Bacaan Doa Iftitah: Keutamaan, Arti, Arab dan Latin (Terlengkap) 1

Bacaan Doa Iftitah: Keutamaan, Arti, Arab dan Latin (Terlengkap)

Bacaan Doa Iftitah – Bagi seorang muslim, memahami bacaan doa Iftitah Arab, latin, arti, keutamaan sangatlah penting karena bacaan doa iftitah sendiri adalah salah satu Sunnah dalam sholat yang sering dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alai wa sallam. Bacaan doa iftitah yang juga dikenal sebagai doa istiftah ini memiliki beragam keutamaan apabila diamalkan oleh seorang muslim secara khushuk di waktu sholat.

Doa iftitah atau istiftah ini sendiri memiliki berbagai versi yang bisa diamalkan oleh setiap muslim. Ada bacaan doa iftitah atau istiftah yang cukup pendek dan bisa dipilih oleh mereka yang memang sudah cukup kesulitan untuk menghafal bacaan doa yang panjang.

Pengertian Bacaan Doa Iftitah atau Istiftah

Pengertian Bacaan Doa Iftitah atau Istiftah

Doa iftitah jika dilihat secara bahasa memiliki makna pembuka. Kata iftitah ini sendiri memiliki rumpun kata yang sama dengan kata miftah yang mana secara bahasa memiliki makna kunci atau alat untuk membuka sesuatu. Jika melihat maknanya secara bahasa, maka dapat disimpulkan bahwa doa iftitah ini berarti adalah kunci pembuka dalam setiap sholat.

Hal ini juga diperkuat dengan isi dari doa iftitah yang memang lebih kepada laporan seorang hamba bahwa ia tengah memenuhi panggilan Allah subhanahu wa taala. Misalnya saja salah satu bacaan doa iftitah atau istiftah yang memiliki arti “Aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang telah menciptakan langit dan juga bumi”.

Dari ayat tersebut, makna wajah atau muka tersebut bukanlah berarti wajah secara dzahir yang ada di kepala. Namun wajah atau muka tersebut bermaksud muka bathin yang diarahkan hanya kepada Allah subhanahu wa taala semata. Hal ini disebabkan kita sebagai manusia tidak memiliki kemampuan mata secara dzahir untuk melihat Allah, namun hanyalah mata bathin kita yang diarahkan ke Allah semata.

Doa iftitah sendiri juga dimaknai sebagai ungkapan kefanaan dari seorang hamba yang tengah menghadapkan wajahnya kepada Rabb yang menciptakan dia dana lam semesta. Maksud fana di sini adalah kondisi spiritual yang mana seorang hamba tengah berada di posisi sangat sadar atau puncak kesadaran akan pertemuannya dengan Rabbnya.

Kemudian di dalam doa iftitah juga terdapat ungkapan yang hanya menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Ungkapan ini seperti yang tertera di salah satu bacaan doa iftitah yakni shalatku, ibadahku serta hidup maupun matiku hanyalah milik Allah semata. Dengan adanya pengakuan ini maka seorang hamba menyadari bahwa urusan duniawinya itu hanyalah ditujukan kepada Allah subhanahu wa taala.

Bahkan, doa iftitah atau istiftah dikatakan merupakan usaha yang terakhir dalam menurunkan frekuensi gelombang dari otak yang berawal dari gelombang otak beta kemudian menuju ke alfa. Setelah dari alfa maka gelombang dari otak dialirkan menuju ke teta. Maksud dari gelombang beta ini adalah kondisi seseorang yang memang masih belum dapat khushuk ketika shalat.

Ketika pikiran beta masih aktif, maka khushuk seorang hamba sulit untuk diraih. Seluruh rangkaian sebelum sholat mulai dari wudhu, azan, menutupi auratnya dan hingga keseluruhannya bermaksud agar pikiran yang aktif tidak lagi menguasai dirinya.

Hukum Dalam Membaca Bacaan Doa Iftitah

Hukum Dalam Membaca Bacaan Doa Iftitah

Sebelum Anda membiasakan diri dalam membaca bacaan doa iftitah atau istiftah setiap sholat, akan jauh lebih baik jika Anda memahami apa sebenarnya hukum ketika membaca doa ini. Membaca bacaan doa iftitah atau istiftah adalah Sunnah artinya sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Namun, apabila ditinggalkan pun tidak akan bernilai dosa bagi pelakunya.

Ada banyak dalil yang menunjukkan hal tersebut, salah satu dalil terkuat adalah hadist dari Abu Hurairah radiallahu anhu yang berkata bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya saat sholat setelah takbir terdiam beberapa saat. Setelah beliau Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam barulah beliau melanjutkannya dengan membaca ayat.

Hal tersebut membuat Abu Hurairah radiallahu anhu heran dan bertanya kepada Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata,“wahai Rasulullah, aku tebus engkau dengan bapak serta ibuku, aku melihat Anda diam di antara bacaan takbir serta ayat. Apa yang Anda baca saat itu ya Rasulullah?” Maka beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membacakan doa iftitah atau istiftah.

Penjelasan mengenai hal tersebut juga tertuang di dalam kitab Al Adzkar yang dikarang oleh Imam An-Nawawi, seorang imam besar dari kalangan madzhab As Syafi’iyyah. Beliau menyebutkan bahwa semua doa-doa (istiftah atau iftitah) ini bernilai Sunnah atau mustahabbah (sangat dicintai) untuk dibaca ketika sholat Sunnah dan juga sholat wajib. Kalimat beliau ini terdapat dalam kitab Al Adzkar halaman 107.

Meski begitu, Imam Malik berpendapat bahwa setelah takbiratul ihram, maka Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung membaca surat Al Fatihah. Hal ini bertentangan dengan jumhur dalil dan pendapat jumhur ulama sehingga kurang tepat.

Lantas, seperti apakah bacaan doa-doa iftitah atau istiftah yang dibaca setiap sholat oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Menurut jumhur ulama, ada setidaknya beberapa doa iftitah yang sering dibaca oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beberapa doa sering beliau baca saat sholat malam sementara doa lainnya dibaca beliau ketika sholat wajib dan sebagainya.

Karena bacaan doa iftitah atau istiftah memang tidak mutlak hanya satu, sehingga kita sebagai umatnya dipersilahkan untuk memilih salah satu dari doa tersebut. Kita boleh memilih yang paling terasa nyaman untuk kita baca. Sebaliknya, jika ingin menghapal dan mengamalkan semua doa tersebut juga sangat dipersilahkan agar kita sesuai dengan pengamalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berikut adalah doa-doa iftitah atau istiftah yang biasanya dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

Bacaan Doa Iftitah 1

Bacaan Doa Iftitah 1

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

“SUBHAANAKALLOHUMMA WA BI HAMDIKA WA TABAAROKASMUKA WA TA’AALAAJADDUKA WA LAA ILAHA GHOIRUK

(artinya: Maha suci Engkau ya Allah, aku memuji-Mu, Maha berkah Nama-Mu. Maha tinggi kekayaan dan kebesaran-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau).” (HR. Muslim, no. 399; Abu Daud, no. 775;Tirmidzi, no. 242; Ibnu Majah, no. 804).

Bacaan doa iftitah atau istiftah di atas diriwayatkan oleh para sahabat secara marfu’. Para sahabat yang meriwayatkan bacaan doa iftitah atau istiftah tersebut adalah dari ‘Aisyah radiallahu anha istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Anas bin Malik radiallahu anhu serta Jabir radiallahu anhu.

Bacaan doa iftitah atau istiftah tersebut juga dikuatkan dari riwayat Imam Muslim bahwa Umar bin Khattab pernah suatu kali mengeraskan (menjahirkan) bacaan doa iftitah tersebut tatkala sholat. Hal ini tertera di kitab beliau Hadist Riwayat Muslim nomor 399. Bacaan yang dibaca oleh Umar bin Khattab radiallahu anhu ini bahkan dihukum sebagai marfu yakni sampai hingga Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Doa iftitah atau istiftah di atas termasuk doa yang paling banyak diamalkan oleh sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama pun sangat menyukai untuk mengamalkan doa tersebut ketika sholat baik wajib maupun Sunnah.

Bahkan, menurut riwayat, Imam Ahmad sampai mengatakan bahwa beliau terbiasa membaca doa iftitah atau istiftah ini sebagaimana yang biasa dibaca oleh Umar bin Khattab radiallahu anhu. Namun, apabila yang lain membaca doa iftitah atau istiftah yang lainnya, maka hal tersebut tetap baik dan tak mengapa.

Doa iftitah atau istiftah yang ini juga sangat cocok untuk diajarkan kepada anak-anak yang baru belajar sholat karena lebih singkat sehingga lebih mudah dihapal. Selain itu, karena doa ini lebih singkat sehingga doa ini cocok dibaca oleh imam yang mengimami sholat dengan makmum banyak dari kalangan orang tua, orang lemah ataupun anak-anak.

Baca Juga: https://sekolahnesia.com/doa-pernikahan/

Bacaan Doa Iftitah 2

Bacaan Doa Iftitah 2

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

“ALLOHUMMA BAA’ID BAYNII WA BAYNA KHOTHOYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAYNAL MASYRIQI WAL MAGHRIB. ALLOHUMMA NAQQINII MIN KHOTHOYAAYA KAMAA YUNAQQOTS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANAS. ALLOHUMMAGH-SILNII MIN KHOTHOYAAYA BIL MAA-I WATS TSALJI WAL BAROD

(artinya: Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan embun).” (HR. Bukhari,no. 744;Muslim,no. 598;An-Nasa’i,no. 896;teks haditsnyaadalah dari An-Nasa’i).

Di antara doa iftitah atau istiftah yang lainnya, doa yang satu ini merupakan doa yang paling shahih kedudukannya. Kedudukan doa ini tertera sebagaimana yang ada di dalam kitab Fathul Baari karya Ibnu Hajar. Doa ini juga yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau sholat fardu.

Doa ini juga tidak terlalu panjang sehingga cocok digunakan oleh imam yang memimpin sholat fardu agar jamaah tidak merasa berat. Terutama apabila jamaahnya banyak dari kalangan orang lemah, sakit, orang tua dan anak-anak.

Bacaan Doa Iftitah 3

Bacaan Doa Iftitah 3

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اِهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“ALLOHUMMA ROBBA JIBROO-IILA WA MII-KA-IILA WA ISROOFIILA, FAATHIROS SAMAAWAATI WAL ARDHI ‘ALIIMAL GHOIBI WASY SYAHAADAH ANTA TAHKUMU BAYNA ‘IBAADIKA FIIMAA KAANUU FIIHI YAKHTALIFUUN, IHDINII LIMAKHTULIFA FIIHI MINAL HAQQI BI-IDZNIK, INNAKA TAHDI MAN TASYAA-U ILAA SHIROOTIM MUSTAQIIM

(artinya: Ya Allah, Rabbnya Jibril, Mikail dan Israfil. Wahai Pencipta langit dan bumi. Wahai Rabb yang mengetahui yang ghaib dan nyata. Engkau yang menjatuhkan hukum untuk memutuskan apa yang mereka pertentangkan. Tunjukkanlah aku pada kebenaran apa yang dipertentangkan dengan seizin dari-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan pada jalan yang lurus bagi orang yang Engkau kehendaki).” (HR. Muslim, no. 770)

Doa iftitah atau istiftah ini merupakan doa yang paling sering Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam baca tatkala beliau sedang sholat malam. Oleh karena itu jika kita ingin mengikuti Sunnah beliau kita dianjurkan untuk membaca doa iftitah atau istiftah ini tatkala sholat malam dan tahajud.

Meski begitu, karena hukum membacanya Sunnah, apabila Anda belum mampu menghapalnya diperbolehkan untuk membaca doa iftitah atau istiftah yang lainnya selama doa tersebut shahih hukumnya. Doa ini juga tidak terbatas hanya untuk dibaca tatkala sholat malam. Hukumnya tetap masyru’ untuk dibaca saat sholat Sunnah yang lain termasuk pula sholat fardu.

Bacaan Doa Iftitah 4

Bacaan Doa Iftitah 4

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وَهَمْزِهِ

“ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, ALLOHU AKBAR KABIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WALHAMDULILLAHI KATSIIRO, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILAA, WA SUBHANALLAHI BUKROTAW WASHIILA A’UDZU BILLAHI MINASY SYAITHOONI MIN NAFKHIHI, WA NAFTSHIHI, WA HAMZIH

(artinya: Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Maha Suci Allah di waktu pagi dan sore. Aku berlindung kepada Allah dari tiupan, bisikan, dan godaan setan).” (HR. Abu Daud, no. 764; Ibnu Majah, no. 807; Ahmad, 4:80,85. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dan ‘Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq Zaad Al-Ma’ad, 1:197 mengatakan bahwa hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim dan disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi).

Menurut jumhur ulama misalnya saja Ibnu Taimiyyah, Syaikh Ibnu Baz, Syaikh As Sa’di dan juga Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa agar doa istiftah atau iftitah yang berbagai macam tersebut tidak digabungkan di dalam satu sholat. Jumhur imam di atas menyarankan supaya pengamalan doa istiftah atau iftitah tersebut dilakukan secara bergantian.

Dilakukan secara bergantian misalnya saja di sholat fardu membaca doa yang pertama. Kemudian di kesempatan sholat yang lain mengamalkan doa istiftah atau iftitah yang kedua. Lakukan secara bergantian apabila mampu menghapal kesemuanya. Namun, tidak mengapa jika hanya mengamalkan satu saja. Hal ini tertera sebagaimana di dalam kitab Mulakhash Fiqh Al ‘ibadat halaman ke 208.

Adab Dalam Membaca Doa Iftitah

Adab Dalam Membaca Doa Iftitah

Meskipun membaca bacaan doa iftitah atau istiftah memiliki beragam keutamaan yang sangat baik dan sangat sayang jika tidak diambil, namun terdapat adab ketika Anda akan membacanya. Adab ini terutama juga berlaku ketika Anda bertindak sebagai imam sholat. Berikut adab yang harus Anda pahami.

1.Jangan Membaca Doa yang Terlalu Panjang

Apabila Anda bertindak sebagai imam sholat, maka pemilihan di antara bacaan doa iftitah atau istiftah yang panjang maupun yang pendek bergantung dari keridhoan makmum. Apabila makmum ridho apabila imam membaca bacaan yang panjang, termasuk di dalamnya bacaan doa iftitah atau istiftah dan juga ayat-ayat Al Quran, maka tidak apa apabila imam memilih bacaan yang panjang.

Namun, apabila makmum tidak atau kurang ridho jikalau imam memilih bacaan yang panjang, termasuk di dalamnya ayat-ayat Quran dan juga bacaan doa iftitah atau istiftah, maka disunnahkan agar memilih yang tidak terlalu panjang. Sebaiknya justru mengambil yang singkat saja.

Dalil mengenai hal ini terdapat di dalam Hadist Riwayat Muslim nomor 467 yang berkaitan dengan adab seseorang menjadi seorang imam. Tatkala seseorang menjadi imam sholat, maka sangat dianjurkan agar bacaan sholatnya diringankan atau dipersingkat. Hal ini dikarenakan sebagian makmum bisa saja seseorang yang sedang sakit, orang tua, lemah maupun anak kecil.

Sebaliknya, jika orang tersebut sholat sendirian, maka bolehlah ia membaca ayat sepanjang yang ia inginkan. Hal ini pun berlaku untuk bacaan doa iftitah atau istiftah yang mana seseorang boleh saja menggabungkan doa-doa tersebut jika sholat sendirian.

2. Sebagai Makmum yang Masbuk

Apabila Anda berada di posisi seorang makmum yang masbuk dan imam masih dalam posisi berdiri, maka tetap disunnahkan membaca bacaan doa iftitah atau istiftah. Namun, hal ini berlaku apabila Anda merasa bahwa imam masih lama dari ruku’nya.

Sebaliknya, jika Anda khawatir imam akan segera ruku’ dan Anda tidak sempat membaca surat Al Fatihah, maka sebaiknya dahulukan surat Al Fatihah dan tidak perlu membaca doa iftitah. Karena kedudukan surat Al Fatihah dalam sholat adalah rukun sholat sementara bacaan iftitah atau istiftah adalah Sunnah.

3. Jika Imam sudah Berada di Posisi Lain

Terkadang apabila makmum masbuk, bisa saja imam sudah dalam posisi sujud, rukuk, duduk di antara dua sujud dan banyak lainnya. Apabila makmum mendapati imam sudah dalam posisi selain berdiri, maka sebaiknya langsung mengikuti gerakan imam dan membaca sebagaimana yang dibaca oleh imam. Anda tidak perlu untuk membaca bacaan iftitah lagi.

4. Tidak Perlu Dibaca Saat Sholat Jenazah

Ada perbedaan pendapat mengenai perlunya membaca bacaan doa iftitah atau istiftah saat sholat jenazah di kalangan ulama bermadzhab Syafi’iyyah. Namun, jika kita melihat pendapat Imam An-Nawawi, salah satu ulama bermadzhab Syaafi’iyyah, beliau mengatakan bahwa saat sholat jenazah tidak perlu dibaca karena sholat jenazah itu seharusnya ringan sifatnya.

5. Hukum Doa Iftitah Sunnah

Hukum doa iftitah itu adalah Sunnah sehingga sangat dianjurkan untuk dikerjakan. Namun, sebaliknya apabila ditinggalkan tidak akan berdosa. Untuk itu, tidak diperlukan sujud sahwi jika ditinggalkan.

6. Dibaca Lirih

Sunnah dalam membaca bacaan doa iftitah atau istiftah adalah sirr atau lirih. Hukumnya menjadi makruh jika dibaca keras-keras atau jahr. Meski begitu hal tersebut tidak membuat sholat menjadi batal.

7. Jika Lupa Membacanya Tidak Perlu Diganti

Hal ini sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Ibnu Taimiyyah di dalam kitab Shifat Ash-Shalah min Syarh Al Umdah halaman 97. Belia menerangkan bahwa apabila seseorang terlupa untuk membaca doa istiftah atau iftitah saat rakaat pertama, maka orang tersebut tidak diwajibkan untuk menggantinya di rakaat kedua.

Setelah mengetahui bacaan doa Iftitah Arab, latin, arti dan keutamaannya kita mengetahui bahwa hukum membaca doa iftitah atau istiftah bernilai Sunnah. Oleh karenanya sangat dianjurkan bagi kita untuk membaca doa tersebut terutama saat kita sedang sholat munfarid atau sendirian karena diharapkan dapat menambah pahala sholat kita.

Namun, apabila Anda sholat berjamaah dan menjadi imam, disunnahkan agar sebaiknya memilih bacaan yang singkat saja. Hal ini agar tidak memberatkan jamaah sholat.

Bacaan Doa Iftitah: Keutamaan, Arti, Arab dan Latin (Terlengkap)

Leave a Reply