fikih
  • Ilmu Ushuluddin
  • Seni
  • Sastra
  • Arsitektur
  • Ilmu Silat
  • Dan lain-lain

Selain itu, Raden Maulana Makdum Ibrahim juga terkenal dengan kepandaiannya untuk menemukan sumber air di  tempat yang dianggap sulit untuk menemukan air. Salah satu karya yang menggambarkan bagaimana kehebatan yang dimilikinya adalah Babad Daha-Kediri yang menceritakan bagaimana hebatnya ia dalam mengubah aliran Sungai Brantas untuk media dakwah.

Karya-karya Raden Maulana Ibrahim

Karya-karya Raden Maulana Ibrahimv

Sebagai seorang cendekiawan, Sunan Bonang juga menciptakan berbagai karya-karya. Karya tersebut tentunya menjadi bukti dan dapat menjadi media pembelajaran dari waktu ke waktu. Karya yang dibuat oleh Raden Maulana Ibrahim antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Pengubahan karta sastra yang berbentuk suluk atau tembang tamsil: Suluk Wajil, Tamba Ati
  2. Het Boek van Bonang (Buku yang diperkirakan dibuat bersamanya dengan ilmuan Belanda)
  3. Kitab Tanbihul Ghofilin (Kitab Tasawwuf setebal 234 halaman)
  4. Menambahkan instumen Bonang pada Gamelan Jawa.
  5. Pembuatan tembang berjudul “Tamba Ati”
  6. Dan masih banyak lagi

Karya-karya tersebut tidak lekang oleh waktu, bahkan salah satu lagu buatannya yakni lagu yang berjudul “Tamba Ati” ini terus-terusan diperdengarkan baik sebagai hiburan maupun sebagai tembang untuk media berdakwah.

Ilmu yang Dimiliki oleh Raden Maulana Makdum Ibrahim

Ilmu yang Dimiliki oleh Raden Maulana Makdum Ibrahim

Sebagai seorang sunan, beliau memiliki ilmu yang dikuasainya. Tidak hanya disegani diseluruh pulau Jawa saja, tetapi juga kepandaiannya mampu membuat semua orang semakin segan. Sunan yang satu ini terkenal dengan ilmunya yang dikuasai antara lain tasawuf, ushuludin, sastra, dan juga karomah yang dimilikinya.

Beliau juga mengajarkan muridnya berbagai penekanan ilmu tentang sholat dan juga dzikir. Yang perlu anda ketahui juga, beliau juga amat populer dengan penguasaan ilmu kebatinan yang dimilikinya. Tak lupa beliau juga mengajarkan kepada santrinya cara mengembangkan dzikir yang dilakukan dengan gerakan fisik yang bersumber langsung dari Rasul yang dikombinasikan dengan keseimbangan pernafasan.

Keseimbangan pernafasan tersebut disebut dengan metode rahasia Alif Lam Mim yang artinya adalah hanya Allah SWT yang mengetahui. Memang, ilmu yang ditemukan oleh beliau diambil dari nama huruf hijaiyah, yang kemudian diajarkan kepada santrinya dengan berbagai gerakan fisik yang memiliki makna tertentu dan tentunya dengan maksud yang mulia.

Maka secara sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau mengajarkan kepada santrinya sebuah ilmu untuk mudah menghafal huruf hijaiyah yang terdapat 28 huruf. Dengan menghafalnya, kemudian santrinya diajari untuk mengartikan dan memahami Al Quran dengan baik dan benar. Bahkan hingga kini metode beliau masih dipelajari pada padepokan Ilmu Sujud dan Tenaga Dalam Indonesia.

Selain itu, beliau juga memiliki kharomah seperti tongkatnya yang dianggap ajaib yakni mampu merubah pohon Aren menjadi pohon Emas dan juga mampu mengeluarkan air yang memancar. Karomah dari Sunan ini akan dijelaskan pada kisahnya selanjutnya.

Metode Dakwah yang Dilakukan oleh Maulana Ibrahim dengan Gamelan

Metode Dakwah yang Dilakukan oleh Maulana Ibrahim dengan Gamelan

Setiap wali yang menyebarkan syiar agama tentu memiliki metode tersendiri dalam menyebarkan agama Islam. Sunan yang satu ini pun juga memiliki metodenya sendiri, yakni menggunakan metode alkulturasi budaya. Anda pasti mengetahui bahwa dahulu kala sebelum di Indonesia tersebar agama Islam, mayoritas penduduknya adalah penganut Budha dan Hindu.

Sunan Bonang sendiri menggunakan metode penyiaran agama Islam menggunakan kebudayaan Jawa. Ia menggunakan berbagai kesenian rakyat untuk metode menarik simpati masyarakat Indonesia saat itu. Kesenian rakyat tersebut misalnya adalah wayang dan juga permainan bonangnya (gamelan).

Gamelan bonang adalah salah satu macam alat musik daerah yang terbentuk dari kuningan yang mana memiliki benjolan bundar di tengahnya. Apabila dipukul dengan alat pemukulnya yang berupa kayu lunak, maka akan terdengar suara merdu dari alat tersebut. Ia menggunakan gamelan tersebut untuk menarik simpati dari masyarakat.

Raden Maulana Makdum Ibrahim memang seorang wali yang memiliki rasa seni yang tinggi. Bahkan setiap lagu yang dibuat untuk mengiringi pertunjukan wayang selalu memukau, yang mana isi dari lagu tersebut berisi ajakan dan juga dakwah. Dengan metodenya yang baik ini, masyarakat Indonesia dengan senang hati menerimanya dan kemudian banyak dari mereka yang mau masuk Islam.

Pada setiap pementasan wayang, beliau juga sosok seorang dalang yang sangat handal dalam membawakan jalan cerita. Tiap lagu yang dimainkan oleh beliau selalu bernuansakan lagu islami dan dzikir sehingga membuat banyak orang semakin tertarik untuk mempelajari agama Islam yang dianggap mampu membawa kedamaian dan ketenangan hati.

Metode Dakwah Menggunakan Karya Sastra

Metode Dakwah Menggunakan Karya Sastra

Telah dibahas pada subjudul sebelummya bahwa karya sastra yang dihasilkan oleh Raden Maulana Makdum Ibrahim ini sangat beragam. Karya sastra yang diciptakannya juga merupakan metode dakwah yang digunakan beliau untuk menyebarkan agama islam. Metode tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

1. Suluk Wujil

Salah satu suluk yang beliau buat dan sangat terkenal adalah suluk Wujil. Nama Wujil sendiri diambil dari salah seorang cantrik yang dimilikinya. Pada syair yang dibuatnya tersebut ada dua makna yang yang terkandung. Pertama, adalah bentuk penggambaran bagaimana suasana peralihan dari ajaran Hindu dan kemudian menjadi Islam.

Yang kedua adalah tentang perenungan ilmu Sufi, yang mana merupakan ilmu yang mempelajari tentang konsep ketuhanan. Suluk Wijil ini awalnya dibuat karena ada seorang murid miliknya yang penasaran  tentang asal mula agamanya dan bagaimana rahasia yang dimilikinya tersebut. Terdapat makna yang tersirat di suluk ini yakni tentang mengenal diri sendiri dan lain sebagainya.

2. Suluk Bentur atau Suluk Gentur

Suluk yang satu ini berisi tentang jalan yang harus dilalui untuk bisa mencapai tingkat paling tinggi dari seorang ahli sufi. Syair tersebut ditulis pada suatu tembang Wirangrong yang mana sangat panjang. Arti gentur sendiri adalah sempurna atau lengkap. Tetapi banyak juga yang mengartikannya sebagai ketekunan atau semangat.

Kandungan yang terdapat pada suluk satu ini adalah tentang syahadat da’im qa’im dan fana’ ruh idafi. Syahadat da’im qa’im adalah anugerah agar bisa melihat seseorang bersatu dengan kehendak Ilahi. Secara singkat, syahadat itu antara lain:

  • Syahadat atau penyaksian sebelum seseorang terlahir kedunia
  • Syahadat atau penyaksian saat seseorang masuk kedalam agama Islam
  • Syahadat atau penyaksian yang diucapkan oleh para nabi, wali dan para mukmin sejati

Sedangkan fana’ ruh idafi merupakan bentuk pembuktian atas ayat yang 28:88 Al Quran yang mana memiliki bunyi bahwa segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.

3. Gita Suluk Latri

Suluk yang satu ini kini tersimpan di Universitas Laiden berisi tentang penggambaran seseorang yang sedang mengalami kegelisahan hati dalam menunggu kekasihnya. Dan kemudian, makin malam kegelisahan serta kerinduannya pun semakin menjadi. Tetapi kemudian Sang Kekasih datang, dan ia menjadi lupa akan segala sesuatu, kecuali wajah Sang Kekasih tersebut. Kemudian akhirnya ia hanyut.

4. Suluk Jebeng

Suluk satu ini terkenal didalam tembang Dandanggula. Nama Jebeng sendiri berasal dari istilah orang muda yang dituakan karena ia menuntut ilmu. Suluk Jebeng diawali dengan percakapan tentang bagaimana khalifah di Bumi diturunkan, serta pengenalan hakikat diri untuk cara menuju jalan kebenaran. Suluk ini juga berisi tentang penyatuan antara manusia dengan Rabbnya.

5. Gita Suluk Wali

Suluk ini merupakan karya dari Sunan Maulana Ibrahim yang bentuknya adalah berupa lirik puisi yang menakjubkan. Pada isi syairnya ada penjelasan bahwa hati yang dimiliki oleh seseorang yang sedang dalam perasaan cinta itu ibarat hanyut dalam pasang air laut dan terbakar api hingga hangus. Pada akhir baitnya dituliskan, “Qalb al-mukmin bait Allah”

Kisah Kasunan Bonang yang Bertemu Dengan Nabi Khidir

Kisah Kasunan Bonang yang Bertemu Dengan Nabi Khidir

Raden Ibrahim diutus oleh ayahanda untuk pergi mengembara pada sebuah gunung. Ada wasiat yang diberikan oleh ayahnya, yakni beliau tidak diperkenankan untuk berhenti hingga benar-benar sampai di hutan yang disebut dengan alas Kemuning. Dikisahkan dalam pengembaraan tersebut, ia tidak makan maupun minum hingga ia bertemu dengan Nabi Khidir.

Kemudian Nabi Khidir meminta Sunan untuk melanjutkan perjalananya pada alas Kemuning, Setelah empat hari melanjutkan pengembaraan, Nabi Khidir kemudian menemui Sunan dan memberitahukan bahwa hutan itulah yang dinamakan alas Kemuning. Kemudian beliau diminta untuk menetap dan juga bertapa pada sebuah batu.

Batu yang dibuat Sunan untuk bertapa tadi dikenal dengan istilah Pasujudan, yakni tempat sunan tersebut sujud kepada Allah SWT.

Kisah Raden Ibrahim Mendapat Gelar Kanjeng Sunan dari Guru Mursyid

Kisah Raden Ibrahim Mendapat Gelar Kanjeng Sunan dari Guru Mursyid

Pada usianya yang menginjak 30 tahun, akhirnya beliau mendapatkan pangkat yang terpuji dari Guru Mursyid. Gelar tersebut ialah Kanjeng Sunan Bonang. Kemudian dikisahkan bahwa beliau memiliki seorang santri yang dapat dilihat oleh masyarakat awam, yakni K. Nagur. Hal ini dikarenakan bahwa dikisahkan banyak sekali santrinya yang tidak kasat mata.

Kisah Brahmana yang Menentang Kesaktian Sunan Bonang

Kisah Brahmana yang Menentang Kesaktian Sunan Bonang

Pada zaman persebaran Hindu Budha di Indonesia masih menjadi kalangan mayoritas, terdapat seorang Brahmana dari India yang bernama Sakyakirti. Sakyakirti ini rela menyebrangi lautan untuk ke pulau Jawa demi menemui beliau. Brahmana tersebut membawa berbagai kitabnya dan juga murid-muridnya sebagai amunisi untuk berdebat.

Brahmana tersebut bersumpah akan menebas leher dari Raden Maulana Ibrahim jika menang dan bersumpah akan berlutut juka dirinya kalah. Tetapi sayangnya, karena kesombongan yang dimilikinya, kemudian kapal yang ditumpanginya tenggelam. Tenggelamnya kapal tersebut memaksa rombongan harus berusaha sampai ke pesisir dengan tangan kosong.

Segala kitab yang dimilikinya telah hanyut, tetapi Brahmana tersebut tetap masih ingin mengalahkan Bonang. Kemudian mereka bertemu seorang dengan jubah putih yang mampu mengeluarkan air dari tongkatnya dan memunculkan kitab yang tadi hanyut bersama air. Yang mengagetkan adalah ternyata orang tersebut adalah Sunan Bonang.

Dari kejadian tersebut, akhirnya Brahmana tersebut mengurungkan niatnya untuk berdebat. Sebaliknya, ia malah semakin tertarik untuk belajar Islam dengan beliau. Pada akhir cerita, diceritakan bahwa Brahmana tersebut dengan muridnya kemudian masuk agama Islam.

Kisah Pertemuan Antara Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang: Pohon Aren menjadi Pohon Emas

Kisah Pertemuan Antara Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang: Pohon Aren menjadi Pohon Emas

Saat itu, Sunan Kalijaga baru saja diusir dari Kadipaten Tuban. Setelah kejadian itu, ia pergi dan menetap pada hutan. Kemudian Sunan Kalijaga bertemu dengan Syekh Maulana Makdum Ibrahim ini. Pertemuannya adalah ketika Raden Said alias Sunan Kalijaga masih menjadi perampok yang baik hati, saat itu ia akan merampok Sunan Bonang.

Singkat cerita, Sunan Kalijaga terkesima dengan apa yang dikatakan oleh beliau bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Meskipun Sunan Kalijaga mencuri untuk diberikan kepada orang-orang miskin, tetapi perbuatannya tidak dapat dibenarkan. Sosok Raden Maulana Makdum Ibrahim dimata Sunan Kalijaga adalah orang yang berwelas asih.

Kemudian, Kasunan Bonang menunjukkan kepada Sunan Kalijaga sebuah karomah dengan merubah pohon aren menjadi pohon emas. “Ambilah semaumu, barang tersebut halal untukmu” Raden Said sangat terpukau dengan apa yang ia lihat didepannya.

Kisah Sunan Bonang dengan Dampo Awang

Kisah Sunan Bonang dengan Dampo Awang

Cerita ini terkenal di tengah-tengah masyarakat Rembang. Pada saat itu, ada seorang suadagar yang kaya yakni Dampo Awang. Saudagar tersebut berasal dari negeri China. Ia sengaja pergi ke Jawa untuk menyebarkan agama Khong Hu Cu dengan pengawalnya. Dan pada suatu ketika, tibalah ia di Jawa bagian Timur. Ia jatuh cinta dengan daerah tersebut dan berniat untuk menetap disana.

1. Awal mula cerita

Di daerah tersebut, saudagar tadi bertemu dengan Raden Maulana Makdum Ibrahim. Tetapi, sikap yang ditunjukkan Dampo Awang kurang baik karena merasa bahwa sunan tersebut adalah saingannya dalam penyebaran ajarannya. Sehingga, Dampo Awang mengirimkan pasukannya untuk untuk mengalahkan beliau.

Tetapi sayangnya, dengan mudah Sunan tersebut mengalahkan Dampo Awang dan pasukannya. Meskipun demikian, saudagar tersebut tidak menyerah. Dampo Awang kembali ke negara China untuk menyiapkan berbagai strategi untuk mengalahkan beliau.

2. Kembali dari China

Setelah mempersiapkan berbagai strategi dan telah bersiap-siap dengan banyak sekali pasukan, Dampo Awang dibuat kaget dengan keadaan di pulau Jawa tersebut. Mengapa demikian? Pasalnya, sudah banyak sekali penduduk yang telah menganut agama Islam. Ia sangat marah dan mencari-cari Kasunan Bonang untuk menyerangnya langsung.

3. Dampo Awang kalah melawan Sunan

Meskipun kembali dengan pasukan yang lebih banyak, kenyataannya saudagar tersebut tidak mampu mengalahkan sunan ini. Dampo Awang diikat oleh beliau pada sebuah kapal, dan kemudian kapal tersebut ditendang hingga bagian kapal tersebut memencar ke segala arah.

Sebagian dari kapal tersebut terapung dilaut. Oleh saudagar tersebut, serpihan kapal yang terapung tadi disebut “Karem” sedangkan Sunan menyebutnya Kemambang. Itulah mengapa akhirnya masyarakat Rembang mengatakan bahwa Rembang berasal dari dua kata tersebut. Kini Rembang menjadi salah satu kabupaten yang terdapat di Jawa Tengah.

Jangkar dari kapal tersebut kini berada pada Taman Kartini. Sedang layar kapalnya terdapat di Batu atau biasanya disebut dengan “Watu Layar”. Usut punya usut,  kapal tersebut kini menjadi Gunung Bugel yang terletak di Kecamatan Pancur. Hal ini disebabkan karena gunung tersebut jika diamati akan serupa dengan sebuah kapal besar.

Kisah Beliau dalam Menaklukan Kebondanu

Kisah Beliau dalam Menaklukan Kebondanu

Pada suatu masa, Sunan sedang berjalan-jalan melewati hutan. Pada perjalanannya melintasi hutan tersebut, ia dikagetkan dengan dihadang oleh kelompok perampok yang dipimpin oleh Kebondanu. Saat ia dihadang oleh sekawanan perampok tadi, ia tetap tenang dan memperdendangkan tembang serta gending Dharma dan juga Macapat.

Ajaibnya, Kebondanu dan juga anak buahnya tiba-tiba kaku tidak dapat bergerak. Tangan dan kakinya seolah mati rasa dan tidak dapat digerakkan sama sekali. Karena panik dengan keadaan tubuhnya yang seperti itu, mereka tidak dapat berbuat lain selain meminta maaf dan meminta tolong kepada Raden Maulana Malik Ibrahim.

“Ampun…tolong…mohon hentikan menyanyikan lagu berserta gamelan itu, kami tidak kuat” Mohon mereka kepada Sunan. Mendengar rintihan kesakitan dan ketakutan yang dilakukan oleh Kebondanu dan juga kawanannya, akhirnya Sunan menghentikan suara gamelan dan juga tembangnya. Para perampok tersebut sangat takjub dan merasa heran dengan kehebatan yang dilakukan Sunan.

Setelah kejadian itu, Sunan meminta Kebondanu dan teman-temannya untuk bertobat. Akhirnya, mereka semua kemudian masuk ke agama Islam dan menjadi pengikut setia Sunan.

Letak Makam Asli dari Raden Maulana Makdum Ibrahim

Letak Makam Asli dari Raden Maulana Makdum Ibrahim

Selama ini masih menjadi perdebatan. Dimana sebenarnya letak makam dari sunan ini? Ada banyak yang mengatakan bahwa makamnya terletak di daerah Tuban Jawa Timur. Bukan hanya di Tuban, ada pula yang menyatakan bahwa makam beliau berada di Rembang dan juga di Bawean.

Jika menurut seorang pakar ilmu spiritual yang bernama Kang Masrukhan, ia mengatakan sebagai berikut:

“Tentang makam yang sebenarnya dari Kasunan Bonang ini masih terus menjadi perdebatan. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan memang semua tempat tersebut kenyataanya pernah disinggahi oleh beliau diyakini memang akan membawa berkah. Nah, untuk semua pusara sunan tersebut yang dianggap suci memang benar benar ada. Mereka berdoa berharap mendapatkan keberkahan saat ziarah”.

Desa Bonang, yang Dianggap Sebagai Makam Sunan yang Asli

Desa Bonang, yang Dianggap Sebagai Makam Sunan yang Asli

Desa Bonang merupakan tempat ziarah, yang mana juga merayakan berbagai hari penting untuk kemudian diperingati sebagai peringatan wafatnya Kasunan Bonang. Ada berbagai peninggalan atau petilasan beliau yang dapat dilihat dan dikunjungi di daerah tersebut. Hal ini benar adanya karena memang beliau pernah singgah disini.

Terdapat sebuah rumah besar yang kini dipergunakan sebagai tempat ibadah masjid, karena sering digunakan untuk ibadah sholat. Bukan hanya rumah besar tersebut saja, juga ada bende becak atau juga dipanggil dengan sebutan bende Bonang. Benda tersebut merupakan gamelan milik beliau yang dahulu digunakan sebagai media dakwah.

Selain itu ada juga sebuah tempat bernama “Pasujudan” yang dianggap merupakan tempat yang dulunya digunakan sunan untuk bersujud ibadah kepada Allah SWT. Tempat tersebut banyak dikunjungi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan percikan berkah dari sunan.

Sebuah penuturan Kang Masrukhan menjelaskan, “Memang yang selama ini paling diyakini sebagai makam Sunan adalah yang terdapat di desa Bonang, Rembang. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya peziarah yang datang, dan asalnya bukan hanya dari Jawa saja. Itulah mengapa tempat yang paling dianggap makam Sunan ini berada di desa Bonang”

Alasan Lain Mengapa Desa Bonang Dianggap Makam yang Sesungguhnya

Alasan Lain Mengapa Desa Bonang Dianggap Makam yang Sesungguhnya

Selain alasan diatas, alasan lainnya adlaah banyaknya bunga melati yang tumbuh di Desa Bonang tersebut. Terlepas dari perdebatan tentang dimanakah makam yang sesungguhnya, apakah di Tuban atau pulau Bawean, yang jelas adalah ketika Kang Marukhan berada di desa Bonang, hatinya akan merasa sangat tenang.

Wisata Religi di Makam Sunan Bonang Tuban

Wisata Religi di Makam Sunan Bonang Tuban

Tuban memiliki moto yakni, “Tuban bumi Wali” Hal ini dikarenakan ada banyak wali yang dimakamkan di daerah tersebut. Makam Kasunan Bonang salah satu yang ada disana, dan selalu ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah di Indonesia. Makamnya terletak pada tengah-tengah kota Tuban yang mana berlokasi di barat alun-alun Tuban. Tepatnya, makam tersebut terletak di belakang masjid Agung Tuban.

Lokasi tepatnya makam ini adalah berada di Jalan KH. Mustain, Kutorejo, Kec. Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Jika anda masih berada dilingkup Jawa, mungkin menggunakan bis dapat menjadi alterantif terbaik untuk datang kesitu. Ziarah makam ini dibuka selama 24 jam nonstop sehingga anda dapat memilih waktu kapanpun untuk datang ke tempat ini.

Untuk menjangkau makamnya cukup mudah. Bagi anda yang kesana menaiki bis, untuk datang ke lokasi makam anda dapat memarkirnya dan menjangkau makam menggunakan becak. Apabila anda naik mobil, motor, atau mungkin elf, anda dapat langsung memarkirkan di sekitaran alun-alun.

Jika anda datang untuk berwisata religi di makam ini, maka anda akan menemukan berbagai penjual oleh-oleh, makanan, parfum, dan juga minuman sehingga anda tidak perlu takut jika ingin membawakan buah tangan bagi keluarga dan saudara anda dirumah.

Hingga kini, makam Raden Maulana Makdum Ibrahim masih sering dikunjungi. Tidak hanya itu, kisahnya masih juga terus dikenang dan diceritakan sebagai pembelajaran bagi kita semua. Peninggalannya baik berupa petilasan maupun karya sastranya masih juga dipelajari dan dikunjungi hingga saat ini.

SUNAN BONANG : Sejarah, Biografi, Nama Asli, Kisah, Letak Makam

Leave a Reply