Kisah Nabi Shaleh : Mukjizat, Biografi, Kisah Kaum Tsamud 1

Kisah Nabi Shaleh : Mukjizat, Biografi, Kisah Kaum Tsamud

Kisah Nabi Shaleh – Nama Nabi Shaleh sendiri adalah Shaleh bin Ubaid bin Masih bin Ubaid bin Hajir bin Tsamud bin Abis bin Iram bin Sam bin Nuh as. Jadi Nabi Shaleh as masih keturunan Nabi Nuh a.s. yang keenam. Kisah Nabi Shaleh yang diutus di muka bumi untuk menyerukan kebaikan dan kebenaran terhadap kaum Tsamud, yaitu kaum yang mayoritas pekerjaannya adalah sebagai penggembala, sebagai petan dan sebagai penggali sumur.

Kaum tsamud tinggal di sebuah lembah yang sangat luas yang dinamakan wadi Al-Qura, dan kisah kaum tsamud termaktub dalam salah satu ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Di artikel ini kami akan mengulas tentang kisah nabi Shaleh, Mukjizat Nabi shaleh, Kisah kaum tsamud serta biografi nabi Shaleh.

مَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِيْ لِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى ۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا ﴿الإسراء : ۱۵

Barangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Allah), maka sesungguhnya itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa tersesat maka sesungguhnya (kerugian) itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (QS. Al-Isra’: 15)

Biografi Nabi Shaleh as

Biografi Nabi Shaleh as

Nabi Shaleh AS, adalah anak dari ‘Ubaid bin Jabir bin Tsamud. Kaumnya merupakan bagian dari bangsa arab yang bernama Tsamud saudara judais, tsamud sendiri diambil dari nama kakeknya yang bernama Tsamud bin Amir bin Iram bin Sam bin Nuh.

[/su_note]

Kisah Kaum Tsamud

Kisah Kaum Tsamud

Didalam Kisah Nabi Shaleh, Kaum Tsamud ini menempati daerah dataran al-Hijr terletak antara hijaz dan syam yang di kenal dengan “MADA’IN SALEH” termasuk daerah yang dikuasai oleh kaum ‘Aad. Negeri ini telah kosong ditinggalkan oleh kaum ‘Aad yang telah binasa karena di adzab oleh Allah dengan angin yang sangat dingin dan kencang, setelah sekian lama kaum ‘Aad binasa terdapat suatu kaum yang menempati dan tinggal negeri bekas jajahan kaum ‘Aad.

Kaum baru inilah yang dinamakan dengan kaum Tsamud yaitu penduduk yang beriman di selamatkan oleh Allah beserta nabi Hud as dan mereka pindah ke utara arab Saudi, mereka menetap disana dan membentuk koloni yang lama kelamaan semakin besar dan semakin kuat.

Sebagaimana kaum ‘Aad yang mempunyai keahlian dalam bidang arsitektur mengubah gunung-gunung menjadi bangunan mewah, Kaum Tsamud juga dikenal sebagai kaum yang ahli dalam arsitektur dan entrepreneur yang sangat hebat pada masanya. Kaum tsamud mereka mempunyai peradaban yang lebih maju dari pada kaum ‘Aad, Mereka memahat gunung-gunung dan menjadikannya sebagai tempat tinggal mereka berlindung dari angin padang pasir yang kencang berhawa dingin dan terik panas matahari. Konon bangunan mereka satu sama lain bersambung dengan bangunan yang ada didaratan.

Selain mampu memahat gunung-gunung untuk di jadikan tepat tinggal, kaum Tsamud juga sebagian besar hidup dengan cara agraris, mereka mengembangkan system irigasi yang lebih baik dari kaum ‘Aad, sehingga Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang berlimpah yang pernah dimiliki dan dinikmati kaum ‘Aad berupa Tanah-tanah yang sangat subur mampu diolah oleh kaum tssamud dengan sangat baik sehingga menghasilkan buah-buahan yang bagus-bagus,

kebun-kebun kurma yang luas, yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang ternak yang berkembang biak, kebun-kebun yang luas, bangunan rumah yang didirikan di atas tanah yang datar dan benteng-benteng yang dipahatnya dari gunung. Semua itu menjadikan hidup kaum tsamud tenteram, sejahtera, dan bahagia, merasa aman dari segala gangguan alam, bahkan kaum tsamud mengaku kemewahan mereka akan kekal bagi mereka sampai anak keturunan mereka. Sebagaimana firman Allah dalam surat asy Syura ayat 146-148

أَتُتۡرَكُوْنَ فِيْ مَا هَٰهُنَآ ءَامِنِيْنَ. فِي جَنَّٰتٍ وَّعُيُوْنٍ. وَزُرُوْعٍ وَنَخۡلٍ طَلۡعُهَا هَضِيْمٌ

Artinya : Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan aman, di dalam kebun-kebun serta mata air, dan tanam-tanaman dan pohon-pohon korma yang mayangnya lembut. (Q.S Asy-Syu’ara : 146-148)

 

Keahlian memahat menjadikan gunung-gunung menjadi rumah oleh kaum tsamud di abadikan dalam al-Qur’an

وَاذۡكُرُوْٓا إِذۡ جَعَلَكُمۡ خُلَفَآءَ مِنْۢ بَعۡدِ عَادٍ وَّبَوَّأَكُمۡ فِى الۡأَرۡضِ تَتَّخِذُوْنَ مِنْ سُهُوْلِهَا قُصُوْرًا وَّتَنۡحِتُوْنَ الۡجِبَالَ بُيُوْتًاۖ فَاذۡكُرُوْٓا ءَالَآءَ اللهِ وَلَا تَعۡثَوۡا فِى الۡأَرۡضِ مُفۡسِدِيْنَ

Artinya : Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan. (Q.S. Al-A’raf: 74)

 

وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوْا الصَّخۡرَ بِالۡوَادِ

Artinya : dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, (Q.S. Al Fajr : 9)

Kisah Nabi Shaleh : Dakwah Ke Kaum Tsamud

Kisah Nabi Shaleh : Dakwah Ke Kaum Tsamud

Kaum tsamud tidak mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi pada kaum ‘Aad yang telah binasa karena mereka kaum yang durhaka dan meyekutukan Allah, sejarah terulang lagi Begitu banyak karunia yang diberikan kepada kaum tsamud, kehidupan yang makmur dan kehidupan yang begelimang harta, kelebihan berupa keahlian dan pengetahuan yang lebih maju dari kaum yang lainnya, tidak menjadikan mereka sebagai kaum yang beriman dan bersukur kepada Allha SWT.

mereka tidak mengenal tuhan tetapi kaum tsamud menjadi kaum yang ingkar menyembah berhala dan membuat kerusakan di muka bumi, kaum tsamud menajadikan berhala-berhala yang mereka sembah sebagai tempat untuk meminta perlindungan dari segala musibah, meminta rezeki, dan sebagai tempat mengharap kebaikan.

Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap semua makhluknya, Allah tidak akan menurunkan azab kepada suatu umat sebelum mereka diberi petunjukkan oleh-Nya dengan mengutus seorang rasul-Nya.

Allah mengutus seorang Nabi dan Rasul bagi kaum tsamud dari golongan mereka sendiri, untuk meninggalkan berhala dan menyembah kepada Allah semata. Sebagaimana firman Allah dalam surah QS. Al-A’raf: 73:

وَإِلَىٰ ثَمُوْدَ أَخَاهُم صَٰلِحًا قَالَ يَٰقَوْمِ اعْبُدُوْا اللهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ

Artinya : “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya…” (QS. Al-A’raf: 73).

 

Dan dalam al-Qur’an surat Hud ayat 61,

وَإِلَىٰ ثَمُوْدَ أَخَاهُم صَٰلِحًا قَالَ يَٰقَوْمِ اعْبُدُوْا اللهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الۡأَرۡضِ وَاسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيهَا فَاسۡتَغۡفِرُوْهُ ثُمَّ تُوبُوْٓا إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّيْ قَرِيبٌ مُّجِيبٌ

Artinya : Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)”. (Q.S. Hud : 61)

Nabi Shaleh mengajak kaum tsamud untuk bertobat dan segera minta ampun kepada Allah terhadap segala dosa yang telah mereka kerjakan, sebagaiman dgambarkan dalam al-Qur’an :

لَولَا تَستَغفِرُوْنَ اللهَ لَعَلَّكُم تُرْحَمُوْنَ

“…Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat” (QS. An-Naml: 46).

 

Nabi shaleh berdakwah dengan kata-kata yang lemah lembut, mengingatkan akan nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka, mengingatkan akan kebesaran Allah yang telah memberikan keahlian kepada mereka berupa memahat batu cadas besar dan gunung-gunung menjadi rumah bari mereka, itu semua dilakukan oleh Nabi shaleh supaya mereka kaum tsamud hatinya menjadi luluh, sadar, dan kembali ke jalan yang benar yaitu menyembah hanya kepada Allah SWT semata, namu kaum tsamud malah menuduh nabi Shaleh telah terkena sihir, pendusta, gila dan sesat dan lain lainnya, sebagaiman yang tertuang dalam al-Qur’an :

قَالُوْٓا إِنَّمَآ أَنْتَ مِنَ الۡمُسَحَّرِيْنَ

Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir; (Q.S. Ash Shu’ara: 153)

فَقَالُوْٓا أَبَشَرًا مِّنَّا وَٰحِدًا نَّتَّبِعُهُۥٓ إِنَّآ إِذًا لَّفِيْ ضَلَٰلٍ وَسُعُرٍ. أَءُلۡقِيَ الذِّكۡرُ عَلَيۡهِ مِنْۢ بَيۡنِنَا بَلۡ هُوَ كَذَّابٌ أَشِرٌ

Artinya : Maka mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?” Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila”. Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya di antara kita? Sebenarnya dia adalah seorang yang amat pendusta lagi sombong. (Q.S Al-Qamar : 24-25

 

Selain menuduh Nabi shaleh terkena sihir, mereka juga meminta bukti berupa mu’jizat kalau untuk memebuktikan bahwa Nabi shaleh bener-benar seorang nabi, dan mereka akan akan beriman kalau Nabi shaleh mengabulkan permintaan mereka, sebagaimana apa yang diceritakan dalam al-Qur’an :

مَآ أَنْتَ إِلَّا بَشَرٌ مِّثۡلُنَا فَأۡتِ بِ‍َٔايَةٍ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّٰدِقِيْنَ

Artinya : Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar”. (Q.S Asy-Syu’ara 154)

[/su_note]

Menurut Ibnu Katsir dan para mufassirin yang lainnya menyebutkan suatu hari ketika kaum tsamud sedang berkumpul seperti biasanya di tempat perkumpulan mereka, Nabi shaleh datang dan berdakwah mengajak kepada mereka untuk beriman dan menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dan mengingatkan akan adzab Allah apabila mereka tetap menjadi kaum yang ingkar dan durhaka, dengan sombong kaum tsamud menolak ajakan Nabi Shaleh, penolakan mereka di abadikan dalam al-Qur’an surat hud ayat 62:

قَالُوا يَٰصَٰلِحُ قَدۡ كُنْتَ فِيْنَا مَرۡجُوًّا قَبۡلَ هَٰذَآۖ أَتَنۡهَىٰنَآ أَنْ نَّعۡبُدَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا وَإِنَّنَا لَفِيْ شَكٍّ مِّمَّا تَدۡعُوْنَآ إِلَيۡهِ مُرِيْبٍ

Artinya : Kaum Tsamud berkata: “Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-betul dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami”. (Q.S Hud : 62)

Malah mereka menantang Nabi shaleh untuk didtangkan suatu mukjizat yang menunjukkan kalau apa yang diserukan oleh Nabi Shaleh itu memang benar. Mereka meminta nabi shaleh untuk mengeluarkan seekor unta betina dari sebuah batu besar ini, mereka tunjuk sebongkah batu besar ditempat itu dengan ciri-ciri yang mereka inginkan dan sedang hamil 10 bulan.

maka Nabi Sholeh menjawab atas kehendak Allah SWT saya bisa mengeluarkan unta seperti apa yang kalian inginkan, maukah kalian berjanji akan percaya dengan apa yang saya sampaikan kepada kalian, dan akan meninggalkan berhala dan akan menyembah kepada Allah SWT semata, akhirnya merekapun menyetujui perjanjian tersebut.

Kemudian Nabi Shaleh bangkit dan pergi ketempat ibadah lalu sholat dan berdoa kepada Allah SWT agar mengabulkan permintaan mereka, dengan tujuan setelah melihat mukjizat itu mereka tidak mempunyai alasan untuk tidak beriman.

Allah SWT mengabulkan doa Nabi Shaleh, memberi perintah kepada batu untuk pecah dan mengeluarkan seekor unta sesuai dengan permintaan mereka. Ketika mereka menyaksikan peristiwa yang menakjubkan itu dengan mata kepala mereka sendiri sebagian dari mereka ada yang beriman namun kebanyakan dari mereka tetap dalam kekufurannya. Peristiwa ini di abadikan dalam al-Qur’an :

قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّيْ وَءَاتَىٰنِيْ مِنۡهُ رَحۡمَةً فَمَنْ يَنصُرُنِيْ مِنَ اللهِ إِنۡ عَصَيۡتُهُۥۖ فَمَا تَزِيْدُْونَنِيْ غَيۡرَ تَخۡسِيْرٍ

Shaleh berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapakah yang akan menolong aku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya. Sebab itu kamu tidak menambah apapun kepadaku selain daripada kerugian. (Q.S Hud : 63)

 

وَإِلَىٰ ثَمُوْدَ أَخَاهُم صَٰلِحًا قَالَ يَٰقَوْمِ اعْبُدُوْا اللهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُۥۖ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمۡۖ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ اللهِ لَكُمۡ ءَايَةًۖ فَذَرُوْهَا تَأۡكُلۡ فِيْٓ أَرۡضِ اللهِۖ وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوٓءٍ فَيَأۡخُذَكُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya : Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”. (Q.S. Al-A’raf : 73)

 

Dan Nabi Shaleh memperingatkan kepada mereka supaya tidak menganggu unta itu.

قَالَ هَٰذِهِۦ نَاقَةُ لَّهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَومٍ مَّعْلُوْمٍ. وَلَا تَمَسُّوْهَا بِسُوْءٍ فَيَأْخُذَكُم عَذَابُ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

Artinya : “Shaleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar” (QS. As-Syu’ara’: 155-156).

 

Kisah Nabi Shaleh : Pembunuhan Unta Nabi Shaleh as

Kisah Nabi Shaleh : Pembunuhan Unta Nabi Shaleh as

Setelah Nabi Shaleh berhasil mengabulkan permintaan Kaum tsamud, gagal usaha mereka untuk menjatuhkan wibawa dan menghilangkan pengaruh Nabi Shaleh, Maka mereka menghasut pemilik-pemilik perternakan yang tidak senang dengan kehadiran unta Nabi Saleh yang merajalela di ladang mereka serta ditakuti oleh semua hewan ternak mereka.

Setelah kondisi ini berlangsung cukup lama, maka pemimpin-pemimpin dari mereka bersekongkol untuk membunuh unta Nabi Shaleh as, supaya mereka tenang dan dapat mencukupi kebutuhan air bagi mereka dan hewan ternak mereka. Pihak ketiga yaitu syetan mensuport rencana mereka untuk membunuh unta Nabi Shaleh as, Allah SWT berfirman:

فَعَقَرُوْا النَّاقَةَ وَعَتَوۡا عَنۡ أَمۡرِ رَبِّهِمۡ وَقَالُوْا يَٰصَٰلِحُ ائۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِنْ كُنْتَ مِنَ الۡمُرۡسَلِيْنَ

Artinya : Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. (Q.S Al-A’raf : 77)

Dalam kisah nabi shaleh, Yang berperan besar pembunuhan unta Nabi Shaleh as adalah pemimpin mereka yaitu Qidar bin Salif bin Junda, ia mempunyai warna kulit merah, biru dan rambutnya pirang. Dan juga ada dua wanita dari kaum tsamud yang ikut andil dalam rencana pembunuhan unta Nabi Shaleh yaitu :

  1. Shaduq binti al Mihya bin Zuhair bin al Mukhtar yang kaya raya dan memiliki kedudukan, ia adalah seorang janda, ia menawarkan dirinya sendiri kepada keponaannya Mishra’ bin Mahraj bin al Mihya, apabila ia mau membunuh unta Nabi Shaleh.
  2. Unaizah binti Ghuraim bin Majlaz, ia seorang wanita tua yang kafir dan memiliki empat anak perempuan, keempat anaknya akan diberikan kepada Qidar bin Salif bin Junda bila ia membunuh unta Nabi Shaleh as.

Tanpa pikir panjang kedua pemuda itu menerima tawaran itu, dan mereka berdua mencari dan mengumpulkan kaumnya untuk membantu nya membunuh unta Nabi Shaleh as, maka terkumpullah tujuh orang sehingga jumlah mereka menajdi Sembilan orang, dan Sembilan orang inilah yang tertera dalam al-Qur’an dalam membunuh unta Nabi Shaleh sebgaimana firman Allah SWT :

وَكَانَ فِى الۡمَدِينَةِ تِسۡعَةُ رَهۡطٍ يُفۡسِدُوْنَ فِى الۡأَرۡضِ وَلَا يُصۡلِحُوْنَ

Artinya : Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan. (Q.S An-Naml : 48)

 

Mereka mengajak kabilah-kabilah untuk bergabung membunuh unta betina itu, mereka setuju dan mengintai unta tersebut, ketika baru keluar dari tempat air, maka unta itu di panah dan kena betisnya dan qidar langsung menyembelih untu betina tersebut, sedangkan anak unta lari ke atas gunug dan berkata tiga kali “Wahai Rabb ku dimanakah ibu ku?” setelah itu anak unta tersebut masuk batu dan menghilang, tapi ada yang mengatakan anak unta tersebut ikut di bunuh oleh kaum tsamud yang durhaka kepada Allah, peristiwa ini di abadikan dalam al-Qur’an:

فَنَادَوۡا صَاحِبَهُمۡ فَتَعَاطَىٰ فَعَقَرَ. فَكَيۡفَ كَانَ عَذَابِيْ وَنُذُرِ

Artinya : Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. (Q.S Al-Qamar :29-30)

 

إِذِ انْۢبَعَثَ أَشۡقَىٰهَا. فَقَالَ لَهُمۡ رَسُوْلُ اللهِ نَاقَةَ اللهِ وَسُقۡيَٰهَا. فَكَذَّبُوْهُ فَعَقَرُوْهَا فَدَمۡدَمَ عَلَيۡهِمۡ رَبُّهُمْ بِذَنْۢبِهِمۡ فَسَوَّىٰهَا. وَلَا يَخَافُ عُقۡبَٰهَا

Artinya : ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (“Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya”. Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah), dan Allah tidak takut terhadap akibat tindakan-Nya itu. (Q.S. Ash-Syams : 12-15)

[/su_note]

Kaum Tsamud Berencana Membunuh Nabi Shaleh

Kaum Tsamud Berencana Membunuh Nabi Shaleh

Setelah berhasil membunuh unta betina Nabi Shaleh berkata, bergembiralah kalian di dalam rumah kalian selama tiga hari, setelah mendengar perkataan Nabi Shaleh mereka tambah geram dan akan melakukan makar yang lebih besar yaitu berncana untuk membunuh Nabi Shaleh as, diceritakan dalam al-Qur’an:

فَعَقَرُوْهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوْا فِيْ دَارِكُمۡ ثَلَٰثَةَ أَيَّامٍۖ ذَٰلِكَ وَعۡدٌ غَيۡرُ مَكۡذُوْبٍ

Artinya : Mereka membunuh unta itu, maka berkata Shaleh: “Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan”. (Q.S Hud : 65)

 

قَالُوْا تَقَاسَمُوْا بِاللهِ لَنُبَيِّتَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥ ثُمَّ لَنَقُوْلَنَّ لِوَلِيِّهِۦ مَا شَهِدۡنَا مَهۡلِكَ أَهۡلِهِۦ وَإِنَّا لَصَٰدِقُوْنَ. وَمَكَرُوْا مَكۡرًا وَمَكَرۡنَا مَكۡرًا وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ. فَانْظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ مَكۡرِهِمۡ أَنَّا دَمَّرۡنَٰهُمۡ وَقَوۡمَهُمۡ أَجۡمَعِيْنَ. فَتِلۡكَ بُيُوتُهُمۡ خَاوِيَةًۢ بِمَا ظَلَمُوْٓاۚ إِنَّ فِيْ ذَٰلِكَ لَأٓيَةً لِّقَوۡمٍ يَعۡلَمُوْنَ. وَأَنجَيۡنَا الَّذِيْنَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُوْنَ

Artinya : Mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”. Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.

Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui. Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa. (Q.S An-Naml : 49-53)

 

Kisah Nabi Shaleh : Adzab Bagi Kaum Tsamud Yang Durhaka

Kisah Nabi Shaleh : Adzab Bagi Kaum Tsamud Yang Durhaka

Satu hari sebelum adzab yang telah datang menimpa kaum tsamud, dengan perintah Allah Nabi Shaleh dan para pengikutnya pergi menuju Ramlah di palestina meninggalkan Hijr, Nabi Shaleh dan pengikutnya menetap di Ramlah dan hidup disana, kaum Tsamud yang durhaka habis binasa, ditimpa adzab dari Allah.

Sebelum meninggalkan Ramlah Nabi shaleh mengatakan adzab yang akan menimpa kaum tsamud, akan di dahului oleh tanda wajah mereka akan berubah selama tiga hari antara lain:

  1. Pada hari kamis pagi hari, wajah kaum tsamud yang durhaka berubah kekuning-kuningan,
  2. Hari jum’at wajah kaum tsamud yang durhaka berubah kemerah-merahan
  3. Hari sabtu wajah kaum tsamud berubah kehitam-hitaman
  4. Hari minggu pagi hari, keluarlah suara berupa halilintar yang dahsyat dari langit dan gempa dari bumu, semua bergoncang dengan dahsyat, begitu cepat kejadian adzab itu, dengan sekejap mata kaum tsamud yang durhaka menjadi mayat yang berserakan dan bergelimpangan.

 

Kejadian ini diceritakan dalam al-Qur’an :

فَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا نَجَّيۡنَا صَٰلِحًا وَالَّذِيْنَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ بِرَحۡمَةٍ مِّنَّا وَمِنۡ خِزۡيِ يَوۡمِئِذٍۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الۡقَوِيُّ الۡعَزِيْزُ. وَأَخَذَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا الصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِيْ دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِيْنَ. كَأَنْ لَّمۡ يَغۡنَوۡا فِيْهَآۗ أَلَآ إِنَّ ثَمُوْدَا كَفَرُوْا رَبَّهُمۡۗ أَلَا بُعۡدًا لِّثَمُوْدَ

Artinya : Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-Lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya, seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud. (Q.S Hud 66-68)

Itulah Kisah Nabi Shaleh AS yang penuh dengan hikmah yang bisa kita petik sebagai pembelajaran dalam kehidupan kita. semoga Kisah tentang Nabi Shaleh AS dan Kisah Kaum Tsamud diatas bisa bermanfaat untuk kita semua…

[/su_note]

Alhamdulillah,

والله اعلم بالصواب

wallahu a’lam bishshawab,

ALLAH YANG MAHA TAHU DENGAN SEBENAR-BENARNYA

 

Penulis:

Moh. Nasiruddin

Kisah Nabi Shaleh : Mukjizat, Biografi, Kisah Kaum Tsamud

Leave a Reply