Mengenal Tata Bahasa Jawa dan Penggunaannya Terupdet (2020) 1

Mengenal Tata Bahasa Jawa dan Penggunaannya Terupdet (2020)

Bahasa Jawa – Cara manusia untuk berkomunikasi dengan sesama manusia adalah dengan menggunakan bahasa. Ada banyak bahasa di dunia ini, termasuk di Indonesia. Selain bahasa nasional, Indonesia juga memiliki ratusan bahasa daerah. Salah satu bahasa daerah tersebut adalah bahasa Jawa.

Kekhasan tiap bahasa daerah merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya. Sayangnya, banyak generasi muda yang mulai melupakannya, padahal banyak filosofi dan nilai luhur yang terkandung di dalam bahasa daerah yang seharusnya selalu dilestarikan.

Sejarah Kemunculan Bahasa Jawa

Sejarah Kemunculan Bahasa Jawa

Setiap bahasa tentu tidak muncul dengan sendirinya, semuanya berproses sehingga bisa menjadi pemersatu dan cara komunikasi di tengah masyarakat. Demikian juga yang terjadi dengan bahasa daerah Jawa, dirunut dari latar belakang sejarahnya, ada dua jenis bahasa yang ada di Jawa

·         Jawa Kuno

Bahasa ini juga sering disebut dengan Jawa Kawi.  Bahasa ini dipakai ketika zaman kerajaan masih berkuasa di tanah Jawa, yaitu sekitar abad kesembilan hingga kelima belas. Penulisan dengan bahasa Kawi ini dapat Anda lihat dalam kitab serta prasasti.

Jika ditelisik, bentuk hurufnya hampir sama dengan huruf Sansekerta serta Pallawa. Kedua huruf ini juga dapat ditemui di daerah India yang mayoritas beragama Hindu. Maka tidak heran jika huruf Jawa Kawi terpengaruh oleh bahasa ini karena kerajaan awal di Jawa banyak menganut agama Hindu.

·         Jawa Baru

Bahasa ini berkembang pada abad keenam belas pertengahan. Jika pada zaman jawa kawi, bahasanya lebih terpengaruh agama Hindu, maka pada penyebaran Jawa Baru lebih terpengaruh pada budaya Islam. Hal ini dikarenakan ada agama Islam mulai masuk ke Nusantara.

Jika dilihat dari kosakata yang digunakan, maka akan ada banyak kata baru yang muncul yang merupakan perkawinan beberapa bahasa khususnya Arab dan Melayu. Bahasa ini pula yang populer digunakan hingga sekarang.

Penyebaran Penutur Bahasa Jawa

Penyebaran Penutur Bahasa Jawa

Sebagai bahasa daerah, bahasa ini tidak hanya digunakan oleh penduduk di pulau Jawa saja. Bahkan tercatat ada lebih dari delapan puluh juta jiwa penutur bahasa daerah Jawa. Semua penutur ini tersebar di Jawa bagian tengah dan timur serta Lampung, sebagian Sulawesi, Jambi, dan lain-lain.

Selain di Indonesia, ada beberapa daerah di luar negeri yang juga menggunakan bahasa daerah Jawa sebagai komunikasi sehari-hari, sebut saja Suriname, Johor bagian pesisir barat, Belanda serta New Caledonia. Penyebabnya tidak lain adalah penjajahan di masa lampau.

Dialek Bahasa Jawa

Dialek Bahasa Jawa

Hal yang menarik dari bahasa daerah Jawa adalah variasi dialek serta kosakata yang dimiliki. Anda juga pasti mengetahui, bahwa walaupun sama-sama jawa, namun bahasa di Surabaya dengan Solo tentu berbeda.

Atau, jika dipersempit lagi, dialek dari orang Sragen dan Wonogiri juga berbeda, meskipun keduanya sama-sama ada di Jawa Tengah. Intonasi, penekanan pada beberapa huruf, menyebabkan penutur mengucapkan bahasa daerah Jawa dengan cara yang berbeda walaupun terkadang artinya sama.

1.     Dialek Barat

Penutur yang termasuk ke dalam dialek ini adalah masyarakat dari daerah Banyumas, Indramayu, Pekalongan, hingga Banten.

2.     Dialek Tengah

Kebanyakan masyarakat Solo serta Jogjakarta menggunakan dialek tengah ini, demikian juga dengan masyarakat di Madiun, Blitar, Semarang, hingga Rembang.

3.     Dialek Timur

Dialek ketiga dalam bahasa daerah Jawa adalah dialek timur yang banyak digunakan oleh masyarakat di wilayah Malang, Surabaya, hingga Banyuwangi.

Sistem Penulisan Bahasa Jawa

Sistem Penulisan Bahasa Jawa

·         Aksara Jawa

Jika Anda pernah mendengar kalimat Hanacaraka Datasawala Magabathanga, maka Anda sedikit banyak sudah mengetahui tentang aksara yang paling tua ini.  Huruf ini sudah berjaya ketika zaman kerajaan Majapahit yaitu pada permulaan abad keenam belas.

 

Penyusun dari aksara ini adalah Aji Saka yang mempersembahkan susunan karakter bersistem kompleks ini, guna mengingat murid-muridnya yang bernama Dora dan Sembada. Meskipun terlihat sulit, namun nyatanya huruf ini masih eksis, terutama di Jogja dan Solo.

·         Pegon

Perkembangan aksara ini berbanding lurus dengan perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Ketika Islam masuk ke tanah Jawa, maka pada saat itu juga bahasa daerah dengan sistem pegon ini berkembang. Maka dari itu, di dalam penulisannya terpengaruh akan huruf hijaiyah.

Berbeda dengan aksara jawa yang sudah hampir tidak pernah dipakai secara luas, huruf pegon masih banyak digunakan. Biasanya, pengguna dari huruf pegon adalah pondok pesantren.

·         Latin

Aksara ini adalah aksara paling modern yang kita kenal sampai sekarang. Perkembangan aksara ini berasal dari awal masa kolonial. Penggunaan aksara latin sangat terkenal terutama di antara lingkungan anak muda.

Tingkat Tutur Bahasa Jawa

Tingkat Tutur Bahasa Jawa

Hal yang menarik dari bahasa daerah ini adalah adanya tingkatan ketika berbicara atau bertutur. Ketika Anda berbicara dengan seseorang yang lebih tua, maka bahasa yang digunakan akan berbeda dengan bahasa ketika berbicara dengan orang yang lebih muda atau sepantaran.

Tingkatan ini dapat menunjukkan relasi antar pihak yang bertutur, baik tentang tingkat derajat, usia, maupun kedudukan mereka di dalam masyarakat. Selain itu, tingkat tutur ini juga menunjukkan etika saat berbicara yang juga menunjukkan nilai kesopanan dan juga keramah-tamahan.

1.     Ngoko

Ngoko merupakan tingkatan tutur yang paling dasar. Percakapan yang menggunakan bahasa tingkat ngoko biasanya dilakukan oleh pihak yang hubungannya sudah dekat, atau diucapkan oleh orang yang seumuran dan juga dari pihak yang lebih tua kepada yang lebih muda.

2.     Madya

Ada yang menyebut tingkatan ini dengan nama Krama, tapi ada juga yang menyebutnya dengan Madya. Arti Madya sendiri adalah di tengah. Penggunaan tingkatan tutur ini biasanya adalah antara orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, namun hubungannya sudah dekat.

3.     Krama

Tingkatan tutur yang satu ini lebih sering dikenal dengan nama krama alus atau krama inggil. Alus artinya adalah halus, dan inggil artinya tinggi. Sebab tingkatan ini memang yang paling halus dan tinggi penuturannya.

Dengan menggunakan krama inggil, maka sang penutur sedang mengekspresikan penghormatan kepada lawan bicaranya. Jadi, krama inggil diucapkan oleh mereka yang inferior kepada yang superior.

Tata Bahasa Jawa beserta Artinya

Tata Bahasa Jawa beserta Artinya

1.     Kata Ganti Orang

Dalam struktur jawa, memang tidak ada kata yang dapat digunakan untuk menggantikan kata ganti jamak. Sebagian besar pasti menyangkutkan kata ganti tunggal yang kemudian digabungkan dengan satu kosakata yang menunjukkan pola jamak tersebut.

Contohnya adalah ketika akan menggunakan kata Kita, maka penutur akan menggunakan kata awake dhewe (ngoko), kitha sekaliyan (madya dan krama inggil).

Untuk mengucapkan kata kamu (jamak), maka akan menggunakan awakmu kabeh (ngoko) dan panjenengan sedanten (madya dan krama inggil), dan masih banyak contoh lainnya.

Sedangkan untuk penggunaan kata ganti orang pertama tunggal, yaitu aku, maka menggunakan kata aku, awakku (ngoko), kula (madya dan krama inggil).

Pengganti kata untuk kamu, maka akan menggunakan kowe, awakmu (ngoko), sampeyan (madya) dan panjengengan (krama inggil). Dan untuk penggunaan kata dia, maka menggunakan kata dheweke (ngoko) dan piyambakipun (krama inggil)

2.     Kata Benda

Kata benda dalam bahasa Jawa ada yang sama dalam penulisannya, baik untuk ngoko maupun krama inggil, namun ada banyak juga yang memiliki tingkatan tutur sama seperti penggunaan bahasanya.

Misalnya kata rumah, dalam bahasa ngoko, Anda bisa menggunakan kata omah. Sedangkan untuk tingkatan tutur bahasa madya dan krama bisa menggunakan kata griya, dan Anda bisa menggunakan kata dalem.

Nama anggota badan juga memiliki tingkatan bahasa, misalnya untuk kata gigi, maka bahasa ngokonya adalah untu, sedangkan bahasa madya dan kramanya adalah waja. Namun, tidak semua kata benda memiliki tingkatan, misalnya petelot (pensil), siwur (gayung) dan masih banyak lagi.

Dan jika Anda menambahkan imbuhan untuk kata benda tersebut, kata tersebut bisa memiliki arti sebagai penanda kepemilikan. Imbuhan tersebut biasanya adalah -ne atau -e untuk bahasa ngoko, dan -ipun atau -nipun untuk madya dan krama.

Contohnya adalah “petelote Satria” dan “petelotipun Satria” yang artinya sama yaitu pensilnya Satria. Atau kata lain misalnya, “mobile gedhe” dan “mobilipun ageng” yang artinya adalah mobilnya besar.

Jika Anda ingin menunjukkan hubungan antar kata, maka bisa menggunakan imbuhan -ing, misalnya adalah lakuning donya (lika-likunya dunia) atau ratunging jagad (ratunya semesta).

3.     Kata Kerja

Mengulik tentang kata kerja dalam bahasa daerah Jawa memang lebih rumit daripada mengucapkannya. Sebab tatanannya bisa berbeda tergantung dari daerah penuturannya. Namun secara garis besar, kata kerja bahasa Jawa menggunakan awalan sebagai penegasan.

Untuk kalimat aktif, biasanya awalan yang digunakan adalah -m, -n, atau -ng dan digabungkan dengan kata kerja misalnya untuk kata mencangkul = macul (-m + pacul), menanam = nandur (-n + tandur).

Sedangkan untuk kalimat pasif, penggunaannya sama dengan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia, yaitu ditambahi dengan awalan di-. Misalnya adalah dikramasi (di + kramas + i).

4.     Kata Jumlah

Peletakan kata jumlah adalah sebelum nomina. Umumnya, terdapat imbuhan -ng di setiap kata atau awalan -se atau -sak. Contohnya adalah limang kilo (lima kg), saktali (satu tali) dan masih banyak lagi.

Bahasa Jawa merupakan salah satu peninggalan dan kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Selain itu, bahasa ini juga merupakan salah satu bahasa tertua. Untuk menjaga kelestariannya, maka setiap generasi seharusnya tidak merasa malu untuk mempelajari atau menggunakannya.

Mengenal Tata Bahasa Jawa dan Penggunaannya Terupdet (2020)

 

Leave a Reply