Kisah Nabi Hud : Biografi, Silsilah, Kaum 'Aad dan Hikmah 1

Kisah Nabi Hud : Biografi, Silsilah, Kaum ‘Aad dan Hikmah

Kisah Nabi Hud – Nabi Hud adalah Nabi ke 4 dari 25 nabi yang tercantum dalam al-Qur’an yang di utus oleh Allah ke bumi setelah Nabi Nuh as, Nabi Hud lahir di Al Ahqaaf yaitu antara daerah yaman dan oman daerah yang di kelilingi bukit-bukit dan berpasir, menurut Ibnu Jarir nama Nabi Hud bin Abdullah bin Rabah bin al Jarud bin ‘Aad bin ‘Aush bin Iram Bin Sam bin Nuh, tapi ada juga yang mengatakan Hud bin Syalikh bin Arfakhasayadz bin Sam Bin Nuh…(1). berikut akan kami ulas Kisah Nabi Hud secara lengkap.

Kalau dil lihat dari garis keturunan sampai Nabi Adam adalah Hud bin Abdullah bin Rabah bin al Khulud bin ‘Aad bin ‘Aush (‘uks) bin Iram bin Sam bin Nuh bin Lamak bin Matusyalih bin Idrsi bin Yarid bin Mihlai bin Qinan bin Anusy bin Syits bin Adam as bapak semua manusia di muka bumi ini.

لَقَدۡ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٌ لِّأُوْلِى الۡأَلۡبَٰبِۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصۡدِيْقَ الَّذِيْ بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيْلَ كُلِّ شَيۡءٍ وَهُدًى وَرَحۡمَةً لِّقَوۡمٍ يُؤۡمِنُوْنَ

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. Yusuf : 111

Biografi Nabi Hud

Biografi Nabi Hud

kisah-sejarah-nabi-hud-as-dan-kaum-ad-serta-mukjizat-nabi-hud

Nabi Hud berasal dari bangsa arab yakni keturunan dari suku ‘Aad, yang hidup di sekitar jazirah arab, dalam kitab Shahih Ibnu Hibban dari Abu Dzar dengan Hadits yang cukup panjang tentang Nabi dan Rasul Nabi Muhammad SAW Bersabda:

“Diantara mereka ada empat Nabi yang berasal dari bangsa Arab yaitu : Hud, Sholih, Syu’aib, dan Nabimu, wahai Abu Dzar. ….(2)

yaitu ditempat yang benama Al-Ahqaf yang berada di sebelah utara Hadramaut antara yaman dan oman yang berpasir dan berbukit. Sebagaimana firman Allah dalam surat Hud ayat 50:

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمۡ هُودًاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ اعۡبُدُوْا اللهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۖ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُفۡتَرُوْنَ

Artinya : Dan kepada kaum ‘Aad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Dia berkata: “Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan. (Q.S. Hud : 50)

وَاذۡكُرۡ أَخَا عَادٍ إِذۡ أَنْذَرَ قَوۡمَهُۥ بِالۡأَحۡقَافِ وَقَدۡ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ أَلَّا تَعۡبُدُوٓا إِلَّا اللهَ إِنِّيْٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيْمٍ

Artinya : Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al Ahqaaf dan sesungguhnya telah berlalu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (Q.S. Al-Ahqaf : 21)

 

Setelah Allah menurunkan adzab ke kaum Nabi Nuh berupa air bah, orang-orang yang beriman yang mengikuti jejak Nabi Nuh di selamatkan oleh Allah SWT, usai setelah peristiwa itu kaum yang beriman menetap dan beranak pinak di sekitar gunug Judd, setelah anak cucu mereka lahir mereka berpencar di seluruh penjuru dunia, mereka terbentuk dan menjadi bersuku-suku, dan berbangsa-bangsa, masing-masing dari suku dan bangsa hidup dengan kebiasaan dan tradisi masing-masing.

[/su_note]

Kisah Nabi Hud : Keadaan Kaum ‘Aad

Kisah Nabi Hud : Keadaan Kaum ‘Aad

Dalam kisah nabi hud, Kaum ‘Aad merupakan kaum yang diberikan berbagai macam karunia oleh Allah SWT, salah satu karunia yang di miliki oleh kaum ‘Aad adalah mereka memiliki kelebihan fisik sehat, kuat yang tinggi besar dan umur yang panjang, ketinggian badan mereka bisa dilihat dari bangunan yang di buat oleh mereka, hal ini di ceritakan dalam al-Qur’an surat Al A’raaf: 69

أَوَعَجِبۡتُمۡ أَنْ جَآءَكُمۡ ذِكۡرٌ مِّنْ رَّبِّكُمۡ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنكُمۡ لِيُنْذِرَكُمۡۚ وَاذۡكُرُوْٓا إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنْۢ بَعۡدِ قَوۡمِ نُوحٍ وَزَادَكُمۡ فِى الۡخَلۡقِ بَصۜۡطَةًۖ فَاذۡكُرُوْٓا ءَالَآءَ اللهِ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوْنَ

Artinya : Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. Al A’raaf: 69)

Dan juga diceritakan dalam al-Qur’an tentang bangunan yang mereka bangunan yang mereka buat dalam surat Al Fajr ayat 7-8:

إِرَمَ ذَاتِ الۡعِمَادِ. الَّتِيْ لَمۡ يُخۡلَقۡ مِثۡلُهَا فِى الۡبِلَٰدِ

artinya :“(Yaitu) penduduk Iram (ibu kota tempat tinggal kaum ‘Aad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” (QS. Al Fajr: 7-8)

kaum ‘Aad menetap di daerah Al-Ahqaaf (bukit-bukit yang berpasir) antara Yaman dan Oman. Bukit tersebut berbentuk memanjang di sepanjang laut As Syahar dan lembah Mughits.

Kaum ‘Aad mempunyai peradapan yang tinggi mereka memiliki kemampuan untuk membuat bangunan yang tinggi-tinggi, megah dan indah pada masa itu. Teknologi pada masa itu berkembang sangat pesat, dan juga kaum ‘Aad di anugrahi dengan otak yang sangat cerdas dan kekuatan fisik yang sangat kuat membuat kaum Aad menjadi sangat terkenal dan di segani di antara suku lainnya.

Melalui perkembangan teknologi yang sangat pesat yang mereka miliki mereka mampu mengubah bukit menjadi sebuah rumah yang sangat megah dan indah. Mereka mempunyai kemampuan dalam menata letak perkotaan dengan membangun benteng-benteng disekitarnya, serta membangun gedung-gedung yang tinggi dan besar serta indah. Sebagaiman firman Allah salam surat Asy Syu’ara: 128-129

أَتَبۡنُوْنَ بِكُلِّ رِيْعٍ ءَايَةً تَعۡبَثُوْنَ. وَتَتَّخِذُوْنَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُوْنَ

Artinya : “Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati. Dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud agar kamu kekal (di dunia)?” (QS. Asy Syu’ara: 128-129)

Kemampuan Teknologi irigasi mereka juga sangat maju, sehingga mampu mengubah dan mengolah tanah-tanah yang tandus gersang menjadi tanah yang sangat subur, sehingga hasil bercocok tanam mereka sangat memuaskan dan belimpah ruah.

Teknologi dalam berternak hewan, mereka juga mempunyai kemampaun sangat baik dan bisa mengelolanya, sehingga hasil ternak mereka sangat luar biasa dari pada suku-suku lainnya pada masa itu, sehingga mereka mampu menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidup mereka. Semua yang dimiliki kaum ‘Aad semasa hidupnya, membuat mata hati mereka berkiblat pada keidupan dunia materi.

Bentuk fisik kuat dan tinggi yang berbeda dari kaum lainnya membuat mereka bersifat sombong dan keji, meremehkan serta merendahkan kaum yang lain. Disetiap peperangan dan penyerangan terhadap suatu yang dilakukan kaum ‘Aad, mereka dapat dipastika menang dan mereka selalu memperlakukan musuh-musuh mereka dengan sangat kejam dan tanpa rasa belas kasihan. ….(3) Hal ini digambarkan oleh Allah dalam Al-Quran surah Asy-Syu’ara ayat 130-134:

وَإِذَا بَطَشۡتُمْ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِيْنَ. فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَطِيْعُوْنِ. وَاتَّقُوْا الَّذِيٓ أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعۡلَمُوْنَ. أَمَدَّكُمْ بِأَنۡعَٰمٍ وَبَنِيْنَ

Artinya : “Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.–Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak. Dan kebun-kebun dan mata air,” (QS. Asy Syu’ara: 130-134)

Meskipun bebagai macam karunia dan nikmat-nikmat melimpah yang Allah SWT berikan kepada mereka, tidak menjadikan mereka sebagai kaum yang bersyukur kepada Allah SWT, mereka sombong dan puncak dari kesombongan kaum ‘Aad yang melampui batas adalah mereka menyekutukan Allah SWT dengan berhala yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri, dan kaum “Aad merupakan kaum yang pertama kali menyembah behala setelah banjir air bah zaman Nabi Nuh.

Berhala yang mereka sembah adalah berhala bernama Shamud, Shada, dan al-Haba, mereka percaya bahwa berhala-berhala yang mereka sembah bisa memberikan kebahagiaan, kebaikan dan keuntungan serta dapat menolak balak, menolak kejahatan, menolak kerugian dan segala musibah. Ajaran-ajaran dan dibwa oleh Nabi Idris a.s. dan Nabi Nuh a.s. sudah tidak diamalkan lagi oleh mereka.

Kisah Nabi Hud : Dakwah Nabi Hud as Kepada Kaum ‘Aad

Kisah Nabi Hud : Biografi, Silsilah, Kaum 'Aad dan Hikmah 2

Sudah menjadi sunnatullah bagi kehidupan manusia sejak zaman dahulu, apabila manusia sudah menyimpang jauh dan tersesat dari ajaran agama yang di bawa para Nabi terdahulu, maka Allah mengutus seorang Nabi dan Rasul dengan tugas mengembalikan iman dan aqidah umat manusia yang tersesat ke jalan lurus dari segala perbuatan yang menyekutukan Allah yang sesuai dengan fitrah manusia. …. (4)

Nabi Hud diutus kepada saudaranya dari kaum Aad, untuk meluruskan aqidah serta mengajarkan akhlah yang benar. Ajaran yang di bawa oleh Nabi Nuh as terus dipertahankan dan di perjuangkan oleh putranya Sam bin Nuh dan anak keturunanya, akan tetapi sesuai janji iblis kepada Allah yang akan menggoda umat manusia telah berhasil membelotkan aqidah kaum ‘Aad, dengan dalih untuk mengenang jasa orang-orang saleh mereka membuat patung tetapi generasi demi generasi kemudian kaum ‘Aad menjadi penyembah berhala.

Allah telah memberikan berbagai macam nikmat kepada kaum ‘Aad tapi nikmat itu tidak membuat mereka taat kepada Allah SWT, sebaliknya mereka menyekutukannya dengan menyembah berhala-berhala yang mereka buat sendiri. Tidak hanya itu saja mereka juga berbuat berbagai kemaksiatan dan berbuat kerusakan di muka bumi yang melapui batas, akhlak mereka rusak maka dari itu Allah mengutus Nabi Hud menjadi Nabi dan Rasul untuk kaum ‘Aad.

Beliau mengajak kaum ‘Aad untuk menyembah hanya kepada Allah SWT saja dan melarang keras berbuat syirik dan melakukan berbagai kemaksiatan serta kerusakan di muka bumu. Beliau juga mengingatkan mereka agar selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang diberikan-Nya kepada mereka. Beliau berkata kepada mereka sebagaiman yang di abadikan dalam al-Qur’an :

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمۡ هُودًاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ اعۡبُدُوْا اللهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۖ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُفۡتَرُوْنَ

Artinya : “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Al A’raaf: 65)

[/su_note]

Kaum ‘Aad bertanya tentang Nabi Hud ‘alaihis salam, “Siapakah sebenarnya kamu wahai Hud sehingga berani mengajak kami dan kamu bisa berkata seperti itu?” Hud menjawab, sebagaimana yang di abadikan dalam al-Qur’an surat asy-Syu’ara:

إِنِّيْ لَكُمۡ رَسُوْلٌ أَمِيْنٌ. فَٱتَّقُوْا اللهَ وَأَطِيْعُوْنِ

Artinya : “Sesungguhnya aku adalah rasul yang dapat dipercaya bagimu. Oleh karena itu, bertakwalah kamu kepada Allah dan taatilah aku.” (QS. Asy Syu’ara: 125-126)

 

Setelah mendengar ajakan Nabi Hud untuk meninggalkan berhala dan menyembah hanya kepada Allah, serta Nabi Hud menyatakan bahwa dirinya adalah manusia yang diutus oleh Allah kepada mereka, untuk memurnikan aqidah, maka kaum ‘Aad membantahnya dengan kasar dan sombong serta mengejek serta menganggap Nabi Hud adalah pendusta sambil berkata,

قَالَ الۡمَلَأُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوۡمِهِۦٓ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِيْ سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الۡكَٰذِبِيْنَ

Artinya : Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya Kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” (QS. Al A’raaf: 66)

 

Nabi Hud as menjawab perkataan kaum ‘Aad, sebagaimana yang tertera dalam al-Qur’an :

قَالَ يَٰقَوۡمِ لَيۡسَ بِيْ سَفَاهَةٌ وَّلَٰكِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الۡعَٰلَمِيْنَ. أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّيْ وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِيْنٌ

Artinya : Dia Hud menjawab “wahai kaumku, bukan aku kurang waras, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu”..” (QS. Al A’raaf: 67-68)

 

Kaum ‘Aad semakin sombong dan semakin menjadi rusak, disamping menolak dengan keras tidak mau untuk menyembah Allah, kaum ‘Aad juga mengatakan bahwa berhala mereka menjadikan Nabi Hud sudah gila. Sebagaimana yang telah tertuang di dalam al-Qur’an :

قَالُوا يَٰهُوْدُ مَا جِئۡتَنَا بِبَيِّنَةٍ وَمَا نَحۡنُ بِتَارِكِيْٓ ءَالِهَتِنَا عَنْ قَوۡلِكَ وَمَا نَحۡنُ لَكَ بِمُؤۡمِنِيْنَ. إِنْ نَّقُولُ إِلَّا اعۡتَرَىٰكَ بَعۡضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوٓءٍۗ قَالَ إِنِّيْٓ أُشۡهِدُ اللهَ وَاشۡهَدُوْٓا أَنِّيْ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تُشۡرِكُوْنَ

Artinya : “mereka Kaum ‘Ad berkata: “Wahai Hud, engkau tidak mendatangkan suatu bukti yang nyata kepada kami, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami hanya mengatakan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Dia Hud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, (QS. Huud: 53-54)

 

Meskipun Nabi Hud as mendapat hinaan dan ejekan serta di anggap gila oleh kaum ‘Aad dalam mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, beliau tetap bersabar dan gigih dalam mengajak mereka untuk kembali ke jalan Allah seperti yang di ajarkan oleh Nabi Idris as dan Nabi Nuh as.

Beliau mengingatkan mereka atas nikmat yang telah diberikan kepada Allah kepada mereka, dengan harapan mereka mau kembali ke jalan fitrah dan bertobat kepada Allah SWT. dan meminta ampun atas perbuatan mereka kepada Allah SWT. Nabi Hud berkata, sebagaimana yang di gambarkan di dalam al-Qur’an,

فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَطِيْعُوْنِ. وَاتَّقُوْا الَّذِيْٓ أَمَدَّكُم بِمَا تَعۡلَمُونَ. أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٍ وَبَنِيْنَ. وَجَنَّٰتٍ وَعُيُوْنٍ

Artinya : Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air,” (QS. Asy Syu’ara: 131-134)

 

Nabi Hud juga berkata:

وَيَٰقَوۡمِ اسۡتَغۡفِرُوْا رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوْٓا إِلَيۡهِ يُرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارًا وَيَزِدۡكُمۡ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمۡ وَلَا تَتَوَلَّوۡا مُجۡرِمِيْنَ

Artinya : “Dan (Hud berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”..” (QS. Huud: 52)

 

Setelah puluhan tahun berdakwah hanya sebagain kecil yang ikut pada ajakan Nabi Hud, hati kaumnya yang ingkar lagi durhaka sebagai manusia yang mati mata hatinya dan keras bagaikan batu, mereka tetap memegang teguh kesesatan dan penyimpangan menyembah berhala, setiap nasihat dan ajakan Nabi Hud mereka balas dengan tindakan zalim dan hinaan, Nabi Hud berkata kepada kaumnya,

إِنْ نَّقُوْلُ إِلَّا اعۡتَرَىٰكَ بَعۡضُ ءَالِهَتِنَا بِسُوْٓءٍ قَالَ إِنِّيْٓ أُشۡهِدُ اللهَ وَاشۡهَدُوْٓا أَنِّيْ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تُشۡرِكُوْنَ. مِنْ دُوْنِهِۦۖ فَكِيْدُوْنِيْ جَمِيْعًا ثُمَّ لَا تُنظِرُوْنِ. إِنِّيْ تَوَكَّلۡتُ عَلَى اللهِ رَبِّيْ وَرَبِّكُمۚ مَّا مِنْ دَآبَّةٍ إِلَّا هُوَ ءَاخِذٌ بِنَاصِيَتِهَآۚ إِنَّ رَبِّيْ عَلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسۡتَقِيْمٍ. فَإِنْ تَوَلَّوۡا فَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُم مَّآ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦٓ إِلَيۡكُمۡۚ وَيَسۡتَخۡلِفُ رَبِّيْ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ وَلَا تَضُرُّوْنَهُۥ شَيۡئً‍ًٔاۚ إِنَّ رَبِّيْ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ حَفِيظٌ

Artinya : “Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu”. Hud menjawab: “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.

Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus”. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu.

Dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha Pemelihara segala sesuatu.” (QS. Huud: 54-57)

Kisah Nabi Hud : Adzab Bagi Kaum ‘Aad

Kisah Nabi Hud : Biografi, Silsilah, Kaum 'Aad dan Hikmah 3

Setelah berbagai cara yang di tempuh untuk mengajak pada kaum ‘Aad untuk kembali ke jalan yang benar, yaitu menyembah serta minta ampun hanya kepada Allah, selalu bersukur, dan tidak berbuat maksiat serta tidak berbuat kerusakan di muka bumi, namun dalam kisah nabi hud mereka menolak ajakan tersebut.

dan tetap pada pendiriannya yang hanya mengikuti hawa nafsu dan syaitan. Mereka sombong serta bengga akan kekuatan yang mereka miliki, walaupun sudah di utus seorang Nabi dari kalangan mereka sendiri mereka tetap ingkar kepada Allah, mereka berkata

فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوْا فِى الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا۟ مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً ۖ أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ الله الَّذِى خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ

Artinya : Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah Yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya daripada mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. (QS. Fushshilat: 15)

Saking ingkar nya kaum ‘Aad kepada Allah dan Nabi nya, mereka juga mengolok-olok Nabi Hud dan meminta agar disegerakan azab bagi mereka, Dengan berkata,

قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِنَعۡبُدَ اللهَ وَحۡدَهُۥ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّٰدِقِيْنَ

Artinya : “Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar” (Terj. Al A’raaf: 70)

Nabi Hud pun berkata kepada kaumnya yang ingkar ,

قَالَ قَدۡ وَقَعَ عَلَيۡكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمۡ رِجۡسٌ وَغَضَبٌۖ أَتُجَٰدِلُونَنِيْ فِيْٓ أَسۡمَآءٍ سَمَّيۡتُمُوْهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّا نَزَّلَ اللهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ فَانتَظِرُوْٓا إِنِّيْ مَعَكُم مِّنَ الۡمُنْتَظِرِيْنَ

Artinya : Dia Hud berkata “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu”. (QS. Al A’raaf: 71)

 

Setalah mereka dinasehati oleh Nabi Hud, tapi tidak ada hasilnya malah mereka minta adzab, maka datanglah adzab itu kepada mereka berupa hawa yang sangat panas selama tiga (3) tahun serta membuat mata air sumur dan sungai menjadi kering kerontang, tanaman dan buah-buahan menjadi layu dan mati, hewan ternak pun ikut mati semua, hujan tidak kunjung turun.

lantas mereka mengutus para tokoh yang di anggap soleh oleh mereka sebanyak tujuh puluh (70) orang pergi ke mekkah untuk meminta hujan, mereka sampai di mekkah dan meminta hujan dan kemudian datang suara yang tidak di kenal memberi tiga pilihan yaitu (1) awan hitam (2) awan putih (3) awan merah, mereka memilih awan hitam yang di kira mereka mengandung banyak airnya. Setelah mereka pulang sampai ke kaumnya, mereka menanti nanti kedatangan awan hitam, kemudian datang awan hitam yang besar.

Dalam kisah nabi hud as, ketika mereka melihatnya, mereka sangat gembira dan mengira bahwa awan hitam itu adalah segumpalan air yang akan memberikan curahan hujan, mereka berkata, “Inilah awan yang kami tunggu-tunggu akan menurunkan hujan kepada kami semua.” Padahal awan akan mendatangkan adzab bagi mereka. Angin hitam itu membawa angin yang sangat dingin tanpa henti dan terus-menerus menimpa mereka selama tujuh hari delapan malam, angin itu membinasakan kaum ‘Aad yang ingkar dan durhaka kepada Allah SWT. Allah berfirman:

فَلَمَّا رَأَوۡهُ عَارِضًا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ قَالُوْا هَٰذَا عَارِضٌ مُّمۡطِرُنَاۚ بَلۡ هُوَ مَا اسۡتَعۡجَلۡتُمْ بِهِۦۖ رِيحٌ فِيْهَا عَذَابٌ أَلِيمٌ. تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءٍۢ بِأَمۡرِ رَبِّهَا فَأَصۡبَحُوْا لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي الۡقَوۡمَ الۡمُجۡرِمِيْنَ

Artinya : “Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta agar datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,” Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa. (QS. Al Ahqaaf: 24-25)

 

Dan Allah berfirman tentang adzab yang ditimpakan kepada kaum ‘Aad berupa angin yang sangat dingin selama tujuh hari delamapan malam:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهۡلِكُوْا بِرِيْحٍ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٍ. سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٍ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًاۖ فَتَرَى الۡقَوۡمَ فِيْهَا صَرۡعَىً كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٍ

Artinya: Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). (Q.S Al-Haqqah : 6-7)

 

Dan Allah SWT menyelamatkan Nabi Hud as dan pengikutnya yang beriman. Allah berfirman:

فَأَنجَيۡنَٰهُ وَالَّذِيْنَ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٍ مِّنَّا وَقَطَعۡنَا دَابِرَ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِ‍َٔايَٰتِنَاۖ وَمَا كَانُواْ مُؤۡمِنِيْنَ

Artinya : “Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. Al A’raaf: 72)

Hikmah Yang Dapat diambil Dari kisah Nabi Hud dan Kaum ‘Aad

Kisah Nabi Hud : Biografi, Silsilah, Kaum 'Aad dan Hikmah 4

Berikut adalah beberapa Hikmah yang bisa kita petik dari kisah Nabi Hud dan Kaum ‘Aad yaitu sebagai berikut:

  1. Tubuh yang sehat dan kuat, harta benda yang berlimpah, yang dimilki itu hanya titipan dari Allah SWT, dan tidak pantas menjadikan kita sombong
  2. Kita tidak boleh berlaku sewenang-wenang terhdap orang yang lebih lemah dari pada kita
  3. Janji Allah pasti terjadi, kebaikan bagi kaum yang taat dan adzab bagi kaum yang durhaka kepada Allah
  4. Kesabaran, kegigihan, serta pengorbanan Nabi Hud dalam menyerukan agama islam, sepantasnya kita contoh dalam kehidupan sehari-hari

Demikianlah ulasan tentang kisah nabi Hud as yang penuh makna dan syarat dengan hikmah yang bisa kita petik sebagai pembelajaran dalam hidup. silahkan bisa di copy paste, namun jangan lupa untuk menyertakan sumber www.sekolahnesia.com. semoga bermanfaat…

[/su_note]

Alhamdulillah,

والله اعلم بالصواب

wallahu a’lam bishshawab,

ALLAH YANG MAHA TAHU DENGAN SEBENAR-BENARNYA

 

Penulis:

Moh. Nasiruddin

 

DAFTAR ISI

  1. Al Hafizh ibnu Katsir, Kisah Para Nabi dan Rasul, Jakarta: Pustaka as-Sunnah, 2008, cet ke 3, hal 139
  2. Al Hafizh ibnu Katsir, Kisah Para Nabi dan Rasul, Jakarta: Pustaka as-Sunnah, 2008, cet ke 3, hal 140
  3. Ahmad Jadul Mawla dan Abu Al Fadl Ibrahim, Buku induk Kisah Alquran (terj) (Jakarta: Zaman, 2009) h..47-48
  4. Sutrisno Sutrisno, Kisah Dan Materi Dakwah Nabi Hud, Jurnal Volume 13 Nomor 1, Januari-Juni 2017: 183-200
  5. al-Qur’an dan terjemahannaya, Departemen Agama RI, Semarang: CV Asy Syifa’ 2007.

 

Kisah Nabi Hud : Biografi, Silsilah, Kaum ‘Aad dan Hikmah

Leave a Reply