RUKUN HAJI : Tata Cara Berhaji, Penjelasan, Serta Urutan (Paling lengkap)

Rukun Haji – Haji dalam Islam adalah salah satu dari apa yang disebut sebagai lima rukun Islam dan merupakan kewajiban bagi semua Muslim sekali dalam hidup mereka jika mereka mampu melakukannya. Beberapa rukun haji dalam Islam, harus dilaksanakan oleh para orang-orang yang sedang melaksanakan haji. Apabila rukun tersebut tidak dilaksanakan, maka ibadah haji yang dia lakukan tidak sah hukumnya.

Setiap tahun, sekitar dua juta muslim dari seluruh dunia berduyun-duyun ke Mekah di Arab Saudi, kota tersuci Islam. Beberapa orang menabung seumur hidup untuk dapat melakukan perjalanan ke Makah.

Pengertian Rukun Haji

Pengertian Rukun Haji

Apa itu ibadah haji? Ibadah haji terdiri dari perjalanan lima hari yang berlangsung di Mekah dan di tiga lokasi di Arafat, Mina dan Muzdalifah. Ibadah haji sendiri berbeda dari umroh. Selama haji, umat muslim melakukan serangkaian ritual sebagai tindakan ibadah, dan diyakini bahwa dosa-dosa sebelumnya dari umat muslim yang berhaji diampuni sebagai hasil dari perjalanan ibadah hajinya.

Menurut tradisi Islam, Nabi Muhammad melakukan haji pertama ke Mekah pada tahun 628 M, dengan 1.400 pengikut di sisinya. Pada kesempatan ini, yang dikenal sebagai Ziarah Perpisahan dalam Islam, para peziarah mengikuti jejak Nabi Ibrahim, pendiri agama-agama Ibrahim (Yudaisme, Kristen dan Islam).

Haji sendiri dimulai selama bulan ke 12 dan terakhir dari kalender bulan Islam, yang berarti bahwa ibadah ini dapat jatuh pada waktu yang berbeda di tahun yang berbeda. Kewajiban sekali seumur hidup ini adalah pengalaman spiritual yang sangat ingin dilakukan umat muslim.

Ibadah haji sendiri terdiri dari tiga kategori hal yang dilakukan oleh umat muslim yang beribadah, di antaranya adalah :

  1. Rukun haji yang harus dilakukan seseorang agar tidak membatalkan haji, karena rukun ini tidak dapat dikompensasi.
  2. Tindakan wajib yang mengharuskan umat muslim melakukan pengorbanan jika rukun tidak dilakukan, tanpa membatalkan ibadah haji seseorang.
  3. Tindakan sunnah yang disarankan untuk bisa melengkapi pahala umat muslim.

Jadi apabila rukun haji tidak dilakukan oleh umat Islam yang berhaji, maka itu akan berakibat pada tidak sahnya ibadah haji.

Penjelasan Rukun Haji

Penjelasan Rukun Haji

Ada dua ziarah ke Mekah yang pertaman haji yang dikenal sebagai ziarah besar dan umrah yang dikenal dengan ziarah kecil. Haji hanya dapat dilakukan antara tanggal 8 dan 13 dari Dzulhijjah,  bulan kedua belas dari kalender Muslim.

Di semua waktu lain sepanjang tahun, jamaah haji dapat melakukan perjalanan ke Mekah untuk melakukan umrah. Baik umrah ataupun haji, keduanya dimulai di tempat  yang dikenal sebagai miqat, yang tidak bisa dilintasi oleh jamaah haji dan umroh kecuali mereka menggunakan pakaian putih yang dikenal sebagai ihram.

Di sinilah jamaah mengenakannya, dan mengucapkan niat mereka untuk haji dan membaca talbiyah doa untuk menyampaikan kepada Allah Swt atas kedatangan mereka ke Mekah.

Untuk ibadah umrob, melibatkan ritual yang berlangsung di tempat suci Mekah itu sendiri dengan mengelilingi Ka’bah (tawaf) dan sa’i melewati antara bukit Safa dan Marwa. Jamaah juga bisa berdoa di belakang Maqam Nabi Ibrahim dan minum air Zamzam.

Semua ritual ini dapat diselesaikan dalam hitungan jam. Adapun ibadah haji dimulai dengan ritual yang sama dengan umrah, pada hari pertama, dan dilanjutkan dengan kunjungan ke padang suci Arafat, Muzdalifa dan Mina pada hari-hari berikutnya.

Adapun rukun haji yang harus dilakukan oleh jamaah haji adalah :

1. Tawaf

Tawah adalah ibadah yang paling penting dari ritual haji. Tawaf dilakukan tujuh kali di sekitar Ka‘bah searah jarum jam, mulai dari sudut timur tempat hajar aswad berada.

2. Sa’i

Sa’i adalah berlari-lari kecil antara dua bukit yakni Safa dan Marwah. Safa dan Marwah adalah bukit di mana area terebut digunakan untuk aktivitas lari-lari kecil atau (tempat terburu-buru).

3. Wuquf ‘Arafat

Arti dari wuquf sendiri adalah ‘berdiri’, yang mengacu pada penjagaan yang berlangsung dari siang hingga matahari terbenam pada tanggal 9 Dzulhijjah. Arafat adalah tempat Nabi Muhammad memberikan Khotbah Perpisahan pada tahun 632, tahun kematiannya.

4. Bermalam di Muzdalifah

Jamaah haji mengumpulkan 49 batu di Muzdalifa untuk dilemparkan di lembah Mina dekat Mekah.

5. Mabit di Mina

Mina adalah representasi tiga pilar lembah Mina yang memiliki makna filosofi. Mina dekat dengan Mekah yang mewakili tiga kali Setan berusaha menggoda Ibrahim. Tiga tempat ini dikenal sebagai Jumroh al-Aqaba (di jalan sempit al-‘Aqaba, dan yang terbesar), Jumroh al-Wusta (yang di tengah) dan Jumroh al-Sughra (yang kecil).

6. Idul Adha

‘Idul Adha adalah perayaan qurban yang berlangsung pada tanggal 10 Dhuzlhijjah. Idul Adha adalah sebuah perayaan besar di seluruh dunia untuk umat muslim.

Jamaah mengorbankan seekor kambing (kadang-kadang domba) sebagai pengingat akan ketaatan nabi Ibrahim yang menerima pengorbanan putranya Ismail sebagai tindakan taat sebelum Tuhan menggantinya dengan domba untuk dikorbankan sebagai gantinya.

Urutan dan Tata Cara Haji

Urutan dan Tata Cara Haji

Menurut pendapat mayoritas ulama, haji memiliki empat rukun, yaitu:

1. Ihraam

Ihram adalah niat memulai ibadah haji. Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan:” Niat adalah apa yang diperhitungkan dalam perbuatan, dan setiap orang akan dihargai sesuai dengan niatnya. ”

Dalam melaksanakan ihraam ada waktu-waktu tertentunya. Ihram dilaksanakan hanya pada bulan-bulan haji atau Dzulhijjah saja sehingga itulah yang membedakan ibadah haji dan umroh.

Sebagaimana disebutkan dalam ayat Alquran dalam Al-baqarah ayat 197 :

“Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.

Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

Ihram sendiri harus dimulai di tempat-tempat tertentu, yang disebut miqat.

2. Berdiri atau wukuf  di ‘Arafah

Rukun yang kedua adalah wukuf di Arafah, Nabi Shallallahu` alaihi wa sallam berkata: “Haji adalah berdiri di‘ Arafah. Jika ada orang yang datang ke sana sebelum Sholat Subuh pada malam Al-Muzdalifah, hajinya akan lengkap. ”(Hadis Imam Dawuf)

Waktu untuk wukuf di ‘Arafah dimulai dari siang pada hari kesembilan ibadah haji sampai fajar hari kesepuluh An-Nahr atau hari pengorbanan). Namun adapula ulama yang mengatakan waktu wukuf  itu dimulai dari fajar hari kesembilan ibadah haji.

Tidak ada tempat yang bisa dipastikan bagi para muslim yang berhaji, di manapun wukufnya selama itu di padang ‘Arafah, tetap diperbolehkan. Ya, wukuf diperbolehkan di sembarang tempat ‘Arafah selama waktu yang diwajibkan tetap dipatuhi dan itu sudah cukup memenuhi rukun haji. .

Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis Urwah ibn Mudharris: “Saya datang ke Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Al-Muzdalifah dan berkata,’ Aku datang dari dua gunung Tayyi ‘; Saya lelah selama perjalanan. Namun selama perjalanan, Demi Allah, saya tidak menemukan bukit) tetapi saya berhenti di sana (Arafah). Sudahkah saya menyelesaikan haji saya?

‘Rasulullah Shallallahu’ alaihi wa sallam berkata, ‘Siapa pun yang doa bersama dan datang ke’ Arafah sebelum malam atau siang hari maka ia tetap dianggap menyelesaikan hajinya dan dia mungkin membasuh kotoran (tubuhnya). ‘”[Hadis Abu Dawud dan lainnya]

3. Tawaaf Al-Ifaadhah

Allah berfirman dalam alquran surat Alh Hajj ayat 29 :

“Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).”

Selain itu, ketika Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam (diberitahu bahwa Safiyyah mulai menstruasi, dia berkata:” Apakah dia menjaga kita (meninggalkan)? “Mereka berkata,” Dia telah melakukan Tawaaf Al-Ifaadah. “Dia berkata,” Kalau begitu biarkan dia berangkat. “[Al-Bukhari dan Muslim]

Dari atas di atas maka membuktikan bahwa Tawaaf ini adalah suatu keharusan dan seseorang tidak boleh pergi sebelum melakukannya. Waktu Tawaaf Al-Ifaadhah dimulai setelah berdiri di ‘Arafah dan Muzdalifah sampai akhir hidup seseorang menurut pendapat mayoritas ulama.

Para ulama hanya tidak setuju apakah seseorang harus menawarkan pengorbanan jika ia melakukan Tawaaf ini setelah Hari-hari Tashriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) atau tidak.

4. Sa’i antara Safa dan Marwah

Nabi Muhammad sallallaahu `alaihi wa sallam mengatakan:” Jadikan sa‘i sebagai ibadah dan Allah yang Maha Kuasa menentukannya untuk Anda. “[ Hadis Imam Ahmad]

Aisyah Radiyallahu ‘anha juga berkata:“ Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam membuat (antara Safa dan Marwah), menjadi  sebuah kewajiban. Allah akan menolak haji siapa pun yang tidak membuat tawaf antara Safa dan Marwah. ”[ Hadis Imam Muslim]

Waktu melaksanakan sa‘i dimulai segera setelah wukuf di‘ Arafah dan Muzdalifah lalu umat muslim bisa melakukan Tawaaf Al-Ifaadhah.

Keempat rukun haji di atas (Ihraam, wukuf di ‘Arafah,  Tawaaf dan Sa‘i antara Safa dan Marwah) adalah suatu keharusan untuk sah tidaknya ibadah haji seseorang, karena seseorang yang berhaji tidak dapat mendapat kompensasi dengan cara apa pun, baik dengan pengorbanan maupun dengan hal lain jika tidak melakukan keempat rukun haji tersebut.

Selanjutnya yang perlu dilakukan oleh umat Islam adalah perlu mengamati urutan dalam melakukan rukun-rukun di atas karena 4 rukun tersebut adalah syarat sahnya ibadah haji. Oleh karena itu, Ihram harus dilakukan terlebih dahulu, kemudian wukuf di ‘Arafah, kemudian Tawaaf Al-Ifaadhah dan kemudian Sa‘i antara Safa dan Marwah.

Kewajiban Haji

Kewajiban Haji

Ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan oleh umat muslim di antaranya adalah :

1. Ihram

Ihram harus dimulai dari Miqat sebagaimana ditetapkan dalam syariat Islam  karena Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam telahmengatur Miqat sebagai tempat bermulanya ihram dan berkata:” Miqat ini dilakukan untuk orang-orang di tempat-tempat itu, dan mereka yang datang ke Miqat merupakan awal sebagai tempat dimulainya tujuan melakukan ibadah haji dan umrah. ”[Hadis Al-Bukhari]

2. Wukuf di Arafah

Berdiri atau wukuf di ‘Arafah dimulai di siang hari hingga matahari terbenam sebagaimana Nabi Shallallahu` alaihi wa sallam melakukannya dan berkata: “Pelajari kewajiban beribadahmu dari saya.”

3. Bermalam di Muzdalifah

Menghabiskan malam di Al-Muzdalifah pada malam An-Nahr (malam hari kesepuluh Dzulhijjah) adalah hal yang wajib menurut pendapat mayoritas ulama sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa sallam berkata: “Biarkan umatku mempelajari ibadanya, karena aku tidak tahu apakah aku akan bertemu denganmu setelah tahun ini atau tidak.” [Ibn Majah dan yang lain]

Selain itu, Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam memperbolehkan orang-orang yang dirasa lemah dan tidak mampu untuk meninggalkan Al-Muzdalifah setelah tengah malam. Dari perkataan Nabi tersebut, maka itu yang membuktikan bahwa menghabiskan malam di Muzdalifah adalah wajib. Selain itu, Allah SWT memerintahkan para jamaat untuk berzikir kepada Allah di Al-Mashar Al-Haraam.

Diperbolehkan bagi orang-orang lemah, anak-anak dan perempuan yang tidak bisa menahan keramaian yang berlebihan, untuk pergi ke Mina pada akhir malam untuk melemparkan kerikil sebelum kedatangan semua orang. Ibnu ‘Abbaas RA berkata: “Saya termasuk orang yang lemah dari keluarga Nabi Shallallahu’ alaihi wa sallam yang ia izinkan untuk melanjutkan dari Al-Muzdalifah ke Mina sebelum fajar. “[Bukhari dan Muslim]

Aisyah RA juga berkata:” Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam mengirim Ummu Salamah pada malam sebelum Hari Nahr. Dia melempar kerikil sebelum fajar dan kemudian melakukan Tawaaf Al-Ifaadhah. ”[Hadis Imam Abu Dawud]

4. Mabit di Mina

Menghabiskan malam Hari Tashriq di Mina juga menjadi kewajiban sebagaimana Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam melakukannya dan berkata” Pelajari cara melakukan ibadahmu dari saya. “Nabi sallallaahu` alayhi wa sallam juga memberikan izin kepada pamannya Al-‘Abbaas semoga Allah senang dengan dia yang bermalam di Mekah untuk menyediakan air bersih bagi para jamaah haji.

Dia juga membiarkan kawanan unta untuk tidak bermalam di Mina, yang membuktikan bahwa itu wajib selama tidak ada alasan.

5. Melempar jumroh

Jumroh Al-‘Aqabah harus dilempari batu pada hari Raya Idul Fitri dan kemudian diikuti dengan melempar batu tiga kali selama hari-hari tasyriq karena Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam juga melakukannya.

Melempar jumroh dianggap sebagai peringatan akan Allah SWT sebagaimana Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan:” Tawaaf di sekitar Ka’bah, antara Safa dan Marwah dan melempar batu jumroh menjadi sebuah kewajiban untuk mendirikan ibadah kepada Allah . [Hadis Abu Dawud dan lain-lain]

6. Memotong rambut atau mencukur kepala

Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam memerintahkan para jamaah haji untuk mencukur rambut atau memotong pendek rambutnya dan akhiri (keadaan) Ihraam-nya … “[Hadis Imam Al- Bukhari dan Muslim].

Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam juga memohon tiga kali bagi mereka yang mencukur rambut mereka dan satu kali untuk mereka yang memperpendek rambut mereka.

7. Perpisahan Tawaaf

Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan:” Hal terakhir yang harus Anda lakukan sebelum pergi atau mengakhiri haji adalah untuk mengelilingi Ka’bah. (Hadis Imam Muslim). Ibnu ‘Abbaas RA juga berkata: “Nabi Muhammad Shallallahu’ alaihi wa sallam memerintahkan para jamaah haji  bahwa hal terakhir yang harus mereka lakukan di Mekah adalah untuk mengelilingi Ka’bah, tapi Nabi membebaskan wanita yang sedang menstruasi. ”

Meninggalkan salah satu dari tindakan wajib ini tidak membatalkan ibadah haji seseorang, tetapi seseorang harus menawarkan pengorbanan (seekor domba, satu-tujuh unta betina atau sapi) untuk menebusnya.

Pengorbanan ini harus disembelih di Mekah dan dibagikan di antara orang-orang miskin di Masjid Al-Haraam. Ibn ‘Abbaas berkata:” Siapa pun yang lupa salah satu kewajiban berhaji atau meninggalkannya, maka harus melakukan pengorbanan. ”

Sunnah-sunnah Haji

Sunnah-sunnah Haji

Setiap tindakan haji selain dari rukun dan tindakan wajib dianggap sebagai tindakan yang dianggap sunnah.

Misalnya, menghabiskan malam di Mina pada hari kedelapan, melakukan Tawaaf, di tiga putaran pertama, mandi sebelum memasuki tempat bagian Ihraam, mengenakan Izaam putih dan bersih, mengucapkan talbiyah dari awal Ihraam sampai melakukan jumrah Al-‘Aqabah, menyentuh hajar aswad dan menciumnya, membaca doa dan zikir seterusnya.

Seorang jamaah haji dianjurkan untuk tidak mengabaikan tindakan sunnah jika ingin sekali meniru ibadah yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam. Dengan penjelasan rukun haji, kewajiban ibadah-ibadah haji dan juga sunnah-sunnah dalam berhaji, semoga umat muslim semua dimudahkan dalam melaksanakan ibadah haji.

RUKUN HAJI : Tata Cara Berhaji, Penjelasan, Serta Urutan (Paling lengkap)

Leave a Reply