SHOLAT DHUHA - Niat, Tata Cara, Bacaan dan Keutamaan 1

SHOLAT DHUHA – Niat, Tata Cara, Bacaan dan Keutamaan

SHOLAT DHUHA – Sholat Dhuha merupakan sholat Sunnah yang yang dilakukan ketika pagi hari, sholat Dhuha dibatasi oleh waktu dalam mengerjakannya, yaitu pada waktu matahari terbit kira-kira setinggi tombak atau tujuh (7) hasta dan waktu mengerjakan sholat Dhuha berakhir pada waktu matahari berada persis di diatas kepala atau memasuki waktu sholat dluhur.

صلاة الأوابين اذا رمضت الفصال من الضحى (رواه احمد)

Artinya : “Shalat Awwabin (orang-orang yang kembali pada tuhannya/bertaubat) ketika anak unta mulai kepanasan pada waktu Dhuha. (HR. Ahmad) …(1)

 

Pengertian Shalat Dhuha

Pengertian Shalat Dhuha

Sholat Dhuha adalah sholat Sunnah yang yang dilakukan ketika pagi hari, yaitu pada waktu matahari terbit kira-kira setinggi tombak atau tujuh (7) hasta dan waktu mengerjakan sholat Dhuha berakhir pada waktu matahari berada persis di diatas kepala atau memasuki waktu sholat dluhur. …(2)

Senada dengan H. Tolhah Ma’ruf dkk sholat Dhuha adalah sholat yang dikerjakan pada waktu matahari naik setinggi tombak sampai waktu zawal (waktu mejelang sholat dhuhur) …(3)

1. Hukum Sholat Dhuha

hukum melaksanakan sholat Dhuha adalah sunnah, karena Nabi SAW melaksanakan sholat Dhuha namun tidak setiap hari, sebagaimana menurut keterangan hadits dari Aisyah yang diriwayatkan oleh Muslim,

وَلَهُ عَنْهَا اَنَّهَا سُئِلَتْ : هَلْ كَانَ رَسُوْلُ الله ﷺ يُصَلِّى الضُّحَى؟ قَالَتْ : لَا، اِلَّااَنْ يَّجِئَ مِنْ مَغِيْبِهِ (رواه المسلم)

Artinya : Menurut riwayat Muslim dari Aisyah Ra. Bahwasannya Aisyah pernah ditanya: “apakah Rasulullah SAW. Biasa mengerjakan sholat Dhuha?” ia (Aisyah) menjawab: “tidak, kecuali jika Beliau (Nabi Muhammad SAW) datang dari bepergian (HR. Muslim/ Bulughul Maram: 416)

Dan juga menurut keterangan hadits dari Aisyah yang diriwayatkan oleh Muslim:

وَلَهُ عَنْهَا : مَا رَاَيْتُ رَسُوْلُ الله ﷺ يُصَلِّى قَطُّ سُبْحَةُ الضُّحَى وَاِنِّى الَأُسَبِّحُهَا (رواه المسلم)

Artinya : Menurut riwayat Muslim bersumber dari Aisyah Ra. :”Aku tidak melihat Rasulullah SAW dengan tetap mengerjakan sholat Dhuha, akan tetepi aku tetap melaksanakan sholat Dhuha. (HR. Muslim/ Bulughul Maram: 417) …(4)

Menurut keterangan hadits diatas yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah Ra, menjelaskan Nabi tidak selalu mengerjakan sholat Dhuha, namun beliau tetap melakasanakan sholat Dhuha setelah pulang dari bepergian, itu menunjukkan hukum sholat Dhuha Sunnah.

 

Menurut sebagian ulama pendapat yang paling kuat mengatakan hukum sholat Dhuha adalah Sunnah secara mutlaq dan boleh dilakukan secara tersu-menerus, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.

Juga hadits dari Abu Darda yang di riwayatkan oleh Imam Muslim radhiallahu’anhu, ia berkata:

وَعَنْ أَبِي الدَرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَوْصَانِي حَبِيْبِيْ ﷺ بِثلاَثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ: بِصِيَامِ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ مِن كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلاَةِ الضُّحَى، وَبِأَنْ لاَ أَنَام حَتَّى أُوتِر. (رواهُ مسلمٌ 2\1259).

Artinya : dari Abu Darda Ra berkata “Kekasihku (Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) berwasiat kepada ku agar tidak meninggalkan tiga perkara selama aku masih hidup: (1) berpuasa tiga hari di setiap bulan, (2) melakuakn sholat Dhuha (3) dan tidak tidur sampai aku shalat witir” (HR. Muslim no. 2/1259).

 

Hadits senada yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata:

وَعَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: اَوْصَانِي خَلِيْلِيْ بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ اَيَّاِم مِنْ كُلِّ شَهِرِ وَرَكِعَتِى الضُّحَى وَاَنْ اُوْتِرَ قَبْلَ اَنْ اَنَامِ (رواه البخرى والمسلم)

Artinya : dan dari Abu Hurairah Ra. Berkata “Kekasihku Rasulullah SAW, berpesan kepada ku untuk berpuasa selama tiga hari di setiap bulannya, sholat Dhuha dua rakaat, dan sholat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari, Muslim). …(5)

 

Niat dan Waktu sholat Dhuha

Niat dan Waktu sholat Dhuha

  1. Niat Sholat Dhuha

Niat dalam hati: niat merupakan menjadi yang wajib dilakukan apabila hendak melakukan sholat wajib maupun sholat Dhuha dan sholat Sunnah lainnya, sebagaimana Nabi Muhammad SAW, Bersabda.

اَنَّ رَسُوْلُ الله ﷺ اِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِاالنِّيَّاتِ وَاِنَّمَالِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى (الحديث رواه الجماعة)

Artinya: sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “sesungguhnya semua amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai niatnya”. (Riwayat Bukhori: 1 dan Muslim: 1907)

Adapun niat sholat Dhuha sebagai berikut :

اُصَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْىنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ اَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushollii sunnatan Dhuhaa rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa’an lillahi ta’aalaa

Artinya : saya niat sholat Sunnah Dhuha dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.

 

  1. Waktu sholat Dhuha

Seperti keterangan diatas waktu sholat Dhuha adalah ketika matahari tergelincir ke barat setinggi tombak atau tujuh (7) hasta sampai masuk waktu zawal (waktu mejelang sholat dhuhur)

  1. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim

قدِم النَّبيُّ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم المَدِيْنَةَ، فَقَدِمْتُ الْمَدِيْنَةَ، فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ، فَقُلْتُ: أَخْبِرْنِي عَنِ الصَّلاَةِ، فَقَالَ: صَلِّ صَلَاةَ الصُّبْحِ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ؛ فإنَّهَا تطلُعُ حِيْنَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَي شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ، ثُمَّ صَلِّ؛ فإنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُوْدَةٌ مَحْضُوْرَةٌ، حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ (رواه المسلم)

Artinya : “Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam datang ke Madinah, ketika itu aku pun datang ke Madinah. Maka aku pun menemui beliau, lalu aku berkata: wahai Rasulullah, ajarkan aku tentang shalat. Beliau bersabda: kerjakanlah shalat shubuh. Kemudian janganlah shalat ketika matahari sedang terbit sampai ia meninggi. Karena ia sedang terbit di antara dua tanduk setan. Dan ketika itulah orang-orang kafir sujud kepada matahari. Setelah ia meninggi, baru shalatlah. Karena shalat ketika itu dihadiri dan disaksikan (Malaikat), sampai bayangan tombak mengecil” (HR. Muslim no. 832).

 

  • Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan bahwa waktu Dhuha sekitar 15 menit setelah matahari terbit dari timur

ووقتها يبتدئ من ارتفاع الشمس قيد رمح في عين الناظر، وذلك يقارب ربع ساعة بعد طلوعها

Artinya : “Waktu shalat Dhuha adalah dimulai ketika matahari meninggi setinggi tombak bagi orang yang melihatnya (matahari). Dan itu sekitar 15 menit setelah matahari terbit” (Fatwa Ibnu Baz, https://ar.islamway.net/fatwa/14645).

 

  • Dan waktu yang paling utama menurut hadits yang diriwayatkan Imam Muslim

اَنَّ زَيْدَبْنِ اَرْقَمْ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّوْنَ مِنَ الضُّحَى فَقَالَ اَمَا لَقَدْ عَلِمُوا اَنَّ الصَّلَاةَ فِى غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ اَفْضَلُ. اِنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ، قَالَ صَلَاةُ الْأَوَّبِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ (رواه المسلم)

Artinya : sesungguhnya Zaid Bin Arqom melihat sekelompok kaum yang melaksanakan sholat Dhuha, maka dia mengatakan “adapun mereka tidak mengetahui sesungguhnya sholat selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada waktu yang lebih utama. Rasulullah SAW bersabda, “waktu terbaik sholat awwabin (sholat Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan panas terik matahari, artinya ketika kondisi panas di akhir waktu.” (HR. Muslim no. 748).

  • Shalat Isyraq Adalah Shalat Dhuha Di Awal Waktu

Menurut hadits Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَاَنتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةِ وَعُمْرَةِ، تَامَّةِ َامَّةِ َامَّةِ (رواه الترمذى)

Artinya “Barang siapa yang mengerjakan sholat subuh berjamaah di masjid, lalu duduk berdzikir hingga terbit matahari, kemudian sholat dua rakaat, maka bagi dia pahalanya seperti pahala haji dan umrah yang sempurna sempurna sempurna” (HR. Tirmidzi). …(6)

 

Hadist serupa yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani menjelaskan sholat isyraq

مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فِيْ مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيْهِ حَتَّى يُصَلِّي سَبْحَةَ الضُّحَى كَانَ كَأَجْرِ حَاجِّ اَوْمُعْتَمِرٍ تَامًا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ (رواه الطبران)

Artinya : “Barang siapa yang shalat subuh berjamaah di masjid’, kemudian dia tetap berada di dalam masjid, hingga dia melaksanakan shalat Dhuha (dua rakaat), maka dia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang naik haji dan umrah dengan sempurna.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

 

Menurut keterangan dari asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Sholat isyraq adalah sholat Dhuha. Namun, jikalau kamu melaksanakan sholat pada awal waktu saat matahari terbit dari ufuk timur dan telah meninggi seukuran batang tombak (menurut pandangan secara kasat mata), itu namanya shalat isyraq. Apabila sholat dilaksanakan di akhir waktu atau di pertengahan waktu antara jam tujuh (7) pagi sampai waktu zawal, itu dinamakan shalat Dhuha.

Akan tetapi, shalat isyraq oleh para ulama sepakat termasuk golongan sholat Dhuha, karena para ulama rahimahumullah mengatakan bahwa waktu shoalat Dhuha dimulai sejak matahari meninggi kira-kira seukuran batang tombak sampai menjelang waktu zawal (matahari bergeser ke ke arah barat).” …(7)

Dari pendapat diatas tentang sholat isyraq dan sholat Dhuha dapat diambil kesimpulan bahwa melaksanakan sholat isyraq dua rakaat adalah melaksanakan sholat Dhuha dua rakaat, akan tetapi jika melaksanakan disegerakan di awal waktu yaitu saat matahari terbit dari ufuk timur kira-kira telah meninggi seukuran batang tombak, itu adalah sholat isyraq dan Dhuha, jika melaksanakan dua rakaat atau lebih dilaksanakan akhir waktu, kira-kira jam tujuh (7) sampai menjelang waktu zawal maka itu adalah sholat Dhuha saja, bukan di namakan sholat isyraq.

 

Bilangan Sholat Dhuha

Bilangan Sholat Dhuha

Tidak ada perbedaan ulama dalam hukum sholat Dhuha yaitu Sunnah, namun ada perbedaan dalam jumlah bilangan rakaat nya, minimal dalam melaksanakan sholat Dhuha dua rakaat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Dzar :

وَعَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ اَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ، وَاَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَالِكَ رَكْعَتَانِ يَزْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى (رواه المسلم)

Artinya : dan dari Abu Dzar radhiyalluhu ‘anhu “bahwa Rasulullah Shalluhu Alaihi Wasallam bersabda, “hendaklah pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian diantara kalian untuk bersedakah, setiap bacaan tasbih (Subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah dan setiap bacaan takbir (Allahu Akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan sholat Dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim, No 720)

 

Dan juga hadits Dari Buraidah Al Aslami Ra, Nabi Muhammad SAW bersabda,

فِي الْإِنْسَانِ ثَلَاثُ مِئَةٍ وَسِتُّوْنَ مَفصِلًا، فَعَلَيْهِ اَنْ يَتَصَدَقَ عَنْ كُلِّ مَفصِلٍ النَّخَاعَةُ في : مِنْهُ بِصَدَقَةٍ، قَالُوا : وَمَنْ يُطِيْقَ ذَلِكَ يَانَبِيَّ اللهِ؟ قَالَ الْمَسْجِدَ تَدفِنُهَا، وَالشَّيْءُ تُنْحِيْهِ عَنِ الطَّرِيْقِ، فَاِنْ لَمْ تَجِدْ فركعتَانِ الضُحَى تُجزئُكَ (رواه ابو داود)

Artinya “di dalam Manusia memiliki 360 sendi, diwajibkan bersedekah untuk setiap sendinya”. Para sahabat bertanya, ”Siapa yang mampu melakukan demikian, wahai Nabi Allah?”. Nabi bersabda, ”Cukup dengan menutup dahak yang ada di lantai masjid dengan tanah dan menghilangkan gangguan dari jalanan. Apabila engkau tidak mendapatinya, maka lakukanlah dua raka’at shalat Dhuha yang itu bisa mencukupimu” (HR. Abu Daud no.5242, dishahihkan Al Albani)

Dan juga hadits dari Abu Hurairah ra,

وَعَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: اَوْصَانِي خَلِيْلِيْ بِثَلَاثٍ صِيَامِ ثَلَاثَةِ اَيَّاِم مِنْ كُلِّ شَهِرِ وَرَكِعَتِى الضُّحَى وَاَنْ اُوْتِرَ قَبْلَ اَنْ اَنَامِ (رواه البخرى والمسلم)

Artinya : dan dari Abu Hurairah Ra. Berkata “Kekasihku Rasulullah SAW, berpesan kepada ku untuk berpuasa selama tiga hari di setiap bulannya, sholat Dhuha dua rakaat, dan sholat witir sebelum tidur” (HR. Bukhari, Muslim). …(8)

 

Namun dalam jumlah maksimal untuk melaksanakan sholat Dhuha ada perbedaan pendapat, dalam hal ini antara lain:

  1. Jumlah sholat Dhuha empat rakaat dan tanpa batas

Berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يُصَلِّى الضُّحَى اَرْبَعًا وَيَزِيْدُ مَاشَاءَاللهُ (رواه المسلم)

Artinya : Dari Aisyah Ra. Ia berkata: “Adapaun Rasulullah SAW biasanya mengerjalakan sholat Dhuha empat rakaat dan menambahkannya seperti yang di kehendaki Allah.” (HR. Muslim/Bulughul Maram: 415)

 

Dan juga hadits dari Abu Darda yang di riwayatkan oleh Imam Muslim:

يَاِبْنَ اَدَمَ، صَلِّى لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مِنْ اَوَّلِ النَّهَارِ اَكْفِكَ اَخِرَهُ (رواه الترمذى)

Artinya: Wahai anak adam, kerjakanlah sholat empat (4) rakaat untuk-Ku (Allah) pada waktu Dhuha, maka Aku (Allah) akan memberikan jaminan yang cukup kepada mu sampai ahir hari itu. (HR. Tirmidzi)

  1. Jumlah sholat Dhuha delapan rakaat, berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : دَخَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتِيْ فَصَلِّى الضُّحَى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ (رواه ابن حبان فى الصحيحه)

Artinya : Dari Aisyah ra, ia berkata : “Rasulullah SAW masuk ke rumahku, kemudian beliau mengerjakan sholat Dhuha delapan rakaat.” (HR. Ibnu hibban dalam kitab sahihnya/ Bulughul Maram: 420)

  1. Jumlah sholat Dhuha dua belas (12) rakaat, berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW:

وَعَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قال رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “مَنْ صَلَّى الضُّحَى اثْنَتَيْ عَشْرَةً رَكَعَةً بَنَى اللهُ لَهُ قَصْرً فِى الْجَنَّةِ” (رواه الترمذى واستغربه)

Artinya : Dari Anas ra, ia berkata: “Rasulullah SAW, bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan sholat Dhuha dua belas rakaat, niscaya Allah membangunkan sebuah istana baginya di surga”(Hadits Gharib diriwayatkan oelh tirmidzi/ Bulughul Maram: 419)

Keterangan dari hadits di atas tentang  jumlah rakaat sholat Dhuha tidak ada yang bertentangan dengan jumlah-jumlah rakaat yang lainnya, ini berdasarkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dari Ibnu Umar bahwa Ibnu Umar telah bertanya kepada Abu Dzar rakaat sholat Dhuha yang telah ditanyakan kepada kepada Rasulullah SAW.

Abu Dzar menjawa pertanyaan Ibnu Umar: “jikalau engkau mengerjakan sholat Dhuha dengan dua rakaat, maka engkau tidak akan ditulis sebagai orang-orang yang lupa, jikalau engkau mengerjakan sholat Dhuha dengan empat rakaat, maka engkau akan ditulis sebagai orang-orang yang ahli ibadah, jika engkau mengerjakan sholat Dhuha dengan enam rakaat, maka engkau tidak akan menemui dosa, jika engkau mengerjakan sholat Dhuha delapan rakaat, maka engkau akan ditulis digolongkan sebagai orang-orang yang bertaubat dan jikalau engkau mengerjakan sholat Dhuha dengan sepuluh rakaat, maka engkau akan dibagunkan gedung di dalam surga. …(9)

[/su_note]

Tata Cara Sholat Dhuha

Tata Cara Sholat Dhuha

Cara mengerjakan sholat Dhuha sama dengan tatacara sholat fardlu atau sholat Sunnah lainnya, yang membedakan hanyalah pada niatnya:

Berikut adalah cara mengerjakan sholat Dhuha dua rakaat

RAKAAT PERTAMA

  1. Niat sholat Dhuha

Niat pengertian niat adalah segala keinginan di dalam hati dan di barengi dengan pekerjaan.

Adapaun membaca lafad niat sholat Dhuha sudah tertera di atas

  1. Takbiratul ihram

Bacaan takbiratul ihram di ucapkan dan keraskan minimal di dengar oleh telinga kita sendiri, kecuali ketika menjadi seorang imam harus di baca dengan keras supaya makmum yang ada di belakang mendengar bacaan takbiratul ihram seorang imam. Kalimat takbiratul ihram adalah الله اكبر

  1. Berdiri ketika melakukan sholat kecuali bagi yang tak mampu melakukan sholat dengan berdiri maka boleh sholat dengan duduk, kalau tidak kuat duduk maka boleh sholat dengan berbaring. Hal ini berlaku untuk sholat fardlu lima waktu
  2. Membaca surah al-fatihah setiap rakaat pada sholat Dhuha

Membaca surah al-fatihah merupakan termasuk rukun sholat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW

لَاصَلَاةِ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَاب (رواه البخرى والمسلم)

Artinya : “tidak  ada sholat bagi orang yang tidak membaca faatihatul kitab” (HR.  Al bukhari) …(10)

untuk bacaan al-fatihah minimal di dengar oleh diri sendiri, bagi yang tidak mampu membaca surah al-fatihah maka membaca surah yang lainnya yang panjang nya sama dengan surah al-fatihah.

  1. Membaca surah-surah pendek yang ada di al-Qur’an,
  • Adapun dalam memabaca surah-surah pendek para ulama menyepakati dan menganjurkan pada Rakaat pertama membaca surah Asy-Syamsi, dan rakaat kedua membaca surah Ad Dhuha.
  • Akan Tetapi ada juga berpendapat pada rakakt pertama membaca surah Ad Dhuha dan pada rakaat kedua membaca surah Al Ikhlas di rakaat ke dua.

Walaupun demikian tidak ada aturan baku dalam membaca surah-surah pendek dalam al-Qur’an hanya saja disesuikan menurut hafalan orang yang sedang mengerjakannya.

  1. Rukuk yaitu membungkuk kan tubuh minimal jari tangan bisa meraih lutut kaki. Dengan membaca

سبحان ربي العظيم وبحمده

Artinya : Maha suci Allah tuhanku yang maha agung dan memujinya.

  1. I’tidal atau berdiri tegak setelah melakukan rukuk, dengan membaca

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَالَكَ الْحَمْدُمِلْءُالسَّمَوَاتِ وَمِلْءُ الأَرْضِ وَمِلْءُمَاشِئْتَ مِنْ شَيْئٍ بَعْدُ

Artinya : ya tuhan kami! Bagimu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa yang engkau kehendaki sesudah itu,

  1. Sujud: sebagain besar ulama ahli fiqh sependapat sujud dilakukan menggunakan dahi, hidung, kedua telapak tangan, kedua nlutut dan kedua kaki. Dengan memabaca

سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ

Artinya : Maha suci Allah tuhanku yang maha luhur dan memujinya.

  1. Duduk setelah sujud di antara dua sujud hingga posisi tegak dalam duduk. Dengan membaca:

رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَارْفَعْنِيْ وَرْزُقْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَعَافِنِيْ وَاعْفُ عَنِّيْ

Artinya : ya Allah tuhanku, ampunilah aku, kasihinilah aku, tutuplah segala kekuranganku (aibku), cukupkan aku dari segala kekurangan, angkat lah derajat ku, berilah aku rezeki, berilah aku petunjuk, berilah aku keselamatan, dan berilah aku ampunan.

  1. Tuma’ninah dalam semua rukun, yaitu tuma’ninah ketika sedang ruku, ketika sedang berdiri dari rukuk, ketika sedang sujud, dan ketika sedang duduk diantara dua sujud,

Sedangkan tuma’ninah itu sendiri adalah berhanti atau jeda sebentar, kira-kira selama membaca kalimat subhanallah.

  1. Melakukan sujud lagi,
  2. Berdiri untuk menunaikan rakaat kedua.

RAKAAT KEDUA

  1. Berdiri Membaca surah Al Fatihah
  2. Membaca surah-surah pendek dari Al Qur’an, diutamakan Surah Ad Dhuha
  3. Kemudian Ruku dan tuma’ninah dan tuma’ninah
  4. Lalu Itidal (berdiri dari ruku’) dan tuma’ninah
  5. Selanjutnya melakukan sujud pertama dan tuma’ninah
  6. Lalu Duduk di antara dua sujud dan tuma’ninah
  7. Lalu Sujud yang kedua dan tuma’ninah
  8. Duduk Tahiyat akhir
  9. Dan terakhir mengucapkan Salam. …(11)

 

Manfaat Mengerjakan Sholat Dhuha

Manfaat Mengerjakan Sholat Dhuha

Dari hadits diatas dapat diketahui Manfaat atau fadilah mengerjakan sholat Dhuha antara lain:

  1. Sebagai pengganti sedekah seluruh 360 sendi yang ada dalam tubuh
  2. Allah akan mencukupi urusannya di ahir siang, at-thiby berkata akan diberi kucupan dalam urusanmu dan akan di hindari dari hal-hal yang tidak disukai sampai ahir siang
  3. Mengerjakan sholat Dhuha akan mendapatkan pahala haji dan umrah yang sempurna
  4. Dicatat sebagai orang awwabin yaitu orang-orang yang kembali kepada Allah
  5. Betambah rezekinya, seperti dalam doa sholat Dhuha.
[/su_note]

Doa Setelah Sholat Dhuha

Doa Setelah Sholat Dhuha

Sebelum berdo’a kita dianjurkan untuk banyak-banyak membaca kalimat thayyiba, kalimat tauhid, kaliamt istighfar, dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Adapaun do’a setelah sholat Dhuha sebagai berikut:

اَلْحَمْدُ الِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكاَفِئُ مَزِيْدَه. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ، اَلَّلهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللَّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِيْ فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى الْأَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعْسِرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقٍ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ وَعِصْمَتِكَ. اَللَّهُمَّ اَتِنِي مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya : “Segala puji hanya bagi Allah, tuhan yang memelihara dan menguasai semesta alam, segala pujian bagi-Nya atas karunia nikmat–Nya yang diberikan kepada kami, semoga Allah selalu mencurahkan shoalwat dan kesejahteraan ke atas penghulu kami Nabi Muhammad SAW,

Ya Allah sesungguhnya waktu Dhuha itu adala waktu Dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan itu adalah keindahan-Mu, kekuatan itu adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu. Ya Allah jika rezeki itu masih ada di langit maka turunkanlah, dan jika masih ada dalam bumi maka keluarkanlah, jika rezeki itu masih sukar maka permudahlah, jika rezeki itu masih kotor/ haram maka sucikanlah dan jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha-Mu, kecantikan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, kekuasaan-Mu, maka limpahkanlah kepadaku segala yang telah engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang soleh.

 Ya Allah tuhan kami, berilah kami kebaikan hidu di dunia dan kebaikan hidu di akhirat dan jagalah kami dari siksa api neraka.

 

Alhamdulillah,

والله اعلم بالصواب

wallahu a’lam bishshawab,

ALLAH YANG MAHA TAHU DENGAN SEBENAR-BENARNYA

 

PENULIS:

Moh. Nasiruddin

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Khalilurrahman Al Mahfani, Berkah Shalat Dhuha, Jakarta: Whayu Media, 2008, hal. 11
  2. Hassan Ayyub, Fiqih Ibadah Edisi Indonesia, Depok: PT Fathan Proma Media, 2014, hal 291
  3. Tolhah Ma’ruf dkk, Fiqih Ibadah Panduan Lengkap Beribadah Versi Ahlusunnah, Kediri: PP Alfalah Ploso Mojo, 2008, hal 133
  4. Ahmad Muhammad Yusuf, Lc, MA Ensiklopedi Tematis ayat al-Qur’an & Hadits, 2009, hal 236
  5. Hassan Ayyub, Fiqih Ibadah Edisi Indonesia, Depok: PT Fathan Proma Media, 2014, hal 292
  6. Tirmidzi no. 586, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 3403
  7. Lihat kitab Liqa’ Bab al-Maftuh (141/25)
  8. Hassan Ayyub, Fiqih Ibadah Edisi Indonesia, Depok: PT Fathan Proma Media, 2014, hal 292
  9. Ahmad Muhammad Yusuf, Lc, MA Ensiklopedi Tematis ayat al-Qur’an & Hadits, 2009, hal 237
  10. Al bukhari 756, Muslim 394
  11. Labib Mz-Ust Moh. Ridlo’I Ali, Terjemah Irsyadul Ibad, Sirabaya: CV Pustaka Agung Harapan, hal. 73-75

SHOLAT DHUHA – Niat, Tata Cara, Bacaan, Keutamaan

Leave a Reply