Properti Tari Bambangan Cakil

17 Properti Tari Bambangan Cakil (Paling Lengkap)

Properti Tari Bambangan Cakil – Tarian daerah yang mengangkat kisah salah satu adegan perwayangan ini berasal dari Jawa Tengah. Tari Bambangan Cakil ini menceritakan tentang peperangan yang terjadi antara para ksatria dan raksasa, atau sering disebut dengan perang kembang. Arjuna adalah tokoh pewayangan yang digunakan untuk menggambarkan ksatria dan Cakil menggambarkan raksasa.

Agar gerakan terlihat luwes dan menarik, fisik yang rupawan dan lemah lembut adalah syarat utama dalam memerankan tokoh ksatria. Sedangkan kelincahan sangat dibutuhkan dalam memerankan cakil karena gerakannya yang bersifat atraktif. Untuk lebih mendramatisasi tari ini, maka properti tari Bambangan Cakil juga sangat dibutuhkan, berikut ini berbagai properti beserta penjelasannya.

Properti Tari Bambangan Cakil

1. Busana atau kostum

a. Kathok

Kathok

Dalam Bahasa Indonesia, kathok adalah celana. Biasanya para penari Bambangan Cakil memakai celana kain dengan panjang selutut.

b. Jarik

Jarik

Masyarakat Jawa pasti sangat mengenal jarik, kain motif batik ini memiliki berbagai fungsi. Salah satunya sebagai properti tari Bambangan Cakil. Karena tokoh utama dari tarian ini adalah pria, maka jarik yang digunakan hanya sepanjang lutut. Sebelum memakai jarik, peraga harus memakai celana kain dengan panjang selutut pula.

c. Stagen

Stagen

Mungkin beberapa orang tidak tahu apa itu stagen. Stagen adalah pelengkap pakaian adat Jawa yang berupa kain panjang dengan lebar 15 cm dan panjang 5-10 meter. Stagen ini digunakan di perut dengan cara melilitkannya di pinggang. Penggunaan stagen ini berfungsi untuk mengencangkan perut dan penahan kain yang sebelumnya sudah dipakai agar tidak melorot.

d. Sampur

Sampur

Jika Anda melihat penari yang mengenakan kain dengan dililitkan di pinggang atau disampirkan di bahu, benda tersebut adalah sampur ada juga yang menyebut sebagai selempang. Berupa selendang sempit dan panjang, sampur dijadikan pelengkap dalam gerakan tari. Bisa digunakan oleh tokoh pria maupun wanita.

Terdapat beragam jenis sampur mulai dari yang polos sampai bermotif. Warnanya pun bermacam-macam sesuai dengan tokoh yang diperagakan. Kuning sering digunakan oleh tokoh ksatria sebab mengandung makna kejayaan. Sedangkan merah untuk tokoh antagonis yang melambangkan keberingasan.

2. Aksesori

Dalam bahasa Jawa, aksesori disebut dengan ricikan. Properti tari Bambangan Cakil yang satu ini berfungsi sebagai pendukung penguatan karakter tokoh serta sebagai pembeda antara tokoh satu dengan tokoh lainnya. Ricikan tari Bambangan Cakil hampir sama dengan ricikan wayang wong atau wayang orang, yaitu sebagai berikut:

a. Sumping

Sumping

Aksesori yang dikenakan di telinga ini mempunyai bentuk seperti sulur helai daun atau sayap burung. Dengan diselipkan pada daun telinga, sumping berfungsi untuk memperindah tampilan seorang wanita ataupun pria. Apalagi jika dilihat dari samping maka akan terlihat lebih cantik atau tampan, sebab ilusi yang diciptakan oleh garis lengkung pada sumping.

b. Gumbala

Gumbala

Gumbala disebut juga kumis. Aksesori gumbala dipakai untuk memberi kesan gagah dan berwibawa pada peraga yang memakainya.

c. Gimbalan

Gimbalan

Untuk menambah kesan perkasa dan beringas pada raksasa, maka akan digunakan gimbalan. Aksesori ini berupa rambut tebal dan panjang yang menjuntai di belakang punggung. Tokoh yang memerlukan aksesori ini adalah Dasamuka, Abilawa, Burisrawa, Niwatakawaca, Jagal dan tokoh lainnya.

d. Kuku Pancanaka

Kuku Pancanaka

Tidak semua tokoh pewayangan memiliki kuku pancanaka. Sebab kuku ini merupakan pusaka khusus milik Werkudara. Kuku panjang runcing yang berada di ibu jari kedua tangan ini memiliki bentuk seperti pisau.

Kuku pancanaka juga memiliki filosofis tersendiri, kuku di sini bermaksud kukuh yang berarti kuat. Sedangkan panca artinya lima dan naka adalah emas atau tujuan. Ada juga yang menafsirkan naka sama dengan naga yang artinya kuasa.

e. Praba

Praba

Apabila Anda melihat aksesori yang dipakai di punggung seperti milik Raden Gatutkaca, Prabu Kresna, Baladewa dan tokoh pewayangan lainnya, aksesori tersebut adalah praba. Memiliki bentuk lengkungan segitiga yang mengarah ke belakang dan terdapat lubang di bagian pangkalnya, aksesori ini dipakai dengan cara mengaitkannya pada kedua bahu peraga.

f. Endhong

Endhong

Beberapa tokoh pewayangan, terdapat yang selalu membawa senjata berupa panah. Untuk tempat menaruh anak panahnya, maka digunakan endhong. Tokoh pewayangan yang ahli dalam panahan dan sering membawa aksesori ini adalah Abimanyu, Arjuna, Srikandi dan tokoh ksatria lainnya.

g. Kalung Ulur

Kalung Ulur

Untuk menambah kesan wibawa seorang raja dan ksatria, maka digunakan kalung yang terbuat dari untaian manik-manik ini. Di tengah-tengah untaian manik terdapat hiasan motif dari batu permata.

h. Kalung Penanggalan

Kalung Penanggalan

Berbeda dengan kalung ulur yang terbuat dari manik-manik, kalung penanggalan terbuat dari bahan logam atau kulit hewan yang diberi variasi motif ukiran. Ada juga yang memberi hiasan berupa manik atau permata. Biasanya berupa satu atau dua susun penanggalan yang berbentuk wulan tumanggal atau bulan sabit dalam Bahasa Indonesia.

i. Uncal dan Badhong

Uncal dan Badhong

Aksesori uncal berupa tali yang menjuntai ke bawah yang ujungnya berupa rumbai. Berfungsi sebagai senjata dan dikenakan oleh lelaki. Bandhong sendiri adalah ricikan yang berada di antara dua uncal dan dipakai di bawah sabuk peraga.

j. Kalung Robyong

Kalung Robyong

Aksesori ini berupa kalung tiga susun yang dikenakan oleh Puntadewa. Kalung Robyong pemberian patih kerajaan Astina yaitu Gandamana yang dipercaya mempunyai daya linuwih atau kesaktian. Ketika Puntadewa sedang berduka atau marah, maka akan menjelma menjadi raksasa yang menakutkan ketika meraba kalung tersebut.

k. Kelat Bahu

Kelat Bahu

Kelat bahu adalah aksesori yang bentuknya seperti gelang dikenakan di lengan, bisa digunakan oleh perempuan maupun laki-laki. Saat ini, kelat bahu banyak diproduksi dengan bahan kuningan yang ditatah dan dicat warna emas. Akan tetapi sebenarnya kelat bahu terbuat dari emas atau perak yang ditatah halus berhiaskan batu mirah atau intan.

l. Simbar Dada

Simbar Dada

Simbar dada adalah bulu dada dalam Bahasa Indonesia, aksesori ini dikenakan oleh peraga pria untuk mewujudkan kesan gagah. Simbar dada ini biasa dikenakan oleh peraga yang memerankan tokoh Bima, Duryudana, dan lain-lain. Simbar dada berwujud wol hitam atau kain beludru warna hitam, tetapi ada juga yang melukiskannya langsung di dada peraga.

m. Garuda mungkur

Garuda mungkur

Dalam pewayangan Jawa, gelung wayang merupakan sesuatu yang pasti dimiliki oleh setiap tokoh. Gelung wayang adalah gelung rambut atau sanggul bisa juga konde. Terdapat bermacam-macam jenis gelung wayang, contohnya gelung milik Raden Arjuna yang termasuk jenis supit urang. Untuk memperindah gelung, biasanya akan ditambahkan hiasan berupa garuda mungkur.

n. Keris

Keris

Properti ini digunakan sebagai senjata saat peperangan. Dalam cerita yang diangkat dalam tari Bambangan Cakil, tokoh ksatria yaitu Arjuna akan mengalahkan tokoh raksasa yaitu Cakil dengan kerisnya.

Dari ulasan properti tari Bambangan Cakil di atas, dapat diketahui bahwa seni tradisional Jawa sangat kental dengan filosofis dan sangat memperhatikan keluwesan serta estetika. Setiap detail kostum sampai properti akan sangat diperhatikan. Mereka selalu ingin tampil maksimal agar penonton tidak kecewa dan puas terhadap pementasan tari klasik ini.

17 Properti Tari Bambangan Cakil

Leave a Reply