Kisah Nabi Nuh AS : Biografi, Silsilah, Kisah kisah Penting 1

Kisah Nabi Nuh AS : Biografi, Silsilah, Kisah kisah Penting

Kisah Nabi Nuh – Nabi Nuh AS merupakan Nabi ke 3 yang di sebut dalam al-Qur’an dari dua puluh lima (25) Nabi, Nabi Nuh keturunan ke 9 dari Nabi Adam. Nabi Nuh merupakan Keturunan ke sembilan dari Nabi Adam. berikut adalah Firman Allah yang berkaitan dengan Nabi Nuh AS:

إِنَّآ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلىٰ قَوْمِهِۦٓ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”, (Q.S. An-Nuh : 1)

 

Biografi Nabi Nuh AS

Biografi Nabi Nuh AS

Nama Nabi Nuh dilihat dari silsilat keturunan sampai Nabi adam adalah : Nuh bin lamik bin Mutawasysyilakh bin Khanukh (Nabi Idris) bin Yazid bin Malayil bin Qanin bin Anusy bin Syits bin Adam as bapak semua manusia. ….

(1) Menurut pendapat sejarawan dan di yakini oleh mereka bahwa Nabi Nuh lahir diantara kota Nahrawain dan Kuffah…

(2) Masih ada simpang siur tentang nama asli Nabi Nuh, namun menurut salah satu pendapat nama asli Nabi nuh adalah Abdul Ghafar, Abdul Malik, Abdul Ali. Setelah Nabi Adam wafat ada jarak antara keduanya, ada yang berpendapat ada jarak 140 tahun dari Nabi Adam meninggal dunia dengan kelahiran Nabi Nuh, namun ada yang berpendapat dari para ahli sejarah jarak antara Nabi Adam as dan Nuh as ada rentang waktu 10 generasi dari kematian Nabi Adam dan Nabi Nuh lahir, diperkirakan kurang lebih 1642 tahun….

(3) Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Thabrani mengatakan jarak antara Nabi Adam as dan Nabi Nuh as adalah 10 abad, Saya mendengar Abu Umamah berkata, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, Apakah Adam seorang Nabi: “Nabi Muhammad Bersabda: “Ya, “orang tadi bertanya lagi: “Berapa jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh: “beliau menjawab: “sepuluh abad”….

(4) Nabi Nuh hidup selama 950 tahun sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ankabut : 14

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَلَبِثَ فِيْهِمْ اَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِيْنَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوْفَانُ وَهُمۡ ظٰلِمُونَ

Artunya : Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. (Q.S.Al-Ankabut : 14)

 

Istri dan keturunan Nabi Nuh as

Biografi Nabi Nuh AS

Setelah terjadi banjir manusia binasa dan yang menjadi muara nasab manusia adalah Nabi Nuh as, sebagaimana firman Allah,

 

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُۥ هُمُ الْبَاقِيْنَ

Artinya : Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan. (Q.S. As-Shaffat : 77)

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوْحٍۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبۡدًا شَكُورًا

Artinya : Wahai keturunan orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Q.S. Al-Isra :3)

 

Berikut adalah Istri dan anak-anak Nabi Nuh as:

Istri Nabi Nuh as yang bernama Emzara, dari pernikahan itu dikarunia empat (4) anak yaitu Ham, Sam, Yafats, Yam (kan’an) dan ‘Abar.

Dari anak-anak Nabi Nuh semua beriman, kecuali kan’an yang durhaka dan mati tenggelam.

  1. Yafith bin Nuh as

Ibnu Thabari menyebut istri dari Yafith bin Nuh adalah Arbasisah binti Marazil bin Al Darmasyil bin Mehujael bin Akhnukh bin Qayin bin Adam as dan dari pernikahan yafith bin Nuh as dengan Arbasisah mempunyai delapan (8) anak, tujuh (7) anak laki-laki dan satu (1) anak perempuan antara lain Gomer, Marihu, Wa’il, Hawwan, Tubal, Hawshil dan Thiras. Anak perempuan dari Yafith adalah Shabokah.

  1. Sam bin Nuh as

Ibnu Thabari menyebut istri Sam bin nuh as adalah Shalib binti Batawil bin Mehujael bin Akhnukh bin Qayin bin Adam dan dan dari pernikahan Sam bin Nuh dengan Sahalib mempunyai keturunan lima (5) anak antara lain Arfaqsyad, Asshur, Lud, Elam, dan Aram.

  1. Ham bin Nuh as

Ibnu Thabari menyebut istri Ham bin Nuh as adalah Nahlab binti Marib bin Al Darmasil bin Mehujael bin Akhnukh bin Qayin bin Adam dan dari pernikahan Ham bin Nuh as dengan Nahlab mempunyan empat keturunan antara lain 4 orang anak laki-laki, yaitu Kush, Put, Kanaan dan Qibthy atau Misraim….(5)

Kisah Nabi Nuh AS di Angkat Menjadi Nabi Dan Rasul

Kisah Nabi Nuh AS di Angkat Menjadi Nabi Dan Rasul

Ketika Nabi Nuh sudah menginjak usia 480 tahun, Allah mengutus malaikat jibril ke Nabi Nuh untuk menyampaikan risalah yang akan di emban Nabi Nuh. Malaikat jibril turun ke bumi dan menemui Nabi Nuh dengan wujud seorang laki-laki yang berwajah sangat tampan, sehingga Nabi Nuh heran dan takjub melihat malaikat jibril dengan wajah tampan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, Nabi Nuh bertanya, Siapa engkau wahai laki-laki tampan? Saya malaikat jibril, jawabnya, saya diutus Allah untuk menemui engkau wahai Nuh dengan membawa risalah dan memberimu tugas sekaligus mengangkat engkau sebagai Nabi, engkau diutus untuk menyebarkan risalah tauhid yaitu mengajak manusia untuk menyembah hanya kepada Allah semata, dan tidak menyekutukannya, perintah di abadikan dalam al-Qur’an surat an-Nuh ayat 1:

إِنَّآ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلىٰ قَوْمِهِۦٓ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”, (Q.S. An-Nuh : 1)

 

Setelah menyampaikan kepada Nabi Nuh tentang tugas nya, kemudian Malaikat Jibril memberi pakain kebesaran yang disebut pakain Mujahidin dan memakaikannya, dan kemudian melilitkan sorban kemenangan ke kepala Nabi Nuh serta memberi Nabi Nuh ikat pinggang yang disebut ‘Saiful Azmi’ kemudian memberi pesan kepada Nabi Nuh: “Berilah peringatan kepada manusia yang menjadi musuh Allah yang bernama Darmasyil bin Fumail bin Jij bin Qabil bin Adam”. Nabi Nuh langsung mematuhi semua perintah malaikat Jibril, dan menjalan tugas sebagai Nabi Allah untuk mengajak manusia menyembah Allah semata, dan meninggalkan berhala-berhala.

 

Darmasyil adalah keturunan Nabi Adam yang ke 4, dia adalah seorang pemimpin sekaligus menjadi seorang raja yang zalim pada waktu itu, Darmasyil adalah manusia pertama yang membuat minuman yang memabukkan yaitu arak dan sekaligus meminumnya, dia juga manusia pertama yang membuat pakaian yang dihiasai dari logam emas dan memakainya, emas merupakan logam mulia yang tidak boleh di pakai oleh laki-laki, dan dia juga manusia pertama yang bermain judi. Darmasyil dan kaumnya menyembah 5 berhala yang sangat di agung-agungkan, yaitu Wad, Siwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.

Perbuatan Darmasyil dan kaumnya sudah sangat zalim dan sangat ingkar sehingga Allah memberikan peringatan sangat keras melalui malaikat Jibril dan diteruskan kepada Nabi Nuh kemudian Nabi Nuh diutus untuk menyampaikan langsung peringatan itu kepada raja Darmasyil dan kaumnya. Menurut pendapat sejarawan darmasyil yaitu Kaum Kaldah dan Asyur yang tinggal di Palestina, Syamat dan Irak

[/su_note]

Kisah Nabi Nuh : Perjalanan Dakwah Nabi Nuh AS

Kisah Nabi Nuh : Perjalanan Dakwah Nabi Nuh AS

Sudah sangat lama darmasyl dan kaumnya menyembah berhala, minum minuman keras dan melakukan judi. Berhala itu mereka jadikan sebagai tuhan tempat untuk meminta rezeki, meminta jodoh dan meminta kebaikan yang lainnya, dan juga sebagai tempat meminta menolak balak. Darmasyil dan kaumnya menjadikan berhala-berhala itu sebagai tempat bergantung dalam kehidupan mereka. Berhala itu Wad, Siwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Mereka melakukan semua itu disebabkan kebodohan dan hanya menuruti setan dan hawa nafsu belaka.

Sejarah berhala Wad, Siwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr, yang disembah mereka merupakan nama para ulama yang pernah hidup bersama dengan mereka sebelumnya. Dengan alasan sebagai mengenang perbuatan baik mereka dan agar kaumnya mempunyai semangat untuk beribadah maka mereka membuat gambar, patung, atau simbol lainnya yang menyerupai fisik mereka (para ulama). Tapi seiring zaman dan generasi terus berganti, patung-patung tersebut dijadikan tuhan dan disembah.

Kaumnya yang menyembah berhala tersebut di abadikan dalam al-Qur’an surat Nuh ayat 23:

وَقَالُوالَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوْثَ وَيَعُوْقَ وَنَسۡرًا

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr“. (Q.S Nuh : 23)

Dalam keadaan seperti itulah Nabi Nuh di angkat menjadi seorang Nabi untuk mengajak darmasyil dan kaumnya agar meninggalkan berhala dan menyembah Allah SWT. Mengingatkan dan membuat orang sadar dari kebiasaan buruk bukanlah hal yang mudah, dakwah yang dilakukan Nabi Nuh mendapatkan rintangan yang sangat sulit dari darmasyil dan kaumnya. Dalam perjalanan dakwah ini Nabi Nuh mengajak untuk hanya menyembah Allah SWT, di abadikan di dalam al-Qur’an :

لَقَدۡ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓ إِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

Artinya : Sungguh Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu dia berkata: “Wahai kaumku! sembahlah Allah! tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia”. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang dahsyat (kiamat). (Q.S. Al-A’raf : 59)

 

Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya khususnya kepada keluarganya sendiri yang tidak luput dari pengaruh perbuatan zalim dan menyesatkan. Nabi Nuh berdakwah selama 5 abad (500 tahun) semenjak beliau menjadi seorang Nabi, hanya sedikit dari kaumnya yang menjadi pengikut Nabi Nuh, kurang lebih memiliki 70 sampai 80 orang pengikut, dan semua pengikut tersebut hanya terdiri dari keturunan orang-orang miskin dan pekerja kasar yang bukan berasal dari keluarga kaya raya, keluarga terhormat dan keturunan terpandang.

Karena alasan ini darmasyil dan kaumnya yang terdiri dari keturunan orang-orang terpandang dan orang – orang kaya tidak senang mengikuti ajakan Nabi Nuh dan berdekatan dengan pengikutnya yang miskin. Mereka beranggapan bahwa derajat dan kasta mereka lebih tinggi dari Nabi Nuh dan pengikutnya sehingga tidak mungkin bagi mereka akan mengikutinya.

Darmasyil dan kaumnya sombong dengan derajat dan harta kekayaan mereka, mereka mencemooh dan menghina Nabi Nuh dan pengikutnya yang miskin. Penolakan dan penghinaan terus terjadi terhadap Nabi Nuh, tidak hanya dari kaumnya saja, tetapi dari keluarganya juga ikut menghina Nabi Nuh, yaitu Istri dan putranya Kan’an secara terang-terangan menolak dan menentang dengan keras ajaran yang disampaikan oleh Nabi Nuh. Tidak sampai di situ istri dan kan’an putranya Nabi Nuh mempengeruhi dan mengajak orang lain untuk tidak mengikuti ajaran Nabi Nuh AS. Allah berfirman dalam al-Qur’an surat Hud ayat 27:

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهِۦ مَا نَرَىٰكَ اِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَىٰكَ اتَّبَعَكَ اِلَّا الَّذِيْنَ هُمْ اَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأۡيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلِۢ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَٰذِبِيْنَ

Artinya : Maka berkatalah pemuka yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya, kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang yang pendusta”. (Q.S. Hud : 27)

 

Dari ayat diatas menerangkan bahwa kaum Nabi Nuh tidak percaya dan tidak mempunyai keyakinan kalau Nabi Nuh adalah Nabi dan utusan Allah. Mereka menganggap Nabi Nuh adalah orang biasa yang tidak mempunyai kelebihan, dan tidak mempunyai harta yang lebih banyak dari mereka, bahkan mereka sangat merendahkan Nabi Nuh.

Dengan niat mengejek Salah satu pemimpin dari kalangan kaum Nabi Nuh yang zalim dan durhaka berkata bahwa mereka akan menerima ajakan dan rela, ikhlas menigkuti Nabi Nuh dan taat pada ajaran yang dibawa oleh Nabi Nuh dengan syarat pengikut Nabi Nuh yang miskin hina diusir. Dengan tegas Nabi Nuh menolak persyaratan yang diajukan oleh mereka yang durhaka.

Mereka kaum durhaka marah Mendengar jawaban dari Nabi Nuh, dan balik menantang Nabi Nuh untuk segera mendatangkan Azab dari Allah bagi mereka, apabila mereka memang salah dan sesat serta telah perbuat zalim dan durhaka kepada Allah SWT. Dan juga sebagai bukti kalau Nabi Nuh memang utusan Allah SWT pasti akan terkabul doa nya.

Walaupun demikian Nabi Nuh tidak menghiraukan ejekan dan cemoohkan mereka, Nabi Nuh tetep terus menjalankan tugasnya sebagai Nabi dan Utusan Allah mengajak manusia untuk menyembah hanya kepadanya, dengan pendekatan yang sopan dan kadang dengan perdebatan,

Perdebatan antara kaum dan Nabi Nuh di rekam dalam al-Qur’an :

وَيَٰقَوْمِ لَآ أَسْ‍َٔلُكُمْ عَلَيِهِ مَالًاۖ اِنْ اَجْرِيَ أِلَّا عَلَى اللهِۚ وَمَاَ أَنَا۠ بِطَارِدِ الَّذِيْنَ ءَامَنُوٓاْاِإِنَّهُمْ مُّلَٰقُوْا رَبِّهِمْ وَلَٰكِنِّيْٓ اَرَىٰكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُوْنَ (29) وَيَٰقَوْمِ مَنْ يَنْصُرُنِيْ مِنَ اللهِ اِنْ طَرَدتُّهُمۡۚ أَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ (30)

Artinya : Dan Wahai kaumku! aku tidak meminta harta benda kamu (sebagai imbalan) atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sungguh mereka akan bertemu dengan Tuhannya, dan sebaliknya aku memandangmu suatu kaum yang tidak bodoh”.)29) Dan Wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran? (30) (Q.S Hud: 29-30).

 

Perdebatan antara Nabi Nuh dan kaumnya yang durhaka semakin memanas. Kaum yang durhaka di antara mereka putus asa. Mereka berkata.

 

قَالُوْا يَٰنُوْحُ قَدۡ جَٰدَلۡتَنَا فَأَكۡثَرۡتَ جِدَٰلَنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّٰدِقِينَ (32) قَالَ إِنَّمَا يَأۡتِيْكُم بِهِ اللهُ إِنْ شَآءَ وَمَآ أَنْتُمْ بِمُعۡجِزِيْنَ (33)

Artinya : mereka berkata “Wahai Nuh, Sesungguhnya engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”(32) Dia Nuh menjawab: “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu tidak dapat melepaskan diri.(33). ( Q.S. Hud : 32-33)

 

Bukti perjalanan dakwah Nabi Nuh di rekam dalam al-Qur’an surat Nuh ayat 5-9

قَالَ رَبِّ إِنِّيْ دَعَوۡتُ قَوۡمِيْ لَيۡلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيْٓ إِلَّا فِرَارًا (6) وَإِنِّيْ كُلَّمَا دَعَوۡتُهُمۡ لِتَغۡفِرَ لَهُمۡ جَعَلُوٓا أَصَٰبِعَهُمۡ فِيْٓ ءَاذَانِهِمۡ وَٱسۡتَغۡشَوۡا ثِيَابَهُمۡ وَأَصَرُّوْا وَاسۡتَكۡبَرُوْا اسۡتِكۡبَارًا (7) ثُمَّ إِنِّيْ دَعَوۡتُهُمۡ جِهَارًا (8) ثُمَّ إِنِّيْٓ أَعۡلَنتُ لَهُمۡ وَأَسۡرَرۡتُ لَهُمۡ إِسۡرَارًا (9)

Artinya : Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam (5) tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka justru mereka lari (dari kebenaran) (6) Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jarinya ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (wajahnya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat menyombongkan diri. (7) lalu sesungguhnya aku menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, (8) kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam,(9) (Q.S. Nuh : 5-9)

[/su_note]

Kisah Nabi Nuh : Mukjizat Nabi Nuh AS (Membuat Bahtera)

Kisah Nabi Nuh AS : Biografi, Silsilah, Kisah kisah Penting 2

Selama kurang lebih lima abad (500 tahun) berdakwah terhadap kaumnya, Nabi Nuh dengan berbagai pendekatan dan merasa kuwalahan hanya sedikit yang mengikuti Nabi Nuh, kemudian Nabi Nuh merasa tidak tahu lagi dengan cara apa untuk menghadapi dan menyadarkan kaumnya dari kesesatan yang mereka lakukan, Akhirnya Nabi Nuh mengabulkan permintaan kaumnya yang durhaka lagi sesat untuk berdoa dan meminta Allah agar segera menurunkan azab kepada kaumnya yang membangkang dan durhaka lagi sesat. Allah mendengar dan mengabulkan doa Nabi Nuh.

قَالَ رَبِّ إِنَّ قَوْمِيْ كَذَّبُوْنِ. فَٱفْتَحْ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُمْ فَتْحًا وَنَجِّنِيْ وَمَن مَّعِيَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Artinya : Dia Nuh berkata: “Ya Tuhanku, sungguh kaumku telah mendustakan aku, Maka berilah keputusan antara aku dan mereka, dan selamatkanlah aku dan orang yang beriman bersamaku”. (Q.S Asy-Syu’ara Ayat 117-118)

 

مِمَّا خَطِيْٓـَٰٔتِهِمۡ اُغۡرِقُوْا فَأُدۡخِلُوْا نَارًا فَلَمۡ يَجِدُوْا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِ اللهِ أَنْصَارًا, وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى الْأَرۡضِ مِنَ الۡكَٰفِرِيْنَ دَيَّارًا, إِنَّكَ إِنْ تَذَرۡهُمۡ يُضِلُّوْا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوْٓا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

Artinya : Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong selain Allah. Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur. (Q.S. Nuh : 25-27)

 

Setelah berdo’a Nabi Nuh menyerahkan semu urusan kepada Allah sambil meminta petunjuk apa yang harus dilakukan pada kaumnya,? Sementara Nabi Nuh sudah berusaha dengan sekuat tenaga dan dengan berbagai cara namun tidak ada hasil. Sebelum menurunkan adzabnya kepada kaum pembangkang, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Nuh untuk membuat bahtera. Sebagaimana firman nya dalam surat Hud ayat 37-39

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلَا تُخَٰطِبْنِيْ فِى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا ۚ إِنَّهُمْ مُّغْرَقُوْنَ. وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّنْ قَوْمِهِۦ سَخِرُوْا مِنْهُ ۚ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوْا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُوْنَ. فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ مَنْ يَأْتِيْهِ عَذَابٌ يُخْزِيْهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُّقِيْمٌ

Artinya : Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah engkau bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Dia Nuh berkata: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal”. (Q.S Hud: 37-39

 

Dari ayat diatas sebelum membinasakan kaum kafir itu. Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh dan kaum nya yang taat untuk menyiapkan alat untuk menyelamatkan diri dari adzab Allah yang akan menimpa kaum pembangkang. Allah menyuruh mereka untuk membuat bahtera atau kapal yang sangat besar, bahtera ini belum di kenal oleh kaum dan para pendahulu sebelum Nabi Nuh. Nabi Nuh dan pengikutnya segera melaksanakan apa yang diperintah oleh Allah. Mereka mulai membuat bahtera.

Namun dalam pembuatan bahtera ini Nabi Nuh dan para pengikutnya di anggap gila serta diejek oleh orang-orang kafir karena membuat bahtera atau kapak di padang pasir yang tandus yang jauh dari lautan, hujan tidak pernah turun apalagi banji besar, selama pembuatan bahtera membutuhkan waktu kurang lebih 40 tahun, selama itu pula kaum kafir terus mengejek Nabi Nuh, akan tetapi Nabi Nuh dan pengikutnya tidak menghiraukannya. Lalu Nabi Nuh Berkata yang diabadikan dalam al-Qur’an surat Hud ayat 38

وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّنْ قَوْمِهِۦ سَخِرُوْا مِنْهُ ۚ قَالَ إِنْ تَسْخَرُوْا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُوْنَ

Artinya : Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan meliwati Nuh, mereka mengejeknya. Dia Nuh berkata: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (Q.S Hud 38)

Menurut pendapat Ibnu Abbas, orang dari Thaif yang mempunyai pengetahuan luas mengatakan bahwa bahtera Nabi Nuh as, memiliki ukuran panjang 1.200 hasta atau 550 meter dan lebar 600 hasta atau 275 meter. Bahtera Nabi Nuh terdiri dari 3 tingkat yakni tingkat pertama diperuntukkan untuk hewan-hewan, tingkat ke dua untuk Nabi Nuh dan Pengikutnya yang taat, dan tingkat ketiga untuk hewan sebangsa burung.

Sedangkan Desain bahtera Nabi Nuh di bagian atap ditutup dengan kayu agar seluruh penumpang aman dan selamat ketika Allah menurunkan azab kepada kaum Nabi Nuh yang durhaka kepada Allah SWT. Dinding bahtera dibuat sekuat mungkin untuk menahan derasnya air banjir yang akan membinasakan seluruh umat manusia yang zalim dan tidak beriman kepada Allah SWT.

Kisah Nabi Nuh : Adzab Air Bah Bagi Kaum Nabi Nuh Yang Durhaka

Kisah Nabi Nuh AS : Biografi, Silsilah, Kisah kisah Penting 3

Setelah waktunya tiba dan Allah memberikan petunjuk yaitu tannur itu mulai menunjukkan tanda-tandanya yaitu mengerluarkan air dari dalam rumah Nabi Nuh. Mengetahui akan hal itu, Nabi Nuh mengumpulkan semua pengikutnya yang beriman untuk segera membuka bahteranya dan masuk kedalamnya dan mengajak hewan yang berpasangan. Malaikat Jibril ikut membantu menggiring setiap binatang yang berpasangan naik ke bahtera supaya nanti setelah air bah ini surut bisa berkembang biak lagi. Menurut riwayat hewan yang masuk ke dalam bahtera pertama kali adalah burung kakak tua, sedangkan hewan yang terakhir yang masuk ke dalam bahtera adalah keledai.

Peristiwa ini di ceritakan dalam al-Qur’an surat Hud ayat 40

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَ أَمۡرُنَا وَفَارَ التَّنُّوْرُ قُلۡنَا احۡمِلۡ فِيْهَا مِن كُلّٖ زَوۡجَيۡنِ اثۡنَيۡنِ وَأَهۡلَكَ إِلَّا مَنْ سَبَقَ عَلَيۡهِ الۡقَوۡلُ وَمَنۡ ءَامَنَۚ وَمَآ ءَامَنَ مَعَهُۥٓ إِلَّا قَلِيْلٌ

Artinya : Hingga apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah ketetapan terdahulu terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan ternyata orang-orang beriman bersama dengan Nuh itu hanya sedikit. (Q.S. Hud : 40)

Setelah pengikut Nabi Nuh yang beriman dan hewan-hewan berpasangan masuk ke dalam bahtera, kemudian seluruh pintu bahtera di tutup. Dan Allah memerintahkan langit dan bumi untuk mengelurkan airnya,

 

Dengan kuasa Allah SWT, pemilik alam semesta, maka turunlah air dari langit yang amat deras dan memberi perintah pada bumi untuk mengeluarkan airnya dari setiap penjuru. Seluruh celah permukaan bumi mengeluarkan air dengan sangat deras tanpa hentinya. Seluruh permukaan bumi tenggelam dipenuhi air bah sehingga seluruh kaum Nabi Nuh yang durhaka tenggelam, termasuk anaknya Nabi Nuh (kan’an) dan istrinya Nabi Nuh. Tidak ada satupun yang selamat dari kaum Nabi Nuh yang durhaka, kecuali Kaum Nabi Nuh dan para hewan yang ada di dalam bahtera.

Kisah Kan’an Anak Nabi Nuh Yang durhaka

Kisah Nabi Nuh AS : Biografi, Silsilah, Kisah kisah Penting 4

Ketika seluruh Nabi Nuh beserta 3 anak nya dan para pengikut serta semua hewan sudah masuk ke dalam bahtera, hanya istri dan satu anaknya yang bernama kan’an tidak mau masuk ke dalam bahtera mereka tetepa pada kekafiran dan keduanya menyangka akan bisa selamat dari adzab Allah. Nabi Nuh mengajak kan’an untuk beriman dan naik ke bahtera, namun dengan angkuh dan sombongnya Kan’an menolak dan tetap pada pendiriannya tidak beriman kepada Allah. Oleh sebab itu, Kan’an termasuk kedalam golongan orang yang merugi dan tidak ditenggelamkan oleh Allah SWT. ini di abadikan dalam al-Qur’an surat Hud ayat 42-43

وَهِيَ تَجۡرِي بِهِمۡ فِي مَوۡجٍ كَٱلۡجِبَالِ وَنَادٰى نُوْحٌ ابۡنَهُۥ وَكَانَ فِي مَعۡزِلٖ يَٰبُنَيَّ ارۡكَبْ مَّعَنَا وَلَا تَكُنْ مَّعَ الۡكَٰفِرِيْنَ. قَالَ سَ‍َٔاٰوِيٓ إِلَىٰ جَبَلٍ يَعۡصِمُنِيْ مِنَ الۡمَآءِۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الۡيَوۡمَ مِنۡ أَمۡرِ اللهِ إِلَّا مَنْ رَّحِمَۚ وَحَالَ بَيۡنَهُمَا الۡمَوۡجُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡمُغۡرَقِينَ

Artinya : Dan bahtera itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. Dia (Anaknya) menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Q.S. Hud : 42-43)

 

Air bah semakin tinggi dan Kan’an tetap menolak ajakan ayahandanya untuk masuk ke dalam bahtera dan ingin menyelamatkan diri dari air bah dengan berenang menuju puncak gunung yang belum tersentuh air. Kan’an beranggapan bahwa air ini tidak akan sapai ke puncak gunung namun anggapan itu salah, air bah ini bahkan menenggelamkan puncak gunung tertinggi sekalipun.

Ditengah-tengah percakapan antara keduanya, tiba-tiba gelombang besar menerjang dan memisahkan mereka berdua (Nabi Nuh dan Kan’an) Seketika itu Kan’an lenyap dari hadapan dan penglihatan Nabi Nuh.

Lalu Nabi Nuh memohon kepada Allah agar putranya diselamatkan karena Nabi Nuh mengingat bahwa Allah telah berjanji menyelamatkan bagi seluruh keluarganya.

Percakapan antara Nabi Nuh dan Allah SWT dimuat dalam surah Hud ayat 45

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُۥ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابۡنِيْ مِنۡ أَهۡلِيْ وَإِنَّ وَعۡدَكَ الۡحَقُّ وَأَنْتَ أَحۡكَمُ الۡحَٰكِمِيْنَ

Artinya : Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya”.” (QS. Hud :45).

Kemudian Allah menjawab:

قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيۡسَ مِنۡ أَهۡلِكَۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيۡرُ صَٰلِحٖۖ فَلَا تَسۡئَ‍َٔلۡنِ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۖ إِنِّيْٓ أَعِظُكَ أَنْ تَكُوْنَ مِنَ الۡجَٰهِلِينَ

Artinya : Dia Allah berfirman “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang engkau tidak mengetahui (hakekat)nya. Aku menasehatimu agar engekau tidak termasuk orang-orang yang bodoh” (QS. Hud: 46).

Kemudian Nabi Nuh menyadari kesalahannya dan segera bertaubat dan pada akhirnya Nabi Nuh mengikhlaskan putra dan istrinya di adzab oleh Allah karena mereka durhaka kepada Allah.

Kisah Nabi Nuh : Air Bah Surut

Kisah Nabi Nuh AS : Biografi, Silsilah, Kisah kisah Penting 5

Dalam al-Qur’an menyebutkan

وَقِيلَ يَٰٓأَرۡضُ ٱبۡلَعِي مَآءَكِ وَيَٰسَمَآءُ أَقۡلِعِي وَغِيضَ ٱلۡمَآءُ وَقُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ وَٱسۡتَوَتۡ عَلَى ٱلۡجُودِيِّۖ وَقِيلَ بُعۡدٗا لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya : Dan difirmankan: “Wahai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”. (Q.S. Hud : 44)

 

Air bah yang meneggelamkan seluruh permukaan bumi dan juga menggelamkan kaum manusia yang durhaka kepada Allah SWT, maka Allah memberikan perlindungan dan keselamatan serta memelihara bagi Nabi Nuh beserta pengikutnya dan hewan yang ada di bahtera itu, bahtera Nabi Nuh berlayar selama 150 hari terombang ambing di lautan tanpa batas sampai air banjir reda. Setelah orang yang durhaka kepada Allah binasa, akhir Allha menyuruh bumi untuk menelan air. Dan langit untuk tidak mengeluarkan airnya lagi. Lalu Allah memerintahkan Nabi Nuh beserta pengikutnya turun dari bahtera, Firman Allah SWT:

قِيلَ يَٰنُوحُ ٱهۡبِطۡ بِسَلَٰمٖ مِّنَّا وَبَرَكَٰتٍ عَلَيۡكَ وَعَلَىٰٓ أُمَمٖ مِّمَّن مَّعَكَۚ وَأُمَمٞ سَنُمَتِّعُهُمۡ ثُمَّ يَمَسُّهُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ

Artinya : Difirmankan: “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkatan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang mukmin) dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan pada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami”. (Q.S. Hud : 48)

 

Setelah air bah surut, maka mendaratlah bahtera Nabi Nuh yang kemudian terdampar di Gunung Judd. Di sanalah pengikut Nabi Nuh yang berjumlah kurang lebih 70-80, beserta hewan di dalam nya keluar, beristirahat dan memulai kehidupan baru dengan tentram dan damai dan beriman kepada Allah SWT. Ada perbedaan pendapat tentang gunung yang di maksud, ada yang mengatakan gunug Judd di Armenia, dan ada yang mengatakan di irak dan ada pula yang mengatakan dit turki.

[/su_note]

Pelajaran Yang Dapat di Ambil Dari Kisah Nabi Nuh AS

Kisah Nabi Nuh AS : Biografi, Silsilah, Kisah kisah Penting 6

  1. Kita meneladani sikap sabar yang di miliki Nabi Nuh as
  2. Gigih berjuang untuk menegakkan agama Allah
  3. Ikhlas pada ketetapan Allah
  4. Tidak memandang tinggi atau rendah nya seseorang dari kekayaan, derajat sosial,dll
  5. Tidak boleh bersikap sombong sesama manusia.

 

Alhamdulillah, demikianlah ulasan lengkap tentang Kisah Nabi Nuh AS yang penuh hikmah dan syarat akan makna yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. semoga sedikit ilmu yang  Penulis bagikan bisa bermanfaat untuk semua… amiiin…

والله اعلم بالصواب

wallahu a’lam bishshawab,

ALLAH YANG MAHA TAHU DENGAN SEBENAR-BENARNYA

 

PENULIS:

Moh. Nasirudin

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al Hafizh ibnu Katsir, Kisah Para Nabi dan Rasul, Jakarta: Pustaka as-Sunnah, 2008, cet ke 3, hal 95
  2. Al-Najjar, Abdul Wahab. Qishah al-Anbiya. Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, cet. 9, 1406 H.
  3. https://sejarahislamdidunia.wordpress.com/2017/07/26/sejarah-nabi-nuh-as-dan-anaknya/
  4. Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ath Thabrani dalam kitab al-Kabir dengan sanad hasan lidzatihi
  5. https://sejarahislamdidunia.wordpress.com/2017/07/26/sejarah-nabi-nuh-as-dan-anaknya/
  6. al-Qur’an dan terjemahannaya, Departemen Agama RI, Semarang: CV Asy Syifa’ 2007.

 

Kisah Nabi Nuh AS : Biografi, Silsilah, Kisah kisah Penting

Leave a Reply