15 Contoh Teks Biografi Pahlawan (Berjasa) 1

15 Contoh Teks Biografi Pahlawan (Berjasa)

Teks Biografi Pahlawan (Berjasa) – Pahlawan adalah orang yang sangat berjasa bagi kita. Berkat perjuangan dan pengorbanan pahlawanlah kita bisa merdeka dan terbebas dari belenggu penjajahan yang menakutkan. Beberapa contoh teks biografi pahlawan berikut bisa menjadi bahan bacaan generasi muda agar mengenal pahlawan-pahlawan yang sudah membantu dalam kemerdekaan Indonesia.

Jasa-jasa pahlawan tentu perlu diketahui para generasi muda bangsa agar mereka bisa mengambil pelajaran dan meniru semangat juang pahlawan. Tanpa mengenal pahlawan, generasi muda tidak akan mengenal betapa susahnya meraih kemerdekaan itu. Tanpa mengenal betapa susahnya meraih kemerdekaan, generasi muda akan sulit mencintai bangsa Indonesia.

Contoh Biografi Pahlawan Ahmad Yani

Contoh Biografi Pahlawan Ahmad Yani

Ahmad Yani merupakan salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang sangat berjasa bagi Indonesia. Agar generasi bangsa bisa mengenal sosok Ahmad Yani yang bernama lengkap beserta gelarnya yakni Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani, berikut merupakan biografi singkat Ahmad Yani yang perlu dibaca generasi muda.

Ahmad Yani lahir dari sebuah keluarga yang merupakan pekerja di sebuah pabrik gula milik orang Belanda, keluarga tersebut dikenal dengan nama Wongsoredjo. Ia lahir di Jenar, Purworejo, pada tanggal 19 Juni 1922.

Dikarenakan ayahnya harus bekerja untuk General Belanda, maka pada tahun 1927, Ahmad Yani kecil ikut pindah bersama keluarganya di Batavia atau yang sekarang terkenal dengan nama DKI Jakarta. Untuk menjalankan wajib militer di tentara Hindia Belanda, Ahmad Yani pun meninggalkan sekolah tinggi setelah sebelumnya mengenyam pendidikan dasar dan menengah.

Selama wajib militernya tersebut ia mempelajari topografi militer sebelum kedatangan pasukan Jepang yang menggangu belajarnya tersebut di Malang, Jawa Timur pada tahun 1942. Pada waktu bersamaan Ahmad Yani kembali ke Jawa Tengah bersama keluarganya.

Setelah kedatangan Jepang ke Indonesia, Ahmad Yani menjalani pelatihan lanjutan dengan bergabung dengan tentara yang dibentuk oleh Jepang bernama Peta atau Pembela Tanah Air di Magelang pada tahun 1943.

Ia kemudian dipindahkan ke Bogor, Jawa Barat dan meminta untuk mendapatkan pelatihan sebagai komandan peleton Peta setelah ia menyelesaikan pelatihan lanjut tersebut. Kemudian setelah melakukan pelatihan tersebut iapun dikirim ke Magelang kembali sebagai instruktur.

Pendidikan:

• Setingkat Sekolah Dasar di HIS Bogor, dan lulus tahun 1935
• Setingkat Sekolah Menengah Pertama di MULO kelas B Afd. Bogor, dan lulus tahun 1938
• Setingkat Sekolah Menengah Atas di AMS bagian B Afd. Jakarta, namun berhenti pada tahun 1940
• Pendidikan kemiliteran di Dinas Topografi Militer Malang
• Pendidikan Heiho Magelang
• PETA (Pembela Tanah Air) di Bogor
• Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat, pada tahun 1955
• Special Warfare Course di Inggris, pada tahun 1956

Bintang Kehormatan:

• Bintang RI Kelas II
• Bintang Gerilya
• Bintang Sakti
• Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
• Satyalancana G: O.M. I dan VI
• Satyalancana Kesetyaan VII, XVI
• Satyalancana Irian Barat (Trikora)
• Satyalancana Sapta Marga (PRRI)
• Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia (1985), dan masih banyak yang lainnya.

Biografi Bung Tomo

Biografi Bung Tomo

Contoh teks biografi pahlawan selanjutnya datang dari salah satu pahlawan nasional yang sangat masyhur di kalangan masyarakat. Beliau adalah Bung Tomo atau yang bernama lengkap Sutomo. Beliau merupakan salah satu pahlawan dalam pertempuran besar di Surabaya melawan tentara NICA yang membonceng sekutu.

Bung Tomo yang memiliki nama lahir Sutomo lahir di Surabaya pada tanggal 02 Oktober 1920. Ia merupakan anak dari keluarga setengah priyayi yang merupakan keluarga kelas menengah, yakni Kartawan Tjiptowidjojo. Karena kedudukan keluarganya tersebut ia pun mendapatkan pendidikan yang memadai setara dengan anak-anak kompeni pada saat itu, sementara pada masa itu sangatlah sulit bagi warga pribumi untuk mendapatkan fasilitas pendidikan.

Sutomo muda merupakan pemuda yang aktif di berbagai organisasi. Salah satu organisasi yang ia ikuti adalah organisasi yang menjadi cikal bakal adanya pramuka di Indonesia, yakni organisasi kepanduan bangsa Indonesia. Ia mendapatkan banyak sekali pelajaran selama ia mengikuti organisasi tersebut, salah satunya adalah landasan untuk memperjuangkan bangsa Indonesia yang ia dapat dan menjadi awal semangatnya untuk ikut berjuang bagi Indonesia.

Semangat Bung Tomo inilah yang patut menjadi motivasi dan inspirasi bagi generasi muda bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pada masa mudanya, Bung Tomo memiliki ketertarikan yang sangat tinggi pada jurnalistik, dan ia pun pernah menjadi seorang jurnalis. Bahkan semasa hidupnya karir cemerlang yang ia dapatkan dalam dunia jurnalistik adalah menjadi pemimpin redaksi di kantor berita Antara dan merupakan puncak karirnya.

Keikutsertaanya dalam pertempuran besar 10 November yang juga diperingati bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan tentu tidak lepas dari kekuatan sosok ulama yang menjadi panutannya, yakni para kyai di Jawa Timur, seperti KH. Wahab Chasbullah selaku panglima laskar Hizbullah pada saat itu.

Bung Tomo menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Berkas Pejuang Veteran pasca perang melawan penjajah. Selain itu jabatan lain yang pernah diembannya adalah Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Namun ketidakpuasannya dengan keputusan-keputusan yang ada pada masa itu menjadikannya sering merasa kecewa dengan pemerintah.

Bahkan kekecewaannya semakin menjadi setelah adanya Orde Baru pada masa kepemimpinan Soeharto yang dirasanya tidak adil. Rasa kecewanya tersebut membawanya semangat meneriakkan ketidakadilan pemerintah, hingga iapun dijebloskan ke penjara oleh pemerintah pada masa itu sebagai kekhawatiran terhadap Bung Tomo yang terus menerus melontarkan kritik dan protes terhadap ketidakadilan pemerintah.

Biografi KH. Hasyim Asy’ari

Biografi KH. Hasyim Asy’ari

Bagi warga Nahdliyin, sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama, nama KH. Hasyim Asy’ari tidak akan menjadi sesuatu yang asing di telinga. Pasalnya beliau merupakan salah satu tokoh yang memprakarsai berdirinya organisasi massa Islam terbesar di Indonesia. Beliau menjadi pahlawan Indonesia atas jasa-jasanya yang sangat besar bagi kemerdekaan Indonesia.

Muhammad Hasyim Asy’ari lahir pada tanggal 10 April 1875 di Kabupaten Demak, Jawa Tengah dan wafat pada usia 72 tahun di Jombang, Timur tanggal 25 Juli 1947. Ayahnya bernama Asy’ari atau sapaannya Kyai Asy’ari, seorang pendiri sebuah pondok pesantren di Jombang, dan ibunya bernama Halimah.

Ia memiliki 10 saudara dan merupakan keturunan Raja Brawijaya V (Lembupeteng). KH. Hasyim Asy’ari memiliki putra yang juga merupakan pahlawan, yakni Wahid Hasyim yang merupakan salah satu perumus Piagam Jakarta dan juga Menteri Agama Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Cucunya, KH. Abdurrahman Wahid merupakan mantan Presiden Indonesia yang keempat.

Sejak kecil, Hasyim Asy’ari memang sudah berada dilingkungan dengan agama Islam yang kental. Kakeknya juga merupakan pendiri pondok pesantren di Nggedang, Jombang. Dari ayah dan kakeknya yang seorang kyai itu, dia mendapatkan pelajaran dasar-dasar agama.

Beranjak remaja, Hasyim Asy’ari memulai pengembaraannya menuntut ilmu agama di berbagai pesantren. Diantara pesantren yang pernah ia jadikan tempat belajar yakni Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Trenggilis di Semarang, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Siwalan di Sidoarjo, dan Pesantren Kademangan di Bangkalan.

Selain menimba ilmu di dalam negeri, ia juga melanjutkan pengembaraanya dalam mencari ilmu hingga menuju ke tanah suci Mekah dan juga berguru ke beberapa ulama besar seperti Syekh Ahmad Khatib Minangkabau yang merupakan seorang ulama ahli fiqih, ilmu falak (astronomi), ilmu hisab (matematika), dan aljabar; Syekh Ahmad Amin Al Aththar; Syekh Muhammad Mahfudz At Tarmasi yang merupakan ulama ahli hadis; Syekh Ibrahim Arab; Syekh Rahmaullah; Syekh Said Yamani; Sayyid Abbas Maliki; Sayyid Husein Al Habsyi; dan juga Sayyid Alwi bin Ahmad Assegaf.

Dengan banyaknya ia berguru kepada ulama, tak heran jika kapasitas keilmuannya tersebut sangat tinggi. Sepulangnya dari menimba ilmu di Kota Mekah, Hasyim Asy’ari mendirikan sebuah pondok pesantren yang sangat terkenal bernama Tebu Ireng pada tahun 1899.

Kemudian pada tahun 1926 beliau mendirikan organisasi Islam yang saat ini menjadi organisasi massa Islam terbesar di dunia dan bahkan sudah ada banyak cabang di luar negeri. Organisasi tersebut adalah Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki arti kebangkitan ulama.

Contoh Biografi Pangeran Diponegoro

Contoh Biografi Pangeran Diponegoro

Siapa yang tak kenal dengan pahlawan nasional yang satu ini. Namanya sudah dijadikan banyak nama seperti nama jalan, nama tempat, dan yang terkenal adalah nama sebuah universitas besar di Indonesia. Jasanya yang besar kepada bangsa Indonesia menjadikan ia perlu diketahui oleh generasi muda agar memiliki semangat juang yang tinggi seperti Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro memiliki nama lengkap Bendara Raden Mas Antawirya, yakni seorang putra dari pasangan Sultan Hamengkubuwono II dan R.A. Mangkarawati. Ia lahir di Yogyakarta tahun 1785 tepatnya pada tanggal 17 November. Meskipun ia dilahirkan di lingkungan keraton, ibunya bukanlah seorang ratu melainkan selir sehingga tidak banyak yang tahu jika ia merupakan anak tertua dari raja Jogja, Sultan Hamengkubuwono III.

Meskipun bukan keturunan ratu, Sultan Hamengkubuwono berniat menyerahkan tahta kepada Pangeran Diponegoro. Ia terkagum-kagum dengan akhlak serta kemuliaan yang ditunjukan oleh Pangeran Diponeggoro. Namun tawaran tersebut ditolak oleh Pangeran Diponegoro karena merasa ia tidak pantas dan juga keputusan tersebut tidak tepat karena ia bukan keturunan ratu. Jika tawaran tersebut diterima ia takut akan menimbulkan pertentangan dan permusuhan di antara keluarga kerajaan.

Meskipun ia merupakan keluarga keraton, Pangeran Diponegoro tidak mau tinggal di lingkungan keraton dan memilih tinggal di desa. Oleh karena itu, semangat perjuangan yang dibawa pun merupakan semangat kebangkitan perlawanan di kalangan masyarakat desa.

Pada tahun 1825-1830 tercetuslah Perang Diponegoro yang berawal dari penolakan terhadap Belanda yang menginginkan pematokan tanah di desa tempat tinggalnya, Tegalrejo, dan juga pemberlakuan pajak yang dinilai terlalu tinggi sedangkan tanah tersebut merupakan tanah milik sendiri. Perjuangannya tersebut mendapat banyak dukungan termasuk dukungan dari elit politik di lingkungan kerajaan serta pamannya yang bernama Mangkubumi.

Namun dari keluarga internal justru sebaliknya, menganggapnya sebagai pemberontak kerjaan. Hingga akhirnya ia beserta keturunannya tidak diperkenankan memasuki lingkungan keraton.

Contoh Biografi Pahlawan Kartini

Contoh Biografi Pahlawan Kartini

Sosok pejuang wanita yang satu ini menjadi inspirasi besar dalam mendongkrak semangat wanita dalam berkarya. Ia adalah Raden Ajeng Kartini, seorang tokoh emansipasi wanita yang sangat berpengaruh di Indonesia. Mengenal biografinya sangatlah penting agar kita tahu bagaimana perjuangannya. Berikut merupakan contoh teks biografi singkat RA Kartini yang perlu diketahui.

Nama lengkap Kartini adalah Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Ia dilahirkan di Jepara, Jawa Tengah tahun 1879 tepatnya pada tanggal 21 April yang diperingati sebagai Hari Kartini. Gelar Raden Ajeng didapatnya sebelum ia dipersunting oleh Raden Adipati Joyodiningrat, dan berganti menjadi Raden Ayu setelah menikah sesuai dengan adat Jawa masa itu. Dari namanya, sudah terlihat bahwa ia merupakan anak keturunan bangsawan.

Ayah RA Kartini bernama R.M. Sosroningrat yang merupakan putera seorang bangsawan bernama Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjabat sebagai Bupati Jepara. Ibu Kartini yang bernama Ngasirah bukanlah seorang putri bangsawan, melainkan anak seorang kyai di Telukawur, Surabaya.

Karena terdapat aturan bahwa seorang bupati haruslah menikah dengan bangsawan, maka ayah Kartini menikah lagi dengan seorang puteri bangsawan dari Madura bernama Raden Ajeng Woerjan.

Kartini diperbolehkan sekolah di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun untuk mempelajari bahasa Belanda. Menginjak usia ke-15 tahun, ia terpaksa hanya tinggal di kediamannya karena dahulu gadis berusia 15 sudah bisa dipingit. Saat hanya diam di rumah inilah Kartini mulai menulis surat kepada teman-teman korespondensi dari Belanda menggunakan bahasa Belanda yang dikuasainya berkat belajar di ELS dahulu. Rosa Abendanon merupakan salah satu teman Kartini yang sangat mendukungnya.

Melalui berbagi cerita dengan teman-teman Belanda inilah yang membuatnya semakin tertarik untuk mempelajari pola pikir mereka, dan ia pun mempelajarinya melalui surat kabar, majalah, dan juga buku-buku. Ia membaca banyak buku dan juga kebudayaan Eropa dan bahkan ia telah membaca banyak karya dalam bahasa Belanda di usianya yang masih 20 tahun. Melalui kegemarannya membaca itulah Kartini memiliki wawasan luas tentang kebudayaan.

Pada saat itu status kaum perempuan pribumi sangatlah rendah dan Kartini terinspirasi untuk memajukan kaum perempuan agar bisa lebih bebas dan menaikkan derajat kaum wanita. Menurut Kartini, seorang wanita haruslah mendapatkan hak dan perlakuan sama dengan kaum laki-laki untuk bisa berkarya dan memajukan dirinya.

Kartini menikah di usianya yang menginjak 24 tahun dengan seorang Bupati Rembang yang memiliki istri 3 orang yakni Raden Adipati Joyodiningrat. Bukannya mengekang sang istri, justru Kartini mendapatkan dukungan serta kebebasan yang diberikan suaminya tersebut. Berkat dukungan suaminya tersebut ia pun mendirikan sekolah wanita yang terletak di sebelah timur pintu gerbang perkantoran Rembang.

Kartini wafat pada tanggal 13 September 1904 tepat empat hari setelah melahirkan putra pertamanya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat. Desa Bulu, Rembang, Jawa Tengah menjadi tempat peristirahatan terakhir Kartini.

Contoh Biografi Pahlawan Pattimura

Contoh Biografi Pahlawan Pattimura

Jika Anda pernah melihat uang kertas nominal Rp1000,00 pasti Anda melihat seorang pahlawan yang memegang pedang dalam bagian depan uang tersebut. Pahlawan dalam gambar tersebut bernama Kapitan Pattimura. Ia merupakan pahlawan yang sangat berjasa pada Indonesia terutama pada masa perlawanan daerah Maluku. Berikut merupakan biografi singkat Kapitan Pattimura.

Nama asli Kapitan Pattimura adalah Thomas Matulessy. Beliau lahir di Negeri Haria, Saparua, Maluku pada tahun 1783. Perlawanan yang dipimpinnya mampu melumpuhkan pertahanan Belanda pada tahun 1817 dan berhasil merebut benteng Belanda di Saparua selama tiga bulan. Namun ia kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung oleh Belanda dan eksekusi tersebut dilakukan pada tanggal 16 Desember 1817 yang menjadikannya tak lagi bernyawa.

Selama hidupnya, Kapitan Pattimura merupakan seorang yang teguh pendirian. Ia mendapat bujukan dari Belanda beberapa kali yang mengajaknya bekerjasama agar ia tidak dijatuhi hukuman gantung. Namun ia bersikeras menolak tawaran Belanda tersebut dengan alasan ia lebih memilih mati di tiang hukuman gantung daripada harus hidup menjadi penghianat bangsa.

Pada masa penjajahan Belanda, terdapat kebijakan perpindahan kekuasaan atas beberapa wilayah Indonesia. Salah satu pergantian kekuasaan tersebut terjadi pada masa Thomas Matulessy dan merupakan pergantian kekuasaan atas Maluku dari Belanda ke Inggris. Ketika Inggris memerintah itulah ia sempat masuk dinas militer Inggris dengan pangkat akhir Sersan. Namun sekembalinya Belanda menjadi penguasa Maluku pada tahun 1816 tepat setelah 18 tahun pemerintahan Inggris.

Saat Belanda berkuasa itulah rakyat Maluku banyak mengalami penderitaan. Akhirnya, Thomas Matulessy yang bergelar Kapitan Pattimura pun menjadi pemimpin pada pertempuran rakyat Maluku melawan Belanda pada tahun 1817. Perlawanan tersebut berhasil merebut benteng Duurstede. Pasukan Belanda berhasil ditaklukan dan tentara dalam benteng tersebut semuanya tewas termasuk Residen Van den Berg.

Namun Belanda melakukan perlawanan karena enggan menyerahkan benteng tersebut dengan melakukan operasi besar-besaran yang membuat pasukan Pattimura kewalahan dan akhirnya berhasil dipukul mundur. Pattimura pun berhasil ditangkap di sebuah rumah di Siri Sori. Setelah mendapat banyak bujukan dan ia pun enggan menerimanya, akhirnya ia pun dieksekusi hukuman gantung di depan benteng Victoria, Ambon pada tanggal 16 Desember 1817.

Perjuangan Kapitan Pattimura yang akhirnya gugur sebagai pahlawan bangsa patut ditiru oleh generasi bangsa Indonesia. Ia mengajarkan bahwa menjadi seorang dengan ketangguhan dan keteguhan hati adalah hal yang perlu dilakukan. Hal tersebut berguna agar tumbuh sikap cinta negara dan rela berjuang bagi negara apapun keadaannya.

Contoh Biografi Ir. Soekarno

Contoh Biografi Ir. Soekarno

Bagi masyarakat Indonesia, Soekarno merupakan pahlawan penting yang sangat berjasa pada Indonesia. Ia merupakan proklamator kemerdekaan dan juga sebagai Presiden Indonesia Pertama pada masa awal kemerdekaan. Sosoknya yang siap sedia membela negara dan juga pandai harus kita teladani. Salah satu cara agar kita bisa meneladani sosok beliau yakni dengan membaca biografinya.

Nama lahir: Kusno Sosrodihardjo
Lahir: Surabaya, 6 Juni 1901
Wafat: Blitar, 21 Juni 1970
Jabatan: Presiden Indonesia Pertama periode 1945 – 1966
Orangtua: Raden Soekemi Sosrodihardjo (Ayah) & Ida Ayu Nyoman Rai (Ibu)

Ir. Soekarno merupakan salah satu pahlawan Indonesia yang banyak dikenal oleh masyarakat. Ia dilahirkan pada tanggal 6 Juni 1901 di Blitar dan merupakan presiden pertama Republik Indonesia. Awalnya ia memiliki nama Koesno Sosrodiharjo, namun karena sering mengalami sakit-sakitan nama tersebut diganti menjadi Soekarno.

Raden Soekemi Sosrodiharjo merupakan nama ayah Soekarno dan Ida Ayu Nyoman Rai adalah nama ibu Soekarno. Ia juga tinggal bersama sang kakek di masa kecilnya di daerah Tulungagung, Jawa Timur.

Di usianya ke-14 tahun Oemar Said Tjokroaminoto, salah satu teman ayahnya, mengajak Soekarno untuk tinggal di Surabaya dan juga mengenyam pendidikan di Hoogere Burger School (H.B.S). Pada saat ia pindah di Surabaya inilah Soekarno mulai mengenal pemimpin Sarekat Islam yakni Tjokroaminoto. Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Java).

Ia berhasil menyelesaikan studinya di Hoogere Burger School pada tahun 1920 dan kemudian melanjutkan studinya di Technische Hoge School yang sekarang bernama ITB dan menyelesaikannya pada tahun 1925.

Keaktivannya di dunia organisasi ditunjukkan dengan terbentuknya organisasi Algemene Studi Club yang didirikannya pada tahun 1926 dan berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927. Namun karena mendirikan PNI inilah membuat Soekarno akhirnya ditangkap Belanda selama dua tahun.

Soekarno meninggal di usianya yang ke-69 tahun tepatnya pada tanggal 21 Juni 1970 di Jakarta.

Biografi Pahlawan Mohammad Yamin

Biografi Pahlawan Mohammad Yamin

Mohammad Yamin merupakan Menteri Penerangan Indonesia pada awal kemerdekaan. Ia merupakan seorang sejarawan, sastrawan, dan sekaligus sebagai budayawan dan politikus. Mohammad Yamin tergabung dalam tokoh Sumpah Pemuda yang juga merupakan “pencipta imaji keindonesiaan” yang juga memberikan pengaruh besar dalam sejarah persatuan Indonesia.

Mohammad Yamin dilahirkan pada tanggal 23 Agustus 1903 di Talawi, Sawahlunto. Ayah Mohammad Yamin bernama Usman Baginda Khatib yang berasal dari Sawahlunto dan ibunya bernama Siti Saadah yang berasal dari Padang Panjang. Mohammad Yamin memiliki banyak saudara karena ayahnya menikah sebanyak lima kali.

Muhammad Yaman, Djamaluddin Adinegoro, Ramana Usman merupakan deretan saudara Mohammad Yamin yang memiliki pengaruh di masyarakat. Masing-masing dari mereka adalah seorang tenaga pendidik, wartawan terkemuka, dan pelopor korps diplomatik Indonesia.

Yamin memulai pendidikannya di Hollandsch Inlandsche School (HIS) yang merupakan pendidikan setingkat SD di Palembang. Setelah lulus dari HIS ia melanjutkan pendidikannya di AMS (Algemeene Middlebare School) Yogyakarta.

Ia belajar tentang sejarah purbakala dan berbagai bahasa asing meliputi bahasa Latin, Yunani, dan Kaei di sekolah lanjutannya tersebut. Ayahnya wafat ketika ia baru lulus dari AMS dan membuatnya menunda keinginan untuk melanjutkan pendidikan di Leiden, Belanda.

Namun kemudian ia melanjutkan pendidikan tingginya di sebuah sekolah tinggi hukum di Jakarta bernama Rechtschoogeschool te Batavia dan lulus dengan gelar Meester de Rechten atau Sarjana Hukum pada tahun 1932.

Ia memulai karir politiknya dengan bergabung bersama organisai Jong Sumatranen Bond di universitas ketika ia masih menjadi mahasiswa. Ia turut serta menyusun ikrar Sumpah Pemuda di organisasi tersebut yang kemudian dibacakan pada Kongres Pemuda II. Salah satu bagian sumpah pemuda yang ia tetapkan adalah bagian Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang berasal dari Bahasa Melayu.

Ia mendesak Bahasa Indonesia untuk digunakan sebagai bahasa nasional untuk menyatukan bangsa di organisasi Indonesia Muda. Lalu setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi dan bahasa utama dalam kesusastraan Indonesia.

Mohammad Yamin pernah bertugas di sebuah organisasi yang disokong oleh Jepang bernama PUTERA atau Pusat Tenaga Rakyat. Ia juga terpilih menjadi anggota BPUPKI dan memiliki banyak peran di dalamnya.

Beberapa usulan yang diutarakannya antara lain mengenai wilayah Indonesia yang menurutnya perlu dimasukkan antara lain Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaya, Timor Portugis, dan semua Wilayah Hindia Belanda. Ia juga mengusulkan perlunya memasukkan hak asasi manusia dalam konstitusi negara. Setelah kemerdekaan, Mohammad Yamin pun memiliki jabatan penting di pemerintahan yang dipimpin Soekarno.

Salah satu jabatan kontroversial yang pernah dijabatnya adalah Menteri Kehakiman. Ia menuai kontroversi karena membebaskan tahanan politik yang dalam masa tahanan tanpa proses pengadilan. Ia juga membebaskan tahanan yang dicap komunis dan sosialis tanpa grasi dan remisi sebanyak 950 orang.

Ia mendapat banyak kritik, namun ia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya tersebut. Kemudian ia juga mendapat peran penting dalam pendirian perguruan tinggi di Indonesia.

Biografi Muhammad Husni Thamrin

Biografi Muhammad Husni Thamrin

Salah satu tokoh pahlawan terkenal dari Betawi yang juga dijadikan nama jalan protokol di Jakarta adalah Muhammad Husni Thamrin. Untuk Anda yang belum mengenal siapa itu M.H. Thamrin, berikut biografinya.

Muhammad Husni merupakan anak dari pasangan Thamrin Mohammad Thabrie yang merupakan keturunan Eropa berdarah Inggris dan ibu asli Betawi. Sawah Besar, Jakarta merupakan tempatnya lahir pada tanggal 16 Februari 1894.

Thamrin memiliki kemampuan berbicara dalam bahasa Belanda yang sangat fasih. Berkat kemampuannya tersebut ia memberanikan diri untuk bekerja magang di Residen Batavia dan juga di perusahaan pelayaran KPM sebagai pegawai klerk. Kemudian ia pun menjabat sebagai Dewan Kota dan berjuang di Dewan Rakyat.

Thamrin kemudian menggantikan posisi dr. Sutomo karena wafat pada tahun 1938 di posisi wakil Ketua Partai Indonesia Raya (Parindra). Ia tetap melanjutkan mosi yang menginginkan agar nama Indonesia dijadikan nama pengganti dari Nederlands Indie, Nederlands Indische, dan Inlander di Volksraad.

Thamrin dikenal sebagai pejuang yang kooperatif. Ia tidak menunjukkan secara langsung perjuangannya, namun ia juga tidak berpihak pada Belanda. Meskipun perjuangaan kooperatifnya dibilang ampuh, ia tetap harus menerima hukuman dari Belanda setelah Soekarno mengunjungi rumahnya. Ia pun ditahan di rumahnya.

Ia tertahan karena pada saat ulang tahun Ratu Wilhelmina pada tanggal 31 Agustus 1940 ia menolak mengibarkan bendera Belanda di kediamannya. Kontroversi yang sempat ia buat adalah beberapa nama yang ia plesetkan sebagai sindiran.

Di antaranya yakni JINTAN yang awalnya merupakan merk obat kumur murah buatan Jepang diubah menjadi “Jenderal Japan Ini Nanti Toeloeng Anak Negeri” dan Kobajashi yang merupakan salah satu tokoh Jepang diplesetkan menjadi “Koloni Orang Belanda akan Japan Ambil Seantero Indonesia”.

Setelah mendapat hukuman karena dituduh berpihak kepada Jepang pada tanggal 6 Januari 1941, Thamrin pun jatuh sakit. Meskipun begitu, rekan-rekannya tidak diizinkan untuk menjenguknya hingga lima hari kemudian ia pun wafat. Ia dimakamkan di Pekuburan Karet Jakarta dan diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada tahun 1960.

Contoh Biografi Cut Nyak Meutia

Contoh Biografi Cut Nyak Meutia

Salah satu pahlawan wanita selain Kartini yang berjasa bagi Indonesia adalah Cut Nyak Meutia. Ia merupakan wanita yang berani berjuang melawan penjajah dalam perang daerah. Keberaniannya melawan penjajah bisa menjadi teladan generasi muda agar semangat membela negeri dengan prestasi. Berikut adalah biografinya.

Cut Nyak Meutia merupakan wanita kelahiran Keureutoe, Pirak, Aceh yang lahir pada tanggal 15 Februari tahun 1870. Ia merupakan istri dari Teuku Muhammad atau Teuku Cik Tunong yang ikut berjuang bersamanya melakukan perlawanan. Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 menjadi dasar ditetapkannya Cut Nyak Meutia sebagai Pahlawan Nasional asal Aceh.

Ia menikah kembali dengan Pang Nagroe setelah suaminya wafat karena tertangkap oleh Belanda dan dihukum mati. Pernikahannya tersebut dilakukan atas wasiat suaminya yang berpesan kepada Pang Nagroe agar mau merawat anaknya dan menikahi istrinya.

Setelah menikah dengan Pang Nagroe, Cut Nyak Meutia bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Teuku Muda Gantoe. Ia bersama wanita lain melarikan diri ke dalam hutan saat pertempuran dengan Korps Marechausee terjadi di Paya Cicem. Namun ia harus ditumbangkan karena kematian suaminya yang melakukan perlawanan secara terus menerus.

Kemudian ia tidak menyerah dan tetap bangkit di tengah kesedihannya itu bersama sisa-sisa pasukannya dan melakukan perlawanan. Pos-pos kolonial berhasil diserang dan dirampas olehnya bersama para pasukannya sambil melakukan pergerakan melewati hutan belantara menuju Gayo. Namun ia harus gugur pada tanggal 24 Oktober 1910 dalam bentrok melawan Marechausee di Alue Kurieng.

Biografi KH. Wahab Chasbullah

Biografi KH. Wahab Chasbullah

Selain KH. Hasyim Asy’ari yang dikenal karena kontribusinya dalam memperjuangkan bangsa dalam organisasinya, Nahdlatul Ulama, nama lain yang ada dibalik beridirinya Nahdlatul Ulama adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah. Ia dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2014 oleh Presiden Joko Widodo.

KH. Wahab Chasbullah lahir di Jombang pada tanggal 31 Maret tahun 1888 dan wafat pada tanggal 29 Desember 1971 di usianya yang menginjak 83 tahun. Ayahnya merupakan seorang Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur bernama KH. Chasbullah Said dan ibunya bernama Nyai Latifah.

Ia dikenal sebagai ulama yang memiliki pandangan modern. Ia memulai dakwahnya melalui media massa berupa surat kabar yang didirikannya dengan nama “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.

Ia pernah ikut serta dalam Panglima Laskar Mujahidin di Hisbullah melawan penjajah Jepang, dan ia juga pernah menjadi anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantara. Sama dengan KH. Hasyim Asy’ari, beliaupun ikut memprakarsai berdirinya Nahdlatul Ulama dengan keilmuan tinggi yang dimilikinya.

Pada tahun 1914, beliau juga mendirikan kursus yang diberi nama “Tashwirul Afkar” yang merupakan kelompok diskusi. Kemudian dua tahun setelahnya yakni 1916 beliau mendirikan Organisasi Pemuda Islam yang memiliki nama Nahdlatul Wathan.

Gagasan tercerdasnya adalah ketika ia mampu mencetuskan dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan menciptakan badan yang bernama Syuriah dan Tanfidziah yang merupakan dua badan pemersatu golongan tua dan golongan muda. Ia juga merupakan mempelopori adanya kebebasan berpikir di kalangan Umat Islam di Indonesia terutama warga nahdliyin serta kebebasan beragama dan berpendapat.

Biografi Pahlawan Oto Iskandar Dinata

Biografi Pahlawan Oto Iskandar Dinata

Salah satu pahlawan yang berasal dari Bandung adalah Oto Iskandar Dinata. Ia merupakan pejuang yang gagah berani dan gigih membela bangsa Indonesia. Selaku warga negara yang baik, perjuangan besar Oto Iskandar Dinata perlu dikenal melalui biografi berikut.

Tanggal 31 Maret 1897 merupakan tanggal kelahiran Oto Iskandar Dinata yang merupakan keturunan bangsawan. Ayahnya merupakan keturunan dari Nataatmadja, seorang bangsawan Sunda. Oto dilahirkan di Bojongsoang, Kabupaten Bandung dan merupakan putra ketiga dari sembilan bersaudara.

Pendidikannya dimulai saat ia bersekolah di HIS Bandung dan kemudian melanjutkan studinya di Kweekschool Onderbouw, semacam sekolah guru bagian pertama, di Bandung. Setelah lulus dari sekolah guru tersebut iapun melanjutkan pendidikannya di sekolah guru atas bernama Hogere Kweekschool di Purworejo, Jawa Tengah.

Proses pendidikan yang dienyamnya mengantarkannya pada posisi guru di HIS Banjarnegara, Jawa Tengah. Namun untuk mengajar di HIS bersubsidi serta perkumpulan Perguruan Rakyat ia harus pindah ke Bandung pada Juli, 1920.

Sebelum masa kemerdekaan, Wakil Ketua Budi Utomo cabang Bandung untuk periode 1921-1924 pernah dijabatnya. Pada tahun 1924 ia juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Budi Utomo cabang Pekalongan serta mewakili Budi Utomo menjadi anggota Gemeenteraad (Dewan Kota).

Menjelang kemerdekaan, Oto menjabar sebagai Pemimpin surat kabar Tjahaja pada tahun 1942-1945 dan kemudian menjadi anggota BPUPKI dan PPKI bentukan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, ia pun diangkat menjadi Menteri Negara.

Oto terbunuh saat insiden penculikan oleh kelompok yang menamakan dirinya Laskar Hitam.

Biografi Pahlawan M.T. Haryono

Biografi Pahlawan M.T. Haryono

Peristiwa G 30/S PKI merupakan peristiwa yang sangat mencekam pada saat itu. Banyak korban bergelimpangan, termasuk pahlawan revolusi M.T. Haryono.

Letnan Jenderal Mas Tirtodarmo Harjono merupakan pahlawan revolusi kelahiran Surabaya tanggal 20 Januari 1924. Pendidikan yang pernah dienyamnya yakni ELS (setingkat SD), HBS (setingkat SMA), dan Ika Dai Gakko (sekolah kedokteran Jepang) Jakarta.

Saat di Jakarta, M.T. Haryono aktif menyuarakan bela negara. Ia pun kemudian melanjutkannya dengan bergabung di TKR. Ia merupakan orang yang fasih dalam berbicara bahasa asing seperi bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Dengan kecerdasannya tersebut ia sering menjadi perwira penerjemah dalam setiap perundingan. Pada saat KMB, ia ditugaskan menjadi wakil Indonesia yakni Sekretaris Delegasi Militer Indonesia.

Di kenal pendiam tak lantas membuat Haryono menjadi orang yang tidak peduli dengan anak-anaknya. Ia sangat memperhatikan pendidikan kelima anaknya dan ia tidak membawa pulang senjata demi keselamatan keluarganya. Ia merupakan seorang suami dan ayah yang bertanggungjawab.

M.T. Haryono harus merenggut nyawa saat terjadinya G 30/S PKI. Ia turut menjadi korban kekejaman dan kebiadaban PKI pada masa itu. Untung mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama jalan protokol.

Contoh Biografi D.I. Panjaitan

Contoh Biografi D.I. Panjaitan

Salah satu peristiwa yang menjadi sejarah besar bangsa Indonesia adalah peristiwa pemberontakan PKI. Lubang Buaya menjadi salah satu saksi bisu pertumpahan darah dan kekejaman PKI pada masa itu. Salah satu pahlawan dalam peristiwa itu yang merupakan Pahlawan Revolusi adalah D.I. Panjaitan.

D.I. Panjaitan atau lengkapnya Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac Panjaitan lahir pada tanggal 19 Juni 1925 di Balige, Tapanuli, Sumatera Utara. Pendidikannya bisa dibilang cukup cemerlang dengan awal pendidikannya di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas yang pada saat itu Jepang menjajah Indonesia.

Ketika ia hendak masuk dalam anggota kemiliteran, ia diharuskan mengikuti pelatihan Gyugun. Saat pelatihan telah selesai, ia pun ditugaskan menjadi anggota Gyugun di Riau sampai Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah proklamasi kemerdekaan, dibentuklah TKR atau Tentara Keamanan Rakyat yang sekarang berganti nama menjadi TNI oleh D.I. Panjaitan bersama para pemuda lainnya. Ia mendapat tugas di Bukit Tinggi sebagai Komandan Batalion yang kemudian menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng pada tahun 1948.

Kepala Staf Umum IV (Supplay) Komandemen Tentara Sumatera menjadi jabatan selanjutnya, lalu iapun diangkat menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada saat terjadinya Agresi Militer II oleh Belanda.

Pasca Agresi Militer Belanda II dan Indonesia memperoleh kedaulatan, D.I. Panjaitan kemudian diangkat menjadi Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan. Ia kemudian diangkat menjadi Kepala Staf T&T II/Sriwijaya setelah dipindahkan ke Palembang.

Sebelum terjadinya aksi G 30/S PKI, D.I. Panjaitan sempat mengikuti kursus Militer Atase (Milat) dan ia pun ditugaskan di Jerman pada tahun 1956, serta beberapa jabatan lain yang diperolehnya. Jabatan terakhir yang diperolehnya adalah Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Pada saat menjabat jabatan terakhirnya tersebut ia berhasil membongkar skandal pengiriman senjata dari Tiongkok untuk PKI yang selama ini dirahasiakan. Senjata-senjata kiriman Tiongkok tersebut diselipkan dalam peti berisi bahan bangunan.

D.I. Panjaitan pun wafat dalam peristiwa G 30/S PKI setelah sebelumnya dipaksa turun dari rumahnya untuk diculik, namun ia ditembak seketika hingga tak bernyawa.

Biografi Singkat Jenderal Soedirman

Biografi Singkat Jenderal Soedirman

Pahlawan yang terkenal dengan perang gerilya ini menjadi salah satu pahlawan yang menginspirasi karena semangat juangnya yang tinggi. Meskipun tergolong muda pada masanya, Jenderal Soedirman memiliki kemampuan taktik perang gerilya yang sangat cerdas. Untuk itu, contoh teks biografi Soedirman ini wajib Anda baca sebagai inspirasi untuk mendapatkan motivasi semangat.

Jenderal Soedirman merupakan seorang pahlawan yang lahir di Kabupaten Purbalingga pada tanggal 24 Januari 1916. Keluarga Soedirman merupakan keluarga yang sederhana, ayahnya bernama Karsid Kartawiraji yang hanya seorang pekerja yang bekerja di sebuah pabrik gula di Kalibagor, Banyumas dan ibunya bernama Siyem.

Meskipun tumbuh dalam keluarga yang sederhana, Soedirman adalah anak yang membanggakan seluruh bangsa Indonesia. Pendidikan yang dienyamnya adalah Sekolah Taman Siswa yang dirintis oleh Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, di Yogyakarta.

Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Hollandsche Indische Kweekschool (HK) Muhammadiyah, Solo yang merupakan sekolah pelatihan guru. Meskipun pendidikannya tidak sampai selesai, Soedirman aktif di dalam organisasi Pramuka Hizbul Wathan. Ia pun menjadi seorang guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap dan juga menjadi pemandu Pramuka Hizbul Wathan.

Soedirman bergabung dengan PETA di Bogor pada saat masa penjajahan Jepang di Indonesia. Ia kemudian diangkat menjadi Komandan Batalion di Kroya, Cilacap, setelah sebelumnya menjalani pelatihan dan pendidikan. Ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang tegas.

Ketegasannya ini dibuktikan dengan protesnya terhadap Jepang yang berbuat semena-mena dan bersikap kasar kepada anak buahnya. Perlawanan dan juga protes Soedirman kepada Jepang membuat Jepang marah dan ia hampir mati karenanya.

Meskipun Indonesia sudah merdeka, masih tersisa pertempuran melawan Jepang yang belum terselesaikan. Di Banyumas, Jawa Tengah, Jenderal Soedirman beserta pasukan yang dipimpinnya berhasil merebut senjata tentara Jepang. Peristiwa ini menjadi momen Soedirman yang menjadi catatan jasanya kepada Indonesia.

Pada tanggal 5 Oktober 1945, Soedirman diangkat menjadi Panglima Divisi V wilayah Banyumas dan berpangkat kolonel setelah dibentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemudian ia diangkat menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat atau Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia setelah satu bulan terbentuknya TKR tepatnya pada tanggal 2 November 1945.

Jenderal Soedirman menderita penyakit paru-paru yakni TBC. Meskipun sedang dalam keadaan sakit, ia tetap berpendirian teguh bahwa tugasnya sebagai pemimpin keamanan rakyat belumlah selesai. Pada saat terjadinya Agresi Militer Belanda II, dalam keadaan sakit ia tetap ikut berjuang melawan Belanda dengan berpindah dari hutan ke hutan untuk melakukan perang gerilya.

Tanpa pengobatan dan tanpa tempat istirahat yang nyaman ia bertahan hidup selama 7 bulan di hutan memimpin pasukannya membela Indonesia. Namun kondisinya yang semakin parah membuatnya harus istirahat dan dipulangkan.

Soedirman pun wafat pada tanggal 29 Januari 1950 karena penyakit paru yang dideritanya semakin parah. Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Semaki, Yogyakarta menjadi tempat peristirahatannya untuk terakhir kali.

Contoh teks biografi pahlawan di atas sekiranya dapat menjadikan kita pelajaran dan teladan agar lebih mencitai bangsa Indonesia.

Contoh Teks Biografi Pahlawan (Berjasa)

Leave a Reply