Peta Aceh, Geografis serta Sumber Daya alam (Paling Lengkap)

Peta Aceh – Siapa sih yang tidak tahu nama daerah ini? ya, Aceh memang sudah terkenal di Indonesia sebagai salah satu wilayah yang berada di bagian ujung utara pulau Sumatera. Dapat dilihat dari peta Aceh merupakan salah satu Provinsi yang ibukotanya bernama Banda Aceh. Ingin mengenal provinsi Aceh lebih jauh? Simak ulasannya di bawah ini.

Gambar Peta Aceh

Gambar Peta Aceh

Penjelasan Peta Aceh

Penjelasan Peta Aceh

Jika dibandingkan dengan provinsi di Sumatera yang lain, Aceh ini tidak termasuk wilayah yang luas. Dapat dilihat peta Aceh bahwa semakin ke bagian utara, wilayahnya akan semakin sempit. Meski begitu, Aceh memiliki banyak sumber daya alam yang memiliki potensi besar untuk memenuhi kesejahteraan masyarakatnya dan memiliki banyak cerita sejarah.

Berdasarkan peta Aceh dapat dilihat bagian utara dan timur wilayah Aceh berbatasan langsung dengan selat Malaka. Pada bagian selatan wilayah Aceh berbatasan dengan provinsi Sumatera Utara. Sedangkan pada bagian barat wilayah Aceh berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Pada tahun 2012 Provinsi Aceh dibagi menjadi 18 kabupaten dan 5 kota yang terdiri dari 289 kecamatan, 778 mukim, dan 6.493 desa. Tata letak wilayah ini dapat Anda lihat melalui peta Aceh. Masing-masing wilayah bagian ini memiliki karakteristiknya sendiri, sehingga tak heran Aceh memiliki banyak adat dan budaya yang masih kental dari berbagai wilayah bagian tersebut.

Meskipun tampak kecil pada peta Aceh, namun wilayah ini memiliki luas 5.677.081 ha dibagi menjadi lahan hutan sebesar 2.290.874 ha, lahan perkebunan masyarakat dengan luas 800.533 ha, dan lahan industri yaitu 3.928 ha.

Geografis dan Iklim di Aceh

Geografis dan Iklim di Aceh

Berdasarkan letak astronomis, wilayah Aceh terletak antara 2º-6 º lintang utara dan 95 º-98 º lintang selatan dengan ketinggian 125 meter di atas permukaan laut. Wilayah ini memiliki cakupan wilayah 119 pulau yang memiliki 35 gunung dan 73 sungai utama.

Peta Aceh merupakan wilayah tropis yang memiliki suhu udara rata-rata 26,9ºC dengan suhu udara paling tinggi yaitu 32,5 ºC, dan suhu udara paling rendah mencapai 22,9 ºC. Musim kemarau jatuh diantara bulan Maret sampai Agustus. Sedangkan musim hujan terjadi diantara bulan September sampai Februari.

Wilayah Aceh ini memiliki kelembaban relative diantara 70 sampai 80%. Provinsi ini memiliki curah hujan yang berbeda-beda, kisaran 1.500 sampai 2.500 mm per tahunnya. Curah hujan ini disesuaikan dengan jangka waktu rata-rata berlangsungnya musim hujan.

Sumber Daya Alam Aceh

Sumber Daya Alam Aceh

Seperti pada wilayah di bagian Indonesia lainnya, Aceh memiliki berbagai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencukupi kebutuhan masyarakat Aceh. Aceh memiliki berbagai jenis sumber daya seperti emas, minyak bumi, gas alam, kopi, kayu, hutan, kakao, rempah-rempah, bahkan ikan.

Karena berada di Kawasan tropis, tentu mudah bagi masyarakat Aceh untuk melakukan pengembangan usaha di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, tanaman pangan, dan pariwisata. Tidak hanya itu, sejak tahun 1900 Aceh telah memiliki usaha pertambangan umum berupa minyak dan gas pada bagian utara dan timur wilayahAceh.

Selain perusahaan migas, Aceh juga memiliki endapan batubara dengan total 15 lapisan batubara hingga kedalaman 1000 meter. Adapun jumlag cadangan terunjuk hingga kedalaman 80 meter yang totalnya mencapai 500 juta ton, sedangkan cadangan hipotetis kurang lebih sekitar 1,7 miliar ton.

Aceh juga memiliki potensi pada bidang sumber energi untuk pembangkit listrik terdiri dari panas bumi, air, dan batubara. Tenaga air tersebar pada 15 lokasi di wilayah Aceh dan mencapai 2.626 MW. Kemudian potensi batubara sebanyak 1.300 juta ton yang tersebar di beberapa wilayah Aceh. Dan 17 titik panas bumi yang dapat membangkitkan tenaga listrik.

Wilayah Aceh ini juga memiliki kekayaan alam dalam bentuk logam dan non logam. Wilayah ini memiliki 21 jenis bahan galian industri yang poyensial dan didistribusikan di seluruh wilayah provinsi Aceh. Sehingga bermanfaat bagi masyarakat yang ditinggalinya juga.

Dari berbagai kekayaan alam yang dimiliki oleh wilayah Aceh tersebut tentunya sumber daya manusianya harus memiliki kemampuan mengoperasikan teknologi agar dapat memanfaatkan sumber daya alam secara optimal. Pemerintah daerah harus menganggarkan teknologi untuk digunakan dalam mengolah bahan mentah yang telah dihasilkan agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Sejarah Aceh

Sejarah Aceh

Nama lain dari Aceh ini adalah Serambi Mekah, karena dinilai nama tersebut memiliki makna peran penting tokoh dan masyarakat Aceh dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Adapun sejarah Acehdipaparkan secara lengkap berupa poin-poin di bawah ini.

1. Prasejarah

Wilayah Aceh telah dihuni manusia sejak zaman Mesolitikum dari hasil riset yang menemukan situs Bukit Kerang yang merupakan peninggalan pada zaman tersebut di Kabupaten Aceh Tamiang. Adapun peninggalan zaman tersebut yang berhasil ditemukan adalah kapak Sumatralith, tulang badak, fragmen gigi manusia, dan peralatan lainnya.

Peninggalan kehidupan zaman Mesolitikum juga ditemukan di dataran tinggi Gayo. Dapat disimpulkan bahwa terdapat kehidupan pada masa prasejarah yang berlangsung sekitar 7.400 hingga 5.000 tahun yang lalu.

2. Kerajaan

Zaman kerajaan ini diawali dengan berkembangnya agama Hindu dan Budha yang datang dari daratan India. Pada saat berkembangnya agama ini disertai dengan pendirian kerajaan. Adapun kerajaan yang telah dikenal seperti Kerajaan Indrapuri, Kerajaan Indrapurwa, dan Kerajaan Indrapatra.

Pada masa berkembangnya kerajaan Hindu dan Budha tersebut, Aceh telah mengalami masa kejayaan di Nusantara pada ribuan tahun lalu contohnya pada kerajaan Sriwijaya. Adapun kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat Aceh pada saat ini adalah karena pengaruh dari India yang melakukan penyebaran.

Selanjutnya adalah perkembangan agama Islam di Aceh, banyak teori yang menyebutkan waktu masuknya agama Islam di wilayah Aceh ini. Namun berbagai pendapat tersebut saling bertolak belakang, sehingga waktu masuknya agama Islam di Aceh ini dilihat dari waktu keberadaan kerajaan Islam yaitu Kerajaan Perlak pada 1 Muharram 225 Hijriyyah.

Perkembangan pola dan sistem Pendidikan militer, sistem pemerintahan yang sistematik, perkembangan ilmu pengetahuan, komitmen menentang imperialisme Eropa serta kemampuannya dalam melakukan hubungan diplomatic dengan negara lain membuat Aceh memiliki sejarah yang panjang.

Terdapat masa kesultanan Aceh yang memiliki berbagai kisah dari masa kemakmuran hingga perebutan kekuasaan berkepanjangan. Hingga pada akhirnya teradi penyerahan wilayah pada Belanda karena pada saat itu terjadi masa penjajahan.

3. Penjajahan

Karena Aceh memiliki komitmen yang kuat untuk tidak menyerahkan wilayah, maka Belanda menyatakan peperangan. Serangan yang dilakukan Belanda kepada wilayah Aceh ini mengalami kegagalan sebanyak tiga kali etelah melakukan ancaman diplomatic tidak digubris oleh masyarakat Aceh.

Karena melalui kekerasan tidak berhasil, maka Belanda mengutus satu orang bernama Dr. Christian Snouck Hurgronje untuk melakukan penelitian pada masyarakat Aceh. Setelah mengetahui rahasia dibalik persatuan masyarakatnya adalah ulama, maka Belanda menyerang dari sisi agama.

Hal ini menyebabkan runtuhnya masyarakat dan pada akhirnya Sultan M. Dawud yang merupakan sultan menjabat pada tahun 1903 itu menyerahkan diri kepada Belanda. Meski begitu, perlawanan masyarakat Aceh terus berlangsung sampai akhirnya Jepang masuk dan menggantikan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda.

Pada saat penjajahan berlangsung, rakyat Aceh juga melakukan kerjasama dengan berbagai wilayah di Indonesia untuk mewujudkan Gerakan nasionalis dan politik. Sedangkan masuknya Jepang membuat Belanda terusir permanen dari Aceh.

Pada awalnya, Jepang sangat bersikap baik pada masyarakat Aceh. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi pelecehan baik secara seksual maupun kepercayaan beragama oleh Jepang kepada rakyat Aceh. Sehingga muncul perlawanan rakyat di seluruh daerah yang dipimpin oleh Teungku Abdul Jalil.

4. Pasca kemerdekaan

Sejak tahun 1976, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang merupakan organisasi pembebasan berupaya untuk memisahkan diri dari Indonesia. Hal ini berlangsung selama 30 tahun dan telah diakhiri dengan damai.

Pada tahun 1953 pula, Teungku Muhammad Daud Beureu’eh atas nama rakyat Aceh mengumumkan akan bergabung dengan Negara Islam Indonesia yang didirikan oleh Kartosoewirjo. Hal ini dilakukan atas kekecewaan kepada Soekarno karena landasan negara bukan syariat Islam.

Terjadinya gempa dan tsunami pada tahun 2004 membuat pergerakan masyarakat Aceh mulai lumpuh dan mengalami masa sulit. Sehingga pada tahun 2005 Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Republik Indonesia sepakat untuk mengakhiri konflik diantara keduanya.

Cerita dan Legenda Rakyat

Aceh terkenal dengan cerita dan legenda rakyatnya yang sering digunakan para orang tua sebagai dongeng sebelum tidur. Berbagai legenda yang berada di Aceh tentu membuat wilayah Aceh ini terkenal hingga seluruh penjuru Nusantara. Berbagai pembelajaran dari makna hasil cerita dan legenda tersebut mampu membuat perubahan perilaku pada orang yang mendengar kisahnya.

Pahlawan dari Aceh

Pahlawan dari Aceh

Perjuangan Aceh dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia melalui peperangan dengan kolonial Belanda dan Jepang diapresiasai oleh Pemerintah. Karena itu Pemerintah menobatkan orang yang berjasa tersebut sebagai Pahlawan Nasional.

Tokoh-tokoh tersebut diantaranya bernama Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Teungku Chik di Tiro, Teuku Umar, Teuku Nyak Arif, Sultan Iskandar Muda, dan Teuku Muhammad Hasan. Tujuh pahlawan tersebut telah mengorbankan waktu, tenaga dan jiwanya untuk berjuang mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Adat dan Budaya Aceh

Adat dan Budaya Aceh

Sebagai salah satu wilayah yang terletak pada ujung Nusantara, Aceh memiliki berbagai kebudayaan yang tentu saja menarik untuk diketahui. Berawal dari rumah adat, Aceh memiliki rumah adat yang unik dengan nama Rumoh Aceh atau Krong Bade. Keseluruhan rumah yang terbuat dari kayu dengan bentuk yang unik menjadikan rumah Aceh ini khas di Indonesia.

Selanjutnya adalah pakaian adat Aceh yang sering dijumpai pada kegiatan resmi maupun kegiatan adat. Pakaian ini khas dan unik dari peninggalan sejarah Kerajaan Perlak dan Kerajaan Samudera Pasai yang merupakan dua kerajaan besar pada masanya.

Alat Musik dan Kesenian di Aceh

Alat Musik dan Kesenian di Aceh

Alat musik dan kesenian yang terdapat di Aceh memiliki beragam corak budaya. Alat kesenian terdiri dari berbagai bahan yang dijadikan sebagai pengiring bagi upacara adat, puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa, dan kegiatan Nasional.

Alat music yang terkenal diantaranya adalah serune kale, gendang, canang, rapai, arbab, celempong, dan tambo yang dimainkan sesuai dengan jenis alat musiknya. Tujuh alat musik ini terkadang juga dimainkan secara bersamaan untuk menciptakan musik yang khas dari Aceh.

Adapun kesenian yang paling terkenal adalah tari Saman. Tarian ini dikembangkan oleh seorang tokoh muslim bernama Syeh Saman yang diiringi syair bahasa Arab dan bahasa Aceh dengan gerakan tangan yang menggembirakan. Ciri khas dari tarian ini adalah keselarasan dan kecepatan dari masing-masing penarinya.

Suku yang Ada di Provinsi Aceh

Suku yang Ada di Provinsi Aceh

Aceh memiliki 12 jenis suku yang saling hidup berdampingan dalam waktu yang lama. Beragam suku ini menjadikan Aceh sebagai salah satu daerah yang mengedepankan toleransi. Selain itu, banyaknya suku ini menjadikan para wisatawan baik domestik maupun non domestik enang berkunjung pada wilayah Aceh ini. Simak penjelasan masing-masing suku tersebut di bawah ini.

1. Suku Aceh

Suku Aceh ini tinggal di bagian ujung Sumatera dan menjadi suku pertama yang memeluk agama Islam dan mendirikan kerajaan Islam. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Aceh yang merupakan akulturasi dari bahasa Melayu dan Polinesia Barat.

2. Suku Aneuk Jamee

Suku Aneuk Jamee ini memiliki arti anak tamu dari bahasa Aceh dan tinggal menyebar di sepanjang pesisir barat dan selatan bagian Aceh yang dapat dilihat di peta Aceh. Bahasa yang digunakan suku ini adalah bahasa Aceh namun menggunakan dialek Minangkabau.

3. Suku Batak Pakpak

Suku Batak Pakpak tinggal menyebar pada Sumatera Utara dan Aceh. Anda dapat melihat bagian wilayah tersebut menggunakan peta Aceh. Suku ini merupakan keturunan dari tantara kerajaan Chola di India yang menyerang kerajaan Sriwijaya pada abad ke 11 Masehi.

4. Suku Alas

Suku Alas tinggal di Kabupaten Aceh Tenggara yang juga menganut agama Islam. Bahasa yang digunakan oleh suku ini adalah bahasa alas yang berarti tikar. Makna dari bahasa ini berhubungan dengan kondisi wilayah Aceh Tenggara yang datar seperti tikar.

5. Suku Gayo

Suku Gayo sebagian besar berada di Kabupaten Aceh Tengah dan beberapa desa di Kabupaten Aceh dan Aceh Tenggara. Bahasa sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Gayo. Suku ini menganut agama Islam yang sangat taat.

6. Suku Devayan

Suku Devayan tersebar pada beberapa pulau wilayahAceh. Diantaranya Kecamatan Teupah Barat, Simeulue Timur, Teluk Dalam, Teupah Selatan, dan Simelue Tengah. Suku ini tinggal pada wilayah yang telah disebutkan.

7. Suku Sigulai

Suku Singulai ini merupakan suku yang menetap pada pulau Simeulue Utara, Alafan, kecamatan Simeulue Barat, dan Salang yang tinggal dengan mata pencaharian sumber daya disekitarnya.

8. Suku Lekon

Suku lekon ini tinggal pada kecamatan Alafan, desa Lafakha, desa Langi, dan Sumeulue yang letak dan posisinya dapat Anda temukan pada peta Aceh.

9. Suku Singkil

Suku SSingkul merupakan suku yang tinggal di Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Singkil.

10. Suku Kluet

Suku Kluet ini tinggal pada beberapa kecamatan yang terdapat di Kabupaten Aceh Selatan. Suku ini tinggal di Kecamatan Kluet Selatan, Kluet Utara, Kluet Tengah, dan Kluet Timur.

11. Suku Haloban

Suku Haloban tinggal di pulau Banyak yang merupakan salah satu Kabupaten Aceh Singkil. Anda dapat melihat posisi suku ini pada peta Aceh. Pulau ini memiliki ibukota kecamatan disertai 7 desa yang terletak di pulau Balai.

12. Suku Tamiang

Suku Tamiang memiliki bahasa dan kebudayaan yang hampir sama dengan Melayu. Suku ini tinggal pada kabupaten Tamiang yang dikenal juga dengan sebutan suku Melayu Tamiang.

Populasi di Aceh

Populasi di Aceh

Berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2015 diperoleh data bahwa Aceh memiliki penduduk sebanyak 5.300.000 jiwa dengan luas wilayah 57.365.57 km². Dari jumlah penduduk tersebut, jumlah penduduk laki-laki adalah 2.069.000 jiwa dan 2.700.000 jiwa perempuan.

Demikian penjelasan lengkap dari wilayah Provinsi Aceh yang dapat digunakan sebagai informasi dan pengetahuan. Semoga penjelasan di atas dapat membantu dalam mengerjakan tugas pada khususnya maupun menambah wawasan Anda pada umumnya. Selain itu, semoga informasi ini dapat meningkatkan rasa nasionalisme.

Peta Aceh, Geografis serta Sumber Daya alam (Paling Lengkap)

Leave a Reply