Cerita Sejarah Fiksi

4 Contoh Teks Sejarah (pribadi, pengalaman pribadi, cerpen, dan novel)

Teks Sejarah – Bagi sebagian orang, sejarah merupakan hal yang sangat menarik utuk dibaca atau dipelajari. Teks cerita sejarah bukan hanya menggambarkan peristiwa politik yang terjadi di masa lampau, Biografi adalah salah satu contoh teks cerita sejarah yang menuliskan tentang kisah hidup seseorang yang cukup terkenal, bisa tokoh agama atau sosok selebriti.

Contoh Teks Berupa Sejarah Pribadi

Contoh Teks Berupa Sejarah Pribadi

Sejarah pribadi selalu menarik minat pembaca terutama contoh teks cerita sejarah pribadi milik selebritis atau tokoh dunia. Pembaca biasanya penasaran mengenai apa yang telah dilalui seorang publik figur sebelum mereka menjadi terkenal. Dibawah ini adalah salah satu teks sejarah pribadi non-fiksi milik aktris Marylin Monroe.

Marylin Monore, Ikon Kultur Pop Dunia

Norma Jeane Mortensen atau mungkin yang lebih dikenal dunia dengan nama Marylin Monroe, lahir pada tanggal 1 Juni 1926 di Los Angeles County Hospital, Amerika Serikat. Ia adalah anak ketiga dari Gladys Pearl Baker, seorang ibu muda yang bekerja sebagai pemotong negatif film pada masa itu.

Ayah Marylin sendiri tidak diketahui identitas maupun keberadaannya. Gladys, sang ibu telah 2 kali bercerai. Dengan suami pertamanya, John Newton Baker, Gladys memiliki 2 orang anak namun John mengambil hak asuh atas anak mereka setelah bercerai di tahun 1921. John membawa kedua anaknya kembali ke daerah asalnya yaitu, Kentucky.

Gladys kemudian menikah kembali di tahun 1924 dengan suami keduanya Martin Edward Mortensen. Mereka menemui beberapa permasalah dan mulai berpisah sebelum Marylin lahir. Gladys dan Martin, keduanya resmi bercerai di tahun 1928 saat Marylin berusia 2 tahun.

Karena ibunya belum siap untuk membesarkan anak secara mental dan finansial, Marylin akhirnya diserahkan pada orang tua angkat yang bernama Albert dan Ida Bolender yang tinggal di kawasan pedesaan bernama Hawthrone. Ibu Marylin harus tetap bekerja di Los Angeles dan sering mengunjungi Marylin di akhir pekan untuk menonton bioskop.

Keluarga Bolender berniat untuk mengadopsi Marylin di tahun 1933 namun sang Ibu memutuskan membawa Marylin pindah dan menetap di Hollywood dengan menyewa sebuah rumah kecil di kawasan tersebut. Marylin dan ibunya berbagi rumah tersebut dengan keluarga lain yang merupakan aktor beserta dengan anak mereka.

Malang di tahun 1934, Ibu Marylin di diagnosa mengidap skizofrenia paranoid dan mengalami penurunan kesehatan mental yang cukup signifikan. Sang Ibu akhirnya memutuskan untuk mencari pengobatan di sebuah rumah sakit yang bernama Metropolitan State Hospital setelah tidak mendapatkan pengobatan yang tepat.

Setelah ibunya masuk rumah sakit dan menjalani serangkaian rehabilitasi, Marylin terpaksa harus berpindah dari satu keluarga angkat ke keluarga angkatnya meskipun ada Grace Goddard, sahabat dari ibu Marylin yang bertanggung jawab atas urusan Marylin dan ibunya.

Di musim panas tahun 1937, Marylin akhirnya pergi meninggalkan panti asuhan untuk menetap bersama Grace Goddard beserta suaminya Doc Goddard. Namun Marylin hanya tinggal dengan keluarga ini hanya selama beberapa bulan karena dirinya mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh Doc.

Setelah pergi dari rumah keluarga Goddard, Marylin pergi tinggal dari satu rumah temannya ke rumah teman yang lain di daerah seputaran Los Angeles dan Compton. Sampai akhirnya Ia memutuskan untuk menetap di rumah bibi dari Grace Goddard yang bernama Ana Lower. Disana dia melanjutkan sekolah menengah di Emerson Junior High School.

Usia Ana Lower yang tua menyebabkannya mengalami berbagai masalah kesehatan hingga membuat Marylin harus kembali lagi untuk tinggal bersama dengan keluarga Goddard ketika dia masuk di bangku sekolah menengah atas.

Pada tahun 1942, Doc Goddard harus dimutasi ke daerah Virginia Barat oleh tempatnya bekerja. Sayangnya, hukum di California melarang Doc untuk membawa Marylin ikut pindah ke Virginia sehingga Ia terancam untuk kembali ke panti asuhan kembali. Sebagai solusinya, Marylin dinikahkan oleh James Dougherty pada bulan Juni di tahun 1942.

Dougherty adalah putra dari tetangga keluarga Goddard yang merupakan seorang buruh pabrik berusia 21 tahun. Marylin yang saat itu berusia 16 tahun meninggalkan bangku SMA dan menjadi seorang ibu rumah tangga. Di tahun 1943 Dougherty masuk ke dalam pasukan marinir Amerika Serikat dan tinggal di Catalina Island hingga tahun 1944.

Marylin tinggal bersama mertuanya pada saat suaminya harus berlayar ke Pasifik. Ia mulai bekerja Radioplane Munitions Factory sebuah perusahaan aviasi di amerika serikat yang memproduksi pesawat tanpa awak untuk menjadi target tembak. Marylin mulai bekerja agar mendapat pemasukan sendiri.

Keberuntungan memihak Marylin yang saat itu memimpikan memiliki karir menjadi seorang aktris. Wajah cantiknya terekam oleh lensa kamera milik David Conover, seorang fotografer yang ditugaskan oleh sebuah perusahaan film milik pasukan angkatan darat Amerika Serikat untuk mengambil beberapa gambar buruh perempuan dari pabrik tersebut.

Di tahun 1945, Marylin mulai untuk melakukan sesi pemotretan dan menjadi model dengan David Conover dan menandatangani kontrak dengan sebuah agensi model yang bernama Blue Book Modeling Agency. Kecantikan Marylin dan rambut pirangnya yang berwarna emas membuatnya sering mengisi halaman majalah pria dewasa.

Sama seperti aktris lainnya yang harus memulai karir dari bawah, begitu juga yang dialami oleh Marylin. Setelah beberapa kali gagal untuk melakukan screen test, Marylin akhirnya di kontrak selama 6 bulan oleh perusahaan film 20th Century Fox. Nama Marylin Monroe diberikan oleh Ben Lyon, terinspirasi oleh nama aktris broadway dan nama ibunya.

Selama 6 bulan kontrak, Marylin sama sekali tidak mendapatkan tawaran pekerjaan. Selama itu Ia mengisi waktu dengan mengikuti kelas acting, menari dan menyanyi. Ia juga banyak menghabiskan waktu di seputaran studio untuk memperhatikan aktor tentang bagaimana caranya berakting secara baik.

Setelah kontrak keduanya dilanjutkan, Marylin akhirnya mendapatkan beberapa peran kecil di tahun 1947.  Dangerous Year adalah film drama pertamanya dimana Ia mendapatkan peran menjadi seorang pelayan dengan dialog sebanyak 9 kalimat. Akhirnya di tahun 1948, kontrak Marylin tidak diperpanjang dan Ia kembali menjadi model iklan pada majalah.

Marylin yang sangat ambisius tentang karirnya sebagai aktris tetap berusaha untuk mendapatkan berbagai peran dalam dunia akting. Ia mencoba peruntungan untuk berperan dalam teater namun tidak berhasil sesuai dengan harapannya. Untuk mendapatkan tawaran, Ia mulai mengunjungi beberapa kantor produser dan berteman dengan kolumnis gossip.

Karir akting Marylin mulai menanjak di tahun 1950 dimana saat satu dari enam film yang dia perankan ditahun tersebut yang berjudul Ashpalt Jungle mendapat perhatian dari kritikus film. Ia yang berperan sebagai kekasih dari seorang gangster dalam film tersebut mendapatkan pujian dari beberapa kritikus film.

Di bulan Desember tahun 1950, Marylin menandatangani kontrak selama 7 tahun dengan 20th century fox. Ia mulai menapaki kegemilangan karirnya di awal tahun 1951, mulai dari mendapatkan ulasan baik dari berbagai media mengenai karir aktingnya, menjadi pembawa acara di Academy Awards hingga mendapatkan ribuan surat dari penggemarnya.

Pada kontrak di tahun keduanya dengan 20th century fox, Marylin menjadi aktris dengan bayaran tertinggi di era-nya. Ia kembali mendapat banyak dengan ulasan positif dari kritikus film. Namun sayang, di tahun yang sama, beberapa foto vulgar untuk pemotretan kalendernya tersebar dan menjadi sorotan media.

Marylin dan manajemennya berdalih bahwa foto-foto tersebut diambil pada saat Ia melalui masa-masa kesulitan ekonomi. Pernyataan ini akhirnya menuai rasa simpati banyak orang tentang bagaimana Marylin berusaha keras mencapai kesuseksannya sebagai seorang aktris yang diakui Holywood.

Kisah cinta Marylin juga menjadi sorotan dari media. Setelah bercerai dari suaminya di tahun 1946 karena sang mantan suami tidak mendukung karirnya sebagai pekerja di dunia entertain, Marylin mulai dekat dengan seorang pensiunan pemain baseball New York Yankees bernama Joe DiMaggio.

Kebanyakan peran yang ditampilkan oleh Marylin adalah karakter seorang pirang ‘bodoh’ atau dumb blonde yang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki keseksian. Beberapa perannya mendapat pujian tapi beberapa juga tidak luput dari kritikan pedas media. Salah satunya adalah film Marylin yang berjudul Don’t Bother to Knock pada tahun 1952.

Ditengah karirnya yang sedang meningkat, Marylin juga mengalami beberapa masalah pada dirinya sendiri. Seperti sering terlambat datang ke lokasi syuting, tidak mengingat kalimat-kalimat dalam perannya bahkan menyulitkan sutradara karena harus mengulang adegan hingga beberapa kali dan menyebabkan produksi menjadi terlambat.

Disinilah dimana Marylin mulai mengkonsumsi beberapa jenis obat penenang karena Ia di diagnosa mengalami masalah kecemasan dan insomnia yang akut. Marylin mengkonsumsi obat seperti barbiturate, ampethamin dan alkohol yang justru memperburuk kualitas aktingnya.

Akting Marylin yang ikonik dimulai di film Gentlemen Prefer Blonde dimana Ia menggunakan gaun merah muda dengan rambut pirang emasnya yang menjadi ciri khasnya. Dalam film tersebut Ia menyanyikan lagu Diamonds are Girl Best Friend dikelilingi oleh pria. Film ini meraih kesuksesan dengan menjadi box office dan meraih keuntungan USD 5.3 juta.

Setelah hampir 2 tahun dekat dengan DiMaggio, pasangan ini akhirnya memutuskan untuk menikah di balai kota San Fransisco pada tanggal 14 Januari 1954. Namun ternyata keduanya mulai mengalami konflik dan ketidak cocokan dalam berumah tangga. Marylin akhirnya memutuskan untuk bercerai di tahun yang sama 9 bulan kemudian.

Perceraian tidak sama sekali membuat karir Marylin meredup. Ketika filmnya The Seven Years Itch rampung di bulan November, film ini mendapatkan keuntungan yang besar juga. Salah satu adegan yang paling ikonik dalam film ini adalah ketika Marylin berdiri dan gau putihnya terangkat oleh angin.

Setelah perceraiannya dengan DiMaggio resmi diputuskan oleh pengadilan, Marylin kembali menjalin kedekatan dengan seorang penulis naskah untuk sandiwara bernama Arthur Miller. Mereka kemudian memutuskan untuk menikah di tahun 1956 meskipun banyak yang menentang hubungan antara Marylin dan Arthur.

Setelah menikah selama satu tahun, Marylin akhirnya hamil. Namun ternyata janin berada diluar kandungan sehingga harus digugurkan. Ini membuat Marylin terpukul dan kembali mengkonsumsi beberapa obat penenang.

Kecanduannya terhadap obat penenang menyebabkan Marylin terkesan kurang professional dihadapan para kru film. Ia juga beberapa kali harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami overdosis. Selain itu, Marylin juga memiliki penyakit batu empedu sehingga dia harus menjani beberapa perawatan untuk mengatasi penyakitnya ini.

Karir Marylin mulai mengalami masalah, begitu pula dengan kehidupan pribadinya. Pernikahan ketiganya juga harus berakhir dengan perceraian di tahun 1961. Film terakhir yang diperankan oleh Marylin adalah Something Got to Give, sayangnya Ia dipecat saat produksi film sedang berlangsung dan dikenakan denda sebesar 750.000 USD.

Pada tanggal 5 Agustus 1962, Dokter pribadi Marylin menghubungi pihak kepolisian untuk mengabarkan bahwa Marylin ditemukan meninggal dunia di kediamannya pukul 3:50 pagi. Kematian Marylin pertama kali diketahui oleh pelayan pribadi Marylin yang menyadari bahwa lampu kamar Marylin tidak mati sejak pukul 8 petang.

Padahal biasanya Marylin selalu mematikan lampu kamarnya sebelum tidur, ini membuat pelayannya curiga sehingga menggedor pintu kamar Marylin namun tidak ada jawaban. Ia akhirnya menelpon dokter pribadi sang aktris untuk membantunya mendobrak pintu. Disana mereka menemukan Marylin sudah tidak bernyawa dengan botol obat-obatan kosong.

Marylin diduga mengalami overdosis mengingat dia pernah beberapa kali mengalami hal yang sama namun kali ini berakibat fatal. Seluruh dunia berkabung mendengar kematian aktris yang menjadi salah satu ikon di tahun 1960-an ini. Marylin dimakamkan di Westwood Memorial Park Cemetery dan hanya dihadiri oleh kerabat dekatnya saja.

Perjalan hidup Marylin mungkin bak roller coaster mengalami berbagai macam cobaan dari kecil hingga mencapai kegemilangan karirnya di usia 30 tahun. Banyak orang yang menganggap keputusan Marylin untuk mengakhiri hidupnya tak lain karena banyaknya tekanan dan pelecehan yang dilakukan oleh rekan kerja lawan jenis.

Setelah peristiwa meninggalnya Marylin Monroe, banyak teori-teori konspirasi yang tersebar di dunia maya. Ada beberapa teori yang mengatakan bahwa Marylin meninggal karena dibunuh akibat mengetahui terlalu banyak rahasia mafia, ada pula yang mengatakan bahwa Marylin masih hidup dan hanya memalsukan kematiannya untuk pergi dari Holywood.

Contoh Cerita Sejarah Berupa Catatan Perjalanan

Contoh Cerita Sejarah Berupa Catatan Perjalanan

Contoh teks cerita sejarah pribadi, bukan hanya menceritakan kisah hidup. Namun dapat juga menceritakan tentang catatan perjalanan seseorang. Seorang traveler atau pengelana, biasanya memiliki catatan-catatan atau tulisan yang berisi tentang keunikan daerah yang Ia kunjungi. Seperti contoh catatan perjalanan berikut ini.

4 hari 3 Malam di Pulau Dewata

Pada hari Kamis tanggal 22 Juli 2019, Aku dan keluargaku pergi berkunjung ke Bali untuk liburan singkat. Kami berangkat dari Jakarta pukul 10.00 pagi dan sampai di Bandara I Gusti Ngurah Rai pada pukul 12.45. Adikku yang berusia 7 tahun sangat gembira bisa berlibur ke Bali karena ini adalah kali pertamanya.

Sesampai di Bandara, Kami dijemput oleh Pak Made, pengemudi yang sudah dipesan Ayah dari jauh-jauh hari agar perjalanan kami di Bali lebih nyaman. Kami kemudian menuju arah Seminyak tempat dimana Kami menginap. Kali ini, hotelnya adalah hotel pilihanku karena aku mau menghabiskan waktu di seputaran Seminyak.

Perjalanan dari bandara menuju Seminyak cukup padat. Kami akhirnya sampai di pukul 13.37 cukup tepat saat kami harus check in. Jadi tidak perlu menunggu untuk masuk ke kamar. Aku dan adikku tidur sekamar, sedangkan Ayah dan Ibu tidur di kamar yang berbeda. Hotelnya cukup luas dengan 3 kolam renang dan aneka fasilitas lain untuk tamu.

Ayah dan Ibu yang kelelahan karena kemarin masih bekerja hingga larut memutuskan untuk tidur. Aku mengajak adikku untuk pergi minum jus di sebuah kedai yang berdekorasi lucu didekat hotel, nama kedai tersebut adalag Kynd. Mereka hanya menyajikan makanan vegan atau tidak menyediakan daging di tempatnya.

Pukul 16.00 Ayah menelpon kami untuk menyaksikan matahari terbenam di pantai Seminyak. Ayah dan Ibu sudah menunggu di hotel lalu kemudian kami pergi ke pantai dengan berjalan kaki. Setelah menyaksikan matahari terbenam kami kembali ke hotel untuk makan malam lalu beristirahat.

Keesokan harinya Pak Made menjemput kami untuk berjalan-jalan di daerah Ubud. Katanya sengaja memilih hari Jumat karena hari Sabtu dan Minggu pasti ramai dan macet. Hari yang dipilihkan Pak Made memang tepat, saat itu pusat kota Ubud tidak terlalu padat dan Kami berjalan-jalan di sekitar pasar Ubud.

Ibu membeli 3 buah tas untuk oleh-oleh teman kantornya. Aku memutuskan untuk membeli sebuah celana panjang polos seharga 50.000 setelah melalui proses tawar menawar. Adik mungkin tidak terlalu nyaman berada di pasar karena cukup panas dan sumpek. Ia dan Ayah akhirnya duduk di sebuah kedai eskrim sambil menunggu Aku dan Ibu berbelanja.

Setelah dari pasar kami menuju Monkey Forest. Pak Made menyarankan untuk meletakkan semua barang berharga di dalam mobil karena takut dicuri oleh monyet-monyet nakal. Benar saja ternyata monyet disana cukup berani, Ibu akhirnya ketakutan dan memaksa kami semua untuk pulang.

Sebelum pulang, kami melihat terasering di daerah Tegalalang yang jaraknya 10 menit dari pusat kota Ubud. Disana kami hanya mengambil beberapa gambar karena Ibu sudah terlanjur kesal karena dikerjai oleh monyet di Monkey Forest. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit untuk kami sampai di hotel.

Kali ini kami memutuskan untuk makan malam di tepi pantai dengan suasana yang romantic. Meskipun bersama keluarga, tapi ini tak kalah menyenangkannya juga. Besok Ayah ingin mengajak kami ke Garuda Wisnu Kencana, dan Ibu tetap sibuk ingin membeli oleh-oleh untuk semua keluarga di Jakarta.

Keesokan harinya semua berjalan sesuai rencana. Kami sarapan di hotel lalu bergerak menuju Garuda Wisnu Kencana. Pak Made menawarkan Kami untuk menyaksikan tari kecak di Pura Uluwatu dan Kami menyetujuinya. Tari kecak mulai saat matahari terbenam dan sangat banyak turis yang menyaksikannya.

Membeli oleh-oleh terpaksa diundur sebelum kami menuju bandara. Meskipun begitu, Ibu tetap antusias dan membeli banyak hal. Sebelum turun dari mobil kami mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan pada Pak Made untuk bantuannya selama liburan kami yang singkat. Meskipun singkat namun kami bahagia bisa berlibur satu keluarga lengkap.

Contoh Sejarah Fiksi berupa Cerpen

Cerita Sejarah Fiksi Berupa cerpen

Berbeda dengan cerita non-fiksi, contoh teks cerita sejarah fiksi merupakan karangan dari penulis. Bisa jadi berdasarkan kisah nyata namun dimodifikasi sedemikian rupa agar menjadi lebih menarik. Nama tokoh juga biasanya diganti dan alur cerita sedikit diubah mengikuti kemauan dari penulis.

Rahasia Kamp Redwood

Brooke adalah seorang gadis berusia 26 tahun yang baru saja pindah dari Charleston, Carolina Selatan ke Los Angeles untuk menapaki karirnya sebagai seorang sekretaris di salah satu perushaan film terkenal. Disamping meniti karir, ternyata kepindahannya ke Los Angeles juga bermaksud untuk melupakan pernikahannya yang gagal.

Ia ditinggal oleh pengantin pria nya, Doug yang telah Ia kenal lebih dari empat tahun. Mereka pertama kali bertemu di bangku sekolah menengah. Tahun 1983 Doug melamar Brooke di depan keluarga dan teman-teman mereka. Hari itu, tanggal 18 Desember 1983 merupakan hari yang paling membahagiakan bagi Brooke.

Mereka memutuskan untuk menikah di sebuah gereja kecil dan melanjutkan untuk melakukan resepsi kecil di belakang rumah. Namun sayangnya hal itu tak pernah terjadi karena Doug tak datang di hari pernikahan mereka. Ia meninggalkan sebuah surat permintaan maaf bahwa dirinya belum siap untuk menjalani rumah tangga.

Brooke yang perasaan malu nya jauh lebih besar dibandingkan amarahnya hanya bisa menangis. Gaun yang telah dirancang beberapa bulan sebelum pernikahan menjadi sebuah kesia-siaan. Teman-teman yang sudah jauh datang untuk menyaksikan pernikahan Brooke dan Doug hanya bisa menghibur Brooke yang sudah putus asa.

Terlarut dengan kesedihan, Brooke sempat mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Namun kedua orang tua Brooke mengetahuinya dan membawa Brooke ke psikiater untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Ditinggal di hari pernikahan memang adalah sesuatu yang sangat berat bagi perempuan yang pernah melaluinya.

Brooke akhirnya mendapatkan semangatnya lagi dan memutuskan untuk pindah ke Los Angeles demi melupakan rasa sakit hatinya. Disana Ia menyewa sebuah apartemen kecil untuk tempatnya tinggal. Orang tua Brooke juga sesekali mengunjunginya dalam beberapa bulan sekali untuk memastikan keadaannya.

Di Los Angeles, Brooke mengambil beberapa kelas olahraga untuk menambah kesibukan. Salah satu kelas olahraga yang Ia ambil adalah kelas aerobik. Disana Ia bertemu dengan Montana, seorang gadis ‘nyentrik’ yang mencintai olahraga aerobik. Montana bahkan sudah beberapa kali pergi ke beberapa negara untuk mempelajari olahraga tersebut lebih dalam.

Selain Montana, Brooke juga bertemu dengan 3 orang lainnya. Xavier, seorang model yang juga berusaha mendapatkan peran dalam berbagai film, Daniel dan Mike keduanya adalah mantan atlet yang kini berprofesi sebagai penjaga pusat kebugaran. Mereka memiliki kesamaan yakni mengikuti kelas muay thai yang sama.

Di hari itu, Brooke dan keempat kawan yang baru ditemuinya sedang duduk di ruang istirahat pusat kebugaran. Xavier bercerita bahwa Ia mendapatkan panggilan untuk mengisi kelas akting dan modeling di sebuah kamp musim panas yang bernama Redwood, berlokasi disebuah hutan yang berada di dekat danau.

Xavier kemudian mengajak yang lainnya untuk ikut serta dalam mengisi kelas di kamp tersebut sesuai dengan keahlian mereka masing-masing. Ia mengatakan bahwa kamp akan diisi oleh anak-anak berusia 10 hingga 15 tahun. Brooke yang saat itu masih baru menolak untuk ikut karena akan menghabiskan waktu untuk membersihkan apartemennya.

Setelah menolak ajakan Xavier, Brooke pulang menuju apartemennya. Di perjalanan Ia merasa ada yang menguntitnya. Namun Brooke mengabaikannya dan tetap pulang menuju apartemennya. Setelah sampai, Brooke langsung membersihkan diri dan menghangatkan makanan untuk makan malamnya.

Saat sedang memandangi cincin pertunangannya yang masih disimpan, tiba-tiba datang sesosok laki-laki dengan pakaian serba hitam mendorong Brooke dan mengambil seluruh isi kotak aksesorisnya. Laki-laki itu kemudian menodongkan sebilah pisau kehadapan Brooke dan meminanya untuk menyerahkan uang tunai dan harta berharga lainnya.

Brooke menuruti perintah pria itu dan memberikan tas nya yang berisi seluruh uang dan ponselnya. Si perampok sibuk mengambil semua hal yang bisa Ia ambil di dalam ta situ, saat sang perampok lengah, Brooke langsung mengarahkan vas bunga yang terbuat dari tanah liat ke kepala perampok itu hingga Ia terkapar.

Brooke kemudian berteriak untuk meminta tolong tetangganya, beruntung seorang tetangga terbangun dan menggedor pintu, menanyakan apakah kondisi Brooke baik-baik saja. Sang perampok ketakutan, tetapi sebelum Ia pergi, Ia mengancam akan mencari Brooke kemanapun dan akan melukainya di kesempatan selanjutnya.

Hal ini membuat Brooke trauma dan ketakutan. Ia menelpon satu-satunya kawan perempuan di Los Angeles yakni Montana dan memintanya untuk menginap di apartemennya semalam. Montana yang khawatir dengan keadaan Brooke memintanya untuk ikut saja ke kamp redwood dibanding harus diam sendirian di Los Angeles.

Brooke kemudian menyetujui untuk menghabiskan satu minggu cutinya di kamp dibandingkan harus bermalam sendirian di apartemennya. Ia masih terngiang ucapan dari perampok yang mengancam akan kembali lagi untuk melukainya. Brooke telah memberi tahu keluarganya mengenai hal ini dan mereka menyarankan agar Brooke kembali ke Charleston.

Singkat cerita mereka sampai di kamp dengan kondisi kamp yang masih sepi namun sudah tertata rapi untuk menyambut para peserta keesokan hari. Mereka disambut oleh Margaret selaku pemilik dari kamp ini. Mereka ditunjukkan berbagai fasilitas yang dimiliki kamp, mulai dari berbagai aktivitas di darat dan di danau, serta sebuah ruang makan yang cukup besar.

Mereka semua mulai berkenalan, ada 2 orang lagi yang datang kesana, Trevor selaku penanggung jawab kamp dan Donna selaku petugas kesehatan. Brooke sedikit curiga melihat kamp yang terbuat dari kayu ini sepertinya merupakan bangunan lama yang dipoles agar terlihat baru.

Ia mulai menanyakan kejanggalan ini pada Montana, betapa terkejutnya Montana dan Brooke mendengar kesaksian dari Donna bahwa ternyata di kamp tersebut pernah berlangsung peristiwa berdarah dimana seluruh peserta dan penanggung jawab kamp tewas dibunuh oleh satu orang di musim panas tahun 1960, pembunuh tersebut terkenal bernama Tuan Jiggles.

Dinamai Tuan Jiggles karena setiap Ia datang akan terdengar suara gemerincing dari kunci-kunci yang selalu Ia bawa. Konon katanya, Tuan Jiggles merupakan veteran tentara Amerika Serikat yang mengalami cidera di bagian kaki dan telinganya. Setelah kembali ke Amerika, Tuan Jiggles mengalami gangguan mental.

Namun tak ada satu orangpun yang mengetahui kelainan jiwa dari Tuan Jiggles. Pada tahun 1960 saat kamp dibuka, Tuan Jiggles diterima menjadi penjaga kamp yang bertugas membawa kunci dan menjaga keamanan dari kamp ini. Namun sayang karena sudah mengalami gangguan jiwa, Tuan Jiggles justru tertarik untuk membunuh penghuni kamp.

Brooke terkejut mendengar cerita itu, Ia yang ingin menghindari perampok malah masuk ke rumah horror. Sebuah kamp bekas pembunuhan massal yang bahkan Ia sendiri belum pernah mendengarnya karena kejadian tersebut terjadi jauh sebelum Ia lahir. Brooke menjadi ketakutan dan mengajak Montana untuk kembali saja ke Los Angeles.

Belum selesai cerita mereka, Margaret menambah lagi kehororan cerita dengan bersaksi bahwa Ia adalah satu-satunya gadis yang selamat dari pembunuhan masal di kamp itu dengan cara melumurkan badannya dengan darah dan berpura-pura mati. Tuan Jiggles yang lengah melewati Margaret begitu saja hingga Ia selamat.

Brooke merasa ada persamaan dari dirinya dan Margareth dimana mereka sama-sama diberikan kesempatan hidup kedua. Namun yang Ia herankan mengapa Margaret malah membeli dan membuka kamp ini kembali? Margaret berkata bahwa tujuannya membuka kamp kembali adalah untuk menunjukkan bahwa Ia tak kalah dengan rasa takut.

Saat mulai memasuki malam, terdapat sinar lampu mobil dari luar kamp. Mobil sedang berwarna abu itu diparkir tepat dibawah pohon yang rindang, seorang wanita dengan pakaian rapi turun dan berjalan kearah seluruh panitia kamp berkumpul. Margaret terlihat bingung tiba-tiba kedatangan seorang wanita yang tak Ia kenal.

Brooke memperhatikan gerak-gerik wanita itu dan cara berpakaiannya. Sepertinya Ia adalah orang yang berasal dari instansi yang cukup penting. Wanita itu memberi salam dengan cepat ke semua panitia dan kemudian menarik nafas panjang, “Tuan Jiggles kabur dari kamar di rumah sakit jiwa yang Ia tempati dan kami menemukan ini di kamarnya”

Wanita itu bernama dr. Sandra, seorang psikiater kenamaan yang menjadi penanggung jawab tempat Tuan Jiggle di rehabilitasi. Disana Tuan Jiggles mengalami berbagai perawatan agar mentalnya tidak terganggu. Setelah nanti selesai mengalami perawatan, rencananya Tuan Jiiggles akan dipindahkan ke penjara untuk menjalani hukuman seumur hidup.

Namun berita yang dibawa oleh dr. Sandra mengejutkan semua panitia kamp. Ditambah lagi dr. Sandra membawa sebuah potongan surat kabar yang berisi potongan berita tentang dibukanya kamp esok hari. Ini sebuah pertanda bahwa tujuan dari kaburnya Tuan Jiggles adalah untuk kembali ke kamp ini.

Brooke makin lemas, keinginannya untuk pulang semakin kuat. Begitu pula dengan panitia yang lain. Namun Margareth menenangkan mereka semua, Ia berkata bahwa kamp ini sangat aman karena memiliki penjaga di depan dan juga polisi di sekitaran kamp untuk memastikan bahwa kamp benar-benar aman.

Sambil berlari menuju kamarnya untuk segera mengambil tas nya dan pergi, Brooke dihadang oleh Montana yang mengatakan bahwa justru lebih berbahaya untuk pergi ke Los Angeles sendirian di malam hari. Ia menyarankan Brooke untuk tinggal di kamp sehari saja lalu kembali keesokan harinya.

Brooke yang masih bingung memutuskan untuk ke unit kesehatan yang berada dalam kamp untuk bertemu dengan Donna dan meminta obat sakit kepala. Ditengah perjalanannya, Ia mendengar suara gemerincing kunci seperti dibawa oleh orang yang sedang berjalan. Hati Brooke berdegup kencang, mengingat cerita tadi sore.

Ia berlari menuju unit kesehatan dan menemui Donna ada di dalam ruangan itu sedang menulis beberapa hal. Brooke mengatakan bahwa Ia mendengar suara gemerincing seperti kunci dari Tuan Jiggles. Donna yang ikut ketakutan langsung menutup pintu dari unit kesehatan.

Suara gemerincing semakin dekat dan terdengar seseorang menggedor pintu unit kesehatan. “Tolong buka pintunya, ini aku” suara lirih itu terdengar seperti suara seorang laki-laki paruh baya. Donna berjalan menuju arah pintu meskipun Brooke sudah melarangnya. Betul saja setelah pintu dibuka, seorang pria dengan pakaian serba hitam masuk kedalam.

Herannya, Donna mempersilahkan laki-laki itu masuk kedalam. Brooke yang masih ketakutan ditenangkan oleh Donna yang ternyata merupakan sahabat Tuan Jiggles. Ternyata mereka sudah merencanakan ini semua dari jauh-jauh hari ketika Margaret melakukan pengumuman bahwa Ia telah membeli kamp Redwood dan berencana untuk membukanya kembali.

Cerita ini mungkin sulit dipercaya, ternyata Tuan Jiggles yang bernama asli Winston selama ini difitnah oleh Margaret. Cerita yang selama ini dituliskan di surat kabar bahwa Winston adalah seorang psikopat semuanya palsu. Margaret adalah pembunuh yang sebenarnya. Dia adalah seorang psikopat yang pandai menyembunyikan semuanya.

Saat itu Winston menjadi bahan ejekan anak-anak kamp karena kakinya yang pincang dan bentuk fisiknya yang tidak sempurna. Namun hanya ada satu anak yang benar-benar baik terhadap Winston yaitu Margaret. Mereka sering membantu satu sama lain dan Margaret sering memberikan beberapa makanan padanya.

Di malam kejadian, Winston pergi ke hutan dekat kamp untuk mengambil tanaman yang dipesan oleh Margaret. Karena termakan oleh sifat manisnya, Winston dengan sukarela berjalan ke hutan yang jaraknya 15 menit itu. Ia ada di hutan kurang lebih selama 60 menit, saat itulah Margaret menjalankan aksinya dan menghabiskan seluruh isi kamp.

Margaret kemudian melukai dirinya sendiri setelah meletakkan semua barang bukti di kamar Winston yang tak terkunci. Ia kemudia menelepon polisi dan melaporkan kejadian ini seolah-olah dia adalah satu-satunya korban selamat. Winston yang tak tahu apa harus ditangkap polisi dan dibawa ke psikiater karena dianggap mengalami gangguan jiwa.

Winston berada dirumah sakit jiwa sekitar 20 tahun dan itu bukan waktu yang singkat. Ia awalnya hampir ikut gila, tetapi Donna datang membawa harapan. Donna merasa curiga dengan tingkah laku Margaret yang seperti berpura-pura dan langsung mengunjungi Winston untuk bercakap secara langsung dan membantunya untuk melarikan diri.

Brooke awalnya tidak percaya dengan hal ini, namun semakin didengarkan cerita ini makin masuk akal. Ia melihat bagaimana Winston yang mulai depresi karena dihukum untuk sesuatu yang tak pernah Ia lakukan. Mereka kemudian merencanakan untuk menjebak Margaret yang sepertinya juga sudah mulai takut kedatangan Winston.

Sungguh kebetulan saat itu Margaret sedang berada di kamarnya seorang diri. Winston langsung mendatanginya sedangkan Donna dan Brooke menunggu diluar jendela dengan membawa perekam suara untuk memperkuat semua bukti.

Margaret sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran Winston dan tertawa melihat keadaannya. Tanpa sengaja terucap dari mulutnya ternyata Ia telah merencanakan aksi keduanya untuk menghabisi seluruh isi kamp esok hari sehingga dia akan terekspos kembali sebagai satu-satunya korban yang tersisa.

Saat sudah mendapatkan semua bukti, Brooke dan Donna menelpon kepolisian agar segera datang dan menangkap Margaret. Dengan sigap polisi langsung datang dan mengamankan Margaret beserta Winston dan bukti rekaman. Seluruh panitia menjadi saksi termasuk Brooke. Kamp redwood akhirnya ditutup untuk selamanya.

Cerita Sejarah Fiksi Berupa Legenda

Cerita Sejarah Fiksi Berupa Legenda

Legenda dapat juga dijadikan contoh teks cerita sejarah fiksi karena kebenarannya mengenai kisahnya masih diragukan. Cerita legenda biasanya diceritakan dari bibir ke bibir masyarakat setempat dan ada kemungkinan jika cerita tersebut diubah.

Kisah Jayaprana dan Layonsari

Bila di luar negeri terkenal dengan kisah Romeo dan Juliet, Bali juga memiliki legenda serupa yang menceritakan tentang kisah cinta abadi dua sejoli. Sampai saat ini masyarakat Bali masih mempercayai bahwa makam di Buleleng, Bali bagian utara tersebut adalah makam milik Jayaprana dan Layonsari.

Diceritakan bahwa Jayaprana adalah anak dari suami dan istri yang berasal dari Desa Kalianget. Ia memiliki saudara laki-laki dan perempuan. Namun ketika sebuah wabah penyakit datang di desa tersebut, keempat orang dalam keluarga ini meninggal dunia. Hanyalah tersisa Jayaprana kecil sendiri.

Ia hidup terlunta-lunta dan mencoba mencari bantuan. Ditemukanlah Jayaprana oleh Sri Baginda Raja dan dibawanya kedalam istana. Jayaprana merupakan sosok yang rajin dan giat bekerja serta membantu di istana. Rajapun merasa iba pada Jayaprana dan mengangkatnya sebagai seorang patih.

Saat Jayaprana beranjak dewasa, sang Raja memerintahkan Jayaprana untuk memilih gadis yang akan dinikahinya. Namun saat itu Jayaprana merasa dia belum siap namun raja tetap memaksanya. Sampailah saat Jayaprana pergi ke pasar yang terletak di depan istana untuk mencari gadis yang akan dipersuntingnya.

Sesosok gadis yang amat cantik mendapatkan perhatian dari Jayaprana. Gadis yang berparas elok lewat di depannya. Gadis itu bernama Layonsari. Seorang gadis cantik yang merupakan anak dari Jero Bendesa atau kepala desa dari Banjar Sekar. Bisa dikatakan Jayaprana jatuh cinta pada pandangan pertama.

Ternyata cinta Jayaprana disambut baik oleh Layonsari yang ternyata menyukainya juga. Tanpa ragu, Jayaprana langsung pergi melapor pada Baginda Raja bahwa Ia telah menemukan tambatan hatinya. Raja yang mendengar berita bahagia dari Jayaprana langsung menuliskan sepucuk surat yang ditunjukkan untuk Jero Bendesa, ayah Layonsari.

Dibawalah surat tersebut menuju ke kediaman Jero Bendesa. Dengan rasa hormat, Jayaprana memberikan surat yang dituliskan oleh Baginda Raja pada ayah Layonsari. Isinya tak lain dari menjodohkan Jayaprana dan Layonsari. Jero Bendesa dengan sukacita menyetujui dan memberikan jawaban ‘ya’ pada Jayaprana untuk disampaikan pada Raja.

Jayaprana dengan penuh kebahagiaan langsung pergi kembali ke istana untuk memberikan balasan Jero Bendesa pada raja. Setelah yakin, Raja langsung memerintahkan seluruh desa untuk turut serta merayakan hari pernikahan Jayaprana dan Layonsari dengan menyediakan hiasan pada masing-masing desa.

Hari pernikahan Jayaprana dan Layonsari tiba, mereka melakukan serangkaian ritual pernikahan lalu kemudian mengelilingi tiap desa yang berada dibawah pimpinan Sri Baginda Raja. Tujuan terakhir dari arak-arakan ini adalah istana Raja dan disana Jayaprana akan meminta restu dari Baginda Raja.

Saat memasuki istana, alangkah terkejutnya sang Raja melihat kecantikkan Layonsari. Meskipun Raja menyetujui pernikahan ini, namun ada niat buruk didalamnya. Sang Raja ingin memperistri Layonsari dengan membunuh Jayaprana terlebih dahulu. Dibiarkan Jayaprana dan Layonsari kembali ke rumah mereka setelah acara itu.

Setelah satu minggu menikah, Raja memerintahkan Jayaprana untuk berlayar ke negeri sebelah dengan para patih. Namun Raja ternyata telah memerintahkan patih untuk menghabisi nyawa Jayaprana saat nanti mereka di tengah hutan. Jayaprana yang tidak memiliki firasat apapun menuruti perintah Raja.

Kemudian benarlah saat ditengah hutan, Patih memberikan sepucuk surat pada Jayaprana yang isinya mengatakan bahwa Raja ingin menghabisinya karena Ia terpikat oleh kecantikan dari istri Jayaprana yakni Layonsari. Tak bisa melawan, Patih langsung menghujamkan keris ke tubuh Jayaprana hingga Ia tewas di tempat.

Berita kematian Jayaprana disampaikan ke kerajaan, dikatakan bahwa Jayaprana meninggal karena tenggelam dari kapal. Layonsari ternyata telah memiliki sebuah firasat buruk sebelum Jayaprana pergi. Ia bermimpi mengenai hal-hal yang aneh dan melarang Jayaprana untuk pergi.

Sang Raja kemudian mengunjungi rumah Layonsari dan Jayaprana. Ternyata kelicikan dari raja telah tercium oleh Layonsari bahwa suaminya telah dibunuh. Raja saat itu merayu Layonsari untuk memperistrinya, Layonsari yang murka kemudian menusukkan keris ke perutnya, seketika Ia pun meninggal dunia sebelum Raja menikahinya.

Kisah Jayaprana dan Layonsari merupakan kisah cinta abadi yang dikagumi oleh rakyat sekitar. Jayaprana dan Layonsari dikuburkan berdekatan sebagai bukti bahwa hanya maut yang dapat memisahkan cinta mereka.

Bisa dilihat perbedaan dari cerita fiksi dan non-fiksi dari contoh teks cerita sejarah diatas. Cerita non-fiksi mungkin lebih mendetail karena berdasarkan pengalaman pribadi atau kisah nyata yang memang benar-benar terjadi. Sedangkan untuk cerita non-fiksi ada beberapa bagian yang terasa kurang masuk akal dan bisa terjadi di kehidupan nyata.

Contoh Teks Sejarah (pribadi, pengalaman pribadi, cerpen, dan novel)

Leave a Reply