Kisah Nabi Syuaib : Dakwah, Adzab Kaum Madyan dan Aikah 1

Kisah Nabi Syuaib : Dakwah, Adzab Kaum Madyan dan Aikah

Kisah Nabi Syuaib – Nabi Syuaib merupakan salah satu Nabi yang berasal dari bangsa Arab sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW : dalam kitab Shahih Ibnu Hibban dari Abu Dzar dengan Hadits yang cukup panjang tentang Nabi dan Rasul Nabi Muhammad SAW Bersabda

أَرْبَعَةٌ مِنَ الْعَرَبِ هُودٌ وَصَالِحٌ وَشُعَيْبٌ وَنَبِيُّكَ يَا أَبَا ذَرٍّ

Artinya “Diantara mereka ada Empat nabi yang berasal dari orang arab; Hud, Shaleh, Syu’aib, dan Nabimu (Muhammad) wahai Abu Dzar.” (HR. Ibnu Hibban).

Biodata Nabi Syu’aib as

Biodata Nabi Syu’aib as

Sebagian ahli sejarah berbeda pendapat dalam menyebutkan nasab Nabi Syuaib, ada yang mengatakan Syuaib bin Yasyjan bin Lawly bin Ya’qub, Ada juga yang mengatakan Syu’aib bin Nuwaib bin ‘Ifa bin Madyan bin Ibrahim, ada juga yang berpendapat Syu’aib bin Zhaifur bin ‘Ifa bin Tsabit bin Madyan bin Ibrahim, tetapi ada juga yang berpendapat tentang nasab Nabi Syu’aib sebagai berikut Syu’aib bin Mikil bin Yasjir bin Madyan bin Ibrahim bin Azara bin Nahur bin Suruj bin Ra’u bin Falij bin ʿAbir bin Syalih bin Arfahsad bin Sam bin Nuh.

Dalam buku kisah para Nabi dan Rasul karya al-Hafidz Ibnu Katsir menerangkan bahwa Syuaib dan Mulgham adalah orang yang beriman kepada Nabi Ibrahim yang ikut hijrah ke syam, dan selanjutnya mereka berdua dinikahkan dengan putri Nabi Luth as.

 

Kondisi Kaum Madyan dan Aikah

Kondisi Kaum Madyan dan Aikah

Kaum Madyan merupakan suatu kaum arab yang tinggal di kota madyan, letak kota madyan berada di sekitar daerah Ma’an di daerah syam di sebelah tepian kota hijaz dekat dengan laut tempat reruntuhan dimsunahkannya kaum Nabi Luth. waktu munculnya kaum madyan dan aikah sangat dekat dengan musnahnya kaum Sodom. Pekerjaan Penduduk madyan adalah sebagai pedagang dan petani.

Sedangka kaum Aikah lokasinya berdekatan dengan kaum madyan yang penduduknya menyembah hutan lebat yang didalamnya tumbuh pohon-pohon yang sangat besar, penghasilan mereka adalah sama dengan kaum Madyan petani dan pedagang.

Ada juga yang berpendapat kalau kaum aikah adalah kaum madyan yang menyembah aikah, karena aikah sendiri diartikan pohon besar yang dikelilingi oleh tumbuhan ilalang yang lebat.

Tetapi bila dilihat dari al-Qur’an kaum madyan dan aikah adalah kaum yang berbeda, namun lokasinya berdekatan, hal ini dibuktikan oleh adzab yang mereka terima, yaitu kaum madyan gempa yang dahsyat, sedangkan kaum aikah adzabnya berupa segumpalan awan, seperti firman Allah:

Adzab kepada kaum Madyan berupa gempa :

وَقَالَ الۡمَلَأُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوۡمِهِۦ لَئِنِ اتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذًا لَّخَٰسِرُوْنَ. فَأَخَذَتۡهُمُ الرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُوْا فِيْ دَارِهِمۡ جَٰثِمِيْنَ. الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا شُعَيۡبًا كَأَنْ لَّمۡ يَغۡنَوۡا فِيْهَاۚ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا شُعَيۡبًا كَانُوْا هُمُ الۡخَٰسِرِيْنَ

Artinya : Dan Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi”. Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi. (Q.S Al-A’raf : 90-92)

 

Adzab kepada kaum Aikah berupa gumpalan awan :

فَكَذَّبُوْهُ فَأَخَذَهُمۡ عَذَابُ يَوۡمِ الظُّلَّةِۚ إِنَّهُ‘ كَانَ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيْمٍ

Artinya : Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar. (Q.S Ash-Shu’ara : 189)

Kisah Nabi Syuaib Diutus Ke Kaum Madyan

Kisah Nabi Syuaib Diutus Ke Kaum Madyan

Sama seperti kaum luth, kaum nuh dan kaum soleh mereka di binasakan oleh Allah karena durhaka kepada Allah, begitupun kaum madyan kaumnya pada kisah Nabi Syuaib mereka diadzab karena mereka durhaka dan mendustakan Nabi Syu’aib,

Kehidupan kaum madyan bergelimang dengan harta, namun kekayaan mereka tidak membuat mereka bersukur, malah mereka melakukan penipuan atau kecurangan dalam perdagangan. Dalam perdagangan mereka (Madyan) selalu mengurangi takaran timbangan dari semestinya. Jika mereka membeli mereka akan meminta takaran yang sempurna tapi apabila mereka berjualan mereka akan mengurangi takaran timbangannya, perbuatan mereka di cela dan di abadikan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

وَيۡلٌ لِّلۡمُطَفِّفِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا اكۡتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسۡتَوۡفُوْنَ. وَإِذَا كَالُوْهُمۡ أَوْوَّزَنُوْهُمۡ يُخۡسِرُوْنَ.

Artinya : “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifiin: 1-3).

selain itu mereka suka menimbun barang dan akan menjualnya dengan harga yang sangat tinggi, selain mengurangi takaran timbangan dalam melakukan jual beli mereka juga menghalang-halangi dan menakut-nakuti orang yang beriman dari jalan Allah, mereka menginginkan supaya tidak ada yang percaya kepada Nabi Syuaib,

 

Dari keadaan seperti itu Nabi Syuaib diutus, seperti Firman Allah SWT:

وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡبًاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ اعۡبُدُوْا اللهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ وَلَا تَنْقُصُوا الۡمِكۡيَالَ وَالۡمِيْزَانَۖ إِنِّيْٓ أَرَىٰكُم بِخَيۡرٍ وَإِنِّيْٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ مُّحِيْطٍ

Artinya : Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”. (Q.S Hud : 84)

 

setelah diangkat dan diutus ke kaum Madyan Nabi Syu’aib langsung menyeru kepada mereka dengan Bahasa yang bagus, maka dari itu Nabi Syu’aib dapat gelar Khatibul Anbiya’ karena kefasihan dan berbobotnya dakwah beliau serta sastranya yang apik ketika menyampaikan dakwahnya, Nabi Syu’iab mengajak kaum madyan untuk meninggalkan sesembahan mereka dan menyembah hanya kepada Allah, dan meninggalkan perbuatan curang mereka dalam melakukan perdangangan yaitu meninggalkan perbuatan mengurangi timbangan. dan menghentikan perbuatan mereka yaitu menghalang-halangi orang untuk beriman kepada Allah, Firman Allah :

وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡبًاۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ اعۡبُدُوا اللهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥۖ قَدۡجَآءَتۡكُم بَيِّنَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمۡۖ فَأَوۡفُوا الۡكَيۡلَ وَالۡمِيْزَانَ وَلَا تَبۡخَسُوا النَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تُفۡسِدُوْا فِى الۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَاۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٌ لَّكُمۡ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤۡمِنِيْنَ ﴿85﴾ وَلَا تَقۡعُدُوْا بِكُلِّ صِرَٰطٍ تُوْعِدُوْنَ وَتَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ مَنۡ ءَامَنَ بِهِۦ وَتَبۡغُوْنَهَا عِوَجًاۚ وَاذۡكُرُوْٓا إِذۡ كُنْتُمۡ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمۡۖ وَانظُرُوْا كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ الۡمُفۡسِدِيْنَ﴿87﴾ وَإِنْ كَانَ طَآئِفَةٌ مِّنْكُمۡ ءَامَنُوْا بِالَّذِيْٓ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ وَطَآئِفَةٌ لَّمۡ يُؤۡمِنُوْا فَاصۡبِرُوْا حَتَّىٰ يَحۡكُمَ اللهُ بَيۡنَنَاۚ وَهُوَ خَيۡرُ الۡحَٰكِمِيْنَ ﴿87﴾

Artinya : Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”.

Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (Q.S Al-A’raf : 98-87)

 

Berikut dakwah Nabi Syu’aib yang ada dalam al-Qur’an :

Didalam Kisah Nabi Syuaib, beliau juga mengambarkan bahwa keuntungan yang sedikit tapi halal itu lebih baik dari keuntungan yang besar tapi dari hasil curang, Firman Allah:

بَقِيَّتُ اللهِ خَيۡرٌ لَّكُمۡ إِنْ كُنْتُمْ مُّؤۡمِنِيْنَۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيْظٍ

Artinya : Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu” (Q.S Hud: 86)

 

Tapi kaum madyan tidak menerima dakwah Nabi Syu’aib sambil berkata sebagaimana yang digambarkan dalam al-Qur’an:

قَالُوْا يَٰشُعَيۡبُ أَصَلَوٰتُكَ تَأۡمُرُكَ أَنْ نَّتۡرُكَ مَا يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَآ أَوۡ أَن نَّفۡعَلَ فِيْٓ أَمۡوَٰلِنَا مَا نَشَٰٓؤُاۖ إِنَّكَ لَأَنْتَ الۡحَلِيْمُ الرَّشِيْدُ

Artinya : Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”. (Q.S Hud : 87)

 

Nabi Syu’aib menjawab pertanyaan kaum madyan :

قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَءَيۡتُمۡ إِنْ كُنْتُ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّيْ وَرَزَقَنِيْ مِنۡهُ رِزۡقًا حَسَنًاۚ وَمَآ أُرِيْدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ إِنۡ أُرِيدُ إِلَّا الۡإِصۡلَٰحَ مَا اسۡتَطَعۡتُۚ وَمَا تَوۡفِيْقِيْٓ إِلَّا بِاللهِۚ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ وَإِلَيۡهِ أُنِيْبُ . وَيَٰقَوۡمِ لَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شِقَاقِيْٓ أَنْ يُصِيْبَكُم مِّثۡلُ مَآ أَصَابَ قَوۡمَ نُوحٍ أَوۡ قَوۡمَ هُودٍ أَوۡ قَوۡمَ صَٰلِحٍۚ وَمَا قَوۡمُ لُوطٍ مِّنْكُم بِبَعِيْدٍ

Artinya : Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali. Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu. (Q.S Hud : 88-89)

 

Nabi Syu’aib menyuruh mereka untuk segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar :

وَاسۡتَغۡفِرُوْا رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوْبُوْٓا إِلَيۡهِۚ إِنَّ رَبِّيْ رَحِيْمٌ وَدُوْدٌ

Artinya : Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih. (Q.S Hud : 90)

 

Namun apa yang disampaikan Nabi Syu’aib tidak membuat mereka sadar, malah mereka berkata kepada Nabi Syu’aib dengan kalimat mengejek dan menghina mengancam merajam Nabi Syu’aib :

قَالُوْا يَٰشُعَيۡبُ مَا نَفۡقَهُ كَثِيرًا مِّمَّا تَقُوْلُ وَإِنَّا لَنَرَىٰكَ فِيْنَا ضَعِيْفٗاۖ وَلَوۡلَا رَهۡطُكَ لَرَجَمۡنَٰكَۖ وَمَآ أَنْتَ عَلَيۡنَا بِعَزِيْزٍ

Artinya : Mereka berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami”. (Q.S Hud : 91)

 

Nabi Syu’aib Menjawab hinaan mereka dengan berkata:

قَالَ يَٰقَوۡمِ أَرَهۡطِيْٓ أَعَزُّ عَلَيۡكُم مِّنَ اللهِ وَاتَّخَذۡتُمُوْهُ وَرَآءَكُمۡ ظِهۡرِيًّاۖ إِنَّ رَبِّيْ بِمَا تَعۡمَلُوْنَ مُحِيْطٌ. وَيَٰقَوۡمِ اعۡمَلُوْا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمۡ إِنِّيْ عَٰمِلٌۖ سَوۡفَ تَعۡلَمُوْنَ مَنْ يَأۡتِيْهِ عَذَابٌ يُخۡزِيْهِ وَمَنۡ هُوَ كَٰذِبٌۖ وَارۡتَقِبُوْٓا إِنِّيْ مَعَكُمۡ رَقِيْبٌ

Artinya : Syu’aib menjawab: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan”. Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu”. (Q.S Hud : 92-93)

 

Didalam kisah Nabi Syuaib, beliau melakukan berbagai cara untuk mengajak kaum madyan agar mau menyembah Allah semata dan mengajak mereka untuk meninggalkan kecurangan berupa mengurangi takaran timbangan dalam berdangan. Akan tetapi mereka (kaum madyan) menolak dengan keras dan mengancam merajam serta mengusir Nabi Syu’aib, kemudian Nabi Syu’aib memohon pertolongan kepada Allah agar diturunkan adzab kepada kaum madyan seraya berdo’a:

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمُنَا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ

Artinya : ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya yakni Engkau sebaik-baik hakim.

 

Kisah Nabi Syuaib : Adzab Bagi Kaum Madyan

Kisah Nabi Syuaib : Adzab Bagi Kaum Madyan

Dalam Kisah Nabi Syuaib, Allah SWT menyelamatkan Nabi Syuaib dengan meninggalkan kaum madyan ke kaum aikah, maka turunlah adzab Allah kepada kaum madyan berupa Guntur dan gempa yang sangat dahsyat, dan mayat-mayat mereka bergelimpangan, sebagaimana yang tertuang dalam al-Qur’an:

وَلَمَّا جَآءَ أَمۡرُنَا نَجَّيۡنَا شُعَيۡبًا وَالَّذِيْنَ ءَامَنُوْا مَعَهُ‘ بِرَحۡمَةٍ مِّنَّا وَأَخَذَتِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا الصَّيۡحَةُ فَأَصۡبَحُوْا فِيْ دِيَٰرِهِمۡ جَٰثِمِيْنَ. كَأَن لَّمۡ يَغۡنَوۡا فِيْهَآۗ أَلَا بُعۡدًا لِّمَدۡيَنَ كَمَا بَعِدَتۡ ثَمُوْدُ

Artinya : Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa. (Q.S Hud : 94-95)

 

وَقَالَ الۡمَلَأُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوۡمِهِۦ لَئِنِ اتَّبَعۡتُمۡ شُعَيۡبًا إِنَّكُمۡ إِذًا لَّخَٰسِرُوْنَ. فَأَخَذَتۡهُمُ الرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِيْ دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ. الَّذِينَ كَذَّبُوْا شُعَيۡبًا كَأَنْ لَّمۡ يَغۡنَوۡا فِيْهَاۚ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا شُعَيۡبًا كَانُوْا هُمُ الۡخَٰسِرِيْنَ

Artinya : Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu’aib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi”. Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi. (Q.S Al-A’raf : 90-92)

 

Kisah Nabi Syuaib : Dakwah dan Adzab Bagi Kaum Aikah

Kisah Nabi Syuaib : Dakwah dan Adzab Bagi Kaum Aikah

Pada Kisah Nabi Syuaib, Keadaan kaum aikah sama dengan kaum madyan yaitu curang dalam berdagang, Nabi Syu’aib berdakwah kepada kaum aikah untuk menyembah Allah semata, dan meninggalkan sesembahan mereka, serta mengajak berbuat adil ketika melakukan jual beli yaitu menyempurnakan takaran timbangan mereka, namun penduduk Aikah sama dengan penduduk Madyan yaitu durhaka kepada dan Nabinya.

Mereka dengan congkak menolak ajakan Nabi Syu’aib untuk menyembah Allah SWT. Mereka berani menghina dan mengancam Nabi Syu’aib untuk menghentikan dakwahnya. Puncak durhaka mereka yaitu menantang agar Nabi Syu’aib secepatnya mendatangkan azab seperti yang diancamkan kepada mereka. Karena kaum aikah terus menerus berbuat durhaka dan kemaksiatan. Hati dan pikiran mereka sudah tertutup oleh hawa nafsu dan ajakan setan, mereka tidak bisa diajak ke jalan yang benar, dan tidak bisa diajak untuk beriman kepada Allah, maka Allah mendatangkan adzab bagi mereka berupa awan panas selama tujuh hari. Seperti yang tetuang pada al-Qur’an surah ash Shu’ara ayat 176-191:

 

كَذَّبَ أَصۡحَٰبُ لۡئَ‍َٔيۡكَةِ الۡمُرۡسَلِيْنَ ﴿176﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ شُعَيۡبٌ أَلَا تَتَّقُوْنَ ﴿177﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٌ ﴿178﴾ فَاتَّقُوا اللهَ وَأَطِيْعُونِ ﴿179﴾ وَمَآ أَسۡ‍َٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الۡعَٰلَمِينَ ﴿180﴾ أَوۡفُوا الۡكَيۡلَ وَلَا تَكُوْنُوْا مِنَ الۡمُخۡسِرِيْنَ ﴿181﴾ وَزِنُوْا بِالۡقِسۡطَاسِ الۡمُسۡتَقِيْمِ ﴿182﴾ وَلَا تَبۡخَسُوا النَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تَعۡثَوۡا فِى الۡأَرۡضِ مُفۡسِدِيْنَ ﴿183﴾ وَاتَّقُوا الَّذِيْ خَلَقَكُمۡ وَالۡجِبِلَّةَ الۡأَوَّلِيْنَ ﴿184﴾ قَالُوْٓا إِنَّمَآ أَنْتَ مِنَ الۡمُسَحَّرِيْنَ ﴿185﴾ وَمَآ أَنْتَ إِلَّا بَشَرٌ مِّثۡلُنَا وَإِنْ نَّظُنُّكَ لَمِنَ الۡكَٰذِبِيْنَ ﴿186﴾ فَأَسۡقِطۡ عَلَيۡنَا كِسَفًا مِّنَ السَّمَآءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّٰدِقِيْنَ ﴿187﴾ قَالَ رَبِّيْٓ أَعۡلَمُ بِمَا تَعۡمَلُوْنَ ﴿188﴾ فَكَذَّبُوْهُ فَأَخَذَهُمۡ عَذَابُ يَوۡمِ الظُّلَّةِۚ إِنَّهُ‘ كَانَ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيْمٍ ﴿189﴾ إِنَّ فِيْ ذَٰلِكَ لَأٓيَةًۖ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِيْنَ ﴿190﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الۡعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ ﴿191﴾

Artinya : Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul; ketika Syu’aib berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?, Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu. maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku; dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu”.

Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir, dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta. Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Syu’aib berkata: “Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (Q.S ash Shu’ara ayat 176-191)

 

Hikmah Dari Kisah Nabi Syuaib

Kisah Nabi Syuaib : Dakwah, Adzab Kaum Madyan dan Aikah 2

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Syuaib antara lain:

  1. Kesabaran dan kegigihan Nabi Syuaib dalam menyeru kebenaran kepada kaumnya yang durhaka.
  2. Mengurangi takaran timbangan dalam perdagangan merupakan perbuatan yang merugikan orang lain dan perbuatan tercela yang sangat di benci oleh Allah dan rasulnya, orang yang melakukannya akan mendapatkan adzab yang sangat pedih.
  3. Keuntungan yang sedikit tapi halal lebih bermanfaat bagi kita, dari pada mendapatkan keuntungan tapi dengan cara curang.
  4. Kesombongan akan mendatangkan kesengsaraan bagi kita, sifat sombong tidak disukai oleh Allah dan semua makhluk di bumi.

Demkianlah ulasan yang insya Allah lengkap terkait dengan  kisah nabi Syuaib AS yang penuh makna dan syarat akan hikmah yang bisa kita ambil. semoga sedikit tulisan ini bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca. jangan lupa untuk mencantumkan sumber dan penulis jika anda mau mencopy artikel ini. trimakasih

 

Alhamdulillah,

والله اعلم بالصواب

wallahu a’lam bishshawab,

ALLAH YANG MAHA TAHU DENGAN SEBENAR-BENARNYA

 

Penulis:

Moh. Nasiruddin

 

Kisah Nabi Syuaib : Dakwah, Adzab Kaum Madyan dan Aikah

Leave a Reply